Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YABG TERHAPUS.
"Apa kau yakin membawa wanita ini ke sini adalah keputusan benar, Indah?"
Suara berat Kakek Marto memecah kesunyian ruang tamu yang sederhana, saat Assel dan indah baru sampai di rumah Nenek Indah. Pria tua itu menatap Assel yang sedang memangku Razka yang terlelap di atas balai-balai kayu. Aroma kayu jati dan tanah basah khas pedesaan Jogja menyelimuti rumah itu, namun ketenangan tersebut tidak mampu meredam gemetar di tangan Assel.
"Kek, Assel dalam bahaya. Adik suaminya ingin mengambil paksa anaknya, jika dia tak mau menikah dengannya. Padahal suaminya baru saja meninggal," jawab Indah dengan nada memohon. Agar sang Kakek memberikan izin Assel tinggal disana."Makanya Indah bawak kesini, karena hanya di sini kami bisa bersembunyi."
Nenek Marto datang membawa dua gelas teh hangat, wajahnya penuh guratan usia namun sorot matanya teduh. Ia mengusap pundak Assel lembut. "Kasihan sekali nak Assel. Suami baru meninggal, malah harus lari seperti buronan."
Kakek Marto mengisap pipa tembakaunya perlahan, matanya menatap mobil merah yang terparkir mencolok di halaman depan. "Tempat ini tidak aman Ndah. Mobil itu seperti mercusuar di tengah kegelapan. Jika pria yang kalian takuti itu punya kekuasaan, dia akan sampai di sini sebelum matahari terbenam."
Assel mendongak, wajahnya pucat pasi. "Lalu kami harus ke mana, Kek? Tolong saya Kek, saya tidak mau menikah dengannya, saya juga tidak ingin berpisah dengan anak saya," mohon Assel, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ke Jawa Timur. Adikku punya pondok pesantren di sana, tempatnya sangat tertutup dan terjaga," ujar Kakek Marto sambil berdiri. "Kalian tidak boleh pakai mobil. Naiklah kereta api agar tidak meninggalkan jejak digital atau GPS. Biar Kakek antar ke stasiun pakai delman."
Tanpa membuang waktu, Assel kembali menggendong Razka. Ia meninggalkan kenyamanan mobil Indah dan beralih ke atas delman kayu. Bunyi tapak kuda yang beradu dengan jalanan berbatu mengiringi kepergian mereka di bawah remang fajar. Di stasiun, mereka beruntung mendapatkan tiket keberangkatan paling awal. Saat kereta mulai bergerak meninggalkan Jogja, Assel menyandarkan kepalanya di kaca jendela, berharap deru mesin kereta bisa menenggelamkan rasa takutnya.
Sementara itu di sisi lain. Setelah memasuki kota Jogja tim Maheer mulai menelusuri desa-desa yang berada di kota tersebut dan beberapa jam kemudian, deru mesin mobil mewah membelah ketenangan desa tempat kakaek Indah tinggal. Maheer turun dari mobilnya dengan rahang yang mengeras. Hans di belakangnya menunjuk ke arah halaman sebuah rumah limasan.
"Itu mobilnya, Tuan muda," bisik Hans.
Maheer melangkah tegap menuju teras rumah. Meskipun amarah membakar dadanya, ia tetap menurunkan ego saat melihat Kakek Marto sedang duduk tenang di kursi bambu. Maheer sedikit menundukkan kepala, menjaga tata krama di depan orang tua itu.
"Permisi, Kek. Saya Maheer. Saya mencari wanita yang membawa mobil merah di halaman itu," ujar Maheer dengan suara rendah namun tegas.
Kakek Marto tersenyum tipis, matanya mengamati penampilan Maheer dari atas ke bawah. "Kau punya tata krama yang baik untuk orang sekota dirimu, Anak Muda. Duduklah. Aku tidak ingin mendengar cerita dari satu sisi saja. Kenapa kau mengejar wanita malang itu?"
Maheer duduk dengan kaku. "Assel adalah kakak ipar saya. Kakak saya meninggal dalam kecelakaan demi menyelamatkan saya. Di napas terakhirnya, dia berwasiat agar saya menikahi Assel untuk menjaga dia dan anaknya. Tapi Assel malah lari membawa pergi keponakan saya."
Kakek Marto terdiam lama, asap pipa mengepul di antara mereka. Mendengar kata "Wasiat", raut wajah pria tua itu berubah serius. Di desa, wasiat adalah hutang nyawa yang sakral.
"Wasiat orang mati adalah amanah berat," gumam Kakek Marto. Ia menatap Maheer tajam. "Aku akan memberitahumu ke mana mereka pergi. Tapi aku minta satu hal, jika kau bertemu dengannya, bersihkan hatimu dari prasangka. Cari kebenarannya, bukan hanya pembalasan."
Maheer tertegun, namun ia mengangguk mantap. "Saya hanya ingin menjalankan amanah kakak saya, Kek."
Kakek Marto menghela napas, lalu menyebutkan sebuah alamat pondok pesantren di pelosok Jawa Timur. "Mereka naik kereta. Kau mungkin bisa menyalip mereka lewat jalur darat jika kau memacu mobilmu tanpa henti."
"Terima kasih, Kek. Saya berjanji akan menyelesaikannya dengan benar," ucap Maheer sebelum berpamitan.
Di dalam mobil, Maheer langsung menatap Hans. "Ke Jawa Timur sekarang. Jangan biarkan mereka sampai lebih dulu dari kita."
"Baik, Tuan. Tapi jalanan ke sana cukup sulit," Hans mengingatkan.
"Aku tidak peduli. Tambah kecepatannya!" bentak Maheer.
Pikiran Maheer kini tertuju pada alamat pondok pesantren itu. Ia membayangkan Assel yang mengira telah aman di balik tembok pesantren, tidak menyadari bahwa ia sedang meluncur kencang untuk memutus pelarian itu.
"Kau pikir bisa bersembunyi di tempat suci setelah membawaku dalam dosa kebencian ini, Assel?" gumam Maheer sambil menatap jalanan yang membentang luas. "Kita lihat, siapa yang akan menyerah lebih dulu."
Jalur darat menuju Jawa Timur menjadi saksi bisu pengejaran Maheer yang tak kenal lelah. Di sisi lain, kereta yang membawa Assel terus melaju, membawa rahasia dan luka yang siap meledak kapan saja saat mereka kembali dipertemukan. Maheer tahu, setelah ini, segalanya tidak akan pernah sama lagi. Antara wasiat, fitnah, dan benci, ada benang merah yang mulai terajut paksa.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah