Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Heran
Novita kembali ke rumahnya. Jantungnya berdegup lebih kencang, saat berhadapan dengan Alawiyah.
"Jika istrinya yang terus saja menerima makanan pemberianku, maka ini akan menjadi masalah." Novita mere-mas jemari tangannya, dan keringat dingin mengalir dri pelipisnya.
Gadis itu tampak gelisah, seekali ia meringis kesakitan, menahan perih pada bagian rahimnya yang terasa panas, dan seperti tersayat benda tajam.
Bahkan perutnya tampak membesar, serta masih mengeluarkan darah yang tak juga berhenti, meskipun ia seniri sudah meminum jamu yang diperintahkan oleh Ratna—ibunya.
"Bagaimana? Apakah sudah sampai ke rumah dan siapa yang menerimanya?" suara Ratna dari ambang pitu, yang datang dengan tiba-tiba mengagetkannya.
Bahkan ia mencecar Novita, memastikan jika yang mereka berikan sudah tersampaikan.
Novita mengusap dadanya. Ia melirik ibunya, yang mana—wanita itu sudah berdandan rapih.
Ia mengenakan kebaya yang terbuat dari brokat pilihan, dan kain jarik yang premium.
Di tubuhnya, hampir penuh dengan perhiasan emas, dan diatas sanggulnya, terdapat satu tusuk konde dengan ukiran mawar yang juga terbuat dari logam emas.
"Sudah, Bu. Tadi istrinya yang menerima." Novita mengambil gelas berisi jamu, dan meneguknya kembali, berharap cairan pekat darah yang keluar dengan deras dapat terhenti.
Atau setidaknya, mengurangi rasa sakit pada perutnya.
Ratna terdiam sejenak. Lalu menatap.kembali pada puterinya. "Apakah dia akan memakannya?"
Wanita itu tampak berfikir, dan seaat menatap keluar pintu besi yang tertutup rapat tetapi masih dapat melihat pandangan dari arah dalam.
Tatapannya memantau pintu rumah Ratih yang terbuka lebar.
"Kalau istrinya yang makan, kan lebih bagus." jawab Novita dengan cepat. Lalu menepis tubuh ibunya yang menghalangi jalan, karena menyumbat pintu.
"Apalagi sedang hamil, dua sekaligus. Ibarat pepatah mengatakan, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui." Novita duduk diatas sofa, lalu bersandar disandarannya.
"Tetapi ibu sangat bingung," Ratna tampak gelisah.
Ia meraih kunci mobil yang tergeletak diatas meja jati, dan diatasnya terdapat tiga buah guci berwarna biru dengan totol putih, yang di impor langsung dari china.
"Bingung mengapa?" Novita tampak sibuk dengan layar I phone nya.
"Kenapa si Bayu susah matinya? Sudah tiga bulan berlalu, tapi ya kok tetap saja bernyawa." Ratna melangkah menuju sofa, dan duduk dengan tatapan yang gelisah.
"Ya tanya sama peliharaanmu, Bu. Kenapa dia terlalu tolol," jawab Novita dengan sewot.
"Novi! Kurang ajar kamu—ya! Biar begitu, dia sudah beri kita kekayaan yang luar biasa. Kalau tanpa dia, kamu bisa apa?" kamu mau hidup susah seperti mereka—hah?!"
Ratna tampak berang, dan hatinya mulai kesal, sembari menunjuk ke arah rumah Ratih, yang tentunya sangat berbeda dari rumah lainnya.
"Ih, najis! Siapa juga yang mau hidup miskin!" Novita menjawab dengan ketus.
"Makanya, jangan ngomong sembarangan!" Ratna mengingatkan. "Kalau sampai di marah atas ucapanmu, maka kamu bisa celaka."
Novita membeliakkan matanya. Ia menghentikan kegiatannya, dan memasang wajah masam.
"Ibu kenapa jadi nyumpahi Novi yang enggak-enggak—sih?" ia balik menghardik ibunya.
"Selama ini, Novi sudah berbakti pada ibu. Rela melayani makhluk itu, demi bisa kaya raya, seharusnya ibu tanya sama si Jelek itu, kenapa mengambil satu jiwa saja gak becus!"
Ratna beranjak bangkit dari duduknya. Amarahnya yang sudah berada diubun-ubun, membuat ia hilang kendali.
