NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: KEPUNAHAN LOGISTIK

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Bau di ruang interogasi bawah tanah malam ini jauh lebih tajam—campuran antara antiseptik, keringat dingin, dan ketakutan yang membusuk. Di tengah ruangan, terikat pada kursi gravitasi yang baru saja dipasang unit 'Ghost', adalah pria dari kios churros. Namanya, menurut pindaian biometrik Leo, adalah Hans, seorang tentara bayaran kelas menengah yang hidupnya kini sedang dihitung mundur dalam hitungan detik.

​Aku melangkah masuk, suara ketukan pantofel kecilku bergema ritmis di dinding beton. Aku tidak membawa boneka kelinciku kali ini. Aku membawa sebuah jarum suntik berisi cairan bening dan sebuah tablet yang menampilkan detak jantung Hans secara real-time.

​"Paman Hans," ucapku lembut. Suaraku adalah nada alto yang menenangkan, frekuensi yang sengaja kupelajari di FBI untuk menurunkan pertahanan primal target. "Tanganmu pasti sakit sekali. Pulsa elektromagnetik dari drone Kak Leo tidak hanya merusak senjata, tapi juga menghancurkan jaringan saraf di telapak tanganmu."

​Hans mendongak, matanya yang merah dan bengkak menatapku dengan kebencian yang mulai luntur oleh rasa ngeri. "Berapa... berapa umurmu, Bocah?"

​"Secara biologis, delapan tahun. Secara fungsional, aku adalah orang terakhir yang akan kau lihat sebelum kau menghilang dari sejarah dunia," aku menyesuaikan dosis cairan di jarum suntik tanpa sedikit pun getaran di tanganku. "Kau tahu, Paman? Baron tidak akan datang menjemputmu. Di kepalanya, kau sudah menjadi 'biaya variabel yang terhapus'. Dia sudah menganggapmu mati."

​Aku mencondongkan tubuh, menatap lurus ke dalam pupil matanya yang mengecil. "Tapi aku bisa memberimu kesempatan untuk benar-benar hidup. Katakan padaku, di mana Baron menyembunyikan 'Gudang Hitam'-nya? Tempat di mana dia menyimpan server cadangan dan sisa emas klan Valerius?"

​"Aku... aku tidak tahu," desis Hans, suaranya parau.

​"Bohong," balasku datar. "Analisis mikro-ekspresi: saat aku menyebut 'Gudang Hitam', otot orbicularis oculi di matamu menegang 0,3 milimeter. Kau tahu tempat itu. Kau bahkan pernah ke sana dua minggu yang lalu. Baunya seperti oli mesin tua dan air payau, bukan? Di sekitar pesisir utara?"

​Hans ternganga. Dia seolah sedang melihat hantu. Dan memang, dia sedang melihat jiwa seorang profiler yang sudah membedah ribuan psikopat di kehidupan sebelumnya.

​“Kak, target sudah berada di ambang disosiasi. Dia akan bicara dalam tiga menit. Siapkan protokol penghancuran finansialnya sekarang,” lapor kuku melalui Shadow Talk.

​“Diterima, Lea. Aku sedang melakukan sinkronisasi dengan komputer kuantum di markas satelit. Begitu koordinat keluar, Baron tidak akan punya cukup uang bahkan untuk membeli sebotol air mineral di pinggir jalan,” suara Leo terdengar di kepalaku, sedingin ruang angkasa.

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Aku duduk di kursi kebesaranku, dikelilingi oleh pendaran cahaya dari enam monitor yang menampilkan ribuan baris kode hijau yang mengalir deras. Di depanku, Damian Xavier—Papa—berdiri tegak. Dia tidak lagi mengenakan bando kelinci yang konyol itu. Dia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, memperlihatkan tato kobra di lengannya yang menegang.

​"Leo, kau bilang ingin melakukan serangan proaktif," ucap Damian, suaranya berat dan penuh antisipasi. "Tapi aku belum melihat satu pun unit Ghost yang bergerak keluar gerbang."

​"Menyerang fisik adalah cara lama, Papa. Itu berisik, berdarah, dan meninggalkan jejak bagi polisi," aku tidak menoleh, jemariku masih menari di atas keyboard mekanik dengan ritme yang tidak manusiawi. "Aku sedang melakukan 'Logistical Extinction'. Aku akan mematikan jantung Baron tanpa perlu menyentuh kulitnya."

​Aku menekan tombol Enter dengan penekanan yang mutlak.

