NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Nasi Basi Dan Notifikasi.

Pulang dari lapangan, badan masih bau keringat, kaki masih pegal, tapi ada sesuatu yang ringan di dada yang belum hilang sepenuhnya.

Empat gol. Lima ratus ribu. Angin lapangan.

Aku masuk rumah, ganti baju, wudhu, shalat Maghrib tiga rakaat. Sajadah Bapak yang sudah mulai tipis di bagian dahi itu aku gelar di lantai kamar, dan untuk beberapa menit dunia ini terasa bisa ditanggung.

Selesai shalat, aku keluar kamar.

Perut lapar. Wajar, dari tadi pagi hanya makan nasi sama tempe goreng sebelum berangkat jualan.

Aku angkat tudung saji di meja makan.

Nasi.

Setengah piring. Sudah menguning di pinggir-pinggirnya. Keras waktu aku tekan pelan dengan sendok. Bau yang samar dari basi semalam.

Aku berdiri di sana cukup lama menatap itu.

Lalu aku lihat ke dapur. Ke ruang tengah. Ke kamar Nirmala yang pintunya terbuka dan di dalamnya tidak ada orang.

Rumah sepi.

Wida entah di mana. Aini di kamar, aku dengar napasnya teratur dari balik pintu, sudah tidur.

Nirmala di mana.

Aku tanya ke Wida yang ternyata ada di kamarnya main ponsel.

"Mama ke warung Bu Tika."

Warung Bu Tika. Di ujung gang. Yang sampingnya ada teras tempat beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak biasa kumpul sampai malam.

Yang sudah beberapa kali aku dengar dari tetangga.

Yang di sana orang pasang togel.

Aku menutup pintu kamar Wida pelan.

Berdiri di lorong sebentar.

Lalu aku ambil dompet, keluar rumah, jalan ke warung Bu Tika.

Nirmala ada di sana. Duduk di kursi plastik di teras, ponsel di tangan, di depannya kertas kecil yang sudah aku tahu isinya sebelum aku sempat membaca.

Dia tidak langsung lihat aku datang.

Bu Tika yang duluan. Perempuan lima puluhan, gemuk, ramah dengan cara orang yang sudah lama jual-beli dan tahu cara bicara ke semua jenis orang.

"Eh, Mas Satria. Nyari istrinya ya?" Bu Tika langsung bicara dengan nada yang agak diturunkan, nada orang yang mau bilang sesuatu tapi tidak mau terlalu keras. "Udah lama di sini, Mas. Dari sore. Kasian Mas Satria, pulang capek jualan, istrinya malah di sini."

Nirmala mengangkat kepala.

Matanya ke aku, lalu ke Bu Tika.

"Bu Tika, jaga mulut ya." Nirmala berdiri. "Urusan rumah tangga gue gak perlu lo komentarin."

"Loh, Bu Nirm, saya cuma—"

"Cuma apaan. Lo pikir lo kenal siapa-siapa." Nirmala berjalan ke arahku. Lewat begitu saja tanpa bicara.

Aku bilang ke Bu Tika, "Maaf ya, Bu."

Bu Tika geleng-geleng kepala dengan ekspresi yang tidak perlu diterjemahkan.

Aku ke warungnya, beli beras setengah kilo dan dua potong ikan asin. Kebutuhan malam ini dulu.

Pulang ke rumah, Nirmala sudah ada di dalam.

"Masak atau enggak tadi?" aku tanya. Pelan. Tidak menuding.

"Gak masak." Nirmala duduk di sofa, ponsel lagi. "Makan aja yang ada. Gue udah makan tadi, nasi padang, sama Wida."

Aku berdiri di ambang dapur.

"Kamu makan nasi padang sama Wida, tapi tidak masak untuk aku?"

"Lo jangan manja. Nasi yang di tudung saji masih ada, makan itu aja. Gak bakal mati cuma makan nasi kemarin."

Dari luar, aku dengar suara sandal. Nirmala masuk sambil membanting tas kecilnya ke sofa.

Matanya merah. Bukan merah menangis. Merah yang lain.

