NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Di sisi lain, Elvano pun merasakan hal yang persis sama.

Sentuhan tangan kecil, lembut, dan dingin milik Aira itu terasa sangat kontras dengan suhu tubuhnya yang hangat. Sentuhan itu terasa seperti aliran listrik kecil yang menyengat manis. Menyengat kulit, tapi langsung merambat masuk jauh ke dalam hati, membuat seluruh tubuh Elvano terasa aneh, kaku, namun juga sangat nyaman.

Ada rasa geli yang menjalar, ada rasa hangat yang meletup-letup, dan ada rasa sayang yang tiba-tiba membesar di dalam sana.

Elvano tidak berkedip. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya yang sedang sangat fokus dan serius itu.

Dahi Aira sedikit berkerut halus karena konsentrasi penuh yang dikeluarkannya. Bibirnya yang merah alami dan tipis itu sedikit terbuka, seolah ikut membantu mengerahkan tenaga. Matanya yang bulat, indah, dan berwarna cokelat jernih itu menatap lurus tertuju pada tangannya sendiri, sama sekali tidak berani melihat ke wajah Elvano karena rasa malu yang luar biasa besar yang melumpuhkannya.

Aira terlihat sangat cantik saat sedang fokus seperti ini. Sangat polos, sangat tulus, dan sangat memikat hati.

"Mas..." bisik Aira pelan tanpa menoleh sedikitpun, suaranya bergetar halus. "Kepalanya agak ditundukin sedikit dong Mas. Aira kurang tinggi nih. Nanti dasinya malah jadi aneh."

"Oh iya, maaf." sahut Elvano cepat, suaranya terdengar sedikit serak dan berat.

Tanpa menolak sedikitpun, Elvano segera menundukkan kepalanya perlahan sesuai permintaan istrinya. Gerakannya sangat lembut, sangat patuh, seolah-olah ia sama sekali bukan CEO besar yang ditakuti banyak orang, melainkan hanya seorang suami yang sedang menuruti kemauan istrinya.

Dan saat kepala Elvano menunduk itu...

Jarak wajah mereka berdua menjadi dekat, sangat dekat.

Saking dekatnya, hampir saja ujung hidung mereka bersentuhan. Hanya tersisa beberapa sentimeter saja jaraknya.

Aira bisa merasakan dengan sangat jelas hembusan napas hangat milik Elvano yang menyapu lembut wajahnya dan rambutnya. Wangi segar seperti mint atau pasta gigi yang bersih dan segar dari mulut pria itu tercium sangat jelas, menusuk hidung dan membuat kepala Aira terasa sedikit pusing dan melayang.

"Ya Allah, dekat banget. Deket banget sumpah." batin Aira berteriak panik namun bahagia.

Jantung Aira rasanya mau meledak saat itu juga. Suara detak jantungnya sendiri terdengar sangat keras, Dug... dug... dug... berulang-ulang dengan cepat, memekakkan telinganya sendiri. Darah seakan berdesir hebat mengalir ke seluruh tubuhnya, membuat pipinya yang sudah merah makin memerah padam seperti kepiting rebus.

Tangan Aira sempat berhenti bergerak sejenak karena syok dan gugup setengah mati.

"Kenapa berhenti Ra?" bisik Elvano pelan, matanya menatap lurus ke manik mata istrinya yang mulai berkaca-kaca karena menahan malu. "Lanjutin dong, nanti kita malah telat lho."

"I... iya Mas! S... sebentar ya! Hampir selesai kok!" Aira tergagap, lalu ia segera kembali fokus menyelesaikan tugasnya.

Dengan sisa keberanian yang tersisa dan napas yang ia tahan sejenak, Aira menyelesaikan ikatan dasi itu. Ia menarik ujung dasi dengan hati-hati hingga simpulnya terbentuk sempurna, rapi, kokoh, simetris, dan sangat pas sekali di leher kekar milik suaminya.

Posisi dasinya sudah tepat, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Terlihat sangat sempurna.

"Selesai." desis Aira pelan sekali, napasnya ia hembuskan lega namun cepat.

Segera setelah selesai, Aira menarik tangannya kembali dengan cepat ke depan dadanya sendiri, seolah-olah tangan itu baru saja menyentuh bara api panas yang bisa membakar kulitnya. Ia mundur selangkah kecil, memberi jarak kembali antara tubuh mereka berdua agar ia bisa bernapas lega.

"Gimana Mas? Rapi kan? Pas gak?" tanya Aira cepat, masih menunduk tak berani menatap.

Elvano pun perlahan menegakkan kembali badannya yang sedari tadi menunduk. Ia merapikan sedikit kerah kemejanya, lalu membenarkan posisi dasi di lehernya dengan jarinya sendiri, merasakan hasil kerja tangan istrinya itu.

