Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman ganas
"Hahahah! Geli om! Hahahaha! Ampun! Ampuuun!"
Alea terguling-guling di lantai, tertawa terbahak-bahak tak berdaya. Tangan mungilnya berusaha mendorong dada bidang pria itu, tapi kekuatannya jauh tertinggal. Damon tidak berhenti. Jari-jarinya yang lincah bergerak gesit di sisi tubuh, di bawah ketiak, dan di pinggang mungil gadis itu, membuat Alea kehilangan kendali sepenuhnya.
"Masih berani ngomong bibirku tebal?" tanya Damon dengan nada menggoda, tapi matanya menyala penuh permainan. Ia tidak pernah seperti ini pada perempuan, tapi Alea perempuan pertama yang membuatnya merasa gemas sekali.
"Hahahaha! Enggak! Enggak! Maaf! Maaf hihihi!" rengek Alea di antara tawa, air matanya bahkan keluar karena terlalu geli.
"Bibir om... bibir om tipis! Tipis banget! Hahaha! Udah dong om! Mati aku!"
"Belum." Damon tersenyum miring, senyum nakal yang sangat jarang dilihat orang lain.
"Minta maaf yang benar."
"Maaf! Maaf banget! Alea salah! Alea salah! Hahaha!"
Baru setelah itu Damon mengurangi serangannya, tapi ia tidak melepaskan. Tubuhnya masih menindih ringan tubuh Alea, kedua tangan gadis itu ditahan di atas kepala dengan satu tangan pria itu saja, sementara tangan lainnya masih siap menggelitik lagi kalau-kalau Alea berani nakal lagi.
Mereka berdua terengah-engah. Alea masih tersisa cekikikan kecil, napasnya memburu, pipinya merona merah muda sangat cantik. Damon menatap wajah itu dari jarak yang sangat dekat. Wajah mereka terpisah hanya beberapa sentimeter.
Tawa Alea perlahan lenyap digantikan oleh keheningan yang tiba-tiba. Suasana berubah. Udara di antara mereka seakan memanas drastis. Alea menelan ludah. Matanya terpaku pada bibir tipis yang tadi ia ledek itu.
Sekarang jika di lihat lebih dekat ... bibir itu justru terlihat sangat menarik, tegas, dan terasa sangat panas saat tersentuh tadi.
Deg.
Jantungnya berdegup kencang sekali, kali ini bukan karena geli atau takut, tapi karena sesuatu yang lain... sesuatu yang membuat perutnya terasa melilit aneh.
Gila. Kok gue deg-degan gini ya? Apa karena bibir om Damon aslinya sebenarnya seksi banget? Dia pake lipstik? Kok warnanya bisa seger gitu sih?
"Sudah tidak mau lari lagi?" bisik Damon, suaranya turun satu oktaf, terdengar lebih berat dan serak dibanding biasanya.
Alea menggeleng pelan, terpaku. Ia tidak bisa bergerak. Tidak mau bergerak. Matanya masih terpaku pada bibir Damon.
"Masih bilang bibirku tebal?" tanya Damon lagi, kali ini wajahnya makin mendekat. Napas hangat pria itu menyapu wajahnya.
"Nggak," jawab Alea pelan, suaranya hampir tak terdengar.
"Bibir om ... bagus."
Damon tersenyum tipis, senyum penuh kemenangan yang sangat seksi.
"Terus kenapa tadi digosok-gosok seperti kau terkena kotoran?"
"Itu karena, karena ..." Alea bingung mencari alasan, matanya berkeliling tak tentu arah, menghindari tatapan tajam mata hitam itu yang seolah mampu menelannya mentah-mentah.
"Kaget!"
"Kaget?"
"Iya..."
"Kaget karena rasanya enak?" goda Damon berani. Dia bahkan tidak percaya kalimat itu bisa keluar dari mulutnya.
Wajah Alea langsung memerah padam.
"Mana ada! Biasa aja tuh!" sangkalnya cepat, meski dalam hati ia harus mengakui bahwa sensasi itu masih terasa jelas di bibirnya.
"Oh ... biasa saja ya?" Damon mendengus pelan, sepertinya tidak terima dengan jawaban itu.
"Kalau begitu... biar aku membuatmu merasakan yang tidak biasa."
Belum sempat Alea bertanya maksudnya apa, Damon sudah menunduk. Dan kali ini ... bukan kecelakaan.
UMPH!
