Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Bayangan di Balik Bar
Cahaya lampu neon putih di ruang forensik lantai dasar markas kepolisian selalu membuat mataku perih. Ruangan tanpa jendela ini terasa seolah dirancang khusus untuk menguliti segala rahasia yang disembunyikan manusia dalam kegelapan. Udara di sini terasa berat, didominasi oleh bau antiseptik lantai, formaldehida yang menyengat hidung, dan aroma asam dari kopi basi yang tertinggal di cangkir plastik sejak semalam.
Aku bersedekap, menyandarkan punggungku yang terasa kaku pada meja stainless steel yang dingin. Mataku menatap lurus pada sebuah kantong plastik bukti yang diletakkan di bawah pendaran cahaya lampu sorot mikroskop elektron.
Di dalam plastik klip transparan itu, terbaring barang bukti nomor 04: Kartu Joker yang kuambil dari saku piyama Handoko Salim pagi tadi.
"Kau tidak akan mempercayainya, El," suara dr. Surya memecah dengung pelan mesin pendingin ruangan. Pria paruh baya dengan jas laboratorium putih yang bagian lengannya sedikit kebesaran itu memutar lensa mikroskopnya, lalu mendongak menatapku dari balik kacamata tebalnya. Kantung matanya sama hitamnya denganku.
Aku memijat pangkal hidungku dengan ibu jari dan telunjuk, mencoba mengusir rasa berdenyut di kepalaku. Tiga puluh jam tanpa tidur membuat tubuhku mulai memberontak.
"Buat aku percaya, Dok. Aku butuh sesuatu, sekecil apa pun itu," ujarku, suaraku terdengar serak dan lelah. "Katakan padaku bahwa kartu murahan itu punya sidik jari, atau setidaknya jejak DNA dari keringat pelakunya."
Surya tidak tersenyum. Ia menggeser kursi berodanya mendekat kepadaku, menyerahkan sebuah sabak digital (tablet) yang menampilkan grafik spektrometri massa. Garis-garis hijau dan merah naik-turun dalam pola zig-zag yang sama sekali tidak kumengerti.
"Kartu itu bukan kertas karton biasa, apalagi plastik murahan," jelas Surya, ujung jarinya mengetuk layar pada salah satu puncak grafik berwarna merah. "Ini adalah polimer komposit tingkat tinggi yang diperkuat dengan anyaman serat karbon. Bahan mentah yang sama persis dengan yang digunakan untuk rompi balistik kelas militer atau sasis mobil balap profesional. Sangat ringan, sangat tipis, tapi hampir mustahil dirobek dengan tangan kosong."
Aku menegakkan tubuh, rasa kantukku mendadak menguap, digantikan oleh insting detektif yang kembali menyala. "Ada apa dengan tintanya? Kenapa grafik merahnya melonjak di sana?"
Surya menurunkan suaranya, seolah dinding logam ruangan ini bisa menguping pembicaraan kami. "Bukan tinta komersial yang bisa kau beli di toko alat tulis. Siapa pun yang mencetak gambar badut ini, menggunakan campuran pigmen organik dengan jejak logam berat... dan residu neurotoksin sintetis dosis tinggi."
Udara di paru-paruku serasa membeku. "Neurotoksin?"
"Itu racun mematikan yang membunuh Handoko Salim, El," Surya mengangguk muram, menatap kantong bukti itu seolah benda itu adalah ular berbisa yang siap mematuk. "Racun jenis ini sangat langka, dirancang khusus untuk diserap melalui pori-pori kulit (transdermal). Saat Handoko menyentuh kartu ini, mungkin karena ia penasaran, racunnya langsung meresap masuk ke aliran darahnya."
Surya menelan ludah sebelum melanjutkan. "Senyawa itu mengunci sistem saraf pusatnya, memicu kejang otot yang sangat ekstrem, membuatnya tidak bisa bernapas, hingga akhirnya otot jantungnya menyerah dan meledak karena kelelahan."
Aku terdiam. Mataku tak bisa lepas dari ilustrasi kartu berwajah badut itu. "Tidak ada jarum suntik. Tidak ada makanan atau minuman yang diracun secara diam-diam. Dia... dia membunuh Handoko hanya dengan memberinya sebuah kartu?"
