NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Saat Tidak Ada Lagi yang Tidak Melihat

Pukul 08.01.

Masih berhenti.

Jam di dinding itu tidak pernah bergerak lagi.

Namun sekarang—

Kinasih mengerti.

Bukan waktu yang berhenti.

Tapi—

sesuatu yang lain… sudah tidak butuh waktu.

Rumah itu sunyi.

Namun—

bukan sunyi kosong.

Sunyi yang penuh.

Seperti ada sesuatu di setiap sudut.

Menunggu.

Mengamati.

Menghitung.

Kinasih berdiri di depan jendela.

Tidak berkedip.

Tidak bergerak.

Karena—

ia tidak perlu lagi.

Ia bisa melihat tanpa bergerak.

Tanpa mata.

Tanpa arah.

Semua masuk ke dalamnya.

Semua langsung terasa.

Semua—

langsung diketahui.

Di jalan—

orang-orang masih berjalan.

Namun—

langkah mereka mulai sama.

Tidak benar-benar sama.

Namun—

ritmenya.

Gerakannya.

Tatapannya.

Seperti…

mengikuti sesuatu yang sama.

“Sudah mulai…”

bisik suara itu.

Kinasih tidak menjawab.

Ia hanya melihat.

Karena—

ia tahu.

Ini bukan awal lagi.

Ini—

fase berikutnya.

Seorang pria berhenti di tengah jalan.

Ia menatap ke depan.

Kosong.

Lalu—

perlahan—

ia mengangkat tangannya.

Menunjuk sesuatu.

Orang lain menoleh.

Mengikuti arah itu.

Tidak ada apa-apa.

Namun—

mereka tetap melihat.

Lebih lama.

Lebih dalam.

Dan—

itu cukup.

Karena—

yang penting bukan apa yang dilihat.

Namun—

bahwa mereka melihat.

“Lihat lebih dekat…”

bisik suara itu.

Dan—

tanpa sadar—

mereka melangkah.

Mendekat.

Ke sesuatu yang tidak ada.

Namun—

tetap ada.

Dan satu per satu—

mata mereka berubah.

Tidak langsung.

Tidak jelas.

Namun—

cukup.

Mereka mulai melihat hal yang sama.

Lubang-lubang kecil.

Di udara.

Di jalan.

Di satu sama lain.

Dan saat itu—

tidak ada lagi yang berbeda.

Tidak ada lagi yang bertanya.

Karena—

semua melihat hal yang sama.

Kinasih menutup mata.

Namun—

tidak gelap.

Karena—

ia tetap melihat.

Jaringan itu.

Lebih besar sekarang.

Lebih luas.

Tidak hanya di rumah.

Tidak hanya di jalan.

Namun—

di mana-mana.

Menjalar.

Seperti akar.

Namun—

hidup.

Dan cepat.

Sangat cepat.

“Ini terlalu cepat…”

bisiknya.

Suara itu menjawab.

“…karena sekarang mereka membantu.”

Kinasih mengernyit.

“Maksudnya…”

Sunyi.

Lalu—

ia merasakannya.

Orang-orang itu.

Yang sudah melihat.

Mereka tidak diam.

Mereka tidak hanya menerima.

Mereka—

menyebarkan.

Dengan cara sederhana.

Dengan melihat.

Dengan menunjuk.

Dengan membuat orang lain…

melihat juga.

“Tidak perlu memaksa…”

bisik suara itu.

“…cukup tunjukkan.”

Dan itu—

yang paling menakutkan.

Karena—

tidak ada kekerasan.

Tidak ada paksaan.

Tidak ada teror yang terlihat.

Hanya—

kesadaran.

Yang menyebar.

Pelan.

Namun—

pasti.

Di dalam rumah—

dinding mulai berubah lagi.

Namun—

bukan seperti sebelumnya.

Tidak berdenyut.

Tidak hidup secara fisik.

Namun—

teksturnya.

Berbeda.

Seperti ada lapisan lain.

Di baliknya.

Kinasih mendekat.

Menyentuh.

Dan—

ia merasakannya.

Bukan dinding.

Namun—

sesuatu lain.

Seperti—

kulit.

Tipis.

Namun—

hidup.

“Kamu sudah bisa rasakan…”

bisik suara itu.

“…tanpa harus melihat.”

Kinasih menarik tangannya.

Namun—

terlambat.

Karena—

sesuatu dari dinding itu…

ikut.