Plaaak
Sebuah tamparan mendarat di pipi puterinya. Lima cap jari membekas di sana, rasa panas dan juga perih merambat dengan cepat.
"Lancang! Sekali lagi kamu mengatakan hal yang merendahkan tentang dia, ibu akan menghukummu!" ancam Ratna.
Novita balik menatap tajam, dan rasa jengkel dihatinya, membuat ia menghempaskan I phone nya diatas lantai, dan pecah berserakan, lalu memilih pergi ke lantai dua rumahnya dan masuk ke dalam kamar.
"Dasar, Pembangkang!" Ratna mersa tidak tahan dengan sikap Novita yang sering melawannya.
Jika bukan karena sosok itu, maka ingin rasanya ia menghajar puteri semata wayangnya.
Ratna menarik nafasnya yang terasa berat, lalu memilih untuk pergi, acara ngumpul sesama wanita sosialita yang setara.
*****
Ratna sudah memesan makanan dengan banyak porsi dari berbagai makanan. Soto pojok, kambing krengsengan, ubi madu dan juga teh jahe yang hangat.
Ia sedang menunggu Juminten, Sarinah, Romlah, dan Ginah.
Mereka berjanji bertemu ditempat ini, dan Ratna yang menjadi bandarnya.
Tak berselang lama, keempat orang yang ditunggunya tiba.
Mereka masing-masing menggunakan mobil mewah, dan pakaian yang bermerk.
Tak lupa perhiasan emas yang menghiasi tubuh mereka.
Keempatnya memasuki rumah makan yang terkenal dengan rempah krengsengan kambing di wilayah Gunung Kawi.
"Kami lama—Ya?" Juminten menarik kursi kosong yang disediakan. Tanpa basa-basi, langsung menyeruput teh jahenya.
Tindakannya diikuti oleh Sarinah dan Romlah, yang langsung mencomot ubi madu yang tersedia diatas piring saji.
Mereka melahapnya, tentu saja tanpa kata Basmallah.
"Aku lagi pusing." tiba-tiba Romlah nyeletuk. Sepertinya ia tidak dapat menyimpan masalahnya sendiri.
Tujuan mereka berkumpul bersama, juga karena ingin saling berbagi cerita.
"Pusing kenapa? Hidup sudah kaya raya, tapi masih saja pusing mikirin dunia," sahut Juminten, yang menyendokkan Soto pojoknya.
Soto yang terbuat dari ayam kampung betina, khas Gunung Kawi, dengan kuah bening bumbu berlimpah.
"Bukan apa-apa—sih, cuma heran saja, kok si Bayu itu susah matinya," ia langsung pada intinya.
"Uhuuuk ...." Ratna tersedak. Sebab apa yang membuat rasa penasarannya selama ini terjawab sudah. Ternyata Romlah juga mengincar Bayu.
"Sial! Jadi dia ngincar Bayu juga? Kenapa bukan Bagas atau Rini saja? Atau sekalian si Ratihnya." diam-diam, Ratih menyimpan rasa benci pada Romlah.
"Iya, kenapa susah banget? Aku juga gak habis fikir," kali ini, Juminten juga menimpali.
Ratna kembali membeliakkan kedua matanya. Ternyata bukan hanya Romlah, tapi juga ada Juminten.
Lalu bagaimana dengan Ginah? Apakah mereka juga melakukan hal yang sama?
Ratna semakin merasakan kepalanya pusing. Jika saja jiwa yang ia tuju tidak berhasil, maka sasarannya adalah dirinya.
"Entahlah. Tapi aku menyukai wanita itu, yang katanya istri Bayu. Sangat manis, apalagi dengan janinnya,"
Sontak saja hal itu membuat Ratna, Juminten dan Romlah melongo.
"Sial! Ternyata mereka mengincar juga!" Ratna kembali berguman kesal dalam hatinya.
"Tapi kita harus waspada dengan wanita itu," Ratna mengingatkan.
"Memangnya kenapa?" Romla menyela.
"Ya, aku merasa gak nyaman saja. Sejak dia ada di desa ini, hawa rumahku seperti tak nyaman. Apalagi kami berhadapan langsung dengan rumah Ratih," ungkap Ratna dengan segala keresahannya.
Jika ditelisik, Alawiyah tampak seperti wanita biasa pada umumnya. Hanya saja, ia mengenakan hijab, dan itu yang membedakan ia dengan seluruh wanita yang ada didesa ini.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