Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Ning, Ngomong Apa?
“Din, Alex ndak pernah hubungin kamu lagi?” Fiona mengalihkan pembicaraan.
Nandini terdiam. Ia memiringkan bibirnya. Menikah mendadak dan kehidupan di Ndalem yang membuatnya culture shock, mendukungnya tak ingat akan Alex. Tak sempat ingat. Tak ada waktu.
Siang menyesuaikan diri dengan dinamika Ndalem dan penghuninya. Malam beradaptasi dengan Santaka. Baru beberapa malam ini, adaptasinya lancar. Sangat lancar.
"Ndak pernah tuh, Fi. Terakhir aku chat, ya pas mutusin dia. Centang satu. Habis itu, aku ndak sempet liat-liat lagi. Kamu kan tau, di malem aku putus sama si Kelek, aku malah disuruh nikah sama Mas Taka.
Besok-besoknya aku stress dipaksa nikah. Terus banyak acara di Ndalem, sebelum nikah. Habis nikah, makin sibuk di Ndalem."
Nandini mengeluarkan ponselnya. Ia melihat kontak Alex. Pesan terakhir tetap ucapan putus darinya. Sudah centang dua dan berwarna biru. Alex sudah membaca namun tak menanggapi permintaan Nandini. Benar-benar kacau pemikiran Alex.
Tanpa berpikir panjang lagi, Nandini memblokir kontak Alex. Mengubur masa lalu yang tak jelas. Ia sudah mantap memilih masa depan bersama Santaka. Lelaki yang selalu memprioritaskannya.
"Emang kebangetan kacau si Alex. Dan kamu perlu setaun buat sadar, kebangetan bodho!" Fiona mencibir.
"Ish, sudah, jangan dibahas lagi! Aku bertahan karna ya aku pengen liat pembuktian omongan Alex. Taunya ndak dibuktiin juga. Terus kan walaupun setaun, kan Alex suka ninggalin aku kayak sekarang. Dia balapan ke mana-mana. Aku nelangsa di sini."
Nandini menggelengkan kepala mengingat kebodohannya di masa lalu. Bisa-bisanya jadi seperti bucin, budak cinta. Padahal ia merasa tak secinta itu pada Alex. Ya, ada tetap rasa sayang itu. Namanya setahun pacaran.
Tapi rasa yang berbeda dirasakannya bersama Santaka. Ia benar-benar mabuk kepayang oleh sang gus, mabuk cinta. Karena Santaka benar-benar mencekokinya dengan cinta yang layak.
Cinta dengan penghormatan dan penghargaan. Dengan bimbingan. Dengan kesabaran. Dengan gairah bergelora yang halal. Waktu satu tahun itu kalah oleh masa singkat dua bulan.
Rasa geli di perut ketika dekat Santaka, degup jantung yang menggila ketika ditatap sang suami, bahkan keinginan untuk disentuh, hanya Nandini rasakan bersama Santaka. Perasaannya pada Alex sangat dangkal, sangat mudah patah oleh kekuatan hati Santaka.
“Iya, Alex belum balik ke Solo lagi, Din. Masih tur balapan. Dia dapet sponsornya jackpot banget. Kakap. Jadi dia dapet promosi.” Fiona kini bak portal berita, serba tahu.
“Tau dari mana kamu, medsos dia?” Nandini mengerutkan alisnya.
“Iya, dari mana lagi. Dari Tiktoknya dia. Terus ya info-info dari temenku anak event balap sih.” Fiona masih sibuk mengunyah.
"Eh, masa Bidadari Penolong itu tetep si Alex tampilin di kontennya dia. Tangan, punggung siapa yang dia pake? Jelas-jelas kamu di sini. Emang ndak mau rugi dia. Sudah diputusin juga. Bukannya baikin kamu, malah nyuekin. Dia ngegampangin kamu berarti."
"Gila, aku jadi pengen jedotin kepala aku. Bodhonya aku dulu." Nandini berdecak.
Fiona mengambil palu di laci. "Mana sini kepala kamu. Biar aku bantu." Palu itu sudah dikepal sang gadis. Bibirnya mengulum senyum.
"Heh, jomblo ngenes, itu ndak beneran artinya gitu!" Kedua gadis itu tertawa.
“Mana katanya, gosip-gosipnya, bos sponsornya perempuan kan, Alex ada maen sama dia. Maenan kayak gitu kan ndak mungkin cuma pegangan tangan saja ya.” Fiona berbisik di akhir kalimat. Matanya menyipit.
Nandini menipiskan bibirnya. “Biarin saja lah, Fi. Toh aku sudah putus sama dia. Sudah ndak ada urusan. Sudah ndak peduli.”
“Suamimu tau soal Alex?” tanya Fiona.
Nandini mengembuskan napas. “Ndak. Belum. Harus ya tau?”
“Ya, ndak tau juga sih, harus tau apa ndak. Cuma takutnya, kalau Alex balik ke Solo, dia nyariin kamu. Kaget pasti dia, tau-tau mantannya jadi calon nyai, hahaha...”