"Sebuah metode eksekusi yang sangat rapi dan brilian," jawab Surya. "Tidak ada jejak sidik jari karena racunnya menguap dalam hitungan jam. Tidak ada DNA yang tertinggal. Pelakumu... El, dengarkan aku. Dia bukan pembunuh bayaran biasa atau preman jalanan. Dia punya akses ke laboratorium canggih, ketersediaan dana tanpa batas, dan otak seorang sosiopat yang sangat jenius."
Aku mengambil kantong plastik bukti itu dengan sangat hati-hati, memegangnya tepat di depan wajahku. Mata sang Joker tampak mengejekku dari balik lapisan plastik. Sudut bibirnya yang tersenyum sinis seolah menertawakan lencana kepolisian yang kukenakan.
Pertanyaannya kini berubah. Bukan lagi bagaimana Handoko dibunuh, melainkan siapa yang memiliki sumber daya sebesar dan segila ini untuk membunuhnya? Dan mengapa Handoko yang menjadi target? Apa kesalahan pengacara licin itu?
Tiba-tiba, pintu baja ruang forensik didorong terbuka dengan kasar.
Inspektur Bramantyo masuk dengan langkah lebar, membawa sebuah map cokelat yang sudut-sudutnya sudah lecek. Napasnya sedikit terengah, menyebarkan aroma tembakau murah. Kemeja kerjanya berantakan, bagian bawahnya keluar dari celana, dan dasinya ditarik longgar—tanda khas bahwa ia baru saja berdebat kusir dengan atasan kami di lantai atas.
"Rekaman CCTV jalanan di sekitar blok apartemen Handoko akhirnya membuahkan hasil," Bram melemparkan map cokelat itu ke atas meja stainless hingga menimbulkan suara tamparan yang keras. "Setengah jam sebelum Handoko ditemukan mati, kamera lalu lintas di ujung jalan merekam sebuah anomali."
Aku meletakkan kantong bukti kartu itu dan segera membuka map tersebut. Ada dua lembar foto hasil cetakan kasar yang dipenuhi bintik-bintik noise (gangguan gambar) dan piksel yang buram karena pembesaran paksa.
Foto pertama diambil dari sudut atas tiang lampu. Menunjukkan sosok seorang pria mengenakan mantel panjang berwarna gelap, berjalan tenang menembus badai hujan. Wajahnya sama sekali tidak terlihat, tersembunyi sempurna di balik bayangan payung hitam besar yang ia pegang.
"Ponsel milik Handoko juga memberikan kita cerita baru dari log GPS-nya malam itu," tambah Bram, telunjuknya yang kasar menunjuk pada lembar foto kedua yang berupa tangkapan layar peta digital. "Handoko tidak langsung pulang ke penthouse-nya dari kantor Vanguard. Pada pukul sebelas malam, ia mampir ke sebuah tempat dan menghabiskan waktu lebih dari satu jam di sana. Sebuah kelab malam eksklusif... ralat, lebih tepatnya bar speakeasy tersembunyi di kawasan SCBD. Namanya The Obsidian."
Mataku memicing, bergantian menatap rute GPS dan foto buram sosok bermantel itu. "Kau pikir sang pembunuh membuntuti Handoko sejak dari bar tersebut?"
"Atau mereka sudah membuat janji untuk bertemu di sana," jawab Bram, mengusap wajahnya yang kelelahan. "Aku sudah mencoba meminta surat izin penggeledahan dan penyitaan rekaman kamera dari kejaksaan pagi ini. Tapi kau tahu sendiri bagaimana tempat-tempat eksklusif di kota ini beroperasi. Pemilik The Obsidian adalah 'orang kuat'. Mereka punya koneksi dewan di mana-mana. Kita tidak bisa sekadar mendobrak masuk dengan seragam dan lencana tanpa surat resmi atau saksi mata."
Aku menutup map tersebut. Sebuah rencana yang sedikit gila mulai merangkai dirinya di dalam kepalaku. Aku melepaskan jaket kepolisianku yang tebal, menyisakan camisole sutra hitam berpotongan elegan yang biasa kupakai sebagai lapisan dalam, dipadukan dengan celana bahan hitam lurus.