Bibir Damon mendarat dengan cepat dan pasti, tanpa aba-aba, menekan bibir mungil Alea dengan kuat. Tidak ada keraguan, tidak ada kelembutan berlebihan. Ciuman itu langsung menyerang dengan ganas dan penuh tuntutan. Dia juga bingung dan merasa sudah gila, tapi kali ini dia benar-benar tidak dapat mengontrol dirinya sendiri.
Mata Alea membulat sempurna, tubuhnya kaku sejenak karena keterkejutan yang luar biasa.
Astagaa ...
Damon tidak memberinya waktu untuk berpikir. Ia melumat bibir itu dengan rakus, seakan ingin menghisap seluruh napas gadis itu. Tangannya yang semula menahan pergelangan tangan Alea, kini bergerak turun, mencengkeram pinggang ramping itu dan menarik tubuh mungil itu menempel sempurna pada dadanya.
"Mmmpphh..." Alea mendesah tak berdaya, matanya perlahan terpejam saat otaknya akhirnya menyerah pada sensasi yang meledak-ledak itu.
Ciuman mereka panas. Sangat panas.
Damon bergerak dengan ahli, membolak-balikkan bibir gadis itu, menyedotnya dengan dahsyat. Lidahnya dengan mudah menerobos pertahanan, masuk dan bermain tarik menarik dengan lidah Alea yang kaku.
Rasa dominan pria itu begitu kuat. Alea merasa seperti dikepung, merasa dimiliki sepenuhnya. Sensasi aneh yang campur aduk antara takut, malu, tapi juga... sangat nikmat menjalar ke seluruh pori-pori tubuhnya.
Kakinya terasa lemas, jemarinya yang tadinya menolak, kini justru naik mencengkeram bahu Damon erat-erat, menarik pria itu agar makin dekat, makin dalam.
"Haah... haah..."
Napas mereka memburu, bercampur menjadi satu. Suara basah dan desahan kecil terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. Damon tidak mau berhenti. Ia seakan baru menemukan candu termahal di dunia. Setiap kali ia melepaskan sedikit untuk mengambil napas, ia langsung kembali mengejar bibir itu lagi dengan lebih lapar dari sebelumnya.
Ia mencium Alea dalam, sangat dalam. Sampai rasanya mereka berdua kehabisan oksigen. Sampai Alea merasa kepalanya ringan melayang, seakan dunia di sekitar mereka menghilang, hanya menyisakan tubuh mereka yang saling bertaut.
Tangan Damon bergerak liar, menjelajahi punggung, lalu turun ke paha putih mulus gadis itu, membuat Alea mendesah lebih keras lagi di antara ciuman mereka.
"O-om ..." panggil Alea tercekat saat bibir mereka sempat terlepas sejenak, napasnya ngos-ngosan, bibirnya sudah terlihat bengkak dan merah menyala karena perlakuan ganas pria itu.
Damon menatapnya dengan mata yang gelap pekat, penuh hasrat yang belum padam. Wajahnya juga memerah, napasnya juga tak kalah berat.
"Masih bilang biasa?" desisnya parau, suaranya terdengar sangat seksi dan mengerikan di saat yang bersamaan.
Alea hanya bisa menggeleng lemah, tubuhnya gemetar hebat dalam pelukan pria itu. Ia belum sadar sepenuhnya.
"Sepertinya kau... Menikmatinya." bisik Damon, bibirnya menyentuh pelan sudut bibir gadis itu, lalu turun ke rahang, ke leher, dan mulai mencium serta menghisap kulit leher yang putih mulus itu dengan posesif.
Alea kaget. Kesadarannya kembali. Lalu dengan tenaga penuh ia mendorong laki-laki itu menjauh dan bangkit. Wajahnya sudah memerah seperti tomat matang.
"Om gila ya?! Itu ... Itu ... Om cari perempuan lain saja sana kalau mau ciuman! Aku gak mau di cium om-om tua!"
Setelah mengatakan itu Alea segera kabur keluar dari sana. Meninggalkan Damon yang masih menatapnya dengan wajah tercengang bercampur kesal karena di katain om-om tua.
Alea Marah? Tidak, justru karena dia gugup dan malu sekali makanya dia kabur.
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino,,,,
semoga mereka berdua berjodoh 🤣
kocak bget alea el,buat pusing anthony..selama 3 ntar jd pcr pak anthony el🤣🤣
Alea jodohnya om damon, dan pak anthony dosen killer jodohnya elora😃
elora kena hukuman selama 3 bulan kasian, pastinya pak dosen anthony pusing, menghadapi alea dan elora...
thankyou mae dah update 2x
yang di gibahin muncul kaya jalangkung.....😂