NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUJUD SANG PEMIMPIN

Gedung Tujuh Pilar berdiri angkuh di jantung distrik finansial Jakarta, sebuah monumen beton dan kaca yang melambangkan keserakahan yang dilegalkan. Di lantai paling atas, di dalam Aula Besar yang berbentuk lingkaran, udara terasa membeku. Bukan karena pendingin ruangan, tapi karena aura membunuh yang saling beradu.

Enam pimpinan klan tertinggi sudah duduk di kursi kebesaran mereka. Di tengah-tengah mereka, sebuah kursi kosong milik Klan Mahesa yang telah dihancurkan Arka menjadi lubang hitam yang mengingatkan mereka pada kematian.

"Dia sudah di lobi," suara Tuan Barata dari Klan Macan Putih memecah kesunyian. Suaranya berat, namun ada getaran halus yang tak bisa ia sembunyikan.

"Hanya sendiri?" tanya seorang wanita tua dengan rambut disanggul kencang, pimpinan Klan Liem.

"Sendiri. Bahkan tanpa supir," jawab Barata.

Di depan pintu aula yang setinggi lima meter, dua sosok berdiri dengan jubah abu-abu tanpa wajah. Mereka adalah 'Pembersih'—algojo Konsorsium yang ditarik dari bayang-bayang sejarah. Masing-masing memegang pedang pendek yang tidak memantulkan cahaya, seolah-olah senjata itu terbuat dari kegelapan murni.

BRAKK!

Bukan suara ledakan, melainkan suara pintu besar yang terlempar engselnya hanya karena satu sentuhan telapak tangan.

Arka melangkah masuk.

Sepatu pantofelnya yang mengkilap beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang menusuk telinga. Ia mengenakan jas hitam slim-fit yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Tidak ada pedang di pinggangnya. Tidak ada senjata di tangannya. Hanya ada sepasang mata yang, jika dilihat dari dekat, tampak seperti galaksi yang sedang meledak.

"Arka..." Tuan Barata berdiri, tangannya menggebrak meja. "Kau datang ke sini untuk diadili atas pembantaian Klan Mahesa dan penghinaan terhadap Konsorsium! Berlutut, dan mungkin kami akan membiarkan ibumu hidup!"

Arka berhenti tepat di tengah aula. Ia tidak menatap Barata. Ia justru menatap langit-langit gedung, seolah bisa melihat menembus beton menuju awan yang menggantung rendah di atas Jakarta.

"Tadi malam, aku bermimpi," Arka berbicara dengan suara yang sangat tenang, tapi volumenya mengisi setiap sudut ruangan. "Aku melihat tujuh anjing tua yang menggonggong di balik pagar emas. Mereka merasa kuat karena pagar itu tinggi. Tapi mereka lupa satu hal..."

Arka menurunkan pandangannya. Saat matanya bertemu dengan mata Barata, pimpinan klan itu merasa paru-parunya seperti diperas oleh tangan raksasa.

"...pagar itu bukan untuk melindungi mereka dari luar. Pagar itu dibuat agar aku tidak perlu mengejar mereka saat aku lapar."

"BUNUH DIA!" teriak Barata histeris.

Dua 'Pembersih' bergerak. Gerakan mereka bukan lagi kecepatan manusia. Mereka berubah menjadi dua garis abu-abu yang melesat dari sisi kiri dan kanan Arka. Pedang kegelapan mereka mengarah tepat ke leher dan jantung Arka.

Waktu seolah melambat.

Di mata Arka, dunia berubah menjadi hitam putih. Aliran energi Ki dalam tubuh kedua algojo itu terlihat seperti sirkuit listrik yang berpendar. Arka bisa melihat otot mereka yang menegang, arah napas mereka, bahkan titik di mana sel-sel mereka akan bereaksi terhadap gesekan udara.

Evolusi Mata Sakti: Penglihatan Absolut.

Arka tidak menghindar. Ia hanya mengangkat kedua tangannya dengan gerakan malas.

Cring!

Dua bilah pedang itu berhenti satu sentimeter dari kulit lehernya. Bukan karena ditangkis, tapi karena udara di sekitar Arka telah memadat menjadi perisai transparan yang begitu keras hingga ujung pedang itu retak.

