Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedalaman Tanpa Suara
Air laut yang asin dan dingin menusuk pori-pori kulit Arkan saat ia menyeka wajahnya yang basah kuyup. Di kejauhan, sisa-sisa Mercusuar Hitam tenggelam perlahan ke dalam rahim samudra, menyisakan kepulan asap hitam yang menari di bawah cahaya fajar yang pucat. Namun, mata Arkan tidak beralih dari satu titik di permukaan air—jejak gelombang halus yang ditinggalkan oleh kapal selam hitam milik Elena.
"Dia tidak akan lari jauh, Liana," bisik Arkan, suaranya parau akibat menghirup uap ledakan.
"Kapal itu adalah kelas Wraith, bertenaga listrik dan sangat senyap, tapi ia punya kelemahan: ia butuh docking setiap empat jam untuk menyeimbangkan tekanan oksigen jika melakukan penyelaman cepat."
Liana, yang masih terengah-engah di atas pelampung darurat, menatap Arkan dengan cemas. "Gideon bilang ada pangkalan bawah laut tua peninggalan era Perang Dingin di sekitar palung ini. Jika dia sampai di sana, kita tidak akan pernah bisa menyentuhnya."
Tiba-tiba, sebuah suara statis terdengar dari earpiece kedap air milik Liana. Itu adalah frekuensi darurat Gideon.
Arkan! Liana! Dengar baik-baik. Radar pasifku menangkap pergerakan aneh di koordinat 4-2-9. Elena tidak hanya membawa dirinya sendiri. Sensor termal menunjukkan ada dua belas muatan besar di dalam kapal itu. Itu adalah unit transmisi portabel 'Phoenix' yang bisa dipasang di dasar laut!"
Arkan mengepalkan tinjunya. Elena berencana mengubah dasar samudra menjadi sirkuit raksasa. Jika transmisi itu dipasang di lempeng tektonik, ia tidak hanya bisa mematikan listrik; ia bisa memanipulasi sinyal sonar untuk mengacaukan navigasi kapal perang dunia, memicu konflik global dari kedalaman yang tak terjamah.
"Gideon, kirimkan Seabreed," perintah Arkan tegas.
"Kau gila, Tuan Muda? Seabreed itu prototipe! Belum pernah diuji di kedalaman lebih dari lima ratus meter!" protes Gideon dari seberang sana.
"Kirimkan sekarang, atau kita semua akan mati melihat dunia ini terbakar dari bawah laut!"
Sepuluh menit kemudian, sebuah tabung logam berbentuk peluru meluncur dari kapal induk Gideon yang bersembunyi di balik kabut. Seabreed, kendaraan bawah air mini dua penumpang, muncul ke permukaan dengan suara mesin hidro-elektrik yang halus.
Arkan dan Liana masuk ke dalam kokpit yang sempit. Ruangannya sangat terbatas, memaksa bahu mereka saling bersentuhan. Bau oksigen sintetis dan logam hangat memenuhi indra penciuman. Liana segera mengambil alih kendali sistem sonar dan enkripsi, sementara Arkan memegang kendali navigasi manual.
"Turun ke lima ratus meter," ucap Arkan.
Saat mereka menyelam, cahaya matahari perlahan menghilang, digantikan oleh kegelapan abadi samudra. Lampu sorot Seabreed menembus kegelapan, memperlihatkan partikel-partikel laut yang melayang seperti salju di malam hari.
"Kontak sonar!" seru Liana pelan.
"Jarak dua kilometer, arah jam dua. Dia bergerak menuju palung."
Layar monitor di depan Liana menunjukkan siluet kapal selam Elena. Namun, ada yang aneh. Kapal itu tidak melarikan diri. Ia berhenti tepat di bibir jurang bawah laut yang curam.
"Dia menunggu kita," bisik Liana, bulu kuduknya meremang.
T
iba-tiba, sebuah transmisi suara masuk ke dalam kokpit mereka. Suara Elena terdengar sangat jernih, seolah ia duduk tepat di belakang mereka.
"Arkan, kau selalu memiliki sifat keras kepala ayahmu. Tahukah kau kenapa aku membiarkanmu mengejarku? Karena 'Project Phoenix' membutuhkan satu komponen biologis terakhir untuk mengunci enkripsinya secara permanen. Kode genetik dari garis keturunan langsung Dirgantara yang sedang berada dalam kondisi stres ekstrem."
