NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Cakrawala

Kekuatan yang ditunjukkan Adrian di ruang perpustakaan tidak hanya membungkam Dewan Delapan, tetapi juga meninggalkan beban berat di pundak Kenzo dan Aara. Mereka menyadari bahwa kemampuan Adrian yang merupakan mutasi dari serum Valkyrie telah berevolusi lebih cepat dari yang diprediksi Dr. Aris. Adrian bukan lagi sekadar anak pintar; dia adalah sebuah anomali frekuensi yang mampu memengaruhi sistem saraf manusia secara langsung.

"Dia belum siap mengendalikan itu, Kenzo," bisik Aara saat mereka duduk di ruang kerja Kusuma Pratama yang kini telah mereka ambil alih. Aara memijat pelipisnya, bayangan pendaran perak di mata putranya terus menghantuinya. "Jika dia bisa melakukan itu pada pembunuh profesional, apa yang akan terjadi jika dia marah pada teman bermainnya nanti?"

Kenzo berdiri di dekat jendela, menatap barisan penjaga Nusantara yang kini berpatroli dengan kesetiaan mutlak. "Maka kita tidak akan membiarkannya tumbuh tanpa kendali. Baskara memberi tahu aku tentang sebuah tempat di pedalaman Kalimantan. Sebuah fasilitas riset biologi yang dulu didanai kakekmu untuk mempelajari stabilitas saraf. Kita akan membawa Adrian ke sana, bukan untuk eksperimen, tapi untuk pelatihan."

Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Jakarta, sebuah faksi yang berbeda mulai bergerak. Mereka menamakan diri mereka"Lembaga Ketahanan Strategis" (LKS)—sebuah unit semi-pemerintah yang selama ini menjadi rival Nusantara dalam perebutan pengaruh di tanah air.

Ketua LKS, seorang wanita paruh baya bernama Sekar, menatap layar yang menampilkan rekaman satelit saat Puri Pratama diserang.

"Nusantara baru saja mendapatkan 'senjata' baru," ucap Sekar kepada para stafnya. "Anak itu bukan hanya pewaris harta. Dia adalah kunci untuk dominasi biopolitik di Asia Tenggara. Jika kita tidak bisa memilikinya, maka Nusantara tidak boleh memilikinya."

"Apa rencana kita, Bu?" tanya salah satu agennya.

"Kita tidak akan menyerang secara frontal seperti FBA yang bodoh," Sekar tersenyum tipis. "Kita akan menggunakan jalur legal. Kita akan menuntut hak asuh atas nama 'perlindungan aset negara'. Dan kita akan menggunakan kartu as kita: sisa-sisa keluarga Pratama yang masih tersisa di luar negeri."

Dua hari kemudian, sebuah helikopter militer tak bertanda lepas landas dari Bandung menuju jantung Kalimantan. Di dalamnya, Kenzo, Aara, dan Adrian duduk dalam diam. Adrian tampak tenang, ia sibuk menyusun sebuah rubik yang telah dimodifikasi hingga memiliki ratusan kombinasi.

"Mama, kenapa pohon-pohon di sini lebih besar dari di Islandia?" tanya Adrian sambil menatap hamparan hijau hutan hujan tropis di bawah mereka.

"Karena di sini matahari sangat mencintai tanahnya, Adrian," jawab Aara lembut, meski tangannya tetap sigap memegang tablet yang memantau setiap radar di sekitar mereka.

Pendaratan dilakukan di sebuah landasan rahasia di tengah hutan lebat. Di sana, mereka disambut oleh Dr. Elina, seorang ahli neurobiologi yang dulu merupakan orang kepercayaan Kusuma Pratama.

"Selamat datang," sapa Elina. Ia menatap Adrian dengan pandangan penuh rasa ingin tahu, namun tetap profesional. "Saya sudah menyiapkan modul meditasi dan stabilisasi frekuensi untuknya. Kita tidak akan menggunakan obat-obatan. Kita akan menggunakan musik dan gelombang resonansi."

Selama satu minggu di Kalimantan, Adrian menjalani pelatihan intensif. Bukan latihan fisik seperti yang dijalani Kenzo, melainkan latihan mental untuk mengisolasi emosinya dari kemampuannya. Dr. Elina mengajarinya cara "mengunci" pintu di dalam pikirannya agar energi *Valkyrie* tidak keluar secara tidak sengaja.

Aara memperhatikan dari balik kaca satu arah saat Adrian duduk di tengah ruangan kedap suara, dikelilingi oleh ribuan sensor.

"Dia sangat cepat belajar," puji Elina yang berdiri di samping Aara. "Tapi ada satu risiko. Kemampuannya bukan hanya memengaruhi orang lain, tapi juga menguras cadangan glukosa di otaknya. Jika dia menggunakannya terlalu sering tanpa asupan nutrisi yang tepat, dia bisa mengalami koma."