"Hanya ini?" Arka berbisik.

Ia memutar pergelangan tangannya. Udara di sekitar algojo itu tiba-tiba berputar seperti tornado mikro. Suara tulang yang remuk terdengar beruntun—krak, krak, krak!—saat tekanan atmosfer di sekitar mereka meningkat sepuluh kali lipat secara mendadak.

Dua algojo elit yang ditakuti seluruh dunia bawah Jakarta itu jatuh berdebum ke lantai. Mereka tidak mati, tapi setiap sendi di tubuh mereka telah bergeser dari tempatnya. Mereka kini tak lebih dari onggokan daging yang bernapas.

Keheningan yang lebih mengerikan menyusul. Pimpinan klan yang tersisa kini memucat. Mereka menyadari bahwa mereka bukan sedang berhadapan dengan seorang praktisi bela diri. Mereka sedang berhadapan dengan bencana alam yang memakai jas manusia.

Arka melangkah menuju meja bundar. Ia menarik kursi kosong milik Klan Mahesa, memutarnya, dan duduk dengan santai di hadapan para penguasa kota. Ia menyilangkan kaki, lalu menyalakan sebatang rokok yang ia ambil dari saku jasnya.

"Sekarang," Arka mengembuskan asap putih ke arah Tuan Barata. "Mari kita bicara tentang siapa yang harus berlutut."

"Kau... kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup, Arka!" ancam pimpinan Klan Liem, suaranya gemetar. "Konsorsium Pusat punya satelit militer yang terkunci ke koordinat gedung ini. Satu perintah dariku, dan gedung ini akan rata dengan tanah!"

Arka tersenyum. Itu adalah senyum paling mengerikan yang pernah mereka lihat—dingin dan tanpa emosi.

"Coba saja," tantang Arka. "Tekan tombolnya. Aku ingin tahu apakah satelitmu bisa menembus dimensi yang aku ciptakan di ruangan ini."

Wanita tua itu gemetar, tangannya meraba tombol darurat di bawah meja, tapi jarinya membeku. Ia baru menyadari bahwa ia tidak bisa menggerakkan satu inci pun anggota tubuhnya. Bukan hanya dia, semua orang di meja itu terkunci.

"Mata ini..." Arka menunjuk mata kirinya yang kini berdenyut dengan cahaya ungu gelap. "Ini disebut Mata Dominasi. Di dalam radius sepuluh meter dariku, aku adalah Tuhan. Detak jantung kalian, aliran darah kalian, bahkan pikiran kotor kalian... semuanya milikku."

Arka berdiri, berjalan pelan di belakang kursi para pimpinan klan. Ia meletakkan tangannya di bahu Tuan Barata. Barata merasa seolah-olah sebuah gunung sedang menindih pundaknya.

"Klan Macan Putih," bisik Arka di telinga Barata. "Kalian yang paling banyak memakan aset keluargaku sepuluh tahun lalu. Kalian yang membiarkan ibuku diseret ke Tower Regalia seperti hewan ternak."

"Ma-maafkan... kami..." Barata mengerang, keringat dingin membanjiri wajahnya.

"Maaf adalah kata yang terlalu murah untuk darah yang sudah kering," Arka menekan bahu Barata lebih keras. Suara retakan tulang bahu terdengar jelas. "Aku tidak butuh nyawamu hari ini. Aku butuh anjing yang pintar. Mulai detik ini, seluruh aset Macan Putih, seluruh jalur distribusi kalian, dan setiap sen di bank Swiss kalian... adalah milikku."

"Kau gila! Konsorsium tidak akan mengizinkan—"

Arka menjentikkan jarinya.

Layar raksasa di aula itu tiba-tiba menyala. Bukan menampilkan rekaman CCTV, melainkan siaran langsung dari bursa saham. Nilai saham keenam klan yang hadir di sana terjun bebas dalam hitungan detik. Di layar sebelah, terlihat gedung pusat logistik mereka satu per satu terbakar atau diambil alih oleh pasukan hitam tak dikenal—orang-orang Tuan Yan yang bergerak di bawah perlindungan energi Arka.

