NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29. Senjata Makan Tuan

H-10. Angka di kalender ponsel Nala sekarang terasa seperti dentuman lonceng kematian yang bergema di setiap sudut apartemen. Namun, kejutan terbesar pagi ini tidak datang dari vendor katering yang menagih pelunasan atau penjahit jas yang meminta fitting darurat. Kejutan itu datang dalam bentuk dering telepon pukul enam pagi yang mengabarkan bahwa orang tua Nala sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, lebih awal tiga hari dari jadwal yang seharusnya.

Di ruang tamu apartemen Saga yang biasanya minimalis, dingin, dan sepi seperti museum arsitektur, kini suasananya berubah total menjadi pusat keriuhan keluarga. Tante Sofia—Mama Saga—dan Eyang sudah berada di sana, menyambut Ayah dan Ibu Nala dengan pelukan hangat seolah mereka adalah saudara kandung yang terpisah selama puluhan tahun akibat perang saudara.

Nala berdiri di sudut ruangan, memegang cangkir kopi yang sudah dingin, matanya memperhatikan setiap gerak-gerik Saga. Dan jujur saja, apa yang ia lihat membuatnya ingin membenturkan kepala ke tembok.

Saga tampak seperti orang yang berbeda. Tidak ada wajah jutek, tidak ada nada bicara sarkas yang tajam, dan tidak ada tatapan dingin yang biasa ia berikan pada Nala. Pria itu membungkuk takzim, menyalami Ayah Nala dengan kedua tangan, lalu dengan sigap membantu membawakan koper-koper besar dari bagasi seolah ia adalah porter profesional yang sedang mengejar bonus akhir tahun.

"Saga ini benar-benar menantu idaman, ya, Jeng Sofia," bisik Ibu Nala pada Mama Saga, suara yang sengaja diperkeras agar bisa didengar seluruh ruangan. "Sopan sekali, ganteng, mapan pula. Nala ini memang beruntung luar biasa."

Mama Saga tertawa bangga, wajahnya berseri-seri. "Ah, Jeng, Saga memang anak yang tahu tata krama. Dia sangat bersemangat menunggu kedatangan calon mertuanya, lho."

Nala merasa perutnya mulas bukan main. Ia segera melangkah menuju dapur, lalu memberikan kode mata yang sangat kuat kepada Saga. Pria itu, meski sedang asyik berbincang ringan dengan Ayah Nala soal perkembangan infrastruktur di daerah, akhirnya berpamitan sejenak dan menyusul Nala ke dapur.

"Mas!" bisik Nala begitu Saga menutup pintu dapur. "Akting kamu itu keterlaluan! Kamu jangan terlalu sopan dan manis begitu dong! Kalau kamu menunjukkan sisi 'menantu teladan' begini, rencana kita buat batalin nikahan bakal terkubur sedalam Palung Mariana!"

Saga menatap Nala datar, ekspresinya kembali ke setelan pabrik: dingin. Ia menuangkan air dingin ke dalam gelas dengan gerakan yang sangat tenang. "Saya tidak sedang akting, Nala. Orang tua kamu adalah tamu di apartemen ini. Dan saya dididik untuk menghormati orang tua, siapa pun mereka. Itu adalah etika dasar, bukan bagian dari strategi sabotase."

"Tapi etikamu itu merusak rencana kita, Mas! Lihat itu di luar, mereka sudah mulai bahas soal hotel buat bulan madu! Ayahku bahkan sudah bawa oleh-oleh batik sarimbit buat kita pakai di acara resepsi nanti!" Nala mengacak rambutnya frustrasi. "Kita harus bikin mereka ragu. Sekarang. Sebelum mereka pesan tiket pesawat buat keluarga besar dari kampung!"

Nala memutar otak dengan kecepatan maksimal. Jika menunjukkan ketidakcocokan tidak lagi mempan karena orang tua mereka sudah terlalu "terbius" oleh karisma Saga, maka ia akan menggunakan strategi sebaliknya. Ia akan menunjukkan 'kecocokan' yang sangat ekstrem, sangat lebay, dan sangat memuakkan, sampai para orang tua itu merasa mereka berdua terlalu 'aneh' atau bahkan 'tidak sehat' untuk bersatu dalam pernikahan normal.

"Mas, ikut aku ke depan. Kita lakukan 'Siasat Pamungkas'. Saya pimpin, kamu cuma perlu ikutin," bisik Nala penuh rencana jahat di kepalanya.

Beberapa jam kemudian, saat semua orang sedang berkumpul di ruang makan untuk menikmati hidangan nasi liwet yang dibawa khusus oleh Ibu Nala, Nala memulai aksinya. Ia duduk sangat rapat di samping Saga, hampir menempel tanpa celah.

"Mas Saga sayang..." panggil Nala dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis madu yang sudah kadaluwarsa tiga tahun.

Seluruh meja makan mendadak hening. Denting sendok dan garpu terhenti. Tante Sofia, Eyang, dan orang tua Nala serempak menoleh. Saga hampir saja tersedak suwiran ayam, namun ia segera menangkap tatapan 'ikuti permainanku atau aku bakar apartemen ini' dari mata Nala.

