NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belati di Balik Loker

Kehadiran Arkananta Dewa di koridor SMA Garuda selalu menciptakan riak kecil. Bukan hanya karena wibawanya sebagai Ketua OSIS, tetapi karena visualnya yang sering dianggap sebagai standar ketampanan "pria pintar".

Namun, di antara sekian banyak pengagum, ada satu nama yang paling dominan: Clarissa Putri, siswi kelas 12 yang juga menjabat sebagai Bendahara OSIS.

​Clarissa bukan sekadar penggemar. Ia merasa memiliki "hak istimewa" karena ayahnya adalah rekan bisnis ayah Arkan. Baginya, posisi di samping Arkan adalah takhta yang sudah dipesan atas namanya.

​"Arkan, ini laporan keuangan untuk acara perpisahan kakak kelas," ujar Clarissa lembut, sambil menyelipkan selembar kertas yang harum parfum mawar di atas meja Arkan.

"Aku sudah rapikan semuanya. Kalau ada yang kurang, kita bisa bahas sambil makan siang nanti?"

​Arkan hanya melirik sekilas tanpa melepas kacamata bacanya.

"Letakkan saja. Aku akan periksa nanti sore. Soal makan siang, aku ada urusan di perpustakaan."

Senyum Clarissa sedikit memudar saat Arkan berlalu begitu saja. Matanya kemudian beralih ke arah jendela, di mana ia melihat Ziva sedang tertawa bersama Gibran di lapangan.

Amarah kecil memercik di dadanya. Belakangan ini, ia sering melihat Arkan menatap Ziva dengan intensitas yang tidak biasa—bahkan jika itu tatapan marah atau teguran, Clarissa tetap merasa terancam. Baginya, kemarahan Arkan pada Ziva jauh lebih "hidup" daripada kesopanan Arkan padanya.

​Di toilet perempuan saat jam istirahat kedua, suasana mendadak mencekam. Ziva sedang mencuci tangannya ketika tiga siswi masuk dan langsung mengunci pintu dari dalam. Clarissa berdiri di depan, melipat tangan di dada

dengan angkuh.

​"Ada apa, Kak?" tanya Ziva, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

​"Lo itu nggak tahu diri ya, Ziva," suara Clarissa melengking tipis.

"Gue perhatiin lo makin sering cari perhatian ke Arkan. Sengaja telat lah, sengaja bikin pelanggaran lah. Lo pikir lo siapa? Lo itu cuma sampah sekolah yang kerjaannya bikin kotor poin kedisiplinan."

Ziva tertawa sinis, menyeka tangannya ke tisu.

"Cari perhatian? Kak, kalau boleh milih, gue mending nggak usah liat muka Arkan seumur hidup. Dia itu kaku, membosankan, dan... nggak asik."

​Plak!

​Sebuah tamparan ringan mendarat di pipi Ziva, tapi rasa panasnya menjalar hingga ke hati. Clarissa mendekatkan wajahnya. "Jangan berani-berani lo hina dia. Lo nggak level sama dia. Dengar ya, jauhi Arkan. Kalau besok-besok gue liat lo telat lagi sengaja biar bisa berduaan sama dia di gerbang, gue pastiin beasiswa jurnalisme lo dicabut."

​Ziva terdiam. Bukan karena takut, tapi karena ia merasa ironi yang luar biasa. Gue harus jauhin dia? Kak, gue bakal tinggal serumah sama dia minggu depan, batinnya miris.

Saat keluar dari toilet dengan pipi yang sedikit memerah, Ziva tidak sengaja berpapasan dengan Arkan di lorong sepi dekat tangga darurat. Arkan baru saja keluar dari ruang guru dan melihat jelas bekas kemerahan di wajah Ziva. Ia juga melihat Clarissa dan kawan-kawannya keluar dari toilet

dengan wajah puas.