Ia menoleh ke arah cermin besar di depannya, menatap pantulan dirinya sendiri.

"Wow..." Elvano mengangguk-angguk kepala pelan, wajahnya tampak sangat puas dan senang. "Rapi banget Ra! Sempurna! Lebih bagus seratus kali lipat daripada kalau aku yang ngikat sendiri. Tangan kamu emang ajaib dan canggih ya, bisa bikin dasi jelek jadi keren begini."

Pujian tulus itu keluar begitu saja dari mulut Elvano.

"Makasih Mas." Aira tersenyum sangat malu, kedua tangannya ia lipat di depan perut, wajahnya ditundukkan semakin dalam. "Kan emang tugas istri nemenin suami siap-siap. Tugas istri bikin suami kelihatan ganteng dan rapi."

Kalimat itu keluar begitu saja, mengalir begitu saja dari hati dan mulut Aira tanpa filter.

Dan kalimat sederhana namun penuh makna itu, membuat suasana di antara mereka berdua seketika berubah menjadi terasa sangat hangat, sangat manis, dan penuh dengan getaran cinta yang mulai tumbuh subur di sana.

Elvano menatap istrinya dengan tatapan yang dalam. Ada senyum tipis yang tak pernah hilang dari bibirnya.

"Iya... makasih ya Ra. Makasih udah mau jadi istri yang baik buat aku."

Suasana di dalam kamar itu saat ini benar-benar dipenuhi oleh aura romantis, canggung, namun sangat manis dan mendalam. Kedua insan itu masih saling memandang meski dengan caranya masing-masing, menikmati momen kebersamaan yang langka dan berharga ini.

Tiba-tiba...

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu terdengar pelan namun jelas dari luar ruangan, memecah keheningan yang indah itu.

"Tuan... Tuan Elvano." terdengar suara berat dan tegas namun sopan milik Pak Budi, asisten pribadi setia yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Praditya. "Sudah siapkah Tuan? Mobil sudah siap dipanaskan di depan halaman. Waktu juga sudah menunjukan jam tujuh kurang seperempat Tuan."

Namun, meski sudah bertanya dan memberi tahu, Pak Budi tidak serta merta membuka pintunya atau mendorongnya masuk. Ia berdiri tegap di luar, menunggu izin dari dalam dengan sangat disiplin dan sopan.

"Sebentar Pak Budi!" sahut Elvano dari dalam dengan suara yang lantang namun tetap santai, matanya tidak mengalihkan pandangan dari wajah Aira. "Masih nyiapin perlengkapan dikit nih! Kita siap sebentar lagi!"

"Oh baiklah Tuan! Saya tunggu di luar saja!" jawab Pak Budi dari balik pintu kayu tebal itu.

Namun, anehnya...

Beberapa menit berlalu, pintu kamar itu tidak kunjung terbuka. Padahal biasanya Pak Budi adalah orang yang sangat disiplin, sangat tepat waktu, dan tidak suka menunggu lama. Kalau biasanya ia akan mengetuk lagi atau membuka pintu sedikit untuk memastikan, tapi hari ini berbeda.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Sebenarnya, Pak Budi dari tadi sudah berdiri tepat di depan pintu. Tangannya bahkan sudah menggenggam erat gagang pintu itu, siap untuk memutar dan mendorongnya masuk hanya untuk memastikan bahwa bosnya tidak terlambat.

Tapi...

Saat ia baru saja akan membuka pintu itu sedikit saja untuk mengintip atau masuk, matanya secara tidak sengaja menangkap pemandangan yang sangat indah dan langka di dalam kamar melalui celah kecil di antara pintu dan dinding.

Yang terlihat oleh mata Pak Budi adalah:

Nona Aira berdiri sangat dekat sekali dengan Tuan Elvano. Tangan mungil Nona Aira sedang sibuk mengatur dan merapikan dasi di leher bos besarnya itu. Wajah mereka berdua saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, terlihat begitu mesra, begitu romantis, dan penuh dengan kedekatan emosional yang luar biasa indah dipandang mata.

Pak Budi sontak menghentikan semua gerakannya secara mendadak.

Matanya membelalak lebar terkejut, mulutnya sedikit terbuka, dan jantungnya ikut berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena bahagia.

"Ya Ampun... Ya Tuhan... Akhirnya... Akhirnya saya melihat pemandangan seindah ini juga di rumah ini." batin Pak Budi bersorak-sorai dalam hati, rasanya ingin menari kegirangan. "Dulu Tuan itu dinginnya minta ampun, kayak es batu di kutub utara gitu lho! Wajahnya datar terus, jarang senyum, galak! Tapi lihat sekarang mah, manis banget sumpah! Romantis banget liatnya sama Nona Aira! Dasi aja dibantuin pasangin, aaaa gemes banget!"

