NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan Para Pemangsa

📖 BAB 12: Jamuan Para Pemangsa

Penthouse Gu Beichen tenggelam dalam keheningan setelah siaran pers itu berakhir.

Di layar besar, wajah Madam Qin sudah menghilang, digantikan berita ekonomi dan iklan parfum mewah. Namun kalimat terakhirnya masih menggantung di udara seperti pisau.

Kami akan membuka rahasia yang disembunyikan ayahmu selama dua puluh lima tahun.

Lin Qingyan—atau Qin Yue, nama yang masih terasa seperti milik orang lain—menatap Beichen.

Pria itu berdiri membelakangi semua orang, menatap jendela kota dengan kedua tangan di saku celana.

Ia tampak tenang.

Tapi Qingyan kini tahu satu hal:

Saat Gu Beichen terlalu tenang, sesuatu sedang terbakar di dalam dirinya.

Madam Gu meletakkan cangkir teh dengan suara pelan.

“Jadi mereka akhirnya menggunakan kartu itu.”

Beichen tak menoleh.

“Mereka terlalu lambat.”

Shen Zorui mengangkat alis.

“Kau masih arogan seperti dulu.”

“Aku hanya belum bosan benar.”

Qingyan melangkah maju.

“Ada yang mau menjelaskan padaku? Atau aku harus menunggu berita malam?”

Beichen menoleh.

Tatapannya jatuh tepat ke wajahnya.

“Tidak sekarang.”

Ia hampir tertawa saking marahnya.

“Tentu saja. Karena rahasia selalu lebih penting daripada aku.”

“Karena kau sedang jadi target.”

“Dan itu alasan untuk terus membohongiku?”

“Tidak.”

“Bagus.”

“Alasannya karena kau akan marah.”

Qingyan menatapnya beberapa detik.

Lalu mengambil bantal sofa dan melempar sekuat tenaga.

Beichen menangkap tanpa kesulitan.

Han memalingkan wajah agar tak ketahuan tersenyum.

Madam Gu berdiri.

“Cukup bermain.”

Ia menatap Qingyan.

“Besok malam kau akan datang ke jamuan keluarga Qin.”

Qingyan berkedip.

“Apa?”

“Kau tak bisa sembunyi selamanya.”

“Aku juga tak mau masuk kandang ular.”

Madam Gu mengangguk kecil.

“Masuk kandang ular kadang satu-satunya cara mengetahui ular mana yang berbisa.”

“Apa Ibu selalu bicara seperti kutipan buku kuno?”

“Ya.”

Masuk akal.

Beichen langsung menolak.

“Tidak.”

Madam Gu menatap putranya.

“Kau tak bisa melindunginya dengan mengunci pintu.”

“Aku bisa mencoba.”

“Kau sudah mencoba. Tadi malam rumahmu ditembus.”

Han diam-diam merasa tertampar padahal bukan dia target pembicaraan.

Shen Zorui mengetuk tongkat perak.

“Madam Qin tak akan mundur. Jika gadis ini tak muncul, mereka akan menekan media, hukum, dan bisnis. Dalam seminggu hidup kalian akan jadi sirkus nasional.”

Qingyan mengangkat tangan.

“Sebagai orang yang hidupnya dibahas, boleh aku bicara?”

“Boleh,” jawab Madam Gu.

“Aku tidak mau datang.”

Semua diam.

Lalu Beichen berkata singkat:

“Bagus.”

Madam Gu menutup mata sebentar, mungkin menyesali garis keturunannya.

Namun Qingyan melanjutkan.

“Aku tak mau datang sebagai korban.”

Ia menatap monitor tempat wajah Madam Qin tadi muncul.

“Kalau aku datang... aku datang sebagai orang yang memilih.”

Ruangan berubah sunyi.

Han menoleh perlahan.

Shen Zorui tersenyum tipis.

Madam Gu tampak puas.

Beichen justru terlihat lebih berbahaya.

“Tidak.”

Qingyan menoleh.

“Kau dengar bagian ‘aku memilih’?”

“Aku dengar bagian ‘kau masuk ke sarang musuh.’”

“Aku bukan barang yang bisa kau simpan.”

“Aku tahu.”

“Bagus.”

“Itu sebabnya aku akan ikut.”

Ia mendecak kesal.

“Kenapa semua keputusan harus berakhir dengan wajahmu?”

“Karena wajahku menenangkan.”

“Tidak. Wajahmu memicu pajak emosi.”

Han batuk keras untuk menutupi tawa.

Siang itu penthouse berubah menjadi markas perang.

Tim keamanan menyiapkan rute masuk dan keluar. Pengacara meneliti hak waris keluarga Qin. Tim media menyiapkan kontra-narasi jika terjadi skandal. Penata busana datang membawa puluhan gaun, sepatu, dan perhiasan.

Qingyan menatap semua itu dengan jijik.

“Aku diburu semalam. Hari ini dipasangi anting.”

Penata busana tersenyum profesional.

“Trauma dan glamor bisa berjalan bersamaan, Nona.”

Jawaban yang mengganggu karena benar.

Di ruang ganti pribadi, Qingyan berdiri di depan cermin sementara tiga orang sibuk mengukur badan.

Ia belum terbiasa dilayani.

Lebih tepatnya, ia tidak percaya pada kemewahan yang datang terlalu cepat.

Pintu terbuka.

Beichen masuk tanpa mengetuk.

Ketiga stylist langsung membeku.

Qingyan menutup dada refleks meski masih memakai pakaian lengkap.

“Keluar!”

“Aku mau lihat.”

“Keluar!”

“Ini rumahku.”

“Dan ini ruang ganti.”

“Masih rumahku.”

Qingyan mengambil sepatu hak tinggi dan mengangkatnya.

