Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Ibukota Kerajaan Tyraven, Thorsin.
Genderang ditabuh seiring gerbang dibuka lebar. Hanya dalam hitungan menit, halaman utama Aula Tinggi Istana disesaki rakyat yang telah menunggu di luar gerbang sejak beberapa jam lalu.
Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu setelah Agor mengumandangkan orasi, yakni hari pembuktian sang pewaris yang katanya dijadikan kambing hitam. Mereka berbondong-bondong dan berdesakan di bawah terik matahari yang terasa membakar puncak kepala.
Para prajurit berjajar bagai barikade di hadapan para rakyat agar tidak mendekati aula, hanya boleh menyaksikan dari halaman saja melalui orator istana yang akan dibantu sihir pengeras suara nantinya.
Sementara, di dalam Aula Tinggi Istana, tokoh-tokoh penting telah hadir. Mulai dari anggota keluarga kerajaan, hakim beserta jajajaran, dewan bangsawan, penasihat kerajaan, para saksi dan pihak pendukung lainnya. Namun, acara belum kunjung digelar karena terdakwa belum hadir, yakni putri mahkota Tyraven, Ilyar Justina Valgard.
"Sepertinya putri tersesat karena terlalu lama berada di penjara."
"Delapan tahun bukan waktu sebentar."
"Seperti apa penampilannya?"
"Hanya membayangkan sosoknya yang sekarang saja membuatku iba. Dia mungkin lebih menyedihkan dari pada terakhir kali kita melihatnya dijatuhi hukuman."
Ravena menahan senyum mendengar percakapan samar sejumlah bangsawan pada barisan kursi sejurus posisinya duduk. Namun, mereka langsung bungkam tatkala Agor menatap bengis. Seolah hendak merobek mulut-mulut yang baru saja menghina putrinya.
"Ini sudah setengah jam berlalu, Yang Mulia. Mengapa belum ada tanda-tanda kedatangan mereka?" Ravena agak mencondongkan tubuh, merendahkan suara di dekat telinga Agor.
"Dakrossa letaknya jauh dari Thorsin, belum lagi wilayah itu sangat berbahaya. Bisa sampai cepat justru mengejutkan," jawab Agor.
Hakim yang duduk dekat keduanya angguk-angguk kepala menanggapi jawaban Agor. Makan waktu berhari-hari untuk sampai Dakrossa, tapi berkat adanya sihir teleportasi semuanya jadi cukup mudah. Hanya saja, sihir perpindahan lokasi tersebut tidak semudah penggunaannya. Dalam mekanismenya, seorang penyihir harus membuat lingkaran sihir entah di tanah atau udara kemudian menyalurkan ener untuk proses keberhasilan.
Cukup memakan waktu.
Sebentar lagi mungkin mereka akan sampai, itulah pikir Agor dan benar saja, tidak lama penjaga pintu utama memberitahu kedatangan Solomon dengan suara lantang.
Pintu dibuka. Ditemani penyihir agung dan Heidan, Solomon memasuki ruangan. Berjalan dengan percaya diri pada jalan berlantai marmer terbuka yang membelah sekelompok kursi dipenuhi hadirin.
Solomon berhenti lalu memandangi ujung ruangan, di mana Agor, Ravena, serta jajaran hakim yang akan memimpin persidangan berada. Tanpa banyak bicara, Solomon membungkukkan tubuh ke arah Agor, memberi salam penghormatan lalu maju untuk menyerahkan dokumen pada hakim.
Setelah Solomon menarik diri dan berdiri agak menepi, kebisingan kembali meledak karena Ilyar tidak tampak ikut bersamanya. Hakim mengangkat telapak tangan kanan di udara, meminta para hadirin lebih tenang selagi dia menanyakan keberadaan terdakwa pada kepala sipir yang berdiri tak jauh darinya.
"Mengapa Anda tidak datang bersama terdakwa, Ser?" tanya hakim.
*Ser adalah sebutan atau panggilan kehormatan yang ditujukan pada kalangan militer.
Solomon menunjukkan senyum seraya agak memiringkan tubuh ke belakang, menatap pintu utama yang sebentar lagi akan terbuka seiring seruan penjaga. "Seharusnya sebentar lagi terdakwa sampai."
"Mengapa terdakwa tidak datang bersama Anda? Apa terjadi masalah pada penggunaan sihirnya?"
