NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kelas Pak Anton yang Menguji dan Runtuhnya Kewarasan

​Pagi itu, langit di atas Universitas Pelita Bangsa terlihat secerah kristal, bersih tanpa dihiasi oleh selembar awan mendung pun. Burung-burung pipit berkicau riang di dahan pohon beringin yang menaungi area parkir fakultas, menyambut datangnya hari baru dengan melodi alam yang menenangkan. Namun, kontras dengan kedamaian di luar sana, udara di dalam ruang kelas 302 Fakultas Ekonomi dan Bisnis terasa begitu pekat, berat, dan mencekik, seolah-olah cadangan oksigen di dalam ruangan itu telah disedot habis oleh sebuah mesin vakum raksasa.

​Ruang kelas 302 adalah wilayah kekuasaan mutlak milik Pak Anton. Beliau adalah dosen mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah yang reputasinya sudah melegenda di seantero kampus. Pak Anton tidak hanya dikenal karena kepalanya yang setengah plontos dan kacamata tebalnya yang selalu melorot di hidung, tetapi juga karena standar kedisiplinannya yang tak kenal ampun, gaya mengajarnya yang mengintimidasi, dan kegemarannya memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang nyaris tidak masuk akal bagi mahasiswa semester awal. Masuk ke kelas Pak Anton sama saja dengan berjalan di atas ladang ranjau; satu langkah yang salah, satu jawaban yang keliru, atau satu tatapan kosong yang mengisyaratkan ketidakpahaman, sudah cukup untuk membuat seorang mahasiswa dipermalukan di depan puluhan pasang mata dan diusir dari kelasnya tanpa belas kasihan.

​Anandara Arunika duduk di bangku barisan tengahnya dengan postur tubuh yang tegak sempurna dan kaku seperti patung pualam. Wajahnya yang luar biasa cantik telah disetel ke dalam mode 'Nyonya Es' yang paling ekstrem, sebuah topeng tanpa ekspresi yang ia kenakan setelah malam panjang yang ia habiskan untuk membakar surat cintanya sendiri dan menangis hingga air matanya mengering menjadi abu. Di bawah meja kayu itu, kedua tangannya bertaut erat satu sama lain, jari-jarinya saling meremas dengan kekuatan yang brutal hingga kuku-kukunya memutih dan meninggalkan bekas bulan sabit kemerahan di telapak tangannya. Ia sedang berusaha mati-matian menahan sisa-sisa getaran traumatis yang masih menggerogoti sarafnya sejak kedatangan paket dari ibunya kemarin.

​Di sebelahnya, Sinta sedang sibuk memutar-mutar pulpen dengan wajah yang sedikit tegang, sementara Kiera, Ami, Rehan, dan Reza duduk di barisan lain, mematuhi aturan tak tertulis dari Pak Anton yang melarang mahasiswa membentuk gerombolan yang sama setiap minggunya untuk meminimalisir kecurangan.

​"Perhatikan ke depan, mahasiswa sekalian," suara serak Pak Anton menggelegar, memantul di dinding-dinding kelas teater yang kedap suara. Beliau meletakkan setumpuk kertas fotokopi yang tebal di atas meja dosen dengan bunyi debuman yang mengancam. "Teori tanpa praktik adalah omong kosong belaka. Hari ini, saya tidak akan membuang waktu saya untuk mengoceh di depan kalian. Saya akan menguji kapasitas otak kalian dengan sebuah studi kasus komprehensif mengenai manipulasi laporan keuangan pada korporasi multinasional."

​Gumam keluhan dan embusan napas pasrah langsung terdengar merayap seperti gelombang kecil di seluruh penjuru kelas.

​"Studi kasus ini memiliki bobot empat puluh persen dari nilai ujian tengah semester kalian," lanjut Pak Anton, matanya yang tajam di balik lensa kacamata memindai wajah-wajah pucat para mahasiswanya. "Dan karena di dunia kerja nyata kalian tidak bisa memilih dengan siapa kalian akan bekerja sama, maka tugas ini akan dikerjakan secara berkelompok. Kelompok terdiri dari tiga orang, dan anggotanya akan saya tentukan secara acak melalui sistem generator nomor induk mahasiswa. Tidak ada protes. Tidak ada pertukaran anggota. Keputusan saya mutlak."

