Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Suasana restoran mulai sedikit mereda setelah jam makan siang yang padat. Di meja VIP nomor 1, piring berisi nasi rawon kini sudah kosong melompong, hanya tersisa sedikit kuah dan tulang. Sulthan meletakkan sendok dan garpu dengan rapi, lalu mengambil serbet makan untuk menyeka sudut bibirnya. Makanannya enak, sesuai selera, dan membuat energinya kembali penuh untuk melanjutkan pekerjaan di kantor.
Dia merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu berdiri tegak. Aura kekuasaan dan kekayaan yang memancar dari tubuhnya membuat beberapa pelayan dan bahkan pengunjung lain tak sengaja melirik ke arahnya.
Sebelum melangkah pergi menuju pintu keluar, matanya menyapu ruangan sebentar, lalu berhenti saat melihat sosok Nurlia yang sedang sibuk melap meja di area tengah.
"Nurlia..." panggil Sulthan dengan suara berat dan tegas, cukup keras untuk didengar oleh gadis itu.
Nurlia yang sedang mengelap meja langsung tersentak. Dia menoleh cepat dan mendapati pria itu sudah berdiri siap pergi. Jantungnya kembali berdegup kencang mengingat insiden tatapan mata tadi, tapi dia segera berjalan mendekat dengan sopan.
"Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nurlia sambil membungkuk sedikit.
Sulthan tidak menjawab langsung. Tangannya merogoh saku dalam jasnya, lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan beberapa lembar lagi. Dia menghitung cepat dengan jari-jarinya yang panjang dan bersih, lalu menyodorkan uang itu ke hadapan Nurlia.
"Ini untuk kamu," katanya singkat.
Nurlia memicingkan mata, menatap lembaran uang itu. Matanya membelalak lebar saat menyadari jumlahnya. Dua lembar seratus ribuan. Totalnya dua ratus ribu rupiah.
"Eh? Ini... ini buat saya, Tuan?" tanya Nurlia tak percaya, tangannya terangkat ragu-ragu.
"Iya. Tip. Terima kasih pelayanannya tadi," jawab Sulthan datar, wajahnya tetap tampak dingin dan biasa saja seolah memberikan uang sebanyak itu adalah hal yang sangat wajar dan sepele.
Nurlia masih terpaku. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget. Selama dia bekerja di restoran ini, jarang sekali ada pelanggan yang memberikan tip. Kalau pun ada, paling hanya sepuluh atau dua puluh ribu rupiah sebagai kembalian yang tidak diambil. Tapi ini... dua ratus ribu? Jumlah yang sangat besar baginya. Uang segitu bisa untuk beli beras, sayur, dan keperluan dapur selama beberapa hari, atau bisa ditabung untuk tambahan bayar listrik.
"Ko... kok banyak sekali, Tuan? Saya kan cuma melakukan tugas saya saja," ucap Nurlia polos, masih belum berani menerimanya.
Sulthan mengangkat sebelah alisnya, lalu berkata dengan nada tenang, "Saya memang sudah biasa begitu. Siapa pun yang melayani saya dengan baik dan makanan sesuai selera, pasti saya beri tip. Anggap saja bonus buat kamu. Ambil saja."
Mendengar penjelasan itu, Nurlia merasa sangat tersanjung. Rasa lelah seharian bekerja seakan terbayar lunas seketika. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena haru dan senang, dia menerima uang itu dan menggenggamnya erat-erat di depan dada.
"Ya Ampun... Terima kasih banyak, Tuan! Terima kasih banyak-banyak!" ucap Nurlia dengan suara yang terdengar sangat tulus dan penuh syukur. Dia membungkukkan badannya lebih dalam kali ini, sungguh-sungguh menghargai pemberian itu. "Allahu Akbar... berkah banget ini buat saya. Makasih ya, Tuan Sulthan!"
Senyum manis terukir jelas di wajah Nurlia. Matanya berbinar-binar bahagia, bukan karena melihat uang banyak, tapi karena merasa dihargai kerja kerasnya.
Sulthan hanya menatapnya sekilas, lalu menganggukkan kepala pelan sebagai jawaban. "Sama-sama."
Tanpa basa-basi lagi, Sulthan berbalik badan. Dia berjalan meninggalkan restoran dengan langkah tegap, santai, dan penuh wibawa. Punggungnya yang tegap dan gaya berjalannya yang khas benar-benar menggambarkan sosok pria kaya raya yang terbiasa hidup di atas kemewahan. Semua orang di sana seolah menoleh melihat kepergiannya.
Nurlia tetap berdiri di tempat, masih menggenggam uang itu erat-erat. Wajahnya berseri-seri.
"Alhamdulillah... rezeki anak soleh," gumamnya pelan sambil tersenyum lebar. "Nanti pulang bisa beliin Adelia jajanan kesukaan deh."
••••
Mobil mewah berwarna hitam itu melaju membelah jalanan kota Surabaya yang mulai padat. Kaca jendela yang ditutup rapat membuat suasana di dalam kabin terasa sunyi dan sejuk, hanya terdengar suara musik instrumental yang diputar pelan dari sistem audio mobil.
