NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Raya terluka

Siang datang perlahan, membawa suasana yang berbeda. Meja makan kembali terisi. Namun kali ini, bukan hanya empat orang yang sedang berada di meja makan itu. Tapi tujuh orang duduk mengelilinginya.

Piring-piring tertata rapi. Hidangan tersaji lebih banyak dari biasanya. Uap hangat masih tipis naik dari beberapa masakan.

Tapi tidak ada yang terburu-buru menyentuhnya. Karena satu hal, Ibu Ambar duduk di sana. Punggungnya tegak, dagunya sedikit terangkat. Tatapannya menyapu meja makan tanpa banyak ekspresi, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin.

Berbeda dengan pagi tadi yang sempat mencair… kali ini, suasana kembali menegang. Sendok Alea yang tadi hampir menyentuh piring, kini berhenti.

Ia melirik pelan ke arah Nayra.

Nayra memberi anggukan kecil. Baru setelah itu… Alea mulai makan lagi, meski lebih pelan. Raya duduk diam. Tidak banyak bergerak, hanya sesekali matanya terangkat, lalu turun lagi.

Arsen duduk seperti biasa. Namun jemarinya yang memegang sendok sedikit lebih kaku. Kakek Sanjaya mengamati semuanya.

Beberapa detik, lalu ia meletakkan sendoknya. Bunyi kecil itu terdengar jelas di tengah keheningan.

“Besok,” ucapnya pelan.

Semua mata sedikit terangkat. Tatapannya langsung ke Arsen.

“Kamu jadi menggelar pesta pernikahan?”

Arsen tidak langsung menjawab. Ia mengangkat wajah. Lalu mengangguk, singkat dan tegas. Dan tepat setelah kata-kata itu. Sendok Ibu Ambar berhenti, perlahan ia meletakkannya.

“Besok?” ulangnya, suaranya sedikit terkejut.

Ia menoleh ke Arsen. “Cepat sekali.”

Arsen tidak menghindari tatapan itu. “Sudah direncanakan, Mom,” jawabnya datar.

Ambar tersenyum tipis. “Direncanakan?” ulangnya pelan. “Atau dipaksakan?”

Udara langsung berubah, Alea berhenti mengunyah. Raya mengangkat wajah, sedangkan Nayra terdiam. Tangannya kembali saling menggenggam di bawah meja.

Kakek Sanjaya melirik sekilas ke arah Ibu Ambar.

“Ambar.”

“Ini bukan hal kecil, Pa,” lanjutnya, masih menatap Arsen. “Pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan dalam semalam.”

Tatapannya bergeser, ke arah Nayra. Naik turun… menilai tanpa suara. “Apalagi dengan latar belakang perempuan ini belum jelas.”

Kata-kata itu langsung menusuk hati Nayra. Raya langsung menegang, tangannya mengepal lagi di bawah meja.

Namun sebelum ia bicara, Arsen lebih dulu bersuara.

“Cukup.” tegasnya. Ia menatap ibunya lurus. “Ini keputusanku.”

Beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Pak Arya menurunkan sendoknya perlahan. Kakek Sanjaya menyandarkan punggungnya, matanya mengamati bergantian.

Ambar menatap Arsen lebih lama. Lalu,.Ia tersenyum lagi. “Baik,” katanya pelan. “Kalau itu keputusanmu.” Namun nada itu, tidak benar-benar menyerah.

Sementara itu, Alea menoleh pelan ke arah Nayra. “Mama…” bisiknya.

Nayra menunduk sedikit.

Alea mendekat. “Besok… ada pesta ya?”

Nayra terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Iya.”

Jawaban itu sederhana, namun cukup membuat Alea tersenyum lagi. Berbeda dengan Raya, ia masih menatap lurus ke depan. Tapi matanya tidak lagi sekadar mengamati, ia mulai curiga.