​Jantung Anandara seakan berhenti berdetak selama satu milisekon mendengar kata 'acak'. Logika dan probabilitas matematiknya langsung bekerja dengan kecepatan cahaya. Ada sekitar enam puluh mahasiswa di kelas ini. Peluang untuk satu kelompok dengan orang yang ingin ia hindari sangatlah kecil. Ia mengembuskan napas perlahan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semesta tidak mungkin sekejam itu untuk mengujinya lagi setelah apa yang terjadi kemarin.

​Namun, Anandara lupa bahwa semesta sering kali memiliki selera humor yang sangat kelam dan menyiksa.

​Pak Anton menyalakan proyektor, dan sebuah tabel Excel raksasa terpampang di layar putih di depan kelas. Beliau mulai membacakan nama-nama anggota kelompok dengan suara monoton yang terdengar seperti ketukan palu godam bagi mereka yang namanya dipanggil bersamaan dengan mahasiswa 'beban'.

​"Kelompok satu: Dimas, Kiera, dan Budi," sebut Pak Anton.

​Anandara masih menatap lurus ke depan dengan tenang. Ia tidak terlalu peduli dengan siapa ia akan disatukan, asalkan bukan dengan satu nama itu. Siapa pun, asalkan bukan pemuda yang telah menghancurkan kewarasannya.

​"Kelompok empat: Rehan, Ami, dan Joko."

​"Kelompok lima..." Pak Anton menyipitkan matanya menatap layar laptopnya, membetulkan letak kacamatanya. "...Anandara Arunika."

​Mendengar namanya disebut sebagai ketua kelompok lima, Anandara hanya mengangguk pelan.

​"Lalu, Sinta Maharani."

​Sinta, yang duduk di sebelah Anandara, langsung memekik tertahan dan mencengkeram lengan Anandara dengan penuh kelegaan. "Ya ampun, Nanda! Alhamdulillah! Kita sekelompok! Otak gue aman, nilai gue selamat!" bisik Sinta dengan mata berbinar-binar kegirangan.

​Anandara tersenyum tipis, sebuah senyuman kelegaan yang tulus karena setidaknya ia bersama sahabatnya. "Syukurlah, Sin. Kita tinggal tunggu anggota ketiga kita."

​"Dan anggota ketiga untuk Kelompok lima adalah..." Suara Pak Anton menggantung di udara selama dua detik yang terasa seperti keabadian. Beliau membaca baris selanjutnya. "...Angga Raditya."

​Deg.

​Dunia Anandara hancur lebur seketika itu juga.

​Waktu di dalam ruang kelas 302 seolah berhenti berputar. Udara dingin dari Air Conditioner tiba-tiba berubah menjadi gas beracun yang mencekik saluran pernapasan Anandara. Tangannya yang berada di atas meja langsung terkepal dengan sangat kuat hingga otot-otot di lengannya menegang kaku. Matanya membelalak tak percaya menatap deretan huruf yang tercetak tebal di layar proyektor: Kelompok 5 - Anandara, Sinta, Angga.

​Tidak. Tidak mungkin, jerit batin Anandara meronta-ronta dalam kepanikan yang absolut. Semesta, tolong jangan lakukan ini padaku. Jangan sekarang. Aku baru saja membakar suratku tadi malam. Aku baru saja memakamkan perasaanku. Jangan paksa aku untuk duduk berhadapan dengannya!

​Di sebelahnya, reaksi yang seratus delapan puluh derajat bertolak belakang sedang terjadi. Sinta ternganga selama beberapa detik, sebelum akhirnya wajah gadis berlesung pipi itu berubah semerah tomat ceri. Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca karena euforia yang meledak-ledak. Ia menoleh ke arah Anandara dengan tubuh yang bergetar saking excited-nya.

​"Nanda... Nan! Lo denger nggak?!" bisik Sinta histeris, suaranya bergetar menahan jeritan kebahagiaan. "Kita sekelompok sama Angga! Ya Tuhan, doa gue semalam langsung dijawab kontan! Ini namanya takdir, Nan! Takdir!"

