[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rencana latihan atau aku yang mati konyol
Sore di apartemen mewah Distrik Xinyi itu terasa panas, meskipun AC menyala penuh. Lin Yan baru selesai membersihkan sofa dari noda hitam bekas proses pembersihan, dan sekarang ia rebahan dengan malas, rambut putih panjangnya berantakan di atas bantal.
Layar hologram Sistem Xiyue muncul dengan ikon si gadis kecil yang memasang wajah paling serius sepanjang sejarah sistem.
【Janji. Ingat janji. Sore ini latihan.】
Lin Yan mengerang panjang. "Sistem, gue baru aja ngelawan om-om brengsek, mandi tiga kali, bersihin sofa, capek tau! Masa harus latihan lagi?"
【LU KIRA GUE PEDULI GITU?!】 Layar sistem berkedip merah. 【Kiamat tinggal 13 hari! 13 HARI! Lu mau mati konyol digigit zombie cuma karena males gerak?!】
"Tapi—"
【TAPI APA?! CEPET BANGUN, BODOH!】 Sistem memotong kasar. 【Lu pikir latihan fisik doang? Goblok. Lu punya Reality Warper, yang harus dilatih itu otak lu. Fisik lu udah di-upgrade, tapi otak lu masih otak pemalas. SEKARANG DUDUK DI LANTAI!】
Lin Yan mendengus, tapi bangkit juga. Ia duduk bersila di lantai marmer, masih pakai kaos oblong longgar dan celana pendek. "Udah, gue duduk. Terus?"
【Posisi meditasi. Pejam mata. Fokus.】
"Meditasi? Latihan kayak biksu gitu?" Lin Yan memicing curiga. "Ini latihan neraka atau latihan zen?"
【DIEM! BANYAK OMONG LU MANUSIA!】 Layar sistem bergetar lalu kembali menenangkan diri. 【Gue bakal masukin lu ke simulasi pertempuran. Di dalam, 5 menit dunia nyata \= 24 jam waktu simulasi. Lu harus bertahan hidup 24 jam di Taipei yang udah kiamat. Kalau lu mati di simulasi, lu bakal ngerasain sakitnya—sakit beneran, tapi langsung bangun. Kalau lu pingsan karena stres? Ya pingsan. Tapi efek sampingnya, jantung lu bisa berdebar kayak mau copot. SIAP?】
Mata Lin Yan berbinar. "Tunggu... jadi gue bisa mati berkali-kali tanpa mati beneran? Dan rasanya sakit?"
【Iya. Kenapa? Mau simulasi mati berkali-kali lu?】
Senyum Lin Yan melebar. Senyum yang sama seperti saat ia mengancam Liu jianming dengan pisau. Tapi kali ini... lebih mengerikan.
"Wah... seru banget."
【... bodoamat, MULAI!】
⚡ SIMULASI DIMULAI ⚡
Lin Yan membuka mata. Ia berdiri di tengah jalan Taipei yang dikenalnya—Xinyi Road, persis di depan Taipei 101. Tapi gedung pencakar langit itu kini setengah runtuh, kaca-kaca berserakan di aspal. Mobil-mobil terbakar di pinggir jalan. Asap hitam mengepul di mana-mana.
Dan di kejauhan... suara erangan. Banyak.
【Selamat datang di Neraka. Atau Taipei versi kiamat. Terserah lo mau nyebut apa.】
"Keren..." gumam Lin Yan, matanya berkeliling dengan rasa ingin tahu besar. Bukan takut. Bukan panik. Tapi seperti turis yang baru pertama kali ke tempat wisata. "Ini kayak film zombie beneran! Di mana zombie-nya?"
Seolah menjawab pertanyaannya, dari balik truk yang terbalik, muncullah sesosok makhluk. Manusia—atau bekas manusia—dengan kulit abu-abu, mata putih susu, dan mulut menganga memperlihatkan gigi berlumuran darah. Ia menyeret kaki, tapi begitu melihat Lin Yan, kecepatannya meningkat drastis.
【ZOMBIE DATANG! JANGAN CUMA DIPANDANGIN! LARI GOBLOK! ATAU KALAU KAGA YA LAWAN!】
"Eh? Tapi—"
Zombie itu sudah berlari ke arahnya dengan kecepatan tidak wajar. Lin Yan baru sadar kalau di simulasi ini, zombie bukan mayat jalan lambat kayak film-lawas. Ini zombie ala Train to Busan—cepat, agresif, dan haus darah.