Dan di ujung meja, Kakek Sanjaya akhirnya kembali mengambil sendoknya. “Kalau begitu,” ucapnya santai, seolah menutup pembicaraan, “kita bahas lagi nanti.”

Kini mereka melanjutkan makan siangnya tanpa pembicaraan. Setelah beberapa menit berlalu, suara alat makan perlahan mereda.

Satu per satu kursi ditarik mundur. Percakapan yang tadi terasa tegang, menguap tanpa benar-benar selesai.

Beberapa pelayan mulai bergerak, tapi Nayra sudah lebih dulu berdiri, seperti kebiasaannya. Tangannya langsung meraih piring-piring di atas meja. Disusun rapi, satu di atas yang lain. Ia tidak menunggu dan tidak meminta bantuan.

Raya melirik sekilas. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin berkata sesuatu, tapi urung. Alea sudah turun dari kursinya, berdiri di dekat Nayra. Matanya mengikuti setiap gerakan ibunya.

Di sisi lain Ibu Ambar belum benar-benar pergi. Ia berdiri tak jauh dari meja. Tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya jatuh pada Nayra yang sibuk membereskan piring.

Nayra mengambil satu piring terakhir, langkahnya bergeser sedikit. Dan... senggolan itu datang dengan cepat, hampir tidak terlihat. Ujung sepatu Ibu Ambar mengenai kaki Nayra, keseimbangannya goyah.

“Ah...”

Brakk!

Piring-piring di tangannya terlepas, dan pecah. Suara kaca menghantam lantai marmer menggema keras. Serpihannya menyebar, berkilat di bawah cahaya lampu.

Semua kepala langsung menoleh.

“Nayra!”

Arsen bergerak cepat, refleks. Tangannya meraih pergelangan Nayra, menariknya mundur dari pecahan kaca.

Namun, tiba-tiba...

“Argh...”

Suara kecil itu membuat semua orang membeku, Raya... tubuhnya sedikit condong ke depan. Kakinya tidak sempat mundur. Telapak kakinya menginjak pecahan beling.

Darah langsung muncul, merah. Kontras di lantai putih.

“Astaga!” Nayra langsung berlutut. “Raya!”

Tangannya gemetar saat hendak menyentuh kaki anaknya, tapi ia ragu… takut melukai lebih dalam.

Raya menggigit bibirnya, namun ia tidak menangis. Namun napasnya tertahan.

Alea langsung panik. “Kakak…!”

Ia ingin mendekat, tapi Arsen menahannya cepat.

“Jangan bergerak!” tegas Arsen.

Ia melepas genggaman Nayra, lalu berlutut di depan Raya. Tangannya sigap.

“Sini,” ucapnya lebih pelan.

Ia mengangkat kaki Raya perlahan, memastikan serpihan tidak semakin masuk.

“Ambilkan kain!” serunya tanpa menoleh.

Salah satu pelayan langsung berlari, membawa lap bersih. Arsen menekan luka itu dengan hati-hati.

Raya meringis. Tangannya mencengkeram ujung sofa. Namun tetap diam, matanya mengamati gerakan Arsen.

Nayra masih di sampingnya, wajahnya pucat. Tangannya menggantung di udara, tidak tahu harus membantu dari mana.

“Aku… aku tidak sengaja…” bisiknya lirih.

Matanya sempat terangkat, ke arah Ibu Ambar. Ibu Ambar berdiri di tempatnya, wajahnya tenang.

“Kalau tidak hati-hati, ya begitu,” ucapnya datar. "Memegang piring saja tidak bisa, apa jangan-jangan kamu tidak bisa bekerja," ketusnya.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa rasa bersalah. Raya yang sejak tadi diam, perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam langsung tertuju kearah Ibu Ambar.

Namun sebelum ia bicara, Arsen lebih dulu berdiri. Semua mata langsung beralih padanya. Ia menatap ibunya.

“Cukup, Mom.”

Kakek Sanjaya langsung angkat bicara. "Arsen cepat kamu bawa Raya ke kamar dan segera obati lukanya," ucapnya tegas.