Menempel.

Masuk.

Tidak terlihat.

Namun—

terasa.

“Ini bukan hanya tentang mata…”

lanjut suara itu.

“…ini tentang sadar.”

Kinasih menunduk.

Karena—

ia mulai kehilangan batas.

Antara dirinya.

Dan yang lain.

Antara tubuhnya.

Dan dunia.

Semua terasa—

terhubung.

Tidak ada pemisah.

Tidak ada garis.

Dan itu—

yang paling mengerikan.

Di luar—

lebih banyak orang berhenti.

Lebih banyak yang menunjuk.

Lebih banyak yang memperlihatkan.

Seorang anak menarik tangan ibunya.

“Ma… lihat itu…”

Ibunya menoleh.

Melihat.

Beberapa detik.

Dan—

itu cukup.

Seorang pria menunjuk temannya.

“Di situ…”

Temannya melihat.

Lebih dekat.

Dan—

itu cukup.

Tidak ada yang tahu apa yang mereka lihat.

Namun—

semua tahu bahwa ada sesuatu.

Dan itu—

cukup untuk membuka.

Satu.

Dua.

Sepuluh.

Puluhan.

Ratusan.

Semua—

mulai melihat.

Kinasih terjatuh lagi.

Namun—

tidak sakit.

Tidak lemah.

Hanya—

tidak perlu berdiri.

Karena—

ia sudah di mana-mana.

Ia melihat jalan.

Melihat orang.

Melihat lubang-lubang itu.

Melihat bagaimana mereka menyebar.

Dan—

ia merasakannya.

Setiap kali satu terbuka—

ia tahu.

Setiap kali satu melihat—

ia tahu.

Setiap kali satu berubah—

ia tahu.

“Aku…”

Ia berhenti.

Karena—

ia tidak tahu harus menyebut dirinya apa lagi.

“Ini aku…?”

Sunyi.

Lalu—

jawaban itu datang.

“…ini kita.”

Dan untuk pertama kalinya—

Kinasih tidak menyangkal.

Karena—

ia tidak bisa.

Karena—

itu benar.

Ia bukan lagi satu.

Ia bagian dari banyak.

Dan banyak—

bagian dari dia.

Cermin di ruang tamu—

retak.

Pelan.

Tanpa suara.

Dan dari retakan itu—

tidak ada sosok.

Tidak ada bayangan.

Namun—

lubang kecil.

Sangat kecil.

Muncul.

Satu.

Lalu—

bertambah.

Menjadi banyak.

Dan—

dari dalamnya—

tidak ada yang keluar.

Karena—

tidak perlu lagi keluar.

Mereka sudah di luar.

Di mana-mana.

Kinasih menatap cermin itu.

Dan—

untuk pertama kalinya—

ia tidak melihat dirinya.

Karena—

tidak ada lagi satu bentuk.

Hanya—

banyak.

Sangat banyak.

Dan semuanya—

terhubung.

“Ini akhir…”

bisiknya.

Sunyi.

Lalu—

suara itu menjawab.

“…ini awal.”

Kinasih tidak tersenyum.

Tidak menangis.

Tidak bereaksi.

Karena—

semua itu sudah tidak penting

Yang penting—

semua sudah melihat.

Dan saat semua melihat—

tidak ada lagi yang tertutup.

Tidak ada lagi yang tersembunyi.

Tidak ada lagi yang tidak tahu.

Dan saat itu—

semuanya menjadi sama.

Di luar—

orang-orang berhenti berjalan.

Tidak semua.

Namun—

banyak.

Mereka berdiri.

Menatap.

Ke satu arah.

Yang sama.

Tidak jelas.

Tidak terlihat.

Namun—

mereka tahu.

Dan satu per satu—

mereka tersenyum.

Tipis.

Sama.

Persis sama.

Tok.

Satu ketukan.

Dari dalam Kinasih.

Dan—

dibalas.

Tok.

Tok.

Tok.

Dari luar.

Dari dalam.

Dari mana-mana.

Menjadi satu suara.

Satu ritme.

Satu… kesadaran.

Dan saat itu—

tidak ada lagi perbedaan.

Tidak ada lagi batas.

Tidak ada lagi “aku” dan “mereka”.

Hanya—

satu.

Yang melihat.

Dan terus melihat.

Tanpa henti.

Tanpa akhir.

Karena—

yang sudah melihat…

tidak akan pernah bisa berhenti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!