"WAH! CEPET AMAT!"
Lin Yan berbalik dan lari tunggang langgang. Sandal jepitnya hampir terlepas. Ia berlari melewati mobil-mobil terbengkalai, nyungsep, bangun, lari lagi. Zombie di belakang terus mengejar, erangannya makin dekat.
"INI LO LATIHAN?! LO BILANG LATIHAN DASAR, KOK GUE DIKEJAR MAKHLUK BURUK RUPAAAA?!" teriak Lin Yan sambil lari.
【INI LATIHAN DASAR! BERTAHAN HIDUP ADALAH DASAR! SEKARANG DIAM DAN LARI!】
Lin Yan berbelok ke gang sempit. Di ujung gang, tiga zombie lagi muncul. Jalan buntu. Ia berbalik, zombie pertama sudah di belakangnya. Terjebak.
Panik. Jantung berdebar kencang. Napas tersengal.
Tapi tiba-tiba...
Hentikan.
Napasnya melambat. Matanya yang panik berubah. Bukan takut lagi. Tapi... penasaran.
"Oh... jadi ini rasanya mau mati?" gumamnya pelan, hampir berbisik. Zombie-zombie itu makin dekat, tinggal 3 meter. 2 meter. 1 meter. "Eh, tapi kenapa aku malah penasaran ya? Darah mereka warna apa? Dalamnya kayak gimana? Organ-organ mereka masih utuh atau udah busuk?"
Zombie pertama menerjang. Tangan Lin Yan bergerak—bukan untuk memblok, tapi untuk... menyentuh.
Byuur.
Darah hitam menyembur ke wajahnya. Tapi bukan darahnya sendiri. Di tangannya kini tergenggam... mata zombie. Ia mencongkelnya. Tanpa sadar. Refleks.
"Wah..." Lin Yan menatap bola mata busuk itu dengan takjub. "Masih agak kenyal. Tapi baunya kayak bangke seminggu."
Zombie itu meraung kesakitan—kalau zombie bisa kesakitan—dan mundur. Dua zombie lain justru makin ganas. Mereka menerkam.
Lin Yan tersungkur ke belakang, punggungnya membentur aspal. Satu zombie mencengkeram kakinya, yang lain membuka mulut lebar-lebar siap menggigit leher.
Dan Lin Yan... tersenyum.
"Wah, mau gigit? Sini, sini. Gue juga mau gigit."
Ia membuka mulut lebar-lebar dan menggigit balik leher zombie itu.
KRAK!
Darah hitam membanjiri mulutnya. Rasanya pahit, asam, busuk. Tapi Lin Yan malah tertawa. Tawa yang menggelegar di gang sempit itu. Tawa orang gila sejati.
"HAHAHAHAHA! SERU! SERU! GILA RASA NYA ANJIR MENJIJIKAN BANGET!"
Zombie yang digigitnya justru mundur kebingungan. Mungkin dalam algoritma zombie, tidak ada skenario di mana mangsa menggigit balik.
Lin Yan bangkit. Wajahnya belepotan darah hitam, rambut putihnya kusut, tapi matanya bersinar terang benderang—kebahagiaan murni.
"LAGI! LAGI! GUE MAU LAGI!"
Ia berlari ke arah zombie pertama yang masih memegang mata yang hilang, dan tanpa basa-basi, tangannya menerjang ke perut zombie itu. Jari-jarinya merobek kulit busuk, masuk ke dalam rongga perut.
"Wah, ususnya masih ada! Tapi warnanya item... kayak gosong. Awas, ya, gue tarik!"
Sreett.
Usus zombie itu keluar, melilit di lengan Lin Yan. Ia tertawa lagi, memutar-mutarkan usus itu seperti tali skipping.
"HAHAHAHA! LUCU! INI LUCU BANGET!"
Zombie kedua dan ketiga mundur. Untuk pertama kalinya, zombie menunjukkan ekspresi... takut? Tapi Lin Yan tidak memberi mereka waktu. Ia menerjang zombie kedua, mencengkeram rahangnya, dan merobek paksa rahang bawah sampai terlepas.
"Lu gigit gue tadi, ya? Nah, sekarang gue ambil gigi lu!"
