NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Bab 22

Sambil merencanakan strategi untuk mendatangi Prof Keiko, Bumi dan yang lainnya makan malam. Ikan panggang buatan Nash. Tentu saja Hanoon makan ikan versi mentahnya.

“Aku kangen martabak,” celetuk Bumi.

“Seblak,” sahut Nuri.

Lalu keduanya sama-sama menghela napas.

Nash dan Pam saling berpandangan.

“Maaf kalau makanan aku tidak enak,” Nash memutar bola matanya.

“Eh, tidak. Makanan ini enak sekali. Sangat amat enak. Jauh lebih enak dari pada daging yang waktu itu,” jelas Bumi sambil menahan untuk tidak muntah karena teringat rasa daging yang disajikan oleh Ms Shopia waktu itu.

Pam terkekeh, “Aku kira kau malah suka daging yang dikasih mereka!”

“Oh, ya. Terus saja, goda saja aku, ledek saja terus!” Bumi manyun sambil melirik Pam yang malah semakin tertawa.

Nuri menggelengkan kepalanya pelan. Meski tidak begitu dekat pada adiknya itu, ia tahu bahwa Bumi sepertinya naksir Pam.

“Tadi kamu bilang mau makan apa?” tanya Nash menoleh ke Nuri, mengabaikan Pam dan Bumi yang diam diam saling menggodai.

“Seblak. Martabak. Makanan kami di tahun 2026. Yah, makanan orang Indonesia sih. Kami berdua dari Indonesia,” jawab Nuri menjelaskan, sambil menghabiskan daging ikan panggang yang menurutnya akan lebih enak jika pakai sambal.

Nash mengangguk, “Kalian dari Asia?”

Bumi mengangguk.

“Sama, aku juga. Yah, setidaknya keturunan. Itu kata orang tuaku,” sahut Pam melirik Bumi.

“Berarti kalian nggak pernah benar-benar makan makanan asia?” tanya Bumi.

Pam menggelengkan kepala, “Jaman sekarang mana ada makanan dari asia atau dari benua lain. Yang ada hanya dua jenis. Bisa dimakan dan tidak bisa dimakan.”

“Kalau kamu bisa ikut ke masa aku, masa 2026, aku akan beliin martabak,” jawab Bumi tanpa menyadari bahwa dirinya mulai peduli pada Pam.

Nuri berdeham dan berbisik, “Dasar kaleng rengginang!”

Bumi manyun.

“Apa itu kaleng rengginang?” tanya Pam pada Nuri.

Nuri salah tingkah, “Oh, itu hanya ungkapan di masa kami. Kalau ada orang yang tidak bisa melucu, maka dibilang kaleng rengginang!”

Bumi melemparkan tusuk sate bekas bakaran ikan ke arah Nuri.

“Hey! Bahaya!” Nuri melempar tusuk sate itu balik.

Hanoon tiba-tiba bersendawa besar, membuat semua terdiam. “Jadi bagaimana rencana kita besok?”

Semua saling berpandangan.

“Kamu, Bumi dan Nuri, bisa pergi jalan kaki. Ke arah utara. Jalan sekitar dua km. Di sana nanti, kalian bisa istirahat dulu. Lalu melanjutkan perjalanan ke perbatasan kota.”

Pam mengangguk.

“Aku di sini?” tanya Hanoon.

“Iya, kamu dan pesawat di sini saja. Bahaya kalau kamu ikut. Mereka punya alat yang bisa mendeteksi, hewan mutan, atau manusia mutan,” jelas Nash.

“Kalau ketahuan dia hewan mutan, memang bahaya?” tanya Bumi tidak mengerti.

“Iya, dia bisa langsung dibawa ke bagian produksi makanan. Dan langsung jadi makanan kaleng,” jawab Nash.

“Apa keluargaku ada di sana?” tanya Hanoon.

“Bisa jadi!” sahut Pam.

“Ya, bisa jadi. Tapi bisa jadi juga sudah jadi makanan kaleng!” Nash memotong Pam yang tampak antusias. “Terlalu beresiko kalau kamu ikut ke sana Hanoon!”

“Baik lah. Aku akan tunggu di sini.”

“Oke. Berarti kita jalan 2 km, menemukan tempat istirahat, lalu melanjutkan jalan ke perbatasan. Apa yang akan terjadi di sana?” tanya Nuri.

Bumi tahu betul, kakaknya itu penuh perhitungan dan persiapan. Rasanya malu kalau ada di dekat kakaknya. Bumi jadi seperti orang yang tidak bisa apa-apa.

“Akan ditanyai identitas. Maksud dan tujuan ke dalam kota,” jawab Nash sambil menatap Pam. “Kalau tidak, akan dicurigai sebagai mata-mata.”