Saga berdehem, mencoba menetralkan suaranya. "Iya... Sayang?" balas Saga, suaranya sedikit bergetar antara menahan tawa dan rasa ngeri yang luar biasa.

Nala mengambil sepotong rendang yang cukup besar. Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat, dramatis, dan penuh gestur yang dibuat-buat layaknya adegan sinetron stripping jam tayang utama, ia mengarahkan rendang itu ke mulut Saga.

"Ayo buka mulutnya, Mas. Aaa... Mas kan manja banget, kalau nggak aku suapin, Mas nggak mau makan kan? Duh, calon suamiku ini kalau lapar suka kayak bayi," ujar Nala sambil mencolek hidung Saga dengan jarinya yang masih sedikit berminyak.

Nala berharap Ayahnya yang dikenal sangat kolot dan menjunjung tinggi kesopanan di meja makan akan merasa risih. Ia berharap Eyang akan menegur mereka karena dianggap tidak tahu malu bermesraan di depan orang tua. Namun, apa yang ia terima justru sebuah kejutan balik yang telak.

"Ya Tuhan... manis sekali!" Ibu Nala justru menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca haru. "Ayah, lihat itu. Saga sampai mau disuapin begitu. Berarti mereka memang sudah sangat lekat hatinya. Tidak salah kita menjodohkan mereka."

Nala tidak menyerah. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Saga, lalu mulai bicara dengan bahasa bayi yang sangat menyebalkan. "Mas, nanti kalau kita sudah nikah, apartemen ini kita cat warna pink semua ya? Mas juga harus pakai baju kembaran sama aku setiap hari. Warna shocking pink. Mas mau kan, demi Nala-nya Mas yang paling imut ini?"

Saga, yang entah kenapa mendadak ingin membalas keisengan Nala dengan cara yang lebih berani, tiba-tiba merangkul bahu Nala dengan sangat erat. Ia tidak hanya mengangguk, tapi ia justru mencium puncak kepala Nala di depan semua orang—sebuah gerakan yang sama sekali tidak ada dalam rencana Nala.

"Apapun buat kamu, Sayang," ujar Saga dengan nada yang begitu dalam, lembut, dan terdengar sangat... tulus? "Aku rasa cat pink bukan ide buruk. Bahkan kalau perlu, semua gedung yang aku desain tahun depan akan aku beri aksen pink sebagai tanda cinta aku ke kamu. Dunia harus tahu kalau aku bucin sama kamu."

Nala membeku di tempat. Bulu kuduknya berdiri semua. Wait, ini kenapa jadi begini? Kok dia malah jago banget aktingnya?

"Luar biasa!" Ayah Nala tiba-tiba menggebrak meja makan dengan pelan sambil bertepuk tangan. "Saga, Ayah bangga! Ayah kira kamu itu orangnya kaku dan membosankan karena pekerjaanmu sebagai arsitek. Ternyata kamu punya jiwa romantis yang sangat besar. Ayah titipkan Nala padamu ya, Nak."

Eyang pun ikut menimpali sambil tersenyum bijak. "Sifat kaku Saga ternyata luluh total oleh sifat manja Nala. Ini yang dinamakan keseimbangan semesta. Kalian benar-benar soulmate yang dikirim Tuhan untuk saling melengkapi."

Nala ingin menangis rasanya. Senjata makan tuan! Niat hati ingin membuat mereka risih karena kemesraan yang abnormal, mereka justru dianggap sebagai "Couple Goals" yang sangat mengharukan. Strategi 'memuakkan' itu malah memperkuat keyakinan orang tua mereka bahwa pernikahan ini adalah takdir yang tak boleh diganggu gugat.

1
Calisa
alurnya berubah drastis banget ya untuk bab ini. tiba2 muncul papanya saga yg dari awal bab nggak pernah dibahas. ibu Sofia sama eyang Utari malah hilang
Calisa
sweet banget sagaaa 🤧♥️
Calisa
agak aneh ya. tadi kan Nala udah ngobrol sama saga di dapur, kenapa jadi baru keluar kamar
Calisa: oohh gitu ya kak. pantes ceritanya agak2 gak sinkron antara 1 adegan sama yg lain..
semangat ya kaa. aku suka sama tulisanmu, gaya bahasanya. sayang banget cerita ini belum banyak yg baca. padahal dari segi penulisan, beda sama yg lain.
total 2 replies
Calisa
loh bukannya eyang Utari udah pernah ketemu Nala ya pas makan di rumah saga?
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.
Senja_Puan: terima kasih banyak kakak sayang... Auto langsung revisi
total 1 replies
Calisa
wkwkwk.. pengangguran nya harus elit dong mas 🤣🤣
Calisa
nah bener ini. jadi diri sendiri aja.. good Nala
Calisa
kalau bohongnya totalitas begini pas ketahuan malu banget
Calisa
walah walaah.. jangan2 ibunya saga nih
Calisa
😂😂😂
Calisa
wkwk.. pertemuan pertamanya epic banget ya 🤣
Calisa
bisa langsung switch mode 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!