NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dingin di Kampus, Panas di Rumah

BAB 16 — Dingin di Kampus, Panas di Rumah

Hidup Alena kini terasa seperti hidup di dua dunia yang berbeda total. Dan yang paling menyiksa... kedua dunia itu dihuni oleh satu orang yang sama: Adrian Vale.

Setiap pagi, saat matahari baru saja terbit dan mereka berada di lingkungan kampus yang luas ini... Alena harus menghadapi Dr. Adrian Vale yang asli.

Pria itu kembali menjadi sosok yang sedingin es. Tatapannya tajam, suaranya kering dan tegas, tidak ada senyum, tidak ada sapaan, dan yang paling parah... seolah Alena hanyalah salah satu dari ratusan mahasiswi biasa yang tidak istimewa.

 

❄️ Siang yang Dingin

Di koridor kampus yang ramai, Alena berjalan berpapasan dengan Adrian.

Jantung Alena berdegup kencang, dia sudah siap tersenyum atau setidaknya menunduk hormat seperti biasa. Tapi apa yang terjadi?

Adrian berjalan tegap dengan setelan jas rapinya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Matanya melirik sekilas ke arah Alena... tapi kosong. Tidak ada kedipan mata, tidak ada kode rahasia, tidak ada rasa akrab sama sekali.

Seolah mereka tidak pernah berbagi malam yang panas dan intim. Seolah mereka tidak pernah saling mencintai.

"Selamat siang, Sir," sapa Alena pelan, suaranya hampir tak terdengar.

"Hmm," Adrian hanya mendengus singkat, lalu berjalan lewat begitu saja tanpa menghentikan langkahnya, tanpa menoleh sedikitpun.

Bahunya bersentuhan tipis saat berpapasan, tapi rasanya seperti bersentuhan dengan orang asing.

Alena berhenti di tempatnya, menunduk menahan perih yang tiba-tiba menyerang ulu hati.

Begitukah? batinnya bertanya pilu. Di luar sana, aku tidak ada artinya?

Di dalam kelas pun sama. Saat Adrian menjelaskan materi dengan gaya khasnya yang keren dan berwibawa, sesekali matanya akan menyapu seluruh ruangan. Dan setiap kali tatapan itu sampai ke tempat duduk Alena... pandangan itu akan berhenti sepersekian detik, lalu beralih begitu saja dengan dingin.

Tidak ada panggilan nama yang lembut. Tidak ada perhatian khusus. Hanya ada aturan, nilai, dan profesionalisme.

Alena mulai bingung.

Sisi mana yang sebenarnya Adrian? Apakah pria dingin yang tidak peduli ini yang asli? Atau pria hangat, posesif, dan penuh cinta yang dia temui setiap malam itu hanya topeng untuk memuaskan hasrat semata?

Rasa bingung itu lama-kelamaan berubah menjadi rasa sakit.

 

🔥 Malam yang Panas

Namun, begitu matahari terbenam dan pintu apartemen tertutup rapat... segalanya berubah drastis dalam hitungan detik.

Topeng Dr. Vale dilepaskan, dan munculah Adrian yang lain.

Pria yang begitu hangat, begitu lapar, dan begitu perhatian.

"Sayang... kemari..."

Adrian akan menariknya masuk ke dalam pelukan erat, menciumnya dengan dahaga seolah dia sudah merindukan Alena seharian penuh. Dia akan memperlakukan Alena seperti ratu, seperti pusat dunianya.

"Kau cantik sekali hari ini..." bisik Adrian sambil melepaskan jaket Alena, tangannya bergerak lincah membuka kancing baju gadis itu satu per satu dengan tatapan kagum. "Aku tidak sabar ingin memilikimu."

Malam-malam itu selalu panas, selalu intens, dan selalu penuh kasih sayang.

Adrian akan memanjakan tubuh Alena, membuat gadis itu mendesah nikmat, membuat gadis itu merasa menjadi wanita paling bahagia dan paling diinginkan di dunia.

"Ahh... Adrian... lebih..."

"Minta lagi... teriakkan namaku..." desah Adrian parau di atas tubuh gadis itu, gerakannya dalam dan mantap. "Kau tahu kan betapa aku butuh kau? Hanya kau yang bisa bikin aku tenang."

Tapi...

Saat kepuasan itu mereda, saat mereka berbaring lelah, rasa bahagia itu perlahan digantikan oleh kenyataan pahit yang menghantam kepala Alena.

Dia menatap wajah tampan di sampingnya yang sedang memejamkan mata.

Siang hari, dia diabaikan. Diperlakukan seperti angin, seperti tidak ada.

Malam hari, dia dipuja-puja, dicintai, dan dimiliki sepenuhnya.

Alena mulai merasa lelah. Sangat lelah.

Dia lelah harus berpura-pura. Lelah harus memakai topeng. Lelah harus merasa bersalah setiap kali berjalan berpapasan. Lelah harus merasa cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Lelah harus merasa iri pada pasangan lain yang bisa jalan bergandengan tangan di siang bolong tanpa takut ada yang melihat.

Hubungan ini... indah di malam hari, tapi menyiksa di siang hari.

Dia ingin menjadi kekasih yang nyata. Bukan sekadar bayangan yang muncul saat gelap. Bukan sekadar rahasia yang harus ditutup rapat.

 

💔 Kata-kata yang Terucap

Malam itu, setelah selesai dan Adrian sedang bersandar santai sambil merokok tipis, Alena duduk di tepi ranjang memeluk lututnya. Suasananya hening, tapi pikirannya berisik sekali.

"Adrian..." panggil Alena pelan, suaranya terdengar lelah dan datar.

"Hmm?" Adrian menoleh, meniup asap rokoknya ke arah lain agar tidak mengenai Alena. Tatapannya lembut, tidak tahu bahwa badai sedang datang.

"Aku..." Alena menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Air matanya sudah siap tumpah. "Aku mulai tidak kuat dengan keadaan seperti ini terus-terusan."

Adrian mengerutkan kening, mematikan rokoknya lalu berusaha mendekat. "Maksudmu apa, Len?"

"Maksudku ini!" Alena menunjuk ke arah dirinya dan ke arah Adrian. "Siang hari aku jadi angin, malam hari aku jadi segalanya. Aku bingung, Adrian! Aku bingung harus jadi siapa! Aku capek harus sembunyi! Capek harus merasa bersalah!"

Air mata jatuh membasahi pipi Alena, membuat jantung Adrian seakan diremas keras.

"Kau bilang kau sayang aku, kau bilang aku milikmu... tapi kenapa di depan orang lain kau seolah menghapus keberadaanku? Kenapa aku harus jadi rahasia yang gelap dan kotor begini?"

"Alena, bukan itu maksudku... kita sudah bahas ini, ini demi keamananmu juga..."

"Aku tidak butuh keamanan kalau rasanya seperti dipenjara!" potong Alena keras, suaranya pecah. Dia menatap Adrian dengan mata yang merah dan berkaca-kaca, penuh dengan keputusasaan.

Dengan suara bergetar namun tegas, Alena mengucapkan kalimat yang memecah keheningan malam itu.

"Aku tidak bisa terus jadi rahasiamu..."

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!