Mata Kekek Sanjaya seketika menatap Ambar dengan tatapan sinis. Ibu Ambar menyadari itu, tapi dia seolah tidak peduli.

Dengan sigap Arsen mengangkat Raya dalam pelukannya.

“Hati-hati, jangan bergerak,” ucapnya pelan pada anak itu.

Raya tidak melawan, tangannya refleks memegang bahu Arsen.

Sementara itu, Alea langsung mengejar di belakang. “Kakak… kakak…”

Nayra berdiri terburu-buru, ikut menyusul. Langkahnya sedikit goyah, tapi ia tidak berhenti.

Meninggalkan, meja makan. Pecahan kaca dan Ibu Ambar yang masih berdiri di tempatnya. Senyum tipisnya perlahan memudar, digantikan dengan rasa kesal.

Sementara di kejauhan, langkah Arsen terdengar cepat. Lorong terasa panjang, tapi ia melewatinya tanpa ragu. Lengan yang menopang Raya tetap stabil.

Pintu kamar terbuka cepat.

“Buka kotak P3K,” ucapnya singkat.

Salah satu pelayan yang sudah lebih dulu menyusul langsung bergerak. Laci dibuka, kotak putih diambil.

Arsen menurunkan Raya perlahan ke atas tempat tidur. “Hati-hati,” gumamnya, lebih lembut.

Raya tidak langsung melepas bahunya. Jemarinya masih mencengkeram, meski pelan. Napasnya belum sepenuhnya stabil.

Nayra masuk beberapa detik setelahnya. Wajahnya masih pucat.

“Aku…” suaranya tertahan, “aku harusnya lebih hati-hati…”

Kalimat itu menggantung, namun Arsen tidak menoleh. Fokusnya hanya pada kaki Raya.

“Kain,” ujarnya lagi.

Lap bersih sudah ada di tangannya. Ia membersihkan darah perlahan. Gerakannya hati-hati… tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu.

Raya meringis kecil.

“Sedikit lagi,” ucap Arsen pelan.

Raya menatapnya lama.

Arsen meniup pelan luka itu sebelum mengoleskan antiseptik. Karena rasa perih di kakinya, Raya langsung mencengkeram seprai. Napasnya tertahan, namun sebelum ia sempat menarik kakinya... tangan Arsen sudah lebih dulu menahan, tapi tidak memaksa.

“Lihat aku,” ucapnya.

Raya refleks menatap.

“Tarik napas.”

Raya mengikuti, satu tarikan napas. Lalu hembusan pelan. Perihnya masih ada, tapi tidak lagi menakutkan.

Arsen melanjutkan. Menutup luka dengan perban rapi. Tekanannya pas, tidak terlalu kuat.

Setelah selesai, ia tidak langsung bangkit. Tangannya masih menahan kaki Raya, memastikan tidak bergerak.

“Sudah,” ucapnya.

Raya menunduk, melihat perban di kakinya.Lalu pelan… menggerakkan jari-jarinya. Masih sakit, tapi tidak separah tadi.

Nayra mendekat, duduk di sampingnya. “Maafin Mama... ” bisiknya lagi.

Raya menggeleng kecil, "ini bukan salah Mama.” Jawaban itu cepat, tanpa ragu.

Nayra terdiam, matanya sedikit berkaca.

Di sisi lain, Alea berdiri di dekat pintu. Wajahnya cemas..“Kakak sakit?” tanyanya pelan.

Raya melirik, lalu mengangguk sedikit. “Tapi udah nggak terlalu.”

Alea langsung mendekat, memeluk lengan Raya hati-hati.

Arsen memperhatikan itu semua..Lalu akhirnya… ia berdiri. Namun sebelum benar-benar menjauh...

Raya memanggil. “Om…”

Langkah Arsen berhenti, ia menoleh. Raya tidak langsung bicara, tatapannya bertahan beberapa detik.

“Terima kasih.”

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!