Kenzo masuk ke ruangan observasi, wajahnya terlihat tegang. "Kita punya masalah. Baskara baru saja mengirim pesan. LKS sudah mengeluarkan perintah penangkapan untuk kita atas tuduhan 'penculikan anak' terhadap pewaris Pratama. Mereka menggunakan pengadilan internasional untuk membekukan paspor kita."

Aara berbalik, matanya berkilat tajam. "Mereka ingin bermain hukum? Baiklah. Aku punya banyak data kotor tentang LKS yang aku ambil dari server FBA dulu. Sepertinya sudah waktunya untuk sebuah kebocoran data besar-besaran di Jakarta."

Namun, LKS bergerak lebih cepat dari perkiraan. Sebelum Aara sempat mengirimkan data tersebut, sirene peringatan di fasilitas Kalimantan berbunyi.

"Dua unit pasukan katak mendekat dari jalur sungai!" teriak penjaga luar melalui radio.

Kenzo langsung meraih senapan serbunya. "Elina, bawa Aara dan Adrian ke escape pod di bawah fasilitas! Aku akan menahan mereka."

"Tidak, Kenzo! Kita bertempur bersama," bantah Aara.

"Prioritas utama adalah Adrian, Aara! Jika LKS mendapatkan sampel darahnya di sini, semua pengorbanan kita di Islandia akan sia-sia!" Kenzo menatap istrinya dengan pandangan yang tidak bisa dibantah.

Aara mengangguk berat. Ia menarik tangan Adrian, yang tampak sangat tenang menghadapi situasi tersebut. "Ayo, sayang. Kita harus bergerak."

Saat mereka menuju lorong bawah tanah, ledakan pertama menghantam gerbang fasilitas. Pasukan LKS yang terlatih menyerbu masuk dengan granat gas air mata. Kenzo bergerak seperti hantu di antara pepohonan besar, menjatuhkan penyerang satu per satu dengan presisi mematikan. Ia adalah raja hutan yang kini membela wilayah barunya.

Di dalam lorong, Aara berhadapan dengan dua agen LKS yang berhasil menerobos masuk dari jalur ventilasi. Dengan gerakan akrobatik yang elegan, Aara menggunakan pisaunya untuk melumpuhkan mereka dalam hitungan detik.

"Jangan melihat, Adrian," bisik Aara saat ia membersihkan darah dari tangannya.

"Aku tidak melihat dengan mata, Mama," jawab Adrian datar. "Aku merasakan mereka takut padamu."

Kalimat itu membuat Aara merinding. Adrian mulai "merasakan" emosi orang di sekitarnya tanpa perlu menggunakan kekuatannya.

Setelah pertempuran singkat namun brutal, Kenzo berhasil memukul mundur pasukan LKS yang tersisa. Ia berdiri di atas puing-pirang fasilitas, dengan napas tersengal namun tatapan yang tetap mengancam.

Ia mengambil salah satu radio milik agen LKS yang tewas. "Hubungkan aku dengan Sekar."

Setelah beberapa detik, suara Sekar terdengar dari ujung sana. "Kenzo Arkana. Kau baru saja menyerang aparat negara."

"Aparat negara tidak menyerang fasilitas pribadi dengan granat gas," jawab Kenzo dingin. "Dengarkan aku, Sekar. Aku punya dokumen 'Project Merapi' yang kau jalankan secara ilegal bersama FBA lima tahun lalu. Jika kau mengirim satu orang lagi ke arah keluargaku, dokumen itu akan ada di meja Presiden dalam sepuluh menit."

Hening di ujung telepon. Sekar tahu dia sedang berhadapan dengan pria yang tidak memiliki rasa takut.

"Tarik pasukanmu, atau aku akan memastikan LKS menjadi sejarah yang memalukan bagi negeri ini," tutup Kenzo sebelum menghancurkan radio tersebut.

Malam itu, di tengah rimbunnya hutan Kalimantan, keluarga Arkana berkumpul kembali di bawah api unggun kecil. Mereka tahu bahwa Jakarta tidak akan diam, dan Nusantara sedang dalam gejolak. Namun, di mata Adrian yang kini tampak lebih stabil, ada sebuah janji baru.

"Mama, Papa... besok aku ingin belajar cara mengendalikan helikopter," ucap Adrian tiba-tiba.

Kenzo dan Aara saling berpandangan lalu tersenyum. Perjalanan mereka di Indonesia baru saja dimulai, dan musuh-musuh mereka akan segera menyadari bahwa keluarga ini bukanlah hantu yang bisa diusir, melainkan badai yang akan menyapu bersih siapa pun yang mencoba menyentuh akar mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!