​Di layar utama, sebuah virus yang kuberi nama 'Checkmate-V1' mulai bekerja. Ini bukan virus biasa. Ini adalah algoritma kuantum yang mampu memecah enkripsi bank manapun dalam hitungan milidetik.

​"Lihat ini, Papa," aku menunjuk ke arah grafik yang mendadak terjun bebas. "Ini adalah rekening penampungan Baron di Panama. Dan ini adalah aset kripto klan Valerius yang tersisa. Dalam tiga... dua... satu... Zero."

​Damian terperangah. Dia melihat angka jutaan dolar itu berubah menjadi angka nol dalam sekejap. "Kau... kau menghapus uangnya?"

​"Bukan hanya menghapus. Aku mentransfernya ke ratusan yayasan yatim piatu dan panti jompo di seluruh Asia Tenggara secara acak. Jejaknya begitu berantakan sehingga bahkan departemen intelijen tercanggih pun akan menganggap ini sebagai kegagalan sistem global atau 'Tuhan yang sedang marah'," aku menyandarkan punggungku, menghela napas panjang. "Baron sekarang adalah orang paling miskin di Jakarta. Dia tidak bisa membayar pengawalnya, dia tidak bisa membeli peluru, dan yang paling penting... dia tidak bisa lagi bersembunyi."

​"Leo, ini... ini gila," Damian menggelengkan kepala, ada rasa hormat yang mendalam di matanya. "Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk meruntuhkan satu klan. Kau melakukannya dalam sepuluh menit."

​"Efisiensi, Papa. Itu yang membedakan seorang pembunuh dan seorang Marsekal," jawabku datar.

​“Kak, Hans sudah bicara. Koordinatnya adalah gudang kontainer terbengkalai di Marunda, Sektor 4, Blok C. Dia bilang Baron ada di bunker bawah tanah di sana, sedang bersiap untuk melarikan diri lewat jalur laut,” suara Lea memecah fokusku.

​Aku menyeringai—sebuah seringai yang seharusnya tidak dimiliki oleh bocah berusia delapan tahun. "Dia ingin lari lewat laut? Bagus. Aku sudah meretas sistem navigasi kapal pelariannya. Alih-alih membawanya ke perairan internasional, kapal itu akan membawanya langsung ke dermaga pribadi Vipera Tower tepat saat matahari terbit."

​Damian mengepalkan tangannya. "Jadi, kita hanya perlu menunggu?"

​"Kita menunggu dengan persiapan, Papa. Siapkan tim eksekusi Papa. Aku ingin Baron ditangkap dalam kondisi mental yang hancur. Lea akan melakukan 'pembersihan' terakhir pada jiwanya sebelum Papa memutuskan apa yang harus dilakukan dengan tubuhnya."

​POV: QINANTI (Mama)

​Malam ini mansion terasa begitu sunyi, namun suasananya sangat berat. Aku duduk di sofa ruang tengah, mencoba fokus pada buku seni yang sedang kubaca, namun pikiranku terus melayang ke ruang bawah tanah. Aku tahu Damian dan anak-anak ada di sana.

​Aku berjanji tidak akan mencampuri urusan 'benteng' mereka, tapi sebagai seorang ibu, hatiku tidak bisa tenang. Aku bangkit berdiri, berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air, saat kulihat Lea berjalan keluar dari arah lift rahasia.

​Wajahnya tampak lelah. Ada bayangan dingin di matanya yang biasanya jernih.

​"Lea? Sayang, kenapa belum tidur?" tanyaku, menghampirinya dan mengusap pipinya yang terasa agak dingin.

​Lea mendongak, dan untuk sekejap, aku melihat tatapan yang bukan milik anak kecil. Itu adalah tatapan seseorang yang baru saja melihat neraka dan tidak berkedip. Namun, dalam sekejap, tatapan itu menghilang, digantikan oleh binar imut yang biasa.

​"Lea hanya lapar, Ma. Bermain 'tebak-tebakan' dengan Paman di bawah tadi sangat melelahkan," ucapnya sambil memeluk pinggangku.

​"Tebak-tebakan? Siapa paman yang di bawah?" tanyaku, jantungku berdegup kencang.

​"Hanya teman Papa yang tersesat," jawab Lea enteng. "Tapi jangan khawatir, Ma. Kak Leo sudah memberinya peta jalan pulang. Papa juga sudah selesai bekerja. Kita semua bisa tidur nyenyak malam ini."

​Aku memeluk Lea erat. Ada rasa ngeri yang merayap di punggungku. Aku tahu 'tebak-tebakan' itu bukan permainan biasa. Aku tahu anak-anakku melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa yang kejam. Tapi melihat Lea yang kini mendengkur halus di pelukanku, aku menyadari satu hal.

