NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia yang Terlalu Besar untuk Dipahami

...Chapter 13...

"Baik, duduk," perintah Huan Zheng sambil menunjuk sebuah batu datar di tepi sungai, lalu ia duduk di seberangnya dengan kaki disilangkan malas, "karena ini akan panjang dan aku tidak ingin berdiri." 

Ling Xu mengambil tempat duduknya, sementara Huan Zheng mulai bertutur—nadanya tetap malas, datar seperti seseorang yang sekadar melafalkan catatan tanpa makna, namun tiap katanya tersusun rapi dengan keanehan yang justru teratur, laksana seorang tetua agung yang menguraikan hukum Dao di aula kosong pada larut malam.

"Dalam ranah Pondasi Lintang—yang terdiri dari Lintang Bawah, Lintang Umum, Lintang Esa, dan Supranatural Lintang—seorang kultivator menaikkan tingkatnya dengan mengumpulkan keping-keping Lintang. Setiap tingkat membutuhkan jumlah yang berbeda. Dan setiap keping harus sesuai dengan Lintang yang kau miliki—Kemanusiaan ya Kemanusiaan, Kemahaesaan ya Kemahaesaan. Tidak bisa dicampur." 

Ia berhenti, memastikan Ling Xu mendengarkan—gadis itu mendengarkan dengan mata yang jarang berkedip, seperti anak kecil yang mendengar dongeng sebelum tidur. 

"Lintang Bawah Tingkat Pertama," lanjut Huan Zheng, "membutuhkan 100 keping. Tingkat Kedua 235. Ketiga 777. Keempat 1888. Kelima 2666." 

Ling Xu mengangguk-angguk, mencoba mengingat, tapi Huan Zheng sudah melanjutkan tanpa jeda.

"Lintang Umum Tingkat Keenam 3555. Ketujuh 4444. Kedelapan 5555. Kesembilan 7733. Kesepuluh 10.000. Kesebelas 19.999. Kedua belas 28.777." 

Ia mengambil napas, lalu melanjutkan dengan kecepatan yang sama.

"Lintang Esa mulai dari Tingkat Ketiga belas 33.333. Keempatbelas 66.678. Kelima belas 100.000. Keenam belas 188.888. Ketujuh belas 399.988. Kedelapan belas 860.666. Kesembilan belas 5.000.000. Kedua puluh 6.000.000. Dua puluh satu 20.000.000. Dua puluh dua 39.000.000." 

Huan Zheng menghela napas—kali ini napasnya benar-benar terdengar lelah, bukan pura-pura. 

"Supranatural Lintang, Tingkat Dua puluh tiga 55.000.000. Dua puluh empat 88.000.000. Dua puluh lima 122.000.000. Dua puluh enam 424.000.000. Dua puluh tujuh 777.000.000. Dua puluh delapan 888.000.000. Dua puluh sembilan 20.000.000.000. Tiga puluh 80.000.000.000. Tiga puluh satu 333.333.333.333. Tiga puluh dua 777.777.777.777. Dan Tiga puluh tiga—" 

Ia berhenti, menatap Ling Xu dengan mata yang tiba-tiba terlihat sangat tua, sangat lelah. 

"9.999.999.999.999.999 keping."

Ling Xu terdiam. 

Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. 

Membuka lagi, menutup lagi. 

Seperti ikan yang baru saja dilempar ke daratan dan tidak tahu bagaimana cara bernapas. 

"Itu... angka-angka itu..." bisiknya akhirnya, suarannya terdengar seperti orang yang baru sadar bahwa hutangnya tidak akan pernah lunas bahkan jika ia bekerja selama sepuluh ribu tahun. 

"Itu angka-angka yang tidak masuk akal," sambung Huan Zheng, membantu menyelesaikan kalimat Ling Xu.

“Dan itulah mengapa tidak banyak yang mencapai Supranatural Lintang, apalagi Bujur Surgawi, apalagi menembus 10 Angkasa Raya. Karena angka-angka ini tidak hanya besar—mereka juga haus. Haus akan keping, haus akan waktu, haus akan nyawa."

Ling Xu masih terdiam dengan angka-angka gila itu berputar di kepalanya seperti kawanan burung yang tidak bisa menemukan tempat bertengger, ketika Huan Zheng—dengan nada malas yang terdengar seperti orang yang membacakan instruksi penggunaan sendok—kembali membuka mulut. 

"Ada empat cara untuk mengumpulkan keping, Nona Racun. Mungkin lima, tapi cara kelima hanya bisa dilakukan oleh orang mati atau orang yang akan mati, jadi tidak usah kau pikirkan." 

Ling Xu mengerjap, mencoba mengusir pusing dari pelipisnya. 

"Empat cara?" 

Huan Zheng mengangkat jari satu per satu, seperti guru yang mengajar anak kecil yang lambat.