Aku melepas ikat rambutku, mengacak sedikit rambut panjangku agar terlihat lebih bervolume, lalu mengoleskan lipstik merah gelap dari dalam tasku. Dalam dua menit, aku mengubah penampilanku dari seorang detektif yang kurang tidur menjadi seseorang yang pantas duduk menyilangkan kaki di bar kelas atas.
"Kau tidak perlu mendobrak masuk, Bram," kataku sambil meraih kunci mobil SUV-ku dari atas meja, lalu menyelipkan pistol Glock-19 ke dalam sarung khusus di balik pinggang belakang celanaku. "Aku akan pergi ke sana dan membelikanmu minuman."
Dentuman bas yang dalam dan berirama dari musik jazz live langsung menyambutku saat aku mendorong pintu kayu ek padat The Obsidian.
Tempat ini benar-benar tersembunyi. Tidak ada papan nama neon terang di luar, tidak ada pelayan penyambut tamu. Hanya sebuah pintu baja tanpa tanda di ujung lorong bawah tanah sebuah gedung perkantoran tua. Namun, begitu melangkah melewati ambang pintunya, suasananya berubah drastis layaknya masuk ke dimensi lain.
Lampu-lampu gantung berwarna amber (kuning kecokelatan) yang redup memantul pelan dari perabotan kayu mahoni berpelitur dan sofa kulit asli bergaya Chesterfield. Udara di sini terasa hangat dan tebal oleh perpaduan aroma cerutu mahal, parfum oud Arab, dan gin botani yang menguap.
Orang-orang yang duduk di sudut-sudut temaram ruangan ini bukanlah warga biasa. Mereka adalah politisi yang berbisik di telinga pelacur kelas atas, pengusaha yang merencanakan monopoli, dan orang-orang yang membayar puluhan juta rupiah hanya agar eksistensi mereka malam itu tidak diakui oleh dunia luar.
Sepatu hak tinggiku tenggelam ke dalam karpet merah tebal saat aku berjalan lambat menuju meja bar yang melengkung panjang bak tubuh ular. Aku memilih duduk di salah satu kursi bar kayu di bagian tengah, menyilangkan kakiku, dan meletakkan tas kecilku di atas meja marmer dingin.
Seorang bartender pria dengan kemeja putih dan rompi abu-abu yang disetrika sempurna segera menghampiriku. Wajahnya tampan, ramah, namun sorot matanya memiliki kewaspadaan profesional. Tipe orang yang dilatih selama bertahun-tahun untuk melihat segalanya, tapi menolak untuk mengatakan apa-apa.
"Selamat malam, Nona. Ada yang bisa saya racik untuk menemani malam Anda?" suaranya lembut, menembus alunan saksofon dari panggung kecil di ujung ruangan.
"Satu gelas Negroni klasik. Jangan terlalu banyak es," jawabku santai. Saat dia menoleh untuk meracik minuman, aku menyandarkan kedua sikuku di tepi meja marmer. "Dan sedikit waktumu, jika kau tidak keberatan berbagi."
Saat dia berbalik dan meletakkan gelas kristal berembun berisi cairan kemerahan itu di depanku, aku bergerak cepat. Dengan gerakan yang sangat sembunyi-sembunyi agar tak terlihat kamera atau tamu lain, aku membuka dompet kulitku. Aku membiarkan pendaran cahaya lilin memantul dari lencana perak kepolisianku, menunjukkannya padanya selama tepat dua detik, sebelum kututup kembali.
Senyum profesional bartender itu seketika menegang. Jakunnya turun naik menelan ludah, meskipun postur tubuhnya berusaha keras tidak berubah panik.
"Saya rasa saya tidak melanggar aturan izin minuman keras apa pun bulan ini, Nona," bisiknya. Tangannya mulai mengelap permukaan meja marmer dengan kain bersih, sebuah refleks gugup.
"Bukan itu tujuanku ke sini. Santai saja," aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menjaga suaraku di bawah volume instrumen jazz. Aku menggeser sebuah foto berukuran kecil dari mendiang Handoko Salim di bawah telapak tanganku ke arahnya. "Pria ini. Handoko Salim. Rekam jejak digitalnya mengatakan dia ada di sini dua malam lalu. Aku tidak butuh rekaman CCTV kalian. Aku hanya butuh kau mengingat dengan siapa dia bicara malam itu."