"Apa maksudmu?" Arkan memperlambat laju Seabreed.
Jantungmu, Arkan. Detak jantungmu yang terhubung dengan sistem biometrik di jam tangan yang kau pakai... itu adalah kunci terakhirnya. Semakin kau takut, semakin cepat kau mengejarku, semakin sempurna kodenya terbentuk. Terima kasih telah membantu Ibu menyelesaikan mahakarya ini."
Liana terperanjat. Ia melihat ke pergelangan tangan Arkan. Jam tangan taktis yang diberikan Gideon ternyata telah disabotase oleh penyusup Elena di bunker tadi. Jam itu berkedip merah, mengirimkan data tanda vital Arkan langsung ke kapal selam di depan mereka.
"Lepaskan jam itu, Arkan!" teriak Liana.
Arkan mencoba membukanya, namun jam itu terkunci secara magnetis pada kulitnya.
"Tidak bisa! Ini menggunakan kunci syaraf!"
Di depan mereka, kapal selam Elena mulai melepaskan unit-unit transmisi ke dalam palung. Setiap unit yang mendarat di dasar laut segera menyala, menciptakan jaringan cahaya biru elektrik di bawah sana.
Liana, ambil alih kemudi," Arkan melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan kasar.
"Aku harus memutus sinyal ini secara fisik."
"Bagaimana caranya? Kita berada di kedalaman enam ratus meter!"
Arkan mengambil sebuah pisau laser kecil dari kotak peralatan darurat. Matanya menatap Liana dengan tatapan yang penuh kepasrahan namun bertekad baja.
"Aku akan memotong pergelangan tanganku jika perlu, atau menghancurkan jam ini dengan risiko terkena aliran listrik tinggi. Tapi kau harus membawa Seabreed menjauh dari sini begitu sinyalnya putus."
"Tidak! Pasti ada cara lain!" Liana mencoba meretas frekuensi jam tersebut, namun firewall-nya terlalu kuat.
"Liana, dengarkan aku,"
Arkan memegang wajah Liana dengan satu tangan. Di kedalaman samudra yang mematikan ini, di tengah ancaman kiamat digital, ia tidak pernah merasa sejelas ini.
"Kau adalah alasan aku bertahan selama sepuluh tahun ini. Kau adalah cahaya yang tidak pernah bisa dipadamkan oleh ibuku. Jika aku harus menjadi bagian dari kegelapan ini agar kau bisa melihat matahari besok, maka biarlah begitu."
Tiba-tiba, guncangan hebat menghantam Seabreed. Kapal selam Elena melepaskan torpedo akustik untuk mengacaukan sistem navigasi mereka.
WARNING: HULL INTEGRITY 70%... PRESSURE LEAK DETECTED.
"Arkan, jangan!" jerit Liana saat Arkan mulai mengarahkan pisau laser ke pergelangan tangannya sendiri.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Liana melihat sesuatu di layar radar. Sebuah armada kapal selam lain muncul dari arah Utara. Bukan milik Gideon, bukan milik Elena.
Unit 9!" seru Liana. "Arkan, mereka datang!"
Sebuah suara baru masuk ke frekuensi mereka. "Tuan Muda Arkan, Nona Liana, ini Kapten Varo dari Unit 9. Kami telah melacak sabotase biometrik pada jam Anda. Tetap tenang. Kami akan melepaskan EMP (Pulsa Elektromagnetik) terfokus untuk mematikan jam itu dan sistem transmisi Elena dalam sepuluh detik. Tutup mata kalian!"
SATU... DUA... TIGA...
Ledakan cahaya putih yang menyilaukan terjadi di bawah air. EMP menghantam seluruh wilayah palung. Jam di tangan Arkan mati seketika, begitu juga dengan lampu-lampu di dalam kokpit Seabreed. Mereka terombang-ambing dalam kegelapan total, sementara di depan mereka, kapal selam Elena tampak kehilangan daya dan mulai terseret arus palung yang dalam.
"Arkan?" bisik Liana di tengah kegelapan yang sunyi.
"Aku di sini," jawab Arkan, napasnya terasa lega.
"Sinyalnya putus. Ibuku... dia kehilangan kendalinya."