Perasaan haru dan bangga bercampur menjadi satu di dada Pak Budi. Ia melihat sendiri bagaimana perubahan bosnya menjadi lebih manusiawi dan lebih hangat sejak kehadiran Nona Aira.

Karena tidak ingin sekali pun mengganggu momen indah, langka, dan sangat pribadi itu, Pak Budi dengan sigap dan cepat menarik tangannya kembali dari gagang pintu.

Ia memutuskan untuk tidak membuka pintunya sekarang juga.

Biarkan mereka berdua menikmati waktu berdua saja dulu. Biarkan suasana manis itu tetap terjaga dan tidak terganggu oleh kehadiran orang lain.

Pak Budi pun mundur perlahan selangkah ke belakang, lalu berdiri tegap kembali dengan wajah yang sudah diatur sedemikian rupa agar terlihat profesional dan biasa saja, padahal hatinya sedang sumringah bukan main karena sudah menjadi saksi bisu dari adegan manis tadi.

Beberapa saat kemudian, setelah merasa waktunya sudah tepat, pintu kamar besar itu akhirnya terbuka perlahan dari dalam.

Elvano keluar terlebih dahulu dengan langkah yang tegap dan gagah. Penampilannya hari ini terlihat sangat sempurna, sangat rapi, dan memancarkan aura karisma yang luar biasa kuat. Dasi hitam di lehernya terikat sangat indah dan presisi, menjadi bukti nyata sentuhan tangan istrinya.

Di belakangnya, Aira menyusul dengan langkah yang pelan dan anggun. Wajahnya masih terlihat sedikit merah merona menahan sisa-sisa rasa malu dan deg-degan yang belum sepenuhnya hilang.

"Yuk Ra, ayo berangkat," ajak Elvano lembut, tangannya terulur dan menepuk pelan sekali bahu istrinya sebagai tanda sayang dan persetujuan.

"Iya Mas." jawab Aira lembut, mengangguk kecil.

Mereka berjalan beriringan menuruni tangga mewah rumah besar itu. Suara langkah kaki mereka terdengar berirama di lantai marmer yang mengkilap.

Saat sampai di lantai bawah, di sana Pak Budi sudah siap berdiri dengan sigap dan senyum lebar yang sangat ramah dan hangat.

"Selamat pagi Tuan Elvano! Selamat pagi Nona Aira!" sapa Pak Budi dengan nada suara yang terdengar jauh lebih ceria dan bersemangat daripada hari-hari biasanya.

Matanya yang tajam melirik sekilas ke arah leher Elvano, melihat dasi yang terikat sempurna itu, lalu matanya beralih menatap Aira dengan senyum yang makin lebar dan penuh makna.

"Wah... hari ini penampilan Tuan dan Nona benar-benar luar biasa! Sempurna!" puji Pak Budi tulus. "Wah... dasinya Tuan hari ini rapi dan pas banget di leher. Cocok sekali, terlihat makin gagah dan keren."

Aira hanya bisa tersenyum malu dan menunduk mendengar pujian itu, pipinya kembali memerah. Elvano pun hanya tersenyum tipis dan mengangguk sopan.

"Makasih Pak Budi. Ya sudah, ayo jalan. Kita berangkat," kata Elvano singkat namun tegas.

"Iya Tuan! Silakan. Mobil sudah siap!"

Mereka berdua pun berjalan menuju mobil mewah berwarna hitam yang sudah menunggu di depan pintu utama. Pintu mobil dibukakan lebar oleh sopir, mereka masuk dan duduk bersebelahan di kursi belakang yang empuk dan luas.

Pintu ditutup, memisahkan mereka dari dunia luar.

Mobil pun perlahan melaju meninggalkan halaman rumah yang luas itu, menembus kesibukan kota Surabaya pagi itu.

Di dalam kabin mobil yang tenang, ber-AC, dan nyaman itu, suasana terasa sangat hangat dan damai. Momen kecil saat mengikat dasi tadi tertanam kuat di ingatan keduanya. Itu bukan sekadar membantu memasang dasi, tapi itu adalah sebuah langkah kecil yang sangat berarti, sebuah jembatan yang berhasil meruntuhkan sebagian tembok besar rasa canggung dan asing yang selama ini memisahkan hati mereka.

Cinta itu mulai tumbuh dengan indah, perlahan namun pasti, di antara sentuhan-sentuhan kecil dan perhatian-perhatian manis yang mulai sering terjalin di antara mereka berdua.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!