"Pertama, dari tugas—diberikan oleh pejabat, petinggi, siapa pun yang punya wewenang dan uang. Kedua, merampas—kau bunuh lawan, kau ambil kepingnya. Ini cara paling cepat, juga paling berbahaya. Ketiga, budidaya sendiri—setiap kultivator bisa menumbuhkan keping di dalam tubuhnya, tapi butuh waktu lama, dan kadang pikiranmu sendiri tidak mau bekerja sama." 

Ia berhenti, menguap, lalu melanjutkan.

"Keempat, khusus untuk tabib seperti kau: menyembuhkan. Setiap luka yang kau sembuhkan, setiap nyawa yang kau selamatkan, dunia akan memberimu keping sebagai hadiah. Dulu, cara ini sangat manis—satu atau dua keping untuk satu pasien." 

Ling Xu matanya mulai berbinar, tapi Huan Zheng segera memadamkan binar itu dengan kata berikutnya.

"Sekarang? Manusia memenangkan Pertentangan Harmoni. Mereka membatasi para dewa yang masih tersisa. Tabib dewi seperti kau hanya mendapat setengah keping untuk satu pasien. Sedangkan tabib manusia—yang juga menyembuhkan—mendapat empat hingga sepuluh keping."

Ling Xu merasakan dadanya sesak.

Bukan karena wabah Kanker yang bersemayam di sana, melainkan karena ketidakadilan yang terasa seperti tamparan basah di wajahnya. 

"Setengah keping?" bisiknya, suaranya bergetar antara marah dan putus asa, "sedangkan mereka yang membantai keluargaku mendapat empat hingga sepuluh?" 

Huan Zheng mengangkat bahu, ekspresinya tidak berubah—masih malas, masih datar, seperti tidak ada yang istimewa dari ketidakadilan yang sudah menjadi makanan sehari-hari di dunia ini. 

"Itulah dunia pasca-Pertentangan Harmoni, Nona Racun. Yang menang menulis aturan. Yang kalah harus menerima—atau mati." 

Ia mengambil sebilah rumput dari tanah, memainkannya di antara jari-jari, lalu menambahkan.

"Dan situasi ini semakin diperparah oleh satu fakta: tabib keliling membludak setelah perang. Terlalu banyak yang berpikir bahwa menyembuhkan lebih mudah daripada bertarung. Akibatnya, hadiah per pasien dipotong—dan untuk Dewi-dewi seperti kau, dipotongnya lebih dalam daripada untuk manusia. Hasilnya: kau bekerja sepuluh kali lebih keras untuk mendapatkan setengah dari apa yang mereka dapat dengan sekali comot." 

Ia melemparkan rumput itu ke sungai, lalu menatap Ling Xu dengan mata yang tiba-tiba terlihat sedikit lebih tajam.

"Tapi jangan salah, Nona Racun. Setengah keping tetap setengah keping. Jika kau menyembuhkan seribu orang, kau punya 500 keping. Cukup untuk membawamu ke Lintang Bawah Tingkat Keempat—mungkin Kelima, jika kau rajin. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu tidak mati di hari pertama pertarungan." 

Ling Xu menggigit bibir bawahnya, mencoba mencerna semua informasi yang jatuh ke kepalanya seperti hujan batu, lalu ia menghela napas panjang—panjang dan dalam, seperti orang yang baru sadar bahwa perjalanannya tidak akan sesingkat yang ia bayangkan. 

"Jadi," ucapnya perlahan, "aku harus menyembuhkan. Menyembuhkan banyak orang. Tanpa lelah. Tanpa protes. Hanya untuk mendapatkan setengah keping setiap kali?" 

Huan Zheng mengangguk.

"Atau kau bisa membunuh. Tapi dengan tingkat Lintang Bawah Tingkat Kesatu, siapa yang mau kau bunuh? Semut? Mereka juga tidak punya keping." 

Ling Xu tersenyum pahit, lalu menggeleng.

Bukan karena menolak, melainkan karena menerima bahwa pilihannya hanya satu, dan itu pun bukan pilihan yang menyenangkan.

"Baiklah," ucap Ling Xu akhirnya, berdiri dari batu datar itu dan merapikan jubahnya yang robek di beberapa tempat, "aku akan jadi tabib keliling lagi. Tapi kali ini, aku akan menyembuhkan tanpa menyembunyikan rambutku. Aku akan membiarkan mereka tahu bahwa seorang Dewi sedang merawat luka mereka—biar mereka malu, biar mereka ingat bahwa di balik semua kebencian, masih ada tangan yang bersedia menolong." 

Huan Zheng mendengus.

Bukan ejekan, tapi semacam persetujuan yang ia kemas dalam bentuk dengusan karena terlalu malas untuk mengucapkan kata-kata. 

"Terserah kau, Nona Racun. Yang penting jangan mati. Aku tidak ingin racun di tubuhku aktif karena inang utamanya meninggal." 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!