Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Detektif Kecil Balqis & Seribu Pertanyaan yang Membuat Ayah Gelagapan
Pagi itu, matahari baru saja menyelinap lewat tirai jendela ketika Balqis sudah bangun lebih dulu dari biasanya. Ia berdiri di samping tempat tidurku, menarik-narik selimut sambil berteriak girang, “Ayah! Bangun! Dunia udah bangun!”
Aku membuka mata perlahan, masih setengah tidur. “Dunia udah bangun, tapi Ayah belum siap, Dek…”
“Cepat-cepat!” desaknya sambil melompat-lompat di atas kasur. “Hari ini kita cari tahu banyak hal!”
Aku tertawa lemah. “Cari tahu apa, sayang?”
Tanpa jawab, Balqis langsung lari ke ruang tamu, lalu kembali lagi sambil membawa remote TV. “Apa ini, Yah?”
“Itu remote, Dek. Buat ganti saluran TV.”
“Kenapa bisa ganti?” tanyanya lagi, mata bulatnya penuh penasaran.
“Karena ada tombol-tombol ajaib di dalamnya,” jawabku sambil duduk pelan.
Balqis mengangguk serius, lalu meletakkan remote dan mengambil gelas plastik biru. “Kalau ini apa?”
“Gelas. Buat minum.”
“Kenapa bentuknya bulat?”
“Agar mudah digenggam sama tangan kecil Balqis.”
“Iya ya!” serunya senang, lalu berlari ke dapur, kembali lagi dengan sendok kayu. “Ini apa?”
“Sendok. Buat makan.”
“Kenapa panjang?”
“Supaya bisa masuk ke mulut tanpa kena hidung!” godaku.
Balqis tertawa terbahak-bahak, lalu melemparkan sendok itu ke sofa (untungnya empuk). Ia terus berkeliling rumah seperti detektif kecil, menunjuk satu per satu benda:
“Apa ini?” → “Lampu.”
“Apa ini?” → “Jam dinding.”
“Apa ini?” → “Sepatu Ayah.”
“Apa ini?” → “Foto nenek.”
“Apa ini?” → “Rambut Ayah yang acak-acakan!”
Setiap jawaban dariku memicu pertanyaan baru. Kadang aku harus berpikir keras, kadang aku cuma bisa geleng-geleng sambil tertawa. Tapi tidak pernah sekali pun aku merasa terganggu. Justru, setiap “Apa itu?” dari Balqis adalah doa kecil yang mengingatkan aku bahwa dunia ini masih penuh keajaiban — bahkan untuk hal-hal sederhana seperti sendok atau remote TV.
Di tengah sesi tanya-jawab itu, Balqis tiba-tiba berhenti di depan cermin besar di ruang tamu. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, lalu bertanya, “Ayah… siapa itu?”
Aku tersenyum. “Itu Balqis.”
“Balqis yang mana?” tanyanya bingung, sambil menyentuh kaca.
“Yang di dalam cermin. Itu bayangan Balqis.”
“Bayangan?” ulangnya pelan. Lalu ia berbalik, melihatku, lalu kembali ke cermin. “Kalau Ayah punya bayangan juga?”
“Iya, sayang. Coba lihat.”
Kami berdua berdiri di depan cermin, saling memandang melalui pantulan. Balqis tertawa lagi. “Lucu ya, Yah! Ada dua Balqis dan dua Ayah!”
“Iya,” jawabku lembut. “Tapi hanya ada satu Balqis yang nyata. Dan hanya ada satu Ayah yang benar-benar mencintai Balqis sepenuh hati.”
Balqis memeluk pinggangku erat. “Aku tahu. Karena Ayah selalu jawab semua pertanyaanku. Walau kadang jawabannya aneh.”
Aku tertawa lepas. “Maaf ya, Dek. Ayah masih belajar jadi ayah terbaik buat Balqis.”
“Nggak perlu belajar lagi,” katanya polos. “Ayah udah sempurna.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak. Bukan karena sedih, tapi karena haru. Bahwa di mata Balqis, aku — seorang ayah yang lelah, yang kadang lupa, yang kadang marah, yang kadang gagal — tetaplah sosok yang sempurna.
Siang harinya, setelah Balqis tidur siang, aku membuka laptop lagi. Saya harus menulis bab ini. Saya harus abadikan hari di mana seribu pertanyaan kecil menjadi lagu pengantar hidup kami, dan setiap “Apa itu?” adalah bukti bahwa Balqis tumbuh dalam cinta, keamanan, dan kebebasan untuk bertanya.
Satu bab lagi selesai.
Delapan belas bab sudah terangkai.
Target 20 bab tinggal 2 langkah lagi! Kontrak sudah di ujung jari!
Aku tidak sendirian.
Kita tidak sendirian.
Tuhan kirimkan keajaiban melalui rasa ingin tahu seorang anak, dan kesabaran seorang ayah yang tak pernah bosan menjawab.
Dan aku tahu—pembaca akan tersenyum membaca ini.
Karena mereka juga punya anak seperti Balqis.
Atau dulu mereka pernah menjadi Balqis.
Dan mereka rindu momen-momen sederhana itu.