NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Pagi yang Baru dan Barisan yang Terbelah

Embun masih bergelayut manja di ujung dedaunan kala Jenawa Adraw mematikan mesin sepeda motornya tepat di depan pagar bercat putih gading. Sesuai dengan janjinya semalam, pemuda itu tak memarkirkan kendaraannya di tengah jalan. Ia merapatkan motornya ke tepi trotoar, duduk dengan tenang di atas jok, dan membiarkan udara pagi Wonosari yang sejuk meresap ke dalam pori-porinya.

Pagi ini terasa berbeda. Beban tak kasat mata yang selama ini bertengger di pundaknya sebagai seorang panglima telah ia lucuti di Kedai Pak Dirman semalam. Meski ia tahu akan ada badai penolakan dari Seno dan barisannya, dada Jenawa justru terasa teramat lapang.

Derit engsel pagar besi memecah lamunan Jenawa. Sinaca Tina melangkah keluar, tampak paripurna dengan seragam putih abu-abu yang disetrika tanpa cela, rambut hitamnya diikat rapi menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya. Gadis itu tertegun sejenak melihat Jenawa telah menanti dengan senyum simpul yang terukir di bibirnya.

"Selamat pagi, Sinaca," sapa Jenawa seraya turun dari motornya. Ia meraih helm cadangan dan menyodorkannya dengan takzim. "Aku harap kehadiranku yang terlalu pagi ini tak mengusik ritme persiapanmu."

Sinaca menerima helm tersebut, seulas senyum tipis—yang kini tak lagi ditutup-tutupi—menghiasi wajah ayunya. "Kau datang lebih awal dari jadwal yang biasanya kugunakan untuk menyusuri jalan kaki ke sekolah, Jenawa. Namun, sebuah ketepatan waktu adalah hal yang patut diapresiasi. Selamat pagi."

"Aku tak ingin melewatkan satu detik pun untuk memastikan kau tiba di sekolah tanpa halangan," balas Jenawa.

Sinaca mengenakan helmnya, lalu naik ke boncengan dengan gerakan yang anggun. "Lajukan kendaraanmu dengan sewajarnya, Jenawa. Kita memiliki banyak waktu sebelum lonceng berdentang."

"Sesuai titahmu," jawab Jenawa.

Motor itu pun melaju membelah jalanan perumahan yang masih lengang. Tak ada adu kecepatan, tak ada raungan knalpot bising yang memancing makian warga. Hanya ada laju yang konstan dan keheningan yang sarat akan makna di antara dua insan tersebut. Di kaca spion, Jenawa bisa melihat Sinaca yang sesekali memejamkan mata, menikmati embusan angin pagi. Kepercayaan yang gadis itu berikan padanya kini terasa nyata, menggantikan tembok pertahanan yang dulu berdiri angkuh.

Namun, kedamaian di atas kendaraan bermotor itu harus berakhir tatkala mereka memasuki gerbang SMA Bangsa.

Area parkir sekolah sudah mulai dipenuhi oleh siswa. Di sudut yang biasanya menjadi wilayah kekuasaan barisan Jenawa, Seno dan beberapa anak kelas tiga telah berkumpul. Kebiasaan pagi yang lazim adalah: begitu deru motor Jenawa terdengar, barisan itu akan menyambutnya dengan sorak-sorai penuh hormat atau tepukan di bahu.

Pagi ini, kebiasaan itu mati.

Saat Jenawa mematikan mesin motornya dan membantu Sinaca turun, tak ada satu pun sapaan yang menggema. Seno berdiri bersandar pada dinding koridor dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya menatap tajam ke arah Jenawa, memancarkan aura dingin dan kekecewaan yang kentara. Kawan-kawannya yang lain hanya menunduk atau membuang muka, tak berani menatap mantan pemimpin mereka yang kini datang bersama seorang gadis.

Sinaca, dengan kecerdasannya yang tajam, segera menangkap ganjilnya atmosfer pagi itu. Ia menyerahkan helm kepada Jenawa dan memandangi barisan pemuda di sudut parkiran, lalu beralih menatap wajah Jenawa.