Buh!
Ia membanting zombie itu ke dinding. Kepalanya pecah, otak hitam berhamburan. Lin Yan mencelupkan jari ke dalam remukan otak itu, menjilatnya.
"Hmm... kayak tahu busuk. Tapi kurang garam."
Zombie ketiga sudah lari—ya, lari—meninggalkan teman-temannya. Lin Yan menatap kepergiannya dengan kecewa.
"Eh, jangan pergi! Aku belum main sama lu!"
Tapi ia tidak mengejar. Ia malah berbalik pada zombie pertama yang masih merangkak dengan perut terbuka. Lin Yan jongkok di sampingnya, memiringkan kepala dengan ekspresi polos.
"Lu masih hidup? Atau mati? Bingung, deh. Tapi daripada setengah-setengah, mending gue bantu."
Ia mengambil pecahan kaca dari aspal, dan dengan hati-hati—seperti ahli bedah—membelah dada zombie itu. Tulang rusuk patah dengan suara mengerikan. Jantung hitam kering terlihat.
"Nah, ini jantungnya. Udah kayak kerupuk. Gak layak dimakan."
【SIMULASI BERAKHIR】
【ERROR: HOST MENGALAMI OVERLOAD MENTAL—TUNGGU, DIA NGAPAIN?】
【PAKSA KELUAR! PAKSA KELUAR!】
Lin Yan terbangun di lantai apartemen, napas tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi kaosnya sampai basah kuyub. Tangannya... masih bergerak-gerak seperti sedang memegang sesuatu.
Di sudut mulutnya... ada darah? Ah, tidak. Cuma ilusi. Tapi rasanya nyata.
【...】
Diam. Layar sistem tidak muncul.
Lin Yan terbatuk-batuk, lalu tertawa kecil. "Hehehe... hehehe... HAHAHAHA!"
Tawanya pecah. Ia berguling-guling di lantai, tertawa terbahak-bahak.
"GILA! GILA BANGET! SERU! ANJIR, SERU BANGET!"
Setelah beberapa menit, tawanya mereda. Ia berbaring kaku, menatap langit-langit, napas mulai normal. Tapi matanya... matanya masih bersinar aneh.
【...Akhirnya lu sadar.】
Layar sistem muncul, lambat, hampir hati-hati. Ikon si gadis kecil tampak... pucat? Mungkin efek hologram.
Lin Yan menoleh, senyum lebar mengembang. "Sistem! Lagi! Gue mau lagi!"
【...Jangan.】
"HAH? KOK JANGAN?! Itu seru banget! Gue bisa motong-motong mereka, gali organ, gigit balik, seru!"
【Karena lu bukan bertahan hidup. Lu main-main. Dan yang lebih parah...】 Layar sistem berkedip. 【Lu menikmatinya.】
"Iya! Emang! Emang kenapa?"
Lin Yan bangkit duduk, matanya menatap sistem dengan penuh semangat. Wajahnya yang cantik kini belepotan keringat, rambut putihnya acak-acakan, tapi senyumnya... senyum itu bukan senyum manusia normal.
【Itu... seharusnya nggak normal. Tapi untuk orang kayak lu... mungkin normal. Gue nyerah deh mikir.】
"Jadi gue bisa latihan lagi?"
【Bisa. Tapi lain metode. Yang tadi... gagal. Tujuan latihan biar lu siap bertahan hidup, bukannya malah jadi psikopat pembantai.】
Lin Yan cemberut. "Tapi gue kan emang psikopat. Lo sendiri yang bilang."
【...Point. Tapi tetep, lu harus kontrol. Bukan malah kalap kayak tadi. Lu bayangin kalau yang di depan lu itu manusia beneran—kayak Liu Ming, atau orang lain yang gak bersalah. Apa lu bakal lakuin hal yang sama?】
Diam.
Senyum Lin Yan perlahan memudar. Matanya yang tadi bersinar mulai redup. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri.
"...Gak tau."
【Makanya. Latihan selanjutnya fokus ke kontrol. Bukan pembantaian.】
"Iya..." Lin Yan menghela napas. Tapi tiba-tiba matanya berbinar lagi. "Tapi seru sih. Terus, tadi gue bisa bikin api gak sih? Atau gue cuma bayangin?"