Mata bartender itu melirik takut-takut pada foto tersebut. Ia meremas kain lapnya, lalu dengan cepat menyapu sekeliling ruangan sebelum kembali menatapku. Ia ragu, menimbang antara loyalitas tempat kerjanya atau masalah dengan kepolisian. Aku menyelipkan dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah di bawah pinggiran gelasku.
"Tuan Handoko adalah pelanggan tetap kami," jawabnya akhirnya, suaranya sangat berhati-hati. "Dua malam lalu, dia duduk tepat di kursi yang Anda tempati sekarang ini. Dia terlihat... kacau. Sangat kacau. Dia berkeringat parah sampai kemejanya basah. Memesan wiski scotch double, tapi tangannya terlalu gemetar saat mencoba mengangkat gelas. Dia malah menumpahkannya ke kemejanya sendiri."
"Apakah dia bertemu seseorang? Teman bisnis? Wanita?"
Bartender itu menggeleng pelan. "Tidak secara langsung. Dia duduk sendirian selama satu jam penuh, terus-menerus melihat ke arah pintu masuk seolah sedang menunggu malaikat maut datang menjemputnya." Ia menelan ludah lagi. "Tapi, ada seseorang yang malam itu memberinya sedikit... perhatian."
"Jelaskan padaku. Sekarang," desakku, merasakan detak jantungku mulai berdebar lebih cepat.
"Seseorang duduk di booth sudut sana," bartender itu tidak menunjuk dengan tangan, ia hanya memberi isyarat halus dengan dagunya ke arah area paling belakang di bar. Sudut yang nyaris sepenuhnya tak terjangkau cahaya lampu gantung. "Pria itu memesan sebotol wiski Macallan utuh dan memberikan selembar uang tip agar saya mengirimkan satu gelas untuk Tuan Handoko. Tanpa pesan tertulis. Tanpa kata-kata. Hanya segelas minuman."
"Seperti apa rupa pria itu?"
"Saya tidak tahu secara pasti. Dia sengaja memilih duduk di dalam bayangan sepanjang waktu. Mengenakan mantel gelap yang tebal. Tapi... satu hal yang saya ingat, cara dia bergerak... sangat tenang. Sangat metodis. Seolah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuatnya merasa terburu-buru atau takut."
Aku mengangguk puas. Aku menyerahkan sisa uang tip, lalu mengambil gelas Negroniku. Aku tidak langsung meminumnya. Mataku beralih menatap cermin panjang yang menempel di belakang deretan rak botol minuman keras, menggunakan sudut pantulannya untuk mengamati sudut ruangan belakang yang ditunjuk sang bartender.
Napas di tenggorokanku mendadak terasa tersendat.
Area sofa booth sudut itu ternyata tidak kosong malam ini.
Ada sebuah bayangan yang duduk di sana. Seseorang bersandar santai di sofa kulit hitam, hampir sepenuhnya menyatu dengan kegelapan sudut ruangan. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang oleh minimnya pencahayaan dan topi yang ia kenakan, namun siluet mantel tebalnya... itu sangat mirip dengan foto buram dari rekaman kamera jalanan milik Bram.
Otot-ototku membeku selama sedetik. Insting primalku sebagai manusia memperingatkanku bahwa aku sedang berada dalam satu ruangan tertutup bersama predator puncak.
Dari pantulan cermin bar, aku memusatkan perhatian pada bahasa tubuhnya. Pria itu tidak menyentuh minumannya. Dia sedang bermain dengan sesuatu di tangan kanannya yang bersarung tangan kulit. Sebuah koin perak mengilap.
Koin itu menari di sela-sela buku jarinya dengan keluwesan yang tidak masuk akal. Bergulir dari jari telunjuk ke jari kelingking bagai air yang mengalir, menghilang ke dalam telapak tangannya, lalu muncul kembali dari balik ibu jari dalam sebuah gerakan rotasi yang terus-menerus dan menghipnotis. Itu bukan gerakan amatir hasil belajar dari internet; itu adalah hasil repetisi latihan selama ribuan jam. Ketangkasan tangan (sleight of hand) tingkat tinggi yang memamerkan kontrol absolut atas motorik halusnya.
Tiba-tiba, suara keras memecah alunan musik. Seorang pria bertubuh besar yang jelas-jelas sedang mabuk berat tersandung pinggiran karpet. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak ujung meja di depan pria misterius itu. Gelas kristal kosong terjatuh dan pecah berantakan di atas lantai kayu dengan suara pecahan kaca yang nyaring.
