Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Surat Dari Ibu & Air Mata di Atas Sajadah
Malam itu, setelah Balqis tidur pulas dengan napas teratur dan wajah yang mulai merona sehat, aku duduk sendirian di ruang tengah. Lampu remang hanya diterangi oleh cahaya layar HP yang masih menyala, menampilkan draft bab sebelumnya. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri perlahan, berpegangan pada dinding untuk menjaga keseimbangan.
Kaki kananku yang lumpuh menyeret pelan di atas lantai keramik dingin. Setiap langkah adalah perjuangan, tapi malam ini ada sesuatu yang mendorongku maju — seperti ada bisikan halus dari alam sana yang mengatakan, “Teruslah berjalan, sayang. Aku bangga padamu.”
Aku membuka laci meja tua di sudut ruangan — laci kayu jati warisan orang tuaku, yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di dalamnya, tersimpan kenangan-kennangan kecil: foto pernikahan kami, gelang tangan Balqis saat bayi, dan sebuah amplop cokelat usang yang selalu aku hindari selama tiga tahun terakhir.
Tanganiku gemetar saat mengambil amplop itu. Debu tipis menempel di permukaannya, tapi tulisan tangan di depannya masih terbaca jelas, meski tintanya sudah memudar dimakan waktu:
*“Untuk Ayah dan Balqis, dari Ibu.”*
Air mataku langsung menggenang. Ini adalah surat terakhir yang ditulis almarhumah istriku, tiga hari sebelum ia menghembuskan napas terakhir di rumah sakit daerah. Dulu, aku tidak kuat membacanya. Setiap kali mencoba, dadaku sesak, napasku tersengal, dan air mataku tumpah tanpa bisa dikendalikan. Aku selalu menutup amplop itu kembali, menyembunyikannya di laci paling dalam, seolah dengan begitu aku bisa menyembunyikan rasa sakitku juga.
Tapi malam ini berbeda.
Balqis tidur pulas di kamar sebelah. Angin malam berembus pelan melalui jendela yang terbuka setengah, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Di kejauhan, terdengar suara azan Isya dari masjid dekat rumah — suara yang selalu menenangkan hati saya sejak kecil. Burung-burung malam berkicau pelan, seolah ikut merasakan kesedihan dan harapan yang bercampur di dada seorang ayah yang sedang berjuang.
Aku menarik napas panjang, lalu mulai membaca lagi. Kali ini, aku baca perlahan, kata demi kata, seperti sedang mendengarkan suara ibunda Balqis berbisik langsung di telingaku. Suaranya lembut, penuh kasih, dan penuh keyakinan — persis seperti dulu saat dia membacakan dongeng untuk Balqis sebelum tidur.
> “Sayang, kalau kamu baca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi. Jangan terlalu lama bersedih. Hidup harus terus berjalan, terutama untuk Balqis. Aku tahu kamu kuat. Kamu selalu jadi sandaranku. Sekarang, jadilah sandaran bagi anak kita. Jangan menyerah. Tulislah cerita-cerita indah. Karena dunia butuh kisah-kisah penuh harapan, seperti kisah cinta kita dulu.”
> “Jangan lupa ajarkan Balqis shalat lima waktu. Jangan biarkan dia tumbuh tanpa doa-doa ibunya. Aku titipkan dia padamu, sayang. Jadilah ayah sekaligus ibu baginya. Aku percaya kamu bisa.”
> “Dan jangan pernah merasa sendiri. Aku akan selalu bersamamu — dalam setiap sujudmu, dalam setiap air matamu, dalam setiap kata yang kau tulis. Cintaku tidak mati bersama ragaku. Ia hidup dalam senyum Balqis, dalam kekuatanmu, dalam setiap halaman novel yang kau ciptakan.”
Air mataku jatuh lagi. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan. Ini air mata kebanggaan. Kebanggaan karena aku masih diberi kesempatan untuk menjalankan amanah terakhir dari wanita tercinta dalam hidupku. Kebanggaan karena aku tidak sendirian — dia selalu bersamaku, bahkan