NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-32

Belum lama Arkan berada di dalam ruangannya, tiba-tiba pintu diketuk dengan terburu-buru.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk," sahut Arkan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya.

Pintu terbuka lebar, dan masuklah Arjun dengan napas yang terlihat memburu serta wajah yang pucat pasi. Kacamata yang biasa ia pakai sedikit melorot, menunjukkan betapa paniknya asisten setia ini saat ini.

"Tu... Tuan Muda!" panggil Arjun terbata-bata.

"Ada apa Arjun? Kenapa wajahmu seperti melihat hantu?" tanya Arkan mulai menyadari ada yang tidak beres. Ia meletakkan pulpennya dan menatap asistennya penuh tanya.

"Gawat Tuan! Kita ada masalah besar! Baru saja saya dapat laporan dari tim hukum dan tim operasi..." Arjun berhenti sejenak untuk mengambil napas, lalu melanjutkan dengan nada cemas, "...beberapa cabang kita tiba-tiba didatangi tim penyidik dan petugas pajak secara mendadak! Mereka menyita berkas-berkas penting dan meminta penjelasan resmi hari ini juga!"

Mata Arkan membelalak, ia langsung berdiri tegap dari kursi kebesarannya.

"Apa?! Datang mendadak tanpa surat pemberitahuan?!" desak Arkan, suaranya mulai meninggi.

"Betul Tuan! Mereka bilang ada laporan dugaan penggelapan pajak dan penyalahgunaan izin usaha! Padahal kita tahu semua laporan kita rapi dan aman!" cerita Arjun panik. "Dan itu belum semuanya Tuan... beberapa rekan bisnis kita juga tiba-tiba membatalkan kontrak kerjasama secara sepihak hari ini juga! Mereka bilang ada informasi yang meragukan soal kredibilitas perusahaan kita!"

Darah di tubuh Arkan seakan mendidih. Ini bukan masalah kecil. Ini serangan terorganisir yang bertujuan menjatuhkan nama baik Delvin Group dalam waktu singkat!

"Siapa yang berani?! Siapa yang melapor?!" geram Arkan, tangannya mengepal kuat di atas meja kerjanya.

"Kami belum tahu pasti pelapornya Tuan, tapi gerakannya sangat cepat dan terstruktur. Seolah-olah mereka sudah menyiapkan segalanya jauh hari," jawab Arjun jujur.

Arkan menghela napas panjang berusaha menenangkan diri, berpikir jernih di tengah situasi kacau ini.

Siapa musuh yang seberani ini? Dimas? Atau ada pihak lain yang diam-diam membenci kita?

"Siapkan mobil sekarang! Aku harus turun ke lokasi dan urus ini langsung!" perintah Arkan tegas.

"Siap Tuan!"

Arkan berjalan cepat keluar dari ruangannya menuju lift. Wajahnya kini berubah total, kembali menjadi mode CEO yang dingin, serius, dan mematikan.

Nara yang melihat bosnya berjalan tergesa-gesa dengan wajah murka langsung berdiri bingung.

"Sayang... kamu mau kemana? Kenapa wajahnya begitu serius?" tanya Nara cemas.

Arkan berhenti sebentar, menatap Nara dengan tatapan lembut namun mendesak.

"Ada masalah mendesak sayang, harus aku selesaikan sekarang. Kamu jagain kantor dulu ya. Jangan kemana-mana. Aku pergi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Arkan langsung masuk ke dalam lift dan menghilang.

Nara berdiri terpaku di tempatnya, jantungnya berdegup kencang merasakan firasat buruk.

"Ada masalah apa ya?" gumamnya khawatir.

Sementara itu...

Saat Arkan keluar dari lift dan berjalan terburu-buru dengan wajah datar dan dingin, beberapa karyawan yang melihatnya langsung merasa ada hal besar yang terjadi. Selama bekerja di sini, meski sering melihat sang Bos berwajah dingin, tapi kali ini auranya jauh berbeda. Di benak mereka bertanya-tanya, ada apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Di sudut lain, tepat di samping meja resepsionis, seseorang justru menatap punggung Arkan dengan tatapan sinis bercampur puas. Sudut bibirnya terangkat pelan, sebuah senyum kemenangan yang berhasil ia sembunyikan agar tak ada yang menyadarinya.

Bersamaan dengan itu, Nara yang masih merasa penasaran rupanya juga ikut turun ke lobi. Wanita itu hendak mengejar Arkan, tapi sepertinya pria itu sudah lebih dulu keluar dari gedung.

Wajah yang tadi dipenuhi rasa puas dan sinis itu langsung berubah 180 derajat saat melihat Nara datang.

"Mbak Nara!" panggilnya cepat, kini wajahnya berubah menjadi nampak sangat cemas dan khawatir...

"Kenapa Mbak? Kenapa Pak Arkan pergi buru-buru banget? Wajahnya kelihatan marah dan serius banget tadi," tanya Amira mendekat, tangannya bahkan terlihat memegang lengan Nara seolah ikut panik.

Nara menghela napas panjang, masih terlihat gelisah.

"Aku juga kurang tahu Mir, katanya ada masalah mendesak yang harus diselesaikan sekarang juga. Aku jadi khawatir banget nih," jawab Nara jujur.

Amira mengangguk-angguk, wajahnya tampak berpikir keras lalu tiba-tiba menepuk pelan tangannya sendiri seolah teringat sesuatu.

"Eh... Mbak Nara, tadi pas aku lagi ambil air di pantry bawah, aku sempat dengar beberapa orang ngomongin lho..." bisik Amira pelan, matanya melihat ke kiri dan kanan memastikan tidak ada yang mendengar.

"Dengar apa?" tanya Nara cepat, penasaran dan makin cemas.

"Katanya... ada yang bilang kalau kantor kita didatangi orang pajak dan penyidik secara mendadak Mbak. Mereka bilang ada masalah sama laporan keuangan atau apa gitu. Aku juga nggak jelas dengarnya, tapi kayaknya itu sebabnya Pak Arkan jadi panik," cerita Amira dengan nada yang terdengar sangat menakutkan, seolah-olah ini adalah bencana besar.

Mata Nara membelalak lebar, kakinya terasa lemas mendengarnya.

"Apa?! Orang pajak?!"

"Iya Mbak... tapi Mbak tenang aja ya, mungkin cuma pemeriksaan biasa kok. Pasti Pak Arkan bisa selesaiin kok dengan cepat," ucap Amira berusaha menenangkan, tapi kata-katanya justru makin membuat pikiran Nara jadi kacau.

"Tapi... kenapa tiba-tiba banget sih? Kita kan selama ini aman-aman aja," gumam Nara bingung, tangannya gemetar sedikit.

Amira tersenyum tipis dalam hati melihat efek omongannya berhasil. Mainkan peranmu dengan baik Nara... cemaslah, takutlah... karena ini baru permulaan, batinnya jahat.

"Mungkin ada yang iri sama kesuksesan perusahaan kita Mbak. Atau... ada orang yang sengaja mau menjatuhkan Pak Arkan," ucap Amira pelan penuh makna, lalu menatap Nara dalam.

"Kita doain yang terbaik aja ya Mbak. Yuk naik lagi ke atas, jangan mikir aneh-aneh dulu."

Nara mengangguk lemas, mengikuti langkah Amira menuju lift tanpa menyadari bahwa ia baru saja diracuni pikirannya oleh teman barunya itu sendiri.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!