​Ziva berhenti melangkah. Ia menatap Arkan, berharap ada sedikit pembelaan atau setidaknya pertanyaan "kamu kenapa?".

Sebagai Ketua OSIS, Arkan punya kewajiban untuk menindak perundungan. Sebagai "calon suami", Arkan setidaknya harus punya rasa kemanusiaan.

​Namun, Arkan hanya menatap Ziva datar. Ia merapikan dasinya, lalu berjalan melewati Ziva seolah-olah gadis itu hanyalah tiang listrik yang tidak bernyawa.

​"Arkan!" panggil Ziva, suaranya parau.

​Arkan berhenti, tapi tidak menoleh. "Apa?"

​"Lo liat kan tadi? Clarissa... dia barusan bully gue gara-gara lo. Lo nggak mau lakuin sesuatu? Lo kan pelindung aturan sekolah?"

Arkan berbalik pelan, menatap Ziva dengan tatapan yang lebih dingin dari es.

"Di sekolah, aku adalah Ketua OSIS, bukan pahlawan kesianganmu, Ziva. Kalau kamu tidak bisa melindungi dirimu sendiri dari masalah yang kamu buat—seperti memancing kecemburuan orang lain—itu bukan urusanku."

​"Memancing kecemburuan? Gue nggak ngelakuin apa-apa!"

​"Sikapmu yang berisik itu sudah cukup jadi alasan orang benci padamu," balas Arkan tajam.

"Lagi pula, kalau aku membelamu, orang akan makin curiga. Selesaikan masalahmu sendiri. Jangan bawa-bawa namaku."

​Arkan pergi begitu saja, meninggalkan Ziva yang terpaku di lorong. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk mata Ziva. Ia merasa dikhianati oleh situasi. Arkan bukan hanya tidak mencintainya, tapi laki-laki itu bahkan tidak peduli jika ia hancur, asalkan rahasia mereka aman.

​Di sisi lain, Gibran yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, merasa ada yang salah. Ia mendekati Arkan di ruang OSIS.

​"Ar, gue liat tadi Ziva habis dipalak atau diapain gitu sama Clarissa di depan toilet. Lo lewat situ kan? Kok diem aja?" tanya Gibran dengan nada menyelidik.

​Arkan tetap fokus pada layar laptopnya. "Clarissa anak donatur sekolah, Gibran. Ziva anak yang sulit diatur. Aku tidak mau membuang energi untuk pertengkaran perempuan."

​Gibran menggelengkan kepala.

"Lo berubah, Ar. Sejak kapan lo jadi pengecut yang pilih-pilih dalam menegakkan aturan? Gue tahu lo nggak suka Ziva, tapi mendiamkan pembullyan itu bukan gaya lo."

​Arkan menutup laptopnya dengan suara keras.

Brak.

"Gue punya banyak urusan yang lebih penting dari sekadar urusan toilet, Gib! Jangan paksa gue untuk ikut campur urusan orang lain."

​Gibran tertegun. Ia belum pernah melihat Arkan sefrustrasi ini. Ada sesuatu yang Arkan sembunyikan, sebuah beban yang membuat sahabatnya itu terpaksa memakai topeng iblis meskipun hatinya mungkin meronta.

Malam itu, di rumah masing-masing, persiapan pernikahan terus berjalan. Ziva menatap cermin, menyentuh pipinya yang masih sedikit sakit. Sementara Arkan duduk di meja belajarnya, meremas pulpen hingga patah. Ia tahu ia jahat.

Ia tahu ia pengecut.

Tapi baginya, membiarkan Ziva terluka sedikit jauh lebih baik daripada membiarkan dunia tahu bahwa mereka adalah satu, yang mana itu akan menghancurkan masa depan mereka berdua secara permanen.

​Konflik ini bukan lagi tentang cinta, tapi tentang bagaimana rasa sakit menjadi satu-satunya cara untuk menjaga sebuah rahasia tetap terkubur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!