Dalam situasi normal di kelab malam Jakarta, sebuah insiden bersenggolan akan langsung memicu adu mulut kasar atau bahkan perkelahian lempar botol. Aku menegangkan otot kakiku, tangan kananku bersiap meraih gagang pistol di punggungku untuk melerai.
Pria pemabuk itu bangkit, wajahnya merah padam, mulutnya sudah terbuka bersiap untuk memaki.
Namun, pria yang duduk di bayangan itu tidak bergeming sedikit pun. Ia tidak mengangkat tangannya untuk membela diri. Ia tidak meninggikan suaranya.
Dari pantulan cermin, aku hanya melihat pria misterius itu mencondongkan separuh wajahnya ke depan, hingga ujung dagu dan senyumnya terkena sedikit pendaran cahaya lilin dari atas meja. Ia mendekatkan wajahnya ke arah si pemabuk dan membisikkan sesuatu.
Hanya satu kalimat pendek. Tanpa nada ancaman yang meledak-ledak.
Reaksi pria pemabuk itu sungguh di luar batas nalar. Pria berbadan besar yang tadinya berniat mengamuk itu mendadak memucat pasi seperti baru saja melihat hantu. Matanya terbelalak lebar, dipenuhi oleh teror yang murni. Napasnya tersengal. Ia terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak pilar kayu, menggumamkan kata maaf dengan suara bergetar dan putus asa.
Si pemabuk langsung berbalik arah dan setengah berlari terbirit-birit menuju pintu keluar, meninggalkan jaket mahalnya di kursi, seolah iblis sendiri baru saja berjanji untuk menguliti jiwanya hidup-hidup.
Keheningan yang aneh kembali menyelimuti sudut tersebut. Pria misterius itu memutar koinnya sekali lagi, lalu kembali menyandarkan punggungnya tenggelam ke dalam bayangan.
Adrenalinku terpompa keras. Ini kesempatanku.
Aku meraih tas kecilku, memutar tubuh dari meja bar, dan berjalan perlahan menuju booth sudut itu. Tangan kananku kubiarkan menggantung bebas di dekat pinggang belakang, bersiap menarik pistolku dalam hitungan detik jika situasinya berubah menjadi konfrontasi fisik. Setiap langkah hak sepatuku yang teredam karpet terasa sangat berat, seakan ada gravitasi tambahan di sudut ruangan ini.
Saat aku berada dalam jarak dua meter darinya, udara di sekitarku mendadak terasa jauh lebih dingin. Aku bisa mencium samar sebuah aroma yang sangat maskulin dan kuat menembus bau asap cerutu di ruangan ini—campuran dari hujan malam hari, kayu pinus, dan ketiadaan alkohol.
"Apakah kursi di seberang ini kosong?" tanyaku. Aku mencoba sekuat tenaga menjaga nada suaraku agar terdengar serileks mungkin, memainkan peran sebagai seorang wanita kesepian yang mencari teman bicara di bar.
Pria itu menghentikan putaran koinnya. Ia perlahan berdiri.
Tubuhnya menjulang tinggi di hadapanku. Mantel panjangnya menjuntai sempurna menutupi bahu atletisnya. Ia memakai topi fedora klasik berwarna arang yang pinggirannya sengaja ditarik rendah, menyembunyikan sebagian besar wajahnya dalam bayangan gelap. Namun, aku bisa melihat garis rahangnya yang kokoh dan sepasang bibir yang nyaris membentuk sebuah senyum simetris—senyum yang anehnya, tidak memberikan rasa hangat, melainkan terasa begitu dingin dan mati.
"Malam ini milik Anda, Nona," jawabnya.
Ya Tuhan. Suaranya.
Suara itu dalam, berat, berirama sangat lambat dan teratur, memiliki tingkat resonansi yang langsung membuat bulu kudukku meremang. Itu bukan suara seorang berandalan jalanan, atau suara pembunuh bayaran rendahan yang haus darah. Itu adalah suara seseorang yang memiliki kuasa penuh. Seseorang yang terbiasa memberikan perintah mematikan tanpa perlu repot-repot meninggikan nada bicaranya.