Sulthan duduk bersandar santai di kursi penumpang belakang. Matanya menatap kosong ke arah jalanan yang berlalu lalang di luar kaca. Pikirannya melayang jauh, tidak sedang memikirkan laporan keuangan atau rapat mendatang, melainkan teringat akan sesuatu yang sudah lama ia simpan di dalam hati.
Bayangan sosok wanita tua yang sangat ia cintai dan hormati muncul di benaknya. Neneknya.
Sudah lima tahun berlalu sejak kepergian nenek tercinta itu. Namun, pesan terakhir yang disampaikan neneknya di ranjang sakitnya masih terdengar begitu jelas dan nyaring di telinganya, seakan baru diucapkan kemarin sore.
"Sulthan, cucuku..." suara lembut neneknya terngiang kembali dalam ingatan. "Nenek tahu kamu hebat, kamu sukses, kamu kaya, dan tampan. Dunia seolah ada di telapak tanganmu. Tapi tolong dengarkan pesan Nenek yang satu ini ya..."
Sulthan menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya sejenak, membiarkan kenangan itu kembali utuh.
"Carilah seorang istri yang baik, Sulthan. Carilah wanita yang hatinya bersih, akhlaknya mulia, dan sopan santunnya terjaga. Jangan hanya melihat dari wajahnya yang cantik atau dari keluarganya yang terpandang. Yang paling penting..." Nenek sempat berhenti sejenak, menggenggam tangannya dengan erat. "...pastikan dia mencintaimu karena dirimu sendiri, karena kepribadianmu, bukan karena hartamu, bukan karena jabatanmu, dan bukan karena ketampananmu. Itu akan menyakitkan jika kamu menikahi wanita yang hanya mencintai dompet dan wajahmu saja."
Pesan itu terus terpatri kuat di dalam sanubarinya.
"Benar juga kata Nenek..." gumam Sulthan pelan, suaranya terdengar berat di dalam keheningan mobil.
Semenjak mulai dewasa hingga sekarang menginjak usia 30 tahun, hidup Sulthan memang tidak pernah sepi dari kehadiran wanita. Di mana pun ia pergi, di kantor, di pesta bisnis, atau bahkan di tempat umum, selalu saja ada wanita yang berusaha mendekatinya.
Mereka semua cantik, modis, berpenampilan menarik, dan berasal dari kalangan berada. Namun, bagi Sulthan, mereka semua terasa sama saja.
Senyum mereka terasa palsu, cara mereka bicara terlalu manis dan dibuat-buat, dan tatapan mata mereka seringkali menyiratkan keinginan memiliki harta dan status yang ia miliki. Sulthan bisa melihat dengan jelas apa yang ada di balik keramahan mereka. Semua terasa hambar dan tidak tulus.
Sudah banyak yang mendekat, banyak yang berusaha menarik perhatiannya, bahkan ada yang sampai nekat melamar lewat orang tua. Tapi Sulthan selalu menolak dengan halus. Baginya, mereka hanyalah teman biasa, atau sekadar kenalan. Tidak ada satu pun yang mampu membuat hatinya bergetar, tidak ada satu pun yang membuatnya berpikir 'Dialah orangnya'.
"Sudah kepala tiga ini umurku..." Sulthan tersenyum kecut menyadari faktanya. "Teman-teman sebayaku sudah ada yang punya dua anak, bahkan ada yang mau pisah ranjang karena urusan warisan. Tapi aku... masih sendiri saja."
Ia merasa heran dengan takdirnya. Memiliki segalanya di dunia ini, kekayaan berlimpah, wajah rupawan, kekuasaan, tapi untuk mencari satu wanita yang tulus mencintai tanpa memandang hartanya, rasanya begitu sulit. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
"Nasib... nasib..." keluhnya dalam hati, sambil menggelengkan kepala pelan. "Kapan ya aku bisa menemukan wanita seperti yang dipesan Nenek? Wanita yang sederhana, tulus, dan mau menerima aku tanpa memandang harta?"
Pertanyaan itu terus bergulir di benaknya. Ia tidak tahu, bahwa jawaban dari pertanyaannya mungkin saja ada di tempat yang tidak pernah ia duga. Bahwa wanita yang ia cari mungkin saja bukan wanita yang berpakaian sutra dan berlian, tapi mungkin saja wanita yang sederhana, yang senyumannya tulus, dan yang menghargai setiap rupiah yang ia dapatkan.
Sulthan membuka matanya kembali, menatap gedung pencakar langit tempat ia bekerja sudah terlihat di depan mata. Ia menggelengkan kepala, berusaha menepis lamunannya barusan.
"Ah, sudahlah. Mungkin jodohku masih tersembunyi di suatu tempat. Atau mungkin memang takdirku harus sendiri saja," pikirnya pasrah, lalu ia merapikan jasnya kembali, turun dari mobil dan kembali menjadi CEO yang tangguh dan dingin seperti biasa.