Nandini tersenyum tipis. “Semoga ndaklah... Harusnya kalau dia mau nyariin, dari kemaren-kemaren. Ini udah dua bulan putus, dia diem-diem wae.”
“Iya.. Ati-ati saja kalau dia macem-macem, Din. Aku takut dia bikin rame. Apa ndak bahaya buat kamu? Kamu kan sekarang posisinya di masyarakat sudah ndak kayak dulu.” Fiona menipiskan bibirnya.
“Ndak lah... Aku hajar dia kalau macem-macem!”
“Halah, gayamu Din. Setaun jadi pacar ndak dianggap, nrimo-nrimo saja. Sabar, terima dizolimin. Bucin ndak jelas. Sekarang sok mau ngehajar.” Fiona tertawa meledek Nandini yang hanya tersenyum kecil.
"Saranku, cerita saja sama Gus Taka. Jaga-jaga Alex datang, terus buat ulah, Din. Mungkin Alex sekarang diem saja karna kesatu, dia sibuk balapan sama ngelayanin bosnya. Kedua, dia ngegampangin kamu, kayak biasanya.
Dia pikir palingan nanti kalau pulang, kamu bakal mau maafin dia. Mau diajak balikan. Tapi begitu tau kamu sudah nikah, dia bakal ngamuk. Laki-laki ndak suka kepunyaan dia direbut orang. Walaupun kepunyaan dia itu, ndak dia anggep selama ini."
Fiona menatap Nandini. Memastikan sang sahabat mendengarkannya. Nandini tercenung.
Membicarakan Alex di tengah kemelut Ahsan yang masih bergulir, membuat Nandini khawatir Santaka jadi makin tertekan. Sepertinya masalah Alex harus ia pikirkan bagaimana baiknya ke depan.
"Doain ndak sampai begitu ya, Fi. Semoga Alex legowo. Lagian kalau dia sudah ada main sama bosnya, ngapain juga ngejar aku lagi. Duitnya sekarang sudah cukup buat nyervis motornya. Ndak perlu aku lagi." Nandini mengembuskan napasnya.
Fiona mencebik. "Hubungan sama bosnya kan bisa saja cuma di kasur saja, Din. Bisa juga si bos punya maenan laen selaen Alex. Di dunia kayak gitu, kan biasa. Hawa nafsu terdepan!
Dan kayak yang aku bilang, Alex nanti cari ribut bukan karena cemburu, cinta sama kamu. Tapi lebih ke ego dia sebagai laki-laki kesenggol. Kamu yang biasanya tunduk, lepas dari tangan dia begitu saja."
Nandini termenung. Ia menatap nanar lantai bengkel. Ia memejamkan mata sambil mengembuskan napas. "Ndak lah, Fi. Semoga ndak. Doain ya."
Fiona tersenyum simpul. Selain penampilan Nandini yang berubah total, isi mulut sahabatnya itu juga berubah. Dari tadi minta didoakan. Sangat tenang, tak ada umpatan atau nada tinggi.
Nandini menyudahi kunjungan dadakannya ke bengkel. Ia kembali pergi menuju tujuan awalnya, Sweet Sanctuary alias SS—toko kue Santaka.
Sang montir sudah tak sabar bertemu suaminya. Saling suap nasi goreng di atas pangkuan. Duh, nakalnya pikiran Nandini sekarang.
Istri Santaka itu mematut diri di kaca spion. Ia meraih kotak bekal di dalam kantong yang tergantung di stang motor. Ia melangkah seanggun kucing persia.
Tangan Nandini membeku melihat keberadaan Syifa di SS. Ia tahu dari Husna kalau Syifa sempat mau dijodohkan dengan Santaka. Tak jadi karena Santaka keburu digerebek bersamanya, yang akhirnya dipaksa menikah.
Racun Fiona tentang poligami, mulai menyebar di pikiran Nandini. Ia menatap ke dalam SS. Suasana toko itu relatif sepi dari biasanya. Syifa berdiri di depan suaminya yang sedang berdiri di dalam konter.
Santaka terlihat menulis sesuatu, tak mengindahkan Syifa. Sekarang bisa cuek, siapa yang tahu seterusnya?
Nandini membuka pintu perlahan. Santaka yang menunduk dan Syifa yang membelakangi pintu masuk, tak menyadari kedatangan Nandini.
“Gus... saya punya kenalan penerbit. Gus mau ndak nulis buku resep? Wah, pasti naikin nama Gus Taka itu. Nama SS juga. Saya mau dukung karir sampeyan, Gus....”
Tangan Nandini mengepal. Napasnya menjadi cepat. Rahangnya bergoyang.
Ning macam apa Syifa ini? Mengajak suami orang mengobrol berduaan. Kenapa bagian Nandini dikawal ketat oleh Sarah dan Abyasa, sedangkan model Syifa bisa kelolosan sensor?
“Ning Syifa, panjenengan ngomong apa sama suami Dini?”
Santaka menoleh. Syifa membalikkan badan.
...****************...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