"Apakah ada sesuatu yang luput dari pengetahuanku, Jenawa?" tanya Sinaca pelan, memastikan suaranya hanya terdengar oleh pemuda di hadapannya. "Kawan-kawanmu menatap kita layaknya kita adalah seteru. Kau tak kembali terlibat perselisihan dengan mereka semalam, bukan?"

Jenawa merapikan letak helm di jok motornya dengan tenang. Ia memutar tubuhnya, menghalangi pandangan Sinaca dari barisan Seno, memusatkan seluruh atensinya hanya pada gadis itu.

"Tak ada perselisihan fisik, Sinaca. Hanya sebuah perbedaan pandangan yang tak lagi bisa disatukan," jawab Jenawa dengan suara baritonnya yang mengalun datar.

"Perbedaan pandangan mengenai apa?" desak Sinaca, sepasang matanya menelisik kebohongan, namun tak menemukannya.

Jenawa menundukkan sedikit wajahnya, menatap lekat ke dalam manik mata Sinaca. "Semalam, di kedai, aku telah meletakkan gelarku. Aku mengundurkan diri dari barisan itu, Sinaca. Aku tak lagi memimpin mereka, tak lagi memiliki wewenang atas jalanan, dan tak lagi berniat mencampuri urusan aspal."

Mata Sinaca sedikit membesar. Terkejut tak alang kepalang. Ia tahu seberapa besar arti barisan itu bagi seorang Jenawa Adraw. Gelar 'Panglima' bukanlah sesuatu yang bisa ditanggalkan begitu saja seperti melepas kemeja usang. Itu adalah identitas, harga diri, dan keluarga bagi pemuda tersebut.

"Kau... kau melepaskannya?" suara Sinaca bergetar halus. "Apakah... apakah itu karena diriku?"

"Itu adalah keputusanku sendiri," koreksi Jenawa lembut, tak ingin membebankan rasa bersalah di pundak gadis itu. "Kau hanya menjadi penerang yang membantuku melihat betapa sia-sianya jalan yang selama ini kutempuh. Aku tak menyesalinya, Sinaca."

Dada Sinaca terasa pias. Ada haru yang tiba-tiba menyeruak, membentur-bentur rongga hatinya. Laki-laki di hadapannya ini baru saja meruntuhkan takhtanya sendiri demi sebuah janji untuk berjalan di jalan yang damai.

"Namun kawan-kawanmu tampak amat kecewa," lirih Sinaca, melirik dari balik bahu Jenawa.

"Waktu yang akan menjelaskan pada mereka," putus Jenawa tegas. Ia kemudian menggeser posisinya, mempersilakan Sinaca untuk melangkah lebih dulu. "Mari, kuantar kau menuju kelas. Kita tak boleh membiarkan udara dingin ini membuatmu berdiri terlalu lama."

Sinaca mengangguk pelan. Keduanya melangkah bersisian menyusuri lorong sekolah. Saat mereka melintasi barisan Seno, udara seketika membeku. Tak ada sapa. Tak ada hormat. Hanya ada tatapan nanar dari Seno yang menghujam punggung Jenawa.

"Kau sungguh menukar persaudaraan kita dengan ini, Wa?" desis Seno cukup keras hingga terdengar oleh keduanya.

Langkah Jenawa tak terhenti. Ia tak menoleh, tak juga membalas provokasi kawan karibnya itu. Ia membiarkan gema kekecewaan Seno memantul di dinding koridor, menguap bersama dinginnya pagi.

Di sisi Jenawa, Sinaca berjalan dengan kepala tegak. Meskipun ia merasa iba pada keretakan persahabatan pemuda itu, ia tak lagi merasakan ketakutan. Hari ini, ia melihat Jenawa Adraw bukan sebagai sang panglima jalanan yang beringas, melainkan sebagai seorang laki-laki dewasa yang berani mengambil sikap. Dan di dalam hati Sinaca, apresiasi terhadap laki-laki itu telah bermetamorfosis menjadi sebuah afeksi yang kian sulit untuk disangkal.

1
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!