“Woah! Tunggu. Aku sama Bumi nggak punya identitas! Dan nggak punya maksud dan tujuan. Lalu bagaimana?” tanya Nuri kebingungan.

“Aku juga nggak tau. Apa rencanamu?” Nash menatap Pam.

Semua orang menatap Pam.

“Sebenarnya, aku nggak membuat rencana kita mau masuk lewat perbatasan,” jelas Pam sambil menunduk ragu.

“Jadi, kita lewat mana?”

Pam menatap Nash. Nash menggelengkan kepala, “Berbahaya. Dan di sana juga sudah dijaga ketat.”

“Tapi tidak kalau malam,” kata Pam menatap Nash dengan serius. “Itu cara satu-satunya.”

“Kita bisa bikin identitas palsu. Aku bisa hack dan masukkan data ke dalam server mereka,” kata Nash memberikan solusi lain.

“Lalu tujuannya?” Pam menggelengkan kepala.

“Bilang saja habis dari menangkap ikan. Kalian bisa bawa ikan, lalu bilang kamu mau memberikannya ke Jericho!”

“Itu seperti ide yang bagus,” kata Nuri. “Meski aku tidak tahu ide strategi Pam yang pertama.”

“Nggak!” Pam menatap Nash. “Kalau Nash nge-hack server mereka. Mereka bisa tahu posisi kamu ada di sini, Nash! Kalau mereka tahu, kamu habis!” Pam lalu menatap Nuri dan Bumi, “Kita pakai cara aku. Kita masuk lewat saluran pembuangan kota.”

Nuri dan Bumi saling berpandangan.

“Saluran pembuangan apa?” tanya Nuri.

“Limbah berbahaya?” tanya Bumi.

“Nggak. Nggak ada limbah berbahaya. Yah, setidaknya tidak terlalu berbahaya. Memang mungkin tahun 2026, semua limbah pabrik berbahaya, kan?” tanya Pam.

Nuri dan Bumi mengangguk.

“Tapi sekarang tahun 6026, semua sudah sadar soal limbah. Sebisa mungkin tidak membuang limbah. Jadi ada teknologi yang mengubah limbah jadi aman. Meski tetap saja, namanya limbah,” jelas Pam.

“Tapi tidak sebaik yang kalian dengar. Teknologi itu butuh pengorbanan. Dan yang dikorbankan adalah…,”

“Energi inti bumi,” sahut Nuri memotor penjelasan Nash.

Nash dan Pam mengangguk.

Bumi mengacak-acak rambutnya, “Oke. Aku nggak ngerti apa yang kalian bicarakan. Aku belum ada sebulan di sini. Sudah terlalu banyak informasi. Aku akan menuruti apa yang kalian putuskan. Aku akan melakukan sebaik mungkin untuk bisa membantu.”

“Kalau kamu mau membantu, sebaiknya tidak dengan kembali ke 2026,” jawab Nash.

Nuri dan Bumi saling lirik.

“Nggak. Mereka harus kembali, Nash. Aku udah janji sama Bumi, aku mau nolong dia kembali ke 2026,” jelas Pam.

Percakapan makan malam itu, akhirny selesai dengan diputuskannya mereka akan mengikuti cara yang diusulkan Pam.

Malam itu, Bumi tidur bersama Nuri di sebuah kamar dengan dua kasur single, di lantai atas ruang bawah tanah. Rumah di lantai atas itu, seperti rumah pada umumnya, ruang tamu, ruang keluarga, kamar mandi, dapur dan ruang makan. Serta dua kamar tidur. Kamar utama dengan kasur besar yang ditinggali oleh Pam. Sedangkan Nash tidur bersama Hanoon di ruang bawah tanah. Hanya saja semua ruangan itu, tersembunyi. Rumah itu ada di balik lift yang terhubung ke ruang bawah tanah.

“Kamu yakin sama Pam?” Nuri berusaha mengabaikan debu yang ada di atas lemari di sebelah kasurnya.

“Maksudnya?” Bumi tidur terlentang tanpa baju dan selimut.

“Yakin sama rencananya Pam?”

“Kakak mau kita di sini terus?”

Nuri menghela napas, “Nggak. Aku nggak mau ada di sini terus. Aku mau kembali ke tahun kita. Aku pengen kuliah, pengen kerja, pengen main tiktok.”

“Ya udah, kita percaya sama Pam.”

Nuri terdiam.

“Tidur kak, besok kita harus jalan jauh.”

“Kamu suka sama Pam?”

Bumi memalingkan badannya, menghadap tembok, “Tidur, Kak!”

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!