Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana penyelidikan
Siang itu, Arumi dan ketiga sahabatnya Santi, Reno, dan Andi duduk bersama di kantin perusahaan tempat mereka bekerja. Momen makan siang seperti ini menjadi waktu yang sangat berharga bagi mereka. Tidak seperti dulu, kini mereka jarang memiliki kesempatan untuk berkumpul lengkap.
Kesibukan kerja, ditambah lagi Andi yang sudah menikah, membuat waktu kebersamaan mereka semakin terbatas. Karena itu, setiap kesempatan seperti ini selalu dimanfaatkan untuk berbagi cerita.
“Benar, Rum! Kamu harus diam-diam menyelidiki siapa sebenarnya Elang itu,” ujar Santi serius.
"Iya,kamu jangan sampai di bohongi ." sahut Andi menyetujui usul Santi .
"Betul kata Santi dan Andi,tidak ada salahnya kamu menyelidikinya,jangan sampai kamu salah pilih pasangan hidup ." Reno menggukan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan Santi Dan Andi.
Arumi mengangguk pelan, meskipun di dalam hatinya masih diliputi keraguan,apakah dengan menyelidiki siapa Elang,itu jalan yang terbaik,tapi bagaimana kalau di kecewa nantinya setelah mengetahui siapa Elang sebenarnya .
“Memangnya kamu bertemu dia di mana?” tanya Reno penasaran.
Arumi menatap mereka satu per satu sebelum menjawab. “Aku bertemu Mas Elang di taman … saat dia sedang berjualan.”
Ketiga sahabatnya langsung terdiam, menunggu Arumi melanjutkan ceritanya.
“Berjualan? Maksudnya dia pedagang?” tanya Santi.
Arumi mengangguk. “Iya. Dia jualan bakso bakar … pakai motor.”
“Ooh … penjual bakso bakar,” gumam Reno.
“Iya. Kenapa, Ren?” tanya Arumi, merasa ada sesuatu dalam nada suara Reno.
Reno segera menggeleng. “Tidak apa-apa. Mau kerja apa pun tidak masalah, yang penting dia orang baik dan bisa membahagiakan kamu.”
Ucapan itu terdengar tulus, meski ada sedikit keraguan yang berusaha disembunyikan.
“Eh, jangan-jangan dia penjual bakso bakar yang sering mangkal di taman itu, ya?” tanya Santi tiba-tiba.
Arumi mengangkat bahu. “Mungkin saja. Aku juga tidak terlalu tahu.”
Padahal, meskipun ia sering datang ke taman saat sedang sedih atau penat, Arumi hampir tidak pernah membeli jajanan di sana.
“Memangnya kamu pernah lihat dia, San?” tanya Reno.
Santi mengangguk antusias. “Pernah! Beberapa kali. Waktu aku nongkrong sama Vania di taman malam-malam. Kalau memang dia orangnya, tidak masalah, Rum. Soalnya dia itu ganteng!”
Arumi sedikit terkejut. “Serius?”
“Iya! Aku saja sempat naksir,” lanjut Santi sambil tertawa kecil. “Makanya aku sering beli bakso bakarnya.”
Arumi mengerutkan dahi. “Kok aku tidak pernah lihat, ya?”
Santi langsung menyahut, “Ya jelas kamu tidak pernah lihat! Memangnya kamu pernah jajan di sana?”
Arumi hanya tersenyum canggung.
Memang benar. Ia jarang sekali jajan. Bukan karena pelit, melainkan karena keadaan yang memaksanya untuk berhemat.
Ia hanya mendapat uang dua ratus ribu dari ayahnya setiap bulan, dan itu pun harus cukup untuk kebutuhan bensin. Bahkan sering kali uang itu hampir tidak cukup, apalagi jika terjadi hal-hal tak terduga seperti ban bocor.
“Bukan aku tidak mau jajan,” jelas Arumi pelan. “Tapi aku memang harus hemat. Kamu tahu sendiri keadaanku.”
Santi langsung merasa bersalah. “Maaf, Rum. Aku cuma bercanda. Aku tahu kok keadaanmu … apalagi kalau dibandingkan dengan Rani”
Nama itu membuat suasana sedikit berubah.
Arumi menunduk. “Ya … ayah memang lebih menyayangi Rani. Aku hanya dianggap seperti … sumber uang saja.”
Nada suaranya lirih, menyiratkan luka yang selama ini ia pendam.
“Sudahlah, tidak usah dibahas,” potong Andi cepat. “Kita ganti topik saja.”
Yang lain mengangguk setuju.
