Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Sebuah rasa
Embun pagi masih menggelayut di ujung daun teratai saat sinar matahari pertama menyelinap masuk melalui celah jendela pondok kayu keluarga Xinjiang.
Suasana yang biasanya dimulai dengan petikan kecapi yang menenangkan dari arah paviliun samping, pagi ini terasa sunyi senyap.
Hanya suara kicauan burung liar yang terdengar, seolah-olah alam pun sedang menahan napas.
Istri Xinjiang melangkah keluar menuju dapur luar dengan senyum kecil, terbiasa menyiapkan empat porsi sarapan selama tiga tahun terakhir.
Namun, langkahnya terhenti saat matanya melirik ke arah paviliun. Pintu kayu paviliun itu terbuka lebar, memperlihatkan ruangan yang kosong melompong.
Tidak ada lagi jubah hitam yang tergantung, tidak ada lagi aroma dupa penenang, dan yang paling menyesakkan—tidak ada lagi sosok berambut putih yang biasanya duduk bermeditasi di sana.
"Ayah! Paman Tian tidak ada di tempatnya!" teriak anak kecil Xinjiang, berlari keluar dengan raut wajah bingung.
Xinjiang keluar dengan tergesa-gesa, pedangnya masih tersampir di pinggang.
Ia berlari menuju paviliun, jantungnya berdegup kencang oleh firasat buruk.
Di atas meja batu tempat Tian Shan biasa meletakkan kecapinya, tidak ada barang tertinggal, kecuali sebuah kantong sutra kecil dan selembar kertas yang tertindih oleh sebuah batu giok hijau.
Xinjiang mengambil kertas itu dengan tangan gemetar. Isinya sangat singkat, namun cukup untuk membuat matanya panas.
"Takdir membawaku kemari, dan pilihan membawaku pergi. Jangan mencariku. Aku telah meninggalkan sesuatu untuk menjaga rumah ini. Hiduplah dengan baik, Guru—maksudku, Tuan Xinjiang. Anggaplah aku hanya sebuah mimpi yang lewat di tengah malam."
Di dalam kantong sutra itu, terdapat ratusan Kristal Qi tingkat menengah dan botol-botol pil yang cukup untuk menjamin masa depan anak Xinjiang hingga mencapai ranah yang tinggi.
"Dia pergi ... tanpa pamit," bisik istri Xinjiang, air mata mulai membasahi pipinya.
Ia ingat bagaimana Tian Shan selalu membantu menjaga anaknya, mengajari teknik napas secara diam-diam, dan menjaga kedamaian desa tanpa meminta imbalan sepeser pun.
Xinjiang terduduk di kursi kayu tempat Tian Shan biasa duduk.
Ia menatap ke arah hutan, merasakan aura perlindungan yang aneh menyelimuti rumahnya—sebuah bayangan besar yang seolah-olah mengawasi mereka dari kegelapan.
Ia menyadari sekarang, "Paman misterius" itu bukan sekadar pengembara.
Dia adalah pelindung surgawi yang turun hanya untuk memastikan keluarganya tetap utuh.
"Terima kasih, Tian Shan ..." suara Xinjiang pecah. "Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, tapi aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan hidup yang kau jaga ini."
Puluhan mil dari Lembah Teratai, di sebuah kedai pinggir jalan yang berdebu dan penuh dengan aroma arak murah, seorang pemuda berambut putih duduk menyendiri di sudut ruangan.
Tudung jubahnya menutupi sebagian wajahnya, namun aura dingin yang memancar darinya membuat pelanggan lain enggan duduk di dekatnya.
Di atas meja kayu yang kasar, tersedia semangkuk mi kuah sederhana dan sebotol arak. Tian Shan mengangkat sumpitnya, namun gerakannya terhenti.
Matanya menatap kosong ke arah kursi kosong di depannya. Selama tiga tahun, ia terbiasa melihat wajah Xinjiang yang tersenyum saat sarapan. Kini, ia kembali ke dunianya yang sebenarnya—dunia kesendirian dan penuh rasa kesepian.
Glek.
Ia meneguk araknya dalam sekali telan. Rasanya pahit dan membakar tenggorokan, namun tidak sepahit rasa sesak di dadanya.
"Aku tidak butuh keluarga," bisik Tian Shan pada dirinya sendiri, suaranya parau. "Aku membantai banyak orang untuk kembali, bukan untuk menjadi lemah karena kasih sayang."
Namun, tangannya sedikit bergetar saat ia meletakkan cangkir araknya.
Sebagai Pendekar Bumi, ia bisa merasakan setiap getaran tanah di bawah kakinya.
Ia bisa merasakan bahwa ia telah melampaui kemanusiaan, namun di saat yang sama, ia merasa lebih hampa daripada saat ia masih menjadi "sampah" di klan Tian.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya pelayan kedai dengan ragu, melihat air muka pemuda itu yang begitu mendung.
Tian Shan tidak menjawab. Ia mengeluarkan sekeping keping perak, meletakkannya di meja tanpa menoleh.
"Dunia ini luas, tapi tidak ada satu inci pun tanah yang terasa seperti rumah bagiku," gumamnya pelan.
Ia berdiri, menyampirkan Kecapi Perunggu Kuno miliknya ke punggung. Suara dentingan senarnya yang beradu dengan jubah terdengar seperti rintihan kesedihan yang tertahan.
Ia melangkah keluar dari kedai, kembali ke jalanan yang penuh debu dan ketidakpastian.
Tian Shan berjalan menuju cakrawala yang tak berujung. Ia telah menyelamatkan gurunya, namun dalam prosesnya, ia baru saja membunuh sebagian dari jiwanya yang masih memiliki rasa hangat.
"Setiap langkah dalam kehidupan adalah sebuah pilihan—Bahkan ketika kau berdiam diri."
Setiap langkah yang ia ambil sekarang terasa seberat gunung, bukan karena efek ranah bumi, melainkan karena beratnya kenangan yang harus ia seret sendirian menuju puncak keabadian yang dingin.
"Dunia penuh dengan sebuah rasa. Kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, keputusasaan, dan masih banyak lagi."
lanjut thor💪