Setelah menikah, Anin banyak menemukan banyak hal yang janggal di rumah mertua nya. Anin sering mendengar ibu mertua nya menangis dan dia juga sering melihat tubuh ibu mertua nya di penuhi oleh lebam.
Hingga suatu hari Anin melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah mertua nya sedang melakukan hubungan terlarang dengan ipar nya. Anin bertekad untuk membongkar semua kebusukan mereka di depan semua orang, dan membuat ayah mertua nya dan juga ipar nya mendapat kan hukuman atas perbuatan mereka.
Ikuti kisah kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Pagi ini Anin tidak memasak untuk sarapan, dia sengaja membeli nasi uduk serta kue - kue untuk mereka sarapan. Kebetulan tidak jauh dari rumah mertua nya, ada warung yang menjual berbagai menu sarapan pagi.
"Mas, bu hari ini rencana nya aku akan pergi ke bank. Aku ingin menyimpan uang yang ibu berikan beberapa waktu yang lalu di bank!" Anin berkata pada Dirga dan juga mertua nya di sela - sela sarapan mereka.
"Iya sayang, kamu pake motor mas saja ya, nanti mas ambil motor nya sama mbak Tika!" Jawab Dirga sambil menyuap sarapan nya.
"Motor yang mana mas? Kan mas Dirga may pake motor nya buat ke kantor!" Anin bertanya pada Dirga, karena setahu nya Dirga hanya mempunyai satu motor yang dia gunakan untuk ke kantor.
"Motor matic yang di pake sama mbak Tika,itu motor nya mas sayang!" Dirga berkata pada Anin.
"Dirga, kalau kamu ambil motor itu dari Tika, kasihan dia. Bagai mana jika dia mau keluar!" Pak Johan tiba - tiba tidak suka jika Dirga mengambil motor itu.
"Pak, motor lama kita udah di ambil sama Tika, lagian kan Atar sudah punya motor sendiri. Jadi tidak masalah jika Dirga ambil lagi hak nya, lagi pula Anin butuh kendaraan jika dia mau keluar!" Bu Ela berkata pada suami nya.
"Dirga, Tika kan kakak ipar mu, kasihan jika kau ambil motor itu!" Pak Johan mencegah agar Dirga tidak mengambil motor itu.
"Pak, di rumah nya mas Atar ada 3 motor lain nya. Motor mas Atar, motor bapak. Istri ku butuh kendaraan juga, nanti setelah aku beli mobil aku akan berikan motor itu pada mbak Tika!" Dirga pun kini sudah menyelesaikan sarapan nya.
Anin baru tahu satu hal, jika motor matic yang ada di rumah nya Tika adalah motor milik suami nya. Selama ini Dirga tidak pernah cerita mengenai hak itu.
"Mas ke rumah mbak Tika dulu ya, kamu tunggu di sini!" Dirga berkata pada istri nya.
"Iya mas!" Anin pun mengangguk kan kepala nya.
Anin membereskan meja makan, sementara itu bu Ela dan pak Johan sudah pergi meninggal kan meja makan.
"Bu, kenapa kau biar kan Dirga mengambil motor itu dari Tika? Tika juga butuh motor itu!" Pak Johan bertanya pada istri nya.
"Aku tidak pernah meminta Dirga mengambil motor itu dari Tika, lagi pula kan itu memang motor punya Dirga. Jadi wajar jika Dirga mengambil nya, kan selama ini Tika cuma pinjam!" Bu Ela berkata pada pak Johan.
"Lihat saja bu, jika sampai Tika marah kau akan tanggung akibat nya!" Pak Johan mengancam istri nya.
Dari balik pintu dapur, Anin mendengar percakapan antara kedua mertua nya. Anin semakin curiga jika ada sesuatu antara pak Johan dan juga Tika, hubungan mereka bukan hanya hubungan antara mertua dan menantu tapi ada yang lebih dari itu.
'Aku yakin ada sesuatu antara bapak dan mbak Tika, jika tidak mana mungkin bapak segitu nya membela mbak Tika!' Gumam Anin di dalam hati.