"Kau mau pergi begitu cepat?" pancingku, menatap tajam ke area di mana matanya seharusnya berada di balik topi itu, mencoba mencari kilatan emosi atau rasa terkejut. "Atau kau takut pada orang asing?"
Ia menghentikan langkahnya tepat di sampingku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya yang samar. Ia memiringkan kepalanya sedikit menatap lurus ke arahku.
"Ketakutan adalah emosi murahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang masih memiliki sesuatu untuk dihilangkan di dunia ini, Nona," bisiknya pelan, nada suaranya selembut kain sutra namun terasa setajam silet yang mengiris leher. "Sedangkan saya... saya sudah kehilangan segalanya bertahun-tahun yang lalu. Nikmati minuman Anda. Ruangan ini tidak seaman kelihatannya malam ini."
Sebelum aku sempat mencerna makna ganda dari peringatannya, atau menghentikannya dengan pertanyaan interogasi, ia melangkah maju melewatiku.
Gerakannya begitu sunyi, bagaikan air yang mengalir. Tidak ada suara ketukan tumit sepatu yang menyentuh lantai. Ia seolah meluncur mulus menembus keramaian pengunjung, berbaur dengan bayangan pilar-pilar ruangan, dan menghilang sama sekali ke balik pintu keluar dalam hitungan detik.
Aku memutar tubuhku, membiarkan napas yang sedari tadi kutahan tanpa sadar akhirnya terlepas dari dadaku. Tanganku sedikit bergetar karena campuran adrenalin dan ketegangan saat aku melepaskannya dari area dekat pinggang belakangku.
Aku menelan ludah dan melangkah maju mendekati meja bundar yang baru saja ditinggalkannya. Kepingan kaca dari insiden gelas yang pecah tadi masih berserakan di bawah kaki meja. Namun, di tengah meja marmer itu, tepat di atas sebuah tatakan gelas berbahan kulit, terdapat dua lembar uang seratus ribu rupiah yang ditinggalkan sebagai pembayaran.
Aku menyipitkan mataku. Lembaran uang kertas itu tidak diletakkan tergeletak begitu saja.
Uang itu telah dilipat dengan tangan menjadi bentuk kerajinan kertas origami berukuran kecil. Lipatan yang digunakan sangat presisi dan simetris, menampilkan sebuah bentuk tiga dimensi. Bukan burung bangau kertas. Bukan pula bentuk bunga teratai.
Lipatan kertas dari uang merah itu membentuk struktur sebuah wajah yang menyeringai. Sebuah topeng tersenyum yang mengejek.
Tangan yang merangkai ini adalah tangan yang sama yang memainkan koin perak tadi.
Aku mengambil origami uang itu, merasakan keakuratan sudut-sudut tajam pada lipatan kertasnya dengan ujung jariku. Pikiranku di dalam kepala berpacu kencang, mencoba merangkai dan menghubungkan setiap titik yang kutemukan hari ini.
Penggunaan racun neurotoksin sintetis yang sangat mahal, kartu polimer karbon khusus yang sengaja ditinggalkan, manipulasi psikologis tingkat tinggi yang mampu membuat seorang pria dewasa menangis ketakutan hanya dengan satu bisikan ancaman, dan kini, ketangkasan tangan yang luar biasa.
Para kriminal kelas kakap yang biasa kutangkap selama ini selalu didorong oleh emosi dasar: keserakahan, gairah sesaat, atau kebodohan dan kepanikan absolut. Mereka meninggalkan jejak darah yang berantakan, DNA rambut, atau sidik jari di gagang pintu karena mereka manusia yang cacat oleh emosinya sendiri.
Tapi pria bermantel ini sangat berbeda. Semua gerakannya terukur dan terkalkulasi. Setiap napas yang diambilnya seolah memiliki tujuan logis. Ia tidak sekadar melakukan pembunuhan demi uang; ia sedang mementaskan sebuah simfoni teater kelam.
Aku mengangkat wajahku, menatap pintu keluar The Obsidian yang telah tertutup rapat, merasakan hawa dingin yang tak kunjung hilang dari tengkukku. Bayangan dari mantel hitamnya dan suara baritonnya masih terekam sangat kuat di dalam retinaku.
Pria itu... dia tidak terlihat seperti penjahat biasa.