Solomon melirik penyihir agung Dakrossa yang tadi ikut bersamanya, meminta dia untuk menjelaskan. Kemudian si penyihir mengatakan bahwa dia tidak bisa menggunakan sihir teleportasi untuk membawa lebih dari empat orang termasuk dirinya, selain membutuh lebih banyak waktu, ener yang dikerahkan pun harus dalam jumlah besar karena proses pengangkutan itu membutuh lebih banyak energi dan fokus tingkat tinggi agar tidak ada kecelakaan dalam penggunaannya. Jika gagal, dia harus membuat lingkaran sihir berpola rumit lagi.
"Begitu rupanya, baiklah alasan diterima jadi terdakwa akan hadir bersama penyihir lainnya menggunakan sihir perpindahan tempat?" tanya hakim.
Penyihir agung langsung memutuskan kontak mata dari hakim. Raut wajahnya jadi agak tegang seiring tangan meremas gelisah tongkat sihir.
"Itu... sebenarnya terdakwa tidak datang dengan bantuan sihir. Inilah alasan saya juga tidak bisa menggunakan sihir untuk membawanya kemari."
Semua orang yang mendengar alasan itu mengerutkan dahi tidak mengerti, tanpa terkecuali hakim.
"Apa maksudnya?"
"Itu karena sesuatu yang dia bawa," jawab penyihir agung.
Tidak lama suara rakyat meledak di halaman, membuat bagian dalam aula bergemuruh. Sejumlah orang di sana sampai terenyak dari kursi sangking terkejutnya. Kepala mereka menoleh cepat ke arah pintu.
Apa yang terjadi?
Saat itu pula dengan suara lantang agak gemetar, penjaga di luar pintu menggaungkan nama Ilyar Justina Valgard, terselip ketakutan pada nadanya.
Daun pintu terbelah perlahan. Menampakkan seorang wanita berambut merah melangkah perlahan ditemani seekor rubah setinggi tiga meter yang berjalan di balik punggungnya.
Itu adalah Vyr! Hewan magis yang lima tahun lalu baru ditaklukkan dan tidak mampu dijinakkan oleh putra mahkota kekaisaran. Sepasang mata Ravena membeliak, dia bahkan sampe lupa menarik napas karena ruangan sekarang dipenuhi aura mengintimidasi dari monster tersebut.
"Tenanglah, Vyr," ucap Ilyar seraya mendongak, menatap beasternya untuk lebih rilek.
Huh...
Vyr menuruti perkataan Ilyar, menyingkirkan aura mengintimidasi. Dia melakukan hal tersebut karena tidak suka cara mereka memandang Ilyar.
Dalam balutan pakaian dominan gelap, Ilyar mengenakan kemeja berlapis rompi ketat dipadu dasi kravat emas. Pada bagian luarnya, dia mengenakan jas hitam yang membentuk pinggang dengan bagian belakang jas memiliki potongan ganda dan memanjang seperti sayap jubah. Tubuh proporsionalnya semakin tampak memukau tatkala celana hitam mengilap yang dipakai mempertegas siluet paha hingga kaki jenjangnya.
Klotak!
Ketukan dari sepatu mengilap berlapis pelindung kaki emas mulia yang tampak seperti armor betis segera menyadarkan lamunan semua orang di dalam ruangan. Ilyar tidak mengenakan pakaian dengan lambang kebesaran keturunan seorang Valgard, tapi aura yang terpancar dari penampilan dan tubuhnya membuat semua orang berdecak kagum, sampai punggung merinding.
Ilyar kini telah sampai di hadapan Agor dan hakim. Kepalanya terangkat dengan percaya diri, tidak menunduk dan menghindari tatapan seperti dulu. Dia menunjukkan aura seorang calon pewaris.
"Sudah cukup lama, Yang Mulia," ucap Ilyar seraya melakukan curtsy layaknya kesatria wanita.
Dia menekuk lulut kanan ke belakang, membungkuk elegan, lalu meletakkan tangan kiri di depan perut sementara tangan kanan agak menyibak jas ke samping.
Sepasang mata Agor agak bergetar, seperkian detik dia termangu melihat sosok putrinya.
Sementara, Ravena mengepalkan tangan dan berusaha menyamarkan raut wajah penuh kebencian pada Ilyar. Di sisi lain, Theron dan Anelle yang terlihat tampak tidak acuh sejak menghadiri sidang mulai menunjukkan keberangan. Padahal sebelumnya mereka tidak terusik, tapi sekarang merasa posisi masing-masing terancam setelah melihat perubahan drastis anak pertama tersebut. Kakak tertua mereka!
"Karena saya sudah hadir, sepertinya sidang pembuktian sudah bisa dilakukan," ucap Ilyar setelah kembali menegapkan tubuh, memandangi Ravena dan keseluruhan bangsawan yang menunjukkan kebencian amat kentara padanya.