Merah kalah.

"Berapa yang kamu pasang hari ini?" tanyaku.

"Diam lo."

"Nirmala—"

"DIAM."

Lalu semuanya terjadi terlalu cepat.

Beras yang baru aku beli, yang masih di dalam plastik kresek di atas meja dapur, diraih dan dilempar. Plastiknya sobek waktu menghantam lantai, berasnya berserakan ke seluruh dapur, putih di mana-mana.

Gelas. Melayang dari meja. Pecah di dinding sebelah kiriku.

Piring. Satu piring meluncur dan hancur di lantai dengan suara yang keras sekali di rumah yang seharusnya sudah sunyi jam segini.

"LO YANG BIKIN GUE SIAL." Nirmala berteriak dengan cara yang sudah melewati semua batas. "LO SAMA BU TIKA PADA NYINYIR, DASAR MANUSIA GOBLOK. GARA-GARA LO KONSENTRASI GUE BUYAR, ANGKA GUE KALAH SEMUA."

"Nirmala, yang aku bilang ke Bu Tika bukan—"

"TUTUP MULUT LO, ANJING. SUAMI MACAM APA LO. SUAMI BABI. SUAMI SETAN. CUMA MAKAN NASI BASI AJA REWEL, EMANGNYA LO SIAPA. EMANGNYA LO SULTAN. GOBLOG."

Dari kamar, suara Aini terbangun. Tangisan kecil yang kebingungan.

Aku tidak menjawab Nirmala satu kata pun.

Masuk kamar Aini. Mengangkatnya. Menepuk punggungnya pelan sampai dia berhenti menangis, sampai matanya berat lagi, sampai dia kembali tidur di dadaku.

Kutidurkan kembali.

Lalu aku ke dapur.

Menyapu beras yang berserakan itu sendiri. Satu per satu dikumpulkan ke sudut yang bisa diselamatkan, yang kotor dibuang. Pecahan gelas dipungut dengan tangan hati-hati supaya tidak kena kulit. Piring yang hancur dikumpulkan ke dalam plastik.

Nirmala tidak keluar lagi.

Pintu kamarnya sudah tertutup.

Aku duduk di dapur dengan lantai yang sudah bersih dan perut yang masih kosong dan kepala yang tidak tahu mau berpikir apa lagi.

Tidak ada yang dimakan malam itu.

Terlalu lelah untuk masak. Terlalu lelah untuk berpikir soal makan.

Aku duduk di kursi dapur, tangan di atas meja, dan mulai menguleni adonan untuk besok. Jam sembilan malam. Lebih awal dari biasanya. Tapi lebih baik kerja daripada duduk dengan pikiran yang tidak ke mana-mana.

Ponsel di saku bergetar.

Notifikasi WhatsApp.

Aku ambil. Lihat.

Sonia.

"Assalamualaikum ❤"

Aku menatap layar itu cukup lama.

Hati kecil emoji di belakang salamnya. Satu hal kecil yang seharusnya biasa saja tapi di malam seperti ini, setelah beras berserakan dan gelas pecah dan kata-kata yang tidak perlu aku ingat tapi sudah terlanjur tertanam, terasa seperti sesuatu.

Aku ketik balas.

"Waalaikumsalam."

Tiga detik.

"Apa kabar Bang? Tadi keren banget mainnya."

Aku menatap kalimat itu.

Lalu aku taruh ponsel di meja. Hadapkan layarnya ke bawah.

Tidak aku balas.

Bukan karena tidak mau. Tapi karena aku tahu ke mana arah jawaban apapun yang aku ketik malam ini, di kondisi malam ini, dengan perut kosong dan lantai yang baru saja aku sapu sendiri dan kata-kata anjing dan babi dan setan yang masih menggantung di udara dapur ini.

Aku tahu ke mana arahnya.

Dan aku tidak mau ke sana.

Jadi aku lanjut menguleni.

Tepung di tangan. Ritme yang sudah sangat aku kenal. Malam yang sepi. Dan notifikasi yang tidak aku jawab dan tidak aku hapus.

Masih di sana.

Menunggu.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!