NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Langit sore itu tampak redup, seolah ikut menahan napas bersama ketegangan yang terjadi di antara mereka. Erlan berdiri tegak di hadapan Linda, tatapannya tajam dan penuh tuntutan. Matanya tidak lepas dari bayi yang berada dalam gendongan wanita itu.

“Linda,” ucapnya dengan suara berat, “anak siapa itu?”

Linda menggenggam bayi itu sedikit lebih erat. Wajahnya berusaha tetap tenang, meski jantungnya berdetak tidak karuan. “Anak sepupu saya,” jawabnya singkat. “Dia sedang bekerja di luar negeri, jadi saya yang menjaga.”

Erlan tertawa kecil, tapi tanpa sedikit pun kehangatan. “Sepupu?” Ia melangkah lebih dekat. “Saya tahu kamu, Linda. Setelah orang tuamu meninggal karena kecelakaan pesawat, kamu tidak punya siapa-siapa.”

Linda terdiam. Kata-kata itu seperti menekan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

“Jadi jangan bohong,” lanjut Erlan, suaranya semakin dingin. “Katakan yang sebenarnya.”

Tangan Erlan tiba-tiba meraih pundak Linda, mencengkeramnya cukup kuat hingga membuat Linda sedikit meringis. Tatapan pria itu menusuk, penuh rasa ingin tahu yang berubah menjadi tekanan.

“Apa yang terjadi setelah kita berpisah?” desaknya. “Apa yang kamu sembunyikan dari saya?”

“Lepaskan saya, Erlan,” kata Linda pelan, berusaha menahan emosinya.

Di sisi lain, Adi dan Rama yang sejak tadi memperhatikan mulai merasa situasi itu tidak benar.

“Pak, cukup,” kata Adi sambil melangkah maju. “Anda tidak bisa bersikap seperti ini.”

Rama ikut menambahkan, “Dia wanita, Pak. Ini sudah berlebihan.”

Erlan menoleh dengan kesal. “Kalian minggir,” perintahnya tegas. “Ini bukan urusan kalian.”

“Tapi—”

“Saya bilang minggir!”

Nada suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan. Namun saat Adi dan Rama masih mencoba menenangkan keadaan, perhatian Erlan teralihkan sesaat.

Dan ketika ia kembali menoleh—

Linda sudah tidak ada.

“...”

Erlan membeku sejenak, lalu rahangnya mengeras. “Sial.”

Ia segera menoleh ke arah kedua asistennya. “Cari dia.”

“Pak?” Adi terlihat bingung.

“Saya tidak peduli bagaimana caranya,” lanjut Erlan, suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Temukan dia.”

Rama dan Adi saling pandang, jelas belum memahami sepenuhnya situasi yang terjadi.

“Siapa dia sebenarnya, Pak?” tanya Adi hati-hati.

Erlan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah jalan yang sudah kosong, seolah mencoba menangkap bayangan yang telah hilang.

“Orang yang seharusnya tidak pergi tanpa penjelasan,” katanya akhirnya.

 

Di dalam sebuah bus yang melaju perlahan, Linda duduk di kursi dekat jendela. Napasnya masih sedikit terengah, sisa dari ketegangan yang baru saja ia tinggalkan.

Bayi dalam pelukannya mulai gelisah.

“Shh... tidak apa-apa,” bisiknya lembut sambil mengayun perlahan. “Ibu di sini.”

Bayi itu mengeluarkan suara kecil, tangannya bergerak seakan mencoba meraih sesuatu. Linda tersenyum, lalu menatap wajah mungil itu dengan penuh kasih.

“Kirana,” ucapnya pelan.

Nama itu meluncur begitu hangat dari bibirnya.

“Kamu adalah matahari kecil ibu,” lanjutnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Yang membuat semuanya terasa lebih terang.”

Kirana mengoceh, suara kecil yang belum jelas, namun cukup membuat hati Linda mencair.

Namun di balik senyumnya, ada kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Lebih baik dia tidak tahu,” gumamnya lirih. “Lebih baik kamu tidak dikenal olehnya.”

Bayangan Erlan muncul di benaknya.

Pria yang dulu begitu ia cintai.

Pria yang kini justru ingin ia hindari.

Linda menunduk, mencium kening Kirana dengan lembut. “Ibu tidak ingin kamu tumbuh hanya melihat ambisi,” katanya. “Tanpa kasih sayang.”

Ia terdiam sejenak.

Sebenarnya bukan hanya itu.

Ia takut.

Takut menghadapi masa lalu yang belum selesai.

Mereka berpisah saat Linda sedang hamil. Saat itu, emosinya tidak stabil, pikirannya penuh kecemasan. Ia ingin memberi tahu Erlan tentang kehamilan itu.