​Mereka menjadi monster agar aku tetap bisa menjadi manusia.

​Dan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada ancaman musuh manapun.

​POV: DAMIAN XAVIER

​Pukul 05.00 pagi.

​Dermaga pribadi Vipera Tower diselimuti kabut tipis. Aku berdiri di tepi beton, dikelilingi oleh dua puluh anggota elit unit 'Ghost' yang bersenjata lengkap. Di sampingku, Leo berdiri tenang dengan tangan terselip di saku jas mininya. Dia tidak membawa senjata. Dia hanya membawa tabletnya, menatap ke arah laut lepas.

​"Kapal akan muncul dalam 60 detik, Papa. Mesinnya sudah kumatikan secara jarak jauh 500 meter dari sini. Mereka sedang hanyut menuju kita," ucap Leo tanpa ekspresi.

​Benar saja. Sebuah kapal cepat berwarna hitam tanpa lampu muncul dari kegelapan kabut. Kapal itu meluncur pelan, terombang-ambing oleh arus, hingga akhirnya menabrak bantalan dermaga dengan suara dentuman tumpul.

​Pintu kabin terbuka.

​Baron melangkah keluar dengan wajah pucat pasi. Dia memegang sebuah tas koper besar—yang aku tahu isinya kosong karena Leo sudah menguras isinya. Dia menatap ke sekeliling, dan saat matanya bertemu dengan mataku, dia jatuh berlutut.

​"Damian... bagaimana... bagaimana kau bisa tahu?" suara Baron gemetar hebat.

​"Aku tidak tahu apa-apa, Baron," jawabku sambil melangkah maju, menodongkan senjata tepat ke keningnya. "Tapi anak-anakku tahu segalanya."

​Baron melirik ke arah Leo. Leo hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang seolah menganggap Baron hanyalah sepotong sampah di jalanan.

​"Paman Baron," Leo berbicara, suaranya jernih di tengah kesunyian pagi. "Dompet digitalmu kosong. Paspormu sudah dibatalkan oleh interpol sepuluh menit yang lalu. Dan orang-orangmu di perbatasan sudah menyerahkan diri karena mereka tidak dibayar. Secara logistik, kau sudah tidak ada."

​"Kalian... kalian iblis!" teriak Baron histris.

​"Iblis adalah mereka yang membunuh keluarga tak berdosa sembilan tahun lalu demi uang yang sekarang sudah tidak kau miliki," Lea tiba-tiba muncul dari balik barisan pengawal, berjalan perlahan menuju Baron. Dia memegang sebuah foto tua—foto keluarga Mama yang diambil sebelum tragedi itu.

​Lea berjongkok di depan Baron, menunjukkan foto itu tepat di depan matanya. "Lihat wajah-wajah ini, Paman. Mereka adalah alasan kenapa kau tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi sebagai pria merdeka."

​Aku melihat Baron menangis. Bukan tangisan tobat, tapi tangisan kehancuran total. Dia telah kehilangan segalanya—uangnya, kekuasaannya, dan yang paling penting, kewarasannya.

​"Marco, bawa dia ke sel isolasi," perintahku. "Pastikan dia tetap hidup. Aku ingin dia melihat bagaimana klan Vipera berubah menjadi imperium sah yang akan menghapus namanya dari sejarah."

​Saat pengawal menyeret Baron pergi, aku menoleh pada kedua anakku. Sinar matahari pertama mulai muncul di cakrawala, memantul di wajah mereka yang kecil namun penuh dengan otoritas yang menakutkan.

​"Checkmate, Papa," bisik Leo.

​Aku menatap langit yang mulai membiru. Sembilan tahun yang lalu, aku adalah pria yang penuh amarah dan kegelapan. Hari ini, aku adalah pria yang berdiri di atas reruntuhan musuhku, dijaga oleh dua penguasa bayangan yang kebetulan adalah anak-anakku.

​"Ya," jawabku, sambil merangkul bahu Leo dan Lea. "Mari kita pulang. Mamamu sudah menunggu sarapan."

​Fase 2 berakhir di sini. Musuh fisik sudah tumbang. Namun, aku tahu, tantangan berikutnya bukanlah peluru atau virus komputer. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga keutuhan keluarga ini di tengah kebenaran yang mulai terungkap.

​Dan aku siap menghadapi itu semua. Selama aku memiliki mereka di sisiku.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!