【Lu berhasil bikin api. Tiga zombie pertama mati terbakar. Setelah itu, lu kalap dan lupa pake kekuatan.】
"Oh..." Lin Yan memukul jidatnya sendiri. "Bodoh banget! Padahal bisa main api!"
【Yakin mau main api? Bisa-bisa lu bakar diri sendiri.】
"Ah, sistem pesimis! Gue kan jenius!"
【Jenius sama gila itu berbeda. lu tu lebih tepatnya gila level maximal】
Lin Yan tersenyum lebar. Pujian dari sistem, meskipun setengah hati, tetap pujian.
"Jadi sekarang gimana? Latihan lagi?"
【Lu baru sadar. Istirahat dulu, makan, minum. Jantung lu masih berdebar kayak mau copot. Cek aja.】
Lin Yan meraba dadanya. Detak jantungnya memang masih cepat, tidak karuan. Badannya juga lemas, seperti abis lari maraton.
"Iya juga... laper. Gue mau mi instan."
【...Latihan neraka, abis itu makan mi instan. Lu memang kelas tersendiri.】
"Hahaha! Emang! Gue kan spesial!"
Lin Yan bangkit, agak sempoyongan, lalu berjalan ke dapur. Ia mengambil mi instan, merebus air, dan sambil menunggu, ia menatap keluar jendela. Matahari mulai condong ke barat. Langit Taipei jingga kemerahan.
"Sistem."
【Apa?】
"Di simulasi tadi, kenapa zombie-nya cepet banget? Kayak di film-film gitu?"
【Itu setting zombie standar kiamat. Bukan mayat jalan lambat. Mereka bisa lari, bisa panjat, bahkan kalau udah berevolusi bisa punya kemampuan khusus. Lu harus siap.】
"Berarti kalau di dunia nyata, zombie juga secepat itu?"
【Iya. Dan lebih mengerikan lagi: di dunia nyata, lu cuma punya satu nyawa. Mati ya mati. Gak ada respawn, lu pikir game.】
Lin Yan diam. Matanya serius untuk pertama kalinya.
"...Gue ngerti. Makanya gue harus kuat."
【Nah gitu dong. Anak baik.】
"Tapi tetep, seru banget tadi. Hehe."
【...Gue nyerah deh.】
Mi instan matang. Lin Yan duduk di meja makan, menyantap dengan lahap. Rambutnya yang masih basah keringat diikat asal. Di depannya, sistem muncul dengan tampilan data.
【Evaluasi Latihan Perdana:】
· Daya Tahan Fisik: B (Meningkat drastis berkat pil, tapi masih kurang)
· Kontrol Kekuatan: F (Hanya 2 kali berhasil, sisanya lupa)
· Insting Bertahan: D (Lari dulu, baru lawan—tapi begitu lawan, kalap)
· Stabilitas Mental: Z (Tidak ada. Serius, nol. Bahkan minus)
· Faktor Psikopat: SSS (Gue bahkan gak bisa ngomong)
【Kesimpulan: Lu punya potensi gila—dalam artian harfiah. Tapi butuh latihan keras. Sangat keras.】
Lin Yan membaca sambil menyedot mi. "Nilainya jelek semua, ya?"
【Iya. Tapi lu baru mulai. Wajar. Yang penting lu mau lanjut.】
"Lanjut dong! Tadi seru!" Lin Yan bersemangat. "Kapan lagi?"
【Besok. Sekarang istirahat. Tubuh lu butuh recovery.】
"Ah, bentar lagi dong! Lima menit!"
【TIDAK.】
"Tiga menit!"
【TIDAK!.】
"Satu menit! Satu menit aja! Gue janji gak akan kalap!"
【...】
Sistem diam. Layar berkedip-kedip, seperti berpikir keras.
【Baiklah. SATU MENIT. Tapi kali ini settingannya beda. Bukan zombie.】
"Terus apa?"
【Manusia. Manusia jahat yang mau bunuh lu. Tapi lu gak boleh bunuh mereka balik. Lu cuma boleh bertahan dan kabur. Latihan kontrol. SIAP?】
Mata Lin Yan berbinar. "Manusia? Seru juga! Ayo!"