“Ngomong-ngomong,” kata Reno, “suamimu masih jualan bakso bakar di taman itu?”
Arumi mengerutkan dahi, berpikir. “Sepertinya masih. Kemarin saja dia libur karena membereskan kamar kontrakan … tempat aku tinggal sekarang.”
“Jadi kalian tinggal satu rumah?” tanya Santi.
“Iya.”
“Terus … kalian tidur satu kamar?” tanya Santi lagi, kini dengan nada penasaran.
Arumi menggeleng. “Tidak. Kami sepakat untuk tidur di kamar masing-masing.”
Ketiga sahabatnya tampak terkejut.
“Walaupun sudah menikah?” tanya Santi.
Arumi mengangguk. “Karena kami belum saling mencintai. Kami juga belum benar-benar saling mengenal.”
Reno menghela napas pelan. “Berarti suamimu orangnya baik. Tidak semua laki-laki bisa seperti itu.”
Arumi tersenyum kecil. “Iya. Dia memang baik.”
Ia lalu melanjutkan, “Bahkan dia rela menghabiskan tabungannya untuk membeli kebutuhan di kamar tempat tidur, lemari, meja rias, kipas angin, mesin cuci … semua itu untukku. Dia juga memberiku uang belanja.”
Ketiga sahabatnya saling berpandangan.
“Kalau dari ceritamu,” kata Andi, “kami bisa menyimpulkan kalau suamimu orangnya bertanggung jawab. Dia bahkan melakukan semua itu untuk perempuan yang baru dikenalnya.”
Arumi hanya terdiam, mengingat semua yang telah Elang lakukan.
“Iya,” sahut Reno. “Jarang ada laki-laki seperti itu. Tapi tetap saja … kita harus memastikan semuanya.”
Arumi mengangguk.
“Kami akan bantu menyelidikinya,” lanjut Reno tegas. “Kami tidak mau kamu menderita karena menikah dengan orang yang salah.”
Mata Arumi mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar terharu.
“Terima kasih,” ucapnya tulus.
“Kita ini sahabat,” kata Reno. “Sudah seperti keluarga.”
“Betul,” tambah Santi.
Andi juga mengangguk.
Suasana menjadi hangat.
“Ngomong-ngomong,” kata Andi kemudian, “keseharian suamimu apa saja? Apa dia hanya jualan bakso bakar?”
Arumi menggeleng. “Tidak. Dia hanya jualan sore sampai malam. Siangnya, dia kerja di tempat lain.”
“Kerja apa?” tanya Reno cepat.
Arumi menarik napas sejenak. “Dia bilang … dia kerja sebagai OB.”
“OB?” ulang Reno.
“Iya.”
“Di mana?” tanya Andi.
Arumi menatap mereka satu per satu sebelum menjawab, “Katanya… di kantor ini. Di Dirggantara Group.”
Seketika, ketiga sahabatnya terkejut.
“Serius?” tanya mereka bersamaan.
Arumi mengangguk pelan. “Katanya begitu. Tapi aku sendiri belum pernah melihatnya di sini.”
Padahal, Arumi sudah hampir dua tahun bekerja di perusahaan itu. Namun, ia tidak pernah merasa melihat sosok Elang sebelumnya.
“Namanya siapa tadi?” tanya Andi memastikan.
“Elang,” jawab Arumi.
Andi mengangguk pelan. “Baiklah. Kalau memang dia bekerja di sini, akan lebih mudah untuk menyelidikinya.”
Reno tersenyum tipis. “Iya. Kita akan cari tahu. Kami tidak mau sahabat kami jatuh ke tangan orang yang salah.”
Ia menatap Arumi dengan penuh kesungguhan.
“Kalau nanti ternyata dia bukan orang baik, kamu harus berani mengambil keputusan. Kebahagiaanmu yang utama.”
Arumi mengangguk, hatinya terasa hangat sekaligus campur aduk.
Ia merasa bersyukur memiliki sahabat seperti mereka.
Meskipun mereka tidak selalu bisa membelanya secara terang-terangan terutama saat berhadapan dengan Rani yang memiliki pengaruh besar di perusahaan namun mereka selalu ada untuknya, diam-diam mendukung dan melindungi.
Arumi memahami posisi mereka.
Ia tahu mereka juga mempertaruhkan pekerjaan mereka.
Namun, di balik semua itu, Arumi tahu satu hal pasti
Ia tidak sendirian.
Dan kini, bersama sahabat-sahabatnya, ia akan mulai mencari tahu satu hal penting dalam hidupnya:
Siapa sebenarnya Elang … suami dadakannya.