​Anandara menelan ludah yang terasa seperti sekumpulan pecahan kaca berkarat di kerongkongannya. Ia menatap Sinta dengan pandangan yang mengabur. Telinganya berdenging keras, menyamarkan suara riuh mahasiswa lain yang sedang mencari kelompok mereka. Nyonya Es itu harus mengerahkan seluruh sisa sel otak sadarnya untuk tidak jatuh pingsan dari kursinya saat itu juga.

​Dengan sangat susah payah, Anandara memaksa otot-otot di wajahnya untuk bergerak. Ia membentuk sebuah senyuman yang sangat kaku, senyuman yang ditarik dari kedalaman penderitaannya yang paling kelam.

​"Iya, Sin," suara Anandara terdengar serak dan hampa. "Ini takdir yang bagus buat lo."

​"Silakan berkumpul dengan kelompok kalian masing-masing sekarang juga! Susun meja kalian, dan ambil lembar studi kasus di depan!" perintah Pak Anton dengan suara lantang yang menggelegar, membuyarkan lamunan semua orang.

​Kekacauan terstruktur mulai terjadi. Mahasiswa beranjak dari kursi mereka, menyeret meja dan kursi, menciptakan suara decitan yang memekakkan telinga.

​Sinta langsung berdiri dengan semangat empat lima. Ia merapikan rambutnya dan membenarkan letak kerah kemeja pastelnya. "Nan, kita duduk di sini aja ya, mejanya kita gabungin. Biar Angga yang nyamperin ke sini."

​Anandara hanya bisa mengangguk kaku seperti sebuah boneka mekanik yang kehilangan nyawanya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong pada serat-serat kayu di mejanya. Ia sedang mempersiapkan benteng pertahanan psikologisnya. Ia membayangkan bongkahan es raksasa sedang menutupi seluruh organ vital di dadanya. Ia tidak boleh lemah. Ia tidak boleh membiarkan pemuda itu melihat kehancurannya.

​Terdengar suara derap langkah kaki yang tenang dan ritmis mendekat dari arah belakang kelas.

​Setiap langkah yang diambil oleh Angga Raditya terasa seperti ketukan palu yang memakukan paku demi paku ke peti mati perasaan Anandara.

​Langkah itu berhenti tepat di seberang meja mereka. Sinta dengan sigap dan wajah yang berseri-seri langsung menarik sebuah kursi kayu yang kosong dan meletakkannya tepat di hadapan mereka berdua.

​"Sini, Angga, duduk di sini aja. Meja kita udah digabungin," sapa Sinta dengan suara yang luar biasa lembut, manis, dan dipenuhi oleh melodi cinta yang tak terbantahkan.

​Angga menatap Sinta sekilas, mengangguk sopan dengan wajahnya yang datar dan tak terbaca. "Makasih, Sinta."

​Pemuda itu menarik kursi tersebut dan duduk.

​Aroma peppermint segar yang bercampur dengan kehangatan musk khas tubuh Angga langsung menyergap indera penciuman Anandara dengan sangat kejam. Jarak mereka kini hanya dipisahkan oleh satu setengah meter lebar meja kayu. Begitu dekat, begitu nyata, dan begitu menyiksa.

​Anandara bisa melihat dari sudut matanya bagaimana lengan kemeja hitam Angga yang digulung hingga siku memperlihatkan urat-urat halus yang maskulin. Ia bisa merasakan hawa tubuh pemuda itu. Dan yang paling mengerikan, ia bisa merasakan ada sepasang mata tajam yang sedang menatap lurus ke arahnya, menusuk tepat menembus ubun-ubunnya.

​Dengan sangat perlahan, Anandara mengangkat wajahnya. Ia telah menyetel ekspresinya menjadi sebuah topeng arogansi yang mutlak. Matanya yang hitam legam menatap lurus ke depan, tapi sengaja membuang pandangannya sedikit ke arah papan tulis, menolak untuk melakukan kontak mata langsung dengan Angga. Ia memalingkan wajahnya sedemikian rupa, menciptakan sebuah gestur tubuh yang mengisyaratkan rasa jijik, ketidaksukaan yang mendalam, dan penolakan yang brutal.

​Sinta, yang sama sekali tidak menyadari badai mematikan yang sedang berputar di atas meja itu, segera mengambil lembar studi kasus yang sudah dibagikan oleh perwakilan kelompok.

​"Oke, jadi kita dapat kasus tentang skandal manipulasi laporan keuangan PT. Bina Karya Megah," ucap Sinta dengan nada ceria, memecah keheningan yang mencekik. Ia meletakkan lembaran itu di tengah meja. "Nanda, lo sebagai otak super kita, lo yang bagi tugas ya. Gue bagian ngetik atau cari referensi juga boleh."

​Anandara menarik lembaran kertas itu mendekat kepadanya dengan gerakan yang sedikit terlalu kasar. Ia membaca sekilas paragraf pertama tanpa benar-benar mencerna satu kata pun. Matanya hanya bergerak dari kiri ke kanan. Seluruh sistem sarafnya sedang berfokus pada sepasang mata elang di seberang meja yang tak kunjung melepaskan pandangannya.

​Angga Raditya duduk dengan tenang, kedua tangannya bertaut di atas meja. Sejak ia duduk di kursi itu, ia sama sekali tidak menatap lembar studi kasus, tidak menatap Sinta, tidak pula menatap sekeliling. Fokus pemuda itu dikunci mati pada profil samping wajah Anandara.

​Di dalam dada Angga, ada sebuah rasa penasaran yang mendidih dan harga diri yang terluka yang menuntut penjelasan. Ia masih mengingat dengan sangat jelas tatapan luka dan pengharapan yang dipancarkan oleh gadis itu di kantin tempo hari. Tatapan yang hanya berlangsung tiga detik, namun berhasil mengacaukan pola pikir rasionalnya. Dan kini, gadis yang sama sedang duduk di depannya, memalingkan wajah dengan ekspresi seolah ia adalah tumpukan sampah yang menjijikkan.

​Sandiwara apa yang sedang lo mainkan, Anandara? batin Angga bertanya-tanya, matanya menajam, mencoba mencari retakan pada topeng sedingin es yang dikenakan oleh Nyonya Es itu.

​"Kita kerjakan poin A dan B lebih dulu," suara Anandara akhirnya mengalun, sedatar dan sedingin lantai marmer di musim hujan. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Angga. "Sinta, kau analisis latar belakang perusahaannya. Aku akan membedah angka di neraca keuangannya."

​"Oke, siap Bos!" sahut Sinta riang, langsung membuka laptopnya dan mulai mengetik dengan penuh semangat. Ia ingin terlihat pintar dan berguna di depan Angga.

​"Terus, bagian gue apa?" tanya Angga dengan suara baritonnya yang berat, memecah kesunyian di sisinya.

​Mendengar suara itu dialamatkan langsung padanya, jantung Anandara bergemuruh luar biasa dahsyat. Di bawah meja, ia mencengkeram roknya hingga jari-jarinya kram. Ia menelan ludah kepahitannya, memaksa matanya tetap terpaku pada kertas di depannya.

​"Kau bisa menganalisis poin C tentang pelanggaran etikanya," jawab Anandara sangat ketus, nadanya diwarnai oleh keengganan yang sangat kentara. "Asalkan kau bisa membacanya dengan benar dan tidak menghambat kerja kami."

​Kalimat sarkas itu meluncur begitu saja, menjadi perisai pertahanan pertama Anandara. Ia berharap Angga akan marah, merasa tersinggung, dan akhirnya memusatkan perhatiannya pada bagiannya sendiri atau berdiskusi dengan Sinta yang jauh lebih ramah.

​Namun, harapan Anandara hancur lebur oleh sifat keras kepala Angga yang tidak bisa diprediksi.

​Alih-alih marah atau diam, Angga justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah meja. Ia tidak menarik lembar tugas itu. Ia justru menatap profil wajah Anandara dengan intensitas yang berlipat ganda. Tatapan yang menguliti, menelanjangi, dan menyiksa batin Anandara tanpa ampun.

​"Gue kurang paham soal analisis rasio likuiditas di tahun ketiga yang jadi akar pelanggaran etikanya," ucap Angga dengan nada santai, sengaja memancing reaksi. Pemuda itu tahu persis apa arti rasio likuiditas, ia hanya menggunakannya sebagai senjata. "Nanda, menurut lo, apakah lonjakan aset lancar di laporan ini murni hasil rekayasa piutang fiktif, atau ada hubungannya dengan penyusutan yang nggak dicatat dengan benar?"

​Sinta, yang sedang mengetik, langsung mendongak. Ia tersenyum sangat manis ke arah Angga. "Oh, soal penyusutan ya? Itu kayaknya ada hubungannya sama..."

​"Gue nanya Anandara, Sinta," potong Angga dengan cepat dan tegas, nada suaranya tak menyisakan ruang untuk kompromi, namun tatapan matanya tetap tidak bergeser satu milimeter pun dari wajah Anandara.

​Sinta terkesiap. Senyum di bibir gadis itu sedikit memudar. Ia menunduk pelan, rasa malu dan kekecewaan melintas di wajahnya sejenak sebelum ia kembali berpura-pura sibuk mengetik.

​Di sisi lain, Anandara merasa seperti baru saja disiram dengan cairan asam yang membakar seluruh isi rongga dadanya.

​Kenapa kau melakukannya? jerit batin Anandara meronta-ronta di dalam keputusasaannya yang paling kelam. Kenapa kau mengabaikan Sinta? Tidakkah kau lihat Sinta berusaha keras untukmu? Kenapa kau terus menatapku? Tolong, hentikan tatapanmu. Mata elangmu itu membunuhku secara perlahan. Sakit... rasanya sakit sekali... Tuhan, dadaku hancur.

​Siksaan batin itu sangat nyata. Anandara bisa merasakan setiap helaan napas Angga, setiap pergerakan bola matanya. Berada sedekat ini dengan pria yang ia cintai setengah mati, namun harus bersikap seolah ia membencinya adalah neraka dunia yang tak terbayangkan. Hatinya berteriak ingin menoleh, ingin menatap mata itu kembali, ingin menjawab pertanyaannya dengan lembut.

​Namun logikanya menamparnya dengan brutal. Ingatan tentang pecahan kotak musik dan tekadnya untuk mati demi Sinta kembali berkelebat di benaknya.

​Anandara menggeretakkan giginya. Ia memalingkan wajahnya lebih jauh ke samping, memamerkan rahangnya yang menegang kaku, menampilkan ekspresi kemuakan dan kebencian yang sangat absolut.

​"Bisa baca buku literaturnya sendiri, kan?" desis Anandara dengan suara yang mendadak sangat pelan namun berbisa, setajam silet yang menyayat udara di atas meja mereka. "Aku tidak dibayar untuk menjadi tutor pribadimu."

​"Buku literatur nggak ngasih perspektif kritis, Nanda," Angga membalas dengan tenang, tak terpengaruh oleh bisa mematikan itu. Pemuda itu terus mendesak. Ia tidak peduli pada permusuhan yang ditunjukkan Anandara. Ia hanya ingin menghancurkan dinding kebisuan itu. "Dan sebagai ketua kelompok, bukannya lo yang harus mastiin anggota lo paham materi? Jadi, menurut lo gimana soal piutang fiktif itu?"

​"Tanya pada Sinta," jawab Anandara cepat, suaranya sedikit bergetar menahan luapan emosi yang nyaris meledak.

​"Gue maunya dengar dari lo," Angga bersikeras, nada baritonnya merendah, terdengar lebih seperti sebuah permohonan yang disamarkan dalam sebuah tuntutan. "Jawab gue, Nanda."

​BAM!

​Kesabaran Anandara yang sudah berada di ujung tanduk, yang telah ditipiskan oleh tangisan semalaman, akhirnya putus dengan cara yang paling meledak-ledak.

​Anandara membanting pulpennya ke atas meja kayu dengan tenaga yang luar biasa keras. Suara benturan itu memekakkan telinga, bergema menembus kebisingan diskusi kelompok-kelompok lain di ruangan itu. Beberapa mahasiswa yang duduk di meja terdekat, termasuk Rehan dan Reza, langsung menoleh dengan wajah terkejut. Bahkan Pak Anton yang sedang membaca buku di mejanya sempat melirik sebentar sebelum kembali tak acuh.

​Anandara memutar kepalanya dengan sangat cepat, menatap langsung ke dalam sepasang mata elang milik Angga. Jarak wajah mereka kini sangat dekat.

​Napas Anandara memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Matanya yang hitam legam memancarkan kilatan amarah yang menyala-nyala, menutupi seluruh kepedihan, keputusasaan, dan cinta yang menangis meraung-raung di baliknya. Ia mengubah dirinya menjadi Nyonya Es yang paling kejam, monster yang siap menghancurkan hati siapa pun demi misinya.

​"Lo bisa nggak sih berhenti nanya sama gue?!" bentak Anandara dengan suara yang tak terlalu keras namun intonasinya begitu mengerikan dan penuh dengan kebencian yang mendidih.

​Udara di meja kelompok lima seketika membeku menjadi titik nol absolut. Sinta terperanjat dari kursinya, tangannya gemetar menutupi mulutnya. Ia menatap Anandara dengan mata membelalak ngeri.

​Anandara tidak berhenti. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menembakkan kata-kata yang dirancang khusus untuk membunuh karakter dan harga diri pemuda di depannya.

​"Lo itu laki-laki, tapi apa isi kepala lo kosong melompong sampai lo nggak bisa mikir sendiri?!" desis Anandara tanpa ampun, setiap suku katanya adalah peluru tajam yang mengoyak dada. "Berhenti bersikap pura-pura bodoh dan berhenti caper ke gue! Lo nanya hal-hal dasar yang anak SD aja bisa tahu jawabannya kalau mau baca. Lo membebani gue! Lo nyusahin gue! Kalau lo memang se-tidak-berguna itu, mending lo keluar dari kelompok ini dan jangan pernah ganggu gue lagi! Gue muak melihat wajah lo yang sok mencari perhatian itu!"

​Keheningan yang luar biasa mencekam langsung menelan meja mereka. Suara detak jarum jam dinding kelas terdengar seperti dentuman meriam.

​Di seberang meja, Angga Raditya terdiam kaku.

​Tubuh pemuda yang selalu terlihat tenang dan karismatik itu menegang sempurna. Matanya yang tadi menatap dengan intens, kini melebar perlahan, memancarkan keterkejutan yang absolut. Wajahnya yang tampan perlahan berubah pucat, lalu rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya terlihat jelas.

​Angga terbungkam. Ia sama sekali tidak membalas. Kata-kata Anandara bukan sekadar penolakan, melainkan sebuah penghinaan yang menelanjangi harga dirinya sebagai seorang laki-laki di depan umum. Tuduhan sebagai pria bodoh, pria yang mencari perhatian, dan parasit yang menyusahkan telah menghantam langsung ke ulu hatinya.

​Di kedalaman mata elang itu, Anandara bisa melihat sesuatu yang pecah. Ia bisa melihat kilatan rasa sakit yang teramat sangat, kekecewaan yang sangat dalam, dan sebuah luka yang tak berdarah. Pemuda itu terluka parah oleh pedang kata-katanya.

​Maafkan aku, Angga... Maafkan aku... batin Anandara menjerit histeris, menangis darah melihat kehancuran di mata pria yang ia cintai. Aku mencintaimu... tolong jangan menatapku seperti itu. Aku membunuh hatiku sendiri untuk mengatakan hal ini. Bencilah aku... bencilah aku...

​Di bawah meja, kuku-kuku jari Anandara menancap semakin dalam ke telapak tangannya hingga setetes darah segar merembes keluar, rasa sakit fisik yang sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa sakit di jiwanya saat ini. Ia telah menghancurkan satu-satunya laki-laki yang pernah ia cintai.

​Menyadari situasi telah berubah menjadi bencana yang sangat mengerikan, Sinta yang sedari tadi syok berat akhirnya menemukan kembali suaranya.

​Kepanikan melanda seluruh sistem saraf Sinta. Ia tidak tahan melihat raut wajah Angga yang terluka dan terhina. Ia tidak tahan melihat pertengkaran yang tak masuk akal ini.

​Dengan gerakan refleks yang lahir dari keputusasaan, Sinta bangkit setengah berdiri. Ia mencondongkan tubuhnya melintasi meja, mengulurkan tangannya dan menggenggam ujung lengan kemeja Angga dengan tangan yang gemetar hebat.

​"Angga..." panggil Sinta dengan suara parau yang bergetar menahan tangis. Wajah bidadari ceria itu kini dipenuhi oleh penyesalan yang mendalam, ketakutan, dan rasa bersalah yang luar biasa. "Angga, tolong... tolong jangan marah. Gue mohon, maafin Nanda."

​Sinta menatap mata Angga yang masih terkunci pada Anandara, memohon dengan seluruh sisa harga dirinya agar pemuda itu menoleh padanya. "Dia nggak bermaksud ngomong kayak gitu, Angga. Dia... dia lagi PMS berat hari ini. Emosinya lagi nggak stabil banget, perutnya sakit dari pagi. Tolong jangan masukin ke hati omongannya. Nanda aslinya baik banget, dia cuma lagi lepas kendali."

​Angga perlahan mengalihkan pandangannya dari Anandara, menatap ke arah tangan Sinta yang mencengkeram lengan kemejanya, lalu menatap wajah Sinta yang penuh dengan permohonan. Pemuda itu menarik napas panjang, sangat berat, berusaha menelan batu besar kebanggaannya yang baru saja dihancurkan. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya mengangguk pelan dengan raut wajah yang kembali menjadi datar dan dingin seperti es, sebuah tembok pertahanan yang ia bangun seketika untuk menutupi lukanya.

​Sinta melepaskan genggamannya dengan ragu. Ia kembali duduk di kursinya, tubuhnya lemas tak bertenaga.

​Di dalam dada Sinta, sebuah teriakan batin yang sangat menyayat hati bergema dengan liar, mencabik-cabik nuraninya.

​Kenapa, Tuhan? jerit batin Sinta merintih pedih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya namun ia tahan sekuat tenaga agar tak jatuh. Kenapa rasanya sakit sekali melihat pria yang kucintai dihinakan dan diinjak-injak harga dirinya oleh sahabatku sendiri? Mengapa harus terjadi seperti ini?

​Sinta menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lembar studi kasus yang kini terlihat buram di matanya. Perasaan tidak berguna, rendah diri, dan keputusasaan yang absolut menyerangnya tanpa ampun.

​Aku tahu aku bodoh, batin Sinta terus menjerit, merutuki dirinya sendiri. Aku tahu aku tidak sejenius Nanda. Aku tahu catatanku mungkin tidak sejelas penjelasannya. Tapi apa aku benar-benar tidak pantas untuk ditanya? Angga mengabaikan tawaranku dan terus-menerus mendesak Nanda. Apakah di mata Angga, aku ini hanyalah bayangan bodoh yang tidak ada gunanya?

​Rasa cemburu yang sangat halus namun mematikan menyusup ke dalam luka di hati Sinta. Namun, rasa itu segera ditampar oleh kesetiaannya pada Anandara. Ia tidak marah pada sahabatnya. Ia justru merasa sangat ketakutan. Ketakutan bahwa sikap kasar Anandara akan membuat Angga pergi untuk selamanya dari mejanya, dari hidupnya.

​Tolong, Nanda, doa Sinta dalam kebisuan yang paling menyiksa. Aku tahu kamu membencinya karena sikapnya. Aku tahu kamu muak padanya. Tapi tolong, jangan hancurkan satu-satunya harapanku. Jangan mengusirnya. Aku mencintainya sampai rasanya aku mau mati jika harus kehilangan senyumnya. Tolong, tahan sedikit saja emosimu untukku. Aku mohon...

​Tiga orang di meja itu duduk dalam diam. Terjebak dalam segitiga penderitaan yang mereka ciptakan sendiri.

​Anandara duduk dengan rahang mengeras, mengutuk takdirnya yang kejam dan menangisi tangannya sendiri yang berlumuran darah perasaannya.

​Angga duduk mematung dengan tatapan kosong ke arah buku, menelan harga dirinya yang hancur dan membunuh percikan ketertarikannya pada gadis yang ia anggap tak memiliki hati nurani.

​Dan Sinta duduk menunduk, menahan air mata ketidakberdayaan, mencintai seorang pria yang tatapannya selalu melewati bahunya, dan memohon pada seorang sahabat yang secara diam-diam juga hancur di sebelahnya.

​Sisa waktu di kelas Pak Anton pagi itu berjalan dengan sangat lambat. Diskusi kelompok lima sama sekali tidak pernah terjadi. Keheningan yang membeku, menyiksa, dan menyayat hati menyelimuti meja mereka hingga detik terakhir perkuliahan selesai, meninggalkan luka permanen yang tak akan pernah bisa disembuhkan oleh permintaan maaf apa pun.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!