"Konsorsium?" Arka tertawa kecil. "Konsorsium itu hanyalah kumpulan serangga yang merasa diri mereka elang. Hari ini, aku mencabut sayap kalian."

Arka berjalan kembali ke tengah ruangan. Ia menatap mereka semua dengan tatapan merendahkan.

"Berlutut," perintah Arka.

Awalnya tidak ada yang bergerak. Tapi kemudian, tekanan Ki di ruangan itu meledak. Gravitasi seolah berlipat ganda secara gila-gilaan. Satu per satu, para pimpinan klan yang arogan itu terpaksa jatuh dari kursi mereka. Lutut mereka menghantam marmer dengan keras hingga lantai di bawah mereka retak.

Tuan Barata, pimpinan klan terkuat, adalah yang terakhir bertahan. Wajahnya merah padam, pembuluh darah di keningnya hampir pecah. Tapi akhirnya, ia juga terjatuh. Ia bersujud di depan sepatu Arka.

Para penguasa Jakarta, orang-orang yang bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu panggilan telepon, kini bersujud seperti budak di hadapan seorang pemuda yang sebulan lalu mereka anggap sampah.

Arka menginjak kepala Barata dengan santai, menggunakannya sebagai tumpuan untuk mematikan rokoknya di lantai.

"Ini baru permulaan," ucap Arka, suaranya bergaung dengan kekuatan spiritual yang membuat kaca-kaca gedung di seluruh distrik itu bergetar. "Jakarta sudah terlalu kotor. Aku akan membersihkannya. Dan jika ada dari kalian yang berani menatap mataku lagi tanpa seizinku..."

Arka membungkuk, menatap Barata tepat di matanya. Barata melihat kilasan neraka—sebuah dunia di mana jiwanya dibakar selamanya tanpa bisa mati.

"...aku akan memastikan kematian akan terasa seperti anugerah yang tidak akan pernah kalian dapatkan."

Arka berbalik dan melangkah keluar. Ia tidak menoleh lagi.

Di luar, Clarissa sudah menunggu di depan Rolls-Royce hitam. Gadis itu menatap Arka dengan tatapan yang campur aduk—kekaguman, ketakutan, dan cinta yang dalam.

"Sudah selesai?" tanya Clarissa lirih.

Arka masuk ke dalam mobil, menyandarkan kepalanya di jok kulit yang empuk. Matanya perlahan meredup, kembali ke warna hitam pekat, namun rasa sesak di dadanya kembali muncul. Bayangan ibunya yang menangis di dimensi hampa itu menghantuinya.

"Belum," jawab Arka, menatap gedung pencakar langit yang kini tampak kecil di matanya. "Hama-hamanya sudah tunduk. Sekarang, saatnya mencari siapa yang memegang kendali atas mereka."

Mobil itu melesat membelah jalanan Jakarta yang macet, meninggalkan sebuah gedung yang di dalamnya berisi enam orang paling berpengaruh di negara ini yang masih bersujud, terlalu takut untuk berdiri bahkan setelah Arka pergi.

Hari itu, sejarah baru ditulis. Bukan dengan tinta, tapi dengan ketakutan yang akan diingat selama tujuh generasi. Sang Naga telah sepenuhnya bangun, dan Jakarta hanyalah sarang kecil yang terlalu sempit untuknya.

Di kursi belakang mobil, Arka membuka sebuah amplop hitam yang ia ambil dari saku algojo tadi. Di dalamnya bukan surat ancaman, melainkan sebuah foto tua yang menguning. Foto ibunya, Maria, berdiri di depan sebuah gerbang kuno dengan tulisan yang tidak berasal dari bahasa manusia.

Di bawah foto itu tertulis satu kalimat: "Dia menunggumu di Langit Sembilan. Jangan terlambat, atau dia akan menjadi persembahan."

Arka meremas foto itu hingga terbakar oleh api biru dari telapak tangannya. "Tunggu aku, Ibu. Siapa pun yang menyentuhmu... akan kupastikan dimensinya runtuh."

[TAMAT ARC 1]

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
arc 1 tamat lanjut ke Arc 2
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!