Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4: Penyusupan di Sayap Barat
Malam kembali menyelimuti kediaman Aditama dengan keheningan yang mencekam. Arkanza belum juga menunjukkan batang hidungnya. Sejak kekacauan sistem yang dibuat oleh "Z" semalam, pria itu seolah menghilang ditelan pekerjaan. Bagi orang lain, ini adalah malam yang sepi, namun bagi Araya, ini adalah kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu.
Araya bangkit dari sofa panjang yang menjadi tempat tidurnya. Ia mengenakan piyama sutra tipis berwarna putih tulang, memberikan kesan bahwa ia hanyalah seorang wanita lemah yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dengan gerakan seringan kucing dan tanpa alas kaki, ia menyelinap keluar kamar.
Tujuannya satu: Sayap Barat. Area terlarang yang dijaga ketat oleh sistem keamanan canggih dan pengawasan Leon.
"Kamera di koridor ini berputar setiap lima belas detik," gumam Araya dalam hati sambil menghitung ritme gerak CCTV. Begitu kamera berbalik, ia berlari kecil dan menempel di dinding bayangan.
Langkah kaki Araya terhenti di depan pintu kayu jati besar yang terkunci rapat. Itu adalah ruang kerja pribadi Arkanza. Tanpa laptop besar, Araya mengeluarkan perangkat modifikasi kecil yang ia sembunyikan di balik lipatan piyamanya. Hanya butuh waktu sepuluh detik bagi jemarinya yang lincah untuk membobol kunci elektronik tersebut.
Ceklek. Pintu terbuka.
Ruangan itu berbau maskulin—paduan antara kayu ek, kopi pahit, dan sedikit aroma tembakau mahal. Araya segera menuju meja kerja Arkanza yang berantakan dengan dokumen. Ia tidak tertarik pada kertas-kertas itu. Matanya tertuju pada sebuah drive eksternal yang terhubung ke komputer utama.
"Ayo, Arkanza... jangan buat aku kecewa. Di mana kau menyimpan data transaksi keluarga Lin?" bisik Araya.
Ia menghubungkan ponsel modifikasinya ke server lokal. Di layar ponselnya, barisan kode hijau mulai mengalir deras. [Menghubungkan ke Jaringan Lokal... Membobol Firewall Lapis Ketiga...]
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah terdengar dari halaman mansion. Jantung Araya mencelos. Sial, dia pulang lebih cepat!
Araya panik. Jika ia mencabut koneksinya sekarang, data itu akan korup dan sistem keamanan akan mengirim sinyal bahaya ke ponsel Arkanza. Ia harus menunggu sepuluh detik lagi. Sepuluh detik yang terasa seperti satu abad.
95%... 98%... 100%. Selesai!
Langkah kaki berat yang sangat Araya kenal kini menggema di lorong menuju ruangan ini. Tidak ada jalan keluar selain pintu utama. Dengan cepat, Araya menyambar sebuah buku tebal dari rak terdekat—sebuah buku tentang hukum internasional yang membosankan—dan berdiri membelakangi pintu, tepat di depan jendela besar yang terbuka.
Pintu terbuka dengan kasar. Arkanza melangkah masuk dengan dasi yang sudah dilonggarkan, wajahnya terlihat sangat gusar. Langkahnya terhenti saat melihat sosok mungil berdiri di ruangannya.
"Araya?" suara bariton itu menggelegar, dingin dan tajam.
Araya berbalik perlahan, tubuhnya sengaja dibuat gemetar hebat. Ia membiarkan buku itu jatuh dari tangannya ke lantai porselen. Mata beningnya mulai berkaca-kaca, akting yang sempurna untuk menutupi detak jantungnya yang menggila.
"T-tuan... maafkan aku," isak Araya dengan suara serak. "Aku... aku tidak bisa tidur. Aku mengalami mimpi buruk tentang nenekku. Aku ingin mencari buku untuk menenangkan pikiranku, tapi aku tersesat dan... dan pintunya tidak terkunci. Aku sangat ketakutan, Tuan."
Arkanza berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti intimidasi yang nyata. Ia berdiri tepat di depan Araya, membuat wanita itu terhimpit di antara meja kerja dan tubuh besarnya. Arkanza mengambil buku yang jatuh tadi, menatap judulnya dengan kening berkerut.
"Hukum Internasional? Kau ingin menenangkan pikiran dengan membaca ini?" Arkanza mencengkeram dagu Araya, memaksanya mendongak. Mata elangnya menatap tajam, seolah ingin menembus langsung ke dalam rahasia yang disembunyikan Araya. "Atau kau sedang mencari celah untuk membantuku... atau justru membantu keluarga Lin yang rakus itu?"
Araya menggeleng kuat, air mata buatannya kini benar-benar jatuh membasahi pipi. "Tidak, Tuan! Aku tidak tahu apa-apa tentang bisnis. Aku hanya ingin pulang... tempat ini terlalu besar dan dingin."
Arkanza menatapnya lama dalam keheningan yang mencekam. Ia bisa mencium aroma mawar dari rambut Araya yang mengalihkan fokusnya sejenak. Ada sesuatu yang aneh, pikirnya. Wanita ini terlihat sangat rapuh, tapi mengapa instingnya mengatakan ada yang salah?
"Keluar," perintah Arkanza akhirnya dengan suara rendah. "Jika aku melihatmu di sayap barat lagi, jangan harap kau bisa melihat nenekmu lagi. Mengerti?"
"I-iya, Tuan. Terima kasih!" Araya segera berlari keluar dari ruangan itu seolah nyawanya terancam.
Begitu ia menutup pintu kamarnya sendiri dan menguncinya, tangis Araya berhenti seketika. Ekspresi ketakutannya menguap, digantikan oleh senyum kemenangan yang dingin. Ia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa folder baru yang terunduh otomatis.
"Terima kasih atas datanya, Suamiku sayang," bisik Araya. Namun, senyumnya memudar saat ia membuka satu dokumen berjudul 'Project 1998'. Di sana, tertera nama kedua orang tuanya yang telah meninggal. "Apa?! Jadi selama ini... kematian mereka berhubungan dengan keluarga Aditama?"
Tangan Araya mengepal kuat. Permainan ini baru saja berubah dari sekadar bertahan hidup menjadi misi balas dendam yang sesungguhnya.