Anin lalu segera pergi ke kamar nya, dia ingin membersih kan diri dan bersiap untuk pergi ke bank. Tapi tanpa sengaja Anin mendengar suara orang yang berteriak di ruang tamu, karena penasaran Anin pun melangkah kan kaki nya menuju asal suara tersebut.
"Dirga, kau tidak bisa mengambil motor itu kembali, motor itu milik ku!" Tika berkata dengan kesal.
"Mbak, kapan aku memberikan motor itu sama mbak. Dulu mbak kan cuma pinjem buat nganterin Hazel posyandu, kok sekarang malah mbak ingin memiliki nya!" Dirga berkata pada kakak ipar nya.
"Dirga, dulu kau sendiri yang bilang bahwa kau memberikan motor itu sama mbak!" Tika kembali berkata dan dia ingin merebut kunci motor dari tangan nya Dirga.
"Mbak, aku cuma meminjam kan, bukan memberikan. Jadi sekarang aku mengambil kembali apa yanh sudah aku pinjam kan sama mbak, istri ku juga butuh!" Balas Dirga lagi.
"Dirga, kau kan punya motor yang lain, jadi sudah lah berikan saja motor itu sama mbak mu!" Pak Johan berkata pada putra bungsu nya.
"Pak, bapak boleh memberikan semua milik bapak sama mbak Tika, tapi tidak dengan milik ku. Istri ku lah yang berhak atas semua milik ku, bukan orang lain!" Dirga tetap bersikeras ingin mengambil motor milik nya dari tangan Tika.
"Dirga, aku ini bukan orang lain tapi aku ini kakak ipar mu, istri dari kakak mu!" Tika mengingat kan akan posisi nya.
"Memang betul itu mbak, mbak adalah kakak ipar ku, sedang kan Anin dia adalah istri ku. Sudah, ini sudah siang dan aku mau berangkat ke kantor!" Dirga lalu memberikan kunci motor itu pada Anin.
"Sayang, mas berangkat dulu ya, kamu hati - hati bawa motor nya!" Dirga berpamitan pada istri nya.
"Iya mas!" Jawab Anin sambil mengangguk kan kepala nya.
Dirga berangkat ke kantor, dia tidak perduli dengan tatapan penuh kemarahan di mata ayah nya dan juga Tika.
"Anin, berikan kunci motor itu pada ku, aku yang berhak atas motor itu bukan kamu!" Tika berkata pada Anin sambil menadah kan tangan nya.
"Maaf mbak, ini adalah milik suami ku. Jadi aku lah yang berhak bukan diri mu!" Jawab Anin sambil berlalu dari hadapan Tika.
"Anin, jangan kurang ajar kau!" Teriak Tika dengan suara lantang.
Tapi Anin tidak perduli, kali ini dia tidak akan membiarkan Tika menguasai semua milik suami nya. Tika akan melindungi segala sesuatu yang memang menjadi hak nya. Anin bergegas masuk ke dalam kamar nya, untung saja kamar nya dan Dirga memiliki kamar mandi di dalam. Jadi dia tidak perlu keluar kamar lagi untuk mandi.
Sementara itu di ruang tamu, tanpa Anin ketahui Tika dan pak Johan menyeret bu Ela masuk ke dalam kamar nya lalu mengunci pintu nya dari dalam.
"Kenapa ibu biar kan Dirga mengambil motor itu dari ku?" Ujar Tika sambil mendorong kasar tubuh bu Ela ke lantai.
"Ibu tidak pernah meminta Dirga mengambil motor itu, itu inisiatif Dirga sendiri. Lagi pula, motor itu memang milik nya Dirga, jadi wajar jika Dirga mengambil nya kembali!" Jawab Bu Ela.
Plaaakkk.
Sebuah tamparan mendarat di pipi bu Ela, pak Johan yang melakukan nya sehingga sudut bibir bu Ela mengeluarkan darah segar.
"Kau harus bisa memaksa Dirga memberikan kembali motor itu pada Tika, jika tidak kau yang akan aku buat menderita!" Pak Johan mengancam istri nya.
Bu Ela membuka mulut nya, baru saja dia ingin menjawab ancaman dari suami nya. Tapi tiba - tiba pintu kamar nya di ketuk dari luar.