【MULAI!】
⚡ SIMULASI KEDUA ⚡
Lin Yan berdiri di gang yang sama. Tapi kali ini tidak ada zombie. Di depannya, lima pria bertato dengan senjata—parang, besi, botol pecah—mengepungnya. Wajah mereka bengis, penuh nafsu membunuh.
"Wah, ada cewek sendirian. Mana cantik lagi," kata yang paling besar, menjilat bibir. "Ikut sama kita, yuk. Kita jamin aman."
Lin Yan menatap mereka bergantian. Lalu tersenyum. Senyum manis. Tapi matanya... mulai berubah.
"Oh? Mau ngajak main? Boleh. Tapi gue mau main sama kalian dengan cara gue."
【INGAT! JANGAN BUNUH! BERTAHAN DAN KABUR!】
"Ah, sistem rese. Baiklah, baiklah."
Pertama bergerak. Dua pria maju serentak, parang dan besi diayunkan. Lin Yan mundur selangkah, lalu—dengan kecepatan barunya—menghindar. Tubuhnya berputar, masuk ke sela-sela mereka. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan si parang.
KRAK!
Bukan membunuh, tapi mematahkan tulang. Pria itu menjerit, parang jatuh.
"Wah, maaf. Gue kira cuma megang doang. Hehe."
Pria kedua menusuk dengan botol pecah. Lin Yan membungkuk, botol melesat di atas kepalanya. Ia berdiri, tangannya langsung menangkap wajah pria itu, jari-jarinya menekan mata.
"Mata itu lentur, ya? Penasaran, dalemnya kayak gimana?"
【JANGAN! BUKAN ITU MAKSUDNYA BERTAHAN!】
"Ah iya, iya. Maap."
Lin Yan melepaskan, tapi tangannya sudah terlanjur mencongkel sedikit. Pria itu jatuh, memegang mata yang berdarah.
Tiga pria lain mundur, wajah pucat. Mereka baru melihat monster berwajah bidadari.
"Ayo, main lagi!" seru Lin Yan, melompat-lompat kecil.
【WAKTU HABIS! SIMULASI BERAKHIR!】
Lin Yan terbangun dengan senyum lebar. Kali ini tidak terlalu kelelahan. Ia langsung tertawa.
"HAHAHAHA! Sakit, ya? Maaf, maaf. Gue lupa kontrol."
【...】
Sistem diam. Layar berkedip-kedip merah, lalu biru, lalu merah lagi. Seperti error.
【Lu... lu keterlaluan. Tapi... gue akui, progress lu cepet. Satu menit di simulasi, dua menit di dunia nyata, lu udah bisa melumpuhkan 2 orang dengan tangan kosong. Nilai D untuk kontrol, tapi nilai A untuk improvisasi.】
"Berarti gue pinter, dong?"
【Pinter dalam artian berbahaya. Tapi iya, lu pinter. Selamat. Sekarang istirahat. Beneran. Gue serius.】
"Iya, iya." Lin Yan meregangkan tubuh. "Tapi besok kita latihan lagi, ya? Janji!"
【Iya. Besok. Tapi settingannya gue yang tentuin. Jangan maunya lu doang.】
"Deal!"
Lin Yan bangkit, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di tengah jalan, ia melewati jendela dan melihat ke luar. Lampu kota Taipei mulai menyala satu per satu. Indah. Damai. Tidak ada tanda-tanda kiamat.
Tapi Lin Yan tahu, di balik kedamaian itu, dua minggu lagi semuanya akan berubah. Dan ia harus siap.
"Liu Ming, tunggu ya. Aku punya banyak mainan baru buat kamu."
Senyumnya melebar di kaca jendela. Senyum yang sama seperti di simulasi. Senyum psikopat sejati.
【...Gue record itu. Buat bukti kalau lu emang gila.】
"Rekam aja! Bangga!"
Di luar apartemen, di lorong gelap dekat elevator, sesosok bayangan masih berdiri. Liu Ming. Ia menatap pintu apartemen Lin Yan dengan mata penuh dendam. Di tangannya, sebilah pisau lipat dibuka-tutup, dibuka-tutup.
"Kau pikir kau bisa menang, Lin Yan? Tunggu saja. Aku tahu kelemahanmu."
Ia tersenyum tipis, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan lorong yang sunyi.
Tapi ia tidak tahu, di dalam apartemen, Lin Yan baru saja menyelesaikan latihan neraka pertamanya. Dan ia menyukainya.