Beichen mundur setengah langkah.

“Temperamenmu meningkat.”

“Keluar atau aku buktikan gravitasi.”

Ia akhirnya keluar.

Stylist termuda berbisik kagum, “Nona... Anda satu-satunya orang yang pernah mengusir Tuan Gu hidup-hidup.”

Menjelang sore, Han datang membawa map hitam.

“Ada sesuatu yang perlu Anda lihat.”

Qingyan duduk di sofa, kini mengenakan gaun sutra sederhana.

Han membuka map berisi foto-foto orang.

“Anggota inti keluarga Qin.”

Foto pertama: Madam Qin Lirong. Senyum indah, mata dingin.

“Dia kakak ipar Elena Qin. Setelah kebakaran, ia mengambil alih keluarga.”

Foto kedua: pria muda berjas putih, tampan dan tersenyum elegan.

“Qin Armand. Putra sulung. Mengelola bisnis medis.”

“Dia terlihat seperti dokter drama televisi.”

“Biasanya orang seperti itu paling berbahaya.”

Foto ketiga membuat Qingyan berhenti.

Seorang wanita muda, anggun, sangat cantik, dengan mata tajam mirip dirinya.

“Ini siapa?”

Han menatap map.

“Qin Serin. Putri angkat keluarga Qin.”

“Angkat?”

“Diambil setahun setelah Anda hilang.”

Qingyan merasakan sesuatu yang aneh.

Jadi saat ia menghilang... mereka menggantinya?

Malam turun.

Limusin hitam berhenti di depan gedung warisan keluarga Qin—sebuah hotel tua bergaya klasik yang diubah menjadi pusat acara elite. Karpet merah terbentang. Kamera berkilat. Tamu kelas atas berdatangan.

Begitu pintu mobil dibuka, puluhan kamera langsung menyorot.

Qingyan turun lebih dulu.

Gaun hitam sederhana membalut tubuhnya elegan. Rambut disanggul rapi. Wajahnya tenang.

Di dalam, lututnya sedikit gemetar.

Lalu Beichen turun di sampingnya.

Setelan hitam, ekspresi dingin, aura mengintimidasi.

Kerumunan langsung riuh.

“Gu Beichen datang!”

“Itu wanita yang dicari!”

“Apakah dia benar pewaris Qin?”

Beichen menoleh sedikit.

“Pegang lenganku.”

“Aku bisa jalan sendiri.”

“Bukan untukmu.”

“Lalu?”

“Untuk memberi tahu mereka bahwa kau bukan mangsa.”

Qingyan diam dua detik.

Lalu menggandeng lengannya.

Flash kamera meledak lebih liar.

Di aula utama, musik klasik mengalun.

Lilin kristal menggantung dari langit-langit tinggi. Para tamu mengenakan gaun dan jas mahal, tersenyum sambil saling menusuk lewat kata-kata halus.

Saat Qingyan masuk, seluruh ruangan memperhatikannya.

Ia merasa seperti rusa di tengah ruang makan serigala.

Madam Qin berdiri di tangga utama dengan gaun emas pucat.

Senyumnya sempurna.

“Selamat datang... Qin Yue.”

Qingyan menjawab datar.

“Nama itu masih terdengar asing.”

“Rumah akan mengingatkanmu.”

“Rumah mana? Yang membakarku?”

Sunyi.

Beberapa tamu pura-pura minum agar tak terlihat menikmati drama.

Madam Qin tetap tersenyum.

“Kau mewarisi lidah Elena.”

“Semoga bukan selera keluarganya.”

Han, dari sudut ruangan, hampir tersedak minuman.

Seorang pria muda mendekat.

Tampan, tinggi, rapi.

Qin Armand.

Ia membungkuk sopan.

“Sepupu. Senang akhirnya bertemu.”

Qingyan menatapnya.

“Aku belum memutuskan.”

Armand tertawa kecil.

“Jujur. Menarik.”

Ia melirik Beichen.

“Tuan Gu, saya tak tahu Anda suka urusan keluarga orang.”

Beichen menjawab tenang.

“Aku suka mengambil hal yang dijaga orang bodoh.”

Udara mendadak dingin.

Lalu seorang wanita turun dari tangga perlahan.

Cantik, anggun, mata tajam.

Qin Serin.

Ia berhenti di depan Qingyan dan tersenyum.

Senyum yang terlalu indah untuk dipercaya.

“Jadi... akhirnya yang asli datang.”

Qingyan menatap balik.

“Dan yang palsu sudah lama nyaman.”

Beberapa tamu menahan napas.

Serin tertawa pelan.

“Aku suka dia.”

“Jangan terlalu cepat,” jawab Qingyan.

“Kenapa?”

“Aku belum tentu suka balik.”

Madam Qin mengangkat gelas.

“Hadirin sekalian.”

Ruangan hening.

“Malam ini keluarga Qin merayakan kembalinya darah yang hilang selama dua puluh lima tahun.”

Semua kamera mengarah ke Qingyan.

Madam Qin tersenyum.

“Dan sebagai simbol rekonsiliasi keluarga... kami juga ingin mengumumkan pertunangan strategis antara Qin Yue dan Qin Armand.”

Ruangan meledak.

Qingyan membeku.

Beichen menoleh perlahan.

Tatapannya membuat lampu kristal terasa redup.

Armand tampak sama terkejutnya.

Madam Qin tetap tersenyum.

Qingyan berkata pelan,

“Apa?”

Lalu sebuah tangan dingin menggenggam pinggangnya.

Beichen menariknya mendekat.

Dan di depan seluruh tamu, ia berkata dengan suara rendah yang mematikan:

“Sayang sekali.”

Ia menatap Madam Qin.

“Wanita ini sudah menjadi milikku.”

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!