Namun setiap kali mencoba, Erlan selalu sibuk.

Selalu ada pekerjaan.

Selalu ada ambisi.

“Ini penting, Erlan,” katanya dulu.

“Nanti saja, saya sedang ada urusan besar,” jawab pria itu tanpa menoleh.

Dan kata “nanti” itu tidak pernah benar-benar datang.

Linda menggigit bibirnya pelan, menahan kenangan yang masih terasa menyakitkan.

Ia merasa tidak dianggap.

Tidak penting.

Akhirnya, ia memilih pergi.

Sendiri.

“Sudah cukup,” bisiknya, seolah menutup bab itu. “Sekarang hanya ada kita.”

Bus berhenti perlahan.

Linda bangkit, menggendong Kirana dengan hati-hati sebelum turun.

 

Sebuah rumah sederhana menyambutnya.

Tidak mewah, tapi terasa hangat.

Linda berdiri di depan pintu, menarik napas dalam sebelum mengetuk.

Tok.

Tok.

Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka.

“Linda!”

Seorang wanita langsung menyambutnya dengan wajah ceria.

“Anita...” Linda tersenyum lega.

Tanpa ragu, mereka saling berpelukan.

“Akhirnya kamu datang juga,” kata Anita sambil sedikit menjauh, matanya langsung tertuju pada bayi di pelukan Linda. “Dan ini pasti Kirana!”

“Iya,” jawab Linda.

“Ya ampun, lucu sekali!” Anita langsung mengulurkan tangan. “Sini, Tante gendong.”

Kirana berpindah ke pelukan Anita, dan dengan cepat bayi itu tertawa kecil, seolah sudah mengenali kehangatan yang diberikan.

“Lihat ini, dia langsung suka sama saya,” kata Anita bangga.

Linda tertawa pelan. “Sepertinya begitu.”

“Ayo masuk,” ajak Anita. “Jangan berdiri di luar seperti tamu.”

Mereka masuk ke dalam rumah.

Suasana di dalam terasa nyaman, sederhana tapi rapi. Seperti tempat yang benar-benar bisa disebut rumah.

“Kamu bisa pakai kamar yang dulu,” kata Anita. “Saya tidak pernah mengubahnya.”

Linda menatap sahabatnya dengan haru. “Terima kasih.”

“Tidak perlu,” jawab Anita ringan. “Saya senang kamu di sini. Apalagi ada Kirana.”

Kirana kembali mengoceh, seolah ikut menyetujui.

“Tuh kan,” lanjut Anita sambil tersenyum. “Dia juga setuju.”

Linda hanya bisa tersenyum.

Ia berjalan menuju kamar yang dimaksud, membawa tasnya. Saat membuka pintu, ia melihat ruangan itu masih sama seperti dulu.

Tidak banyak berubah.

Seperti waktu yang berhenti di sana.

Linda meletakkan tasnya di atas tempat tidur, lalu mulai membuka isinya. Ia mengeluarkan pakaian kecil milik Kirana satu per satu, menatanya dengan rapi.

Setiap gerakan terasa tenang.

Teratur.

Berbeda jauh dari kekacauan yang sempat ia rasakan sebelumnya.

Di luar kamar, terdengar suara tawa kecil Kirana.

Linda berhenti sejenak, lalu tersenyum.

Suara itu... menenangkan.

Ia melanjutkan kegiatannya, menyiapkan pakaian untuk mandi Kirana. Handuk kecil, baju ganti, semuanya disusun dengan rapi.

Sementara itu, di ruang tengah, Anita masih bermain dengan Kirana.

“Kamu anak pintar ya,” kata Anita sambil mengangkatnya sedikit. “Panggil Tante, coba.”

Kirana mengeluarkan suara yang belum jelas, tapi cukup membuat Anita tertawa.

“Sudah hampir bisa bicara,” katanya sendiri.

Linda keluar dari kamar, melihat pemandangan itu dengan hati hangat.

“Dia suka sekali sama kamu,” ucap Linda.

“Jelas,” jawab Anita santai. “Saya punya pesona alami.”

Linda menggeleng pelan, tapi senyumnya tidak hilang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar aman.

Tidak ada tekanan.

Tidak ada tuntutan.

Hanya ketenangan sederhana.

Namun di sudut hatinya, ia tahu...

Semua ini belum benar-benar selesai.

Erlan tidak akan berhenti begitu saja.

Dan saat hari itu datang...

Linda harus siap.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Tapi juga untuk Kirana.

Anak yang kini menjadi alasan terbesarnya untuk tetap kuat.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!