NovelToon NovelToon
Arsitektur Pengkhianatan

Arsitektur Pengkhianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.

Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.

Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.

Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Macan Tua di Gang Sempit

Mentari pagi di pinggiran Surabaya menyapa dengan kehangatan yang bersahabat. Namun udara di sebuah gang asri di kawasan perumahan lama itu terasa memiliki kepadatan yang berbeda.

 

Udara pagi itu masih menyisakan aroma tanah basah sisa embun semalam. Bercampur dengan wangi bumbu dapur, tumisan bawang dan aroma nasi hangat yang menguar dari jendela rumah-rumah penduduk.

 

Di gang yang dipenuhi tanaman hias dalam pot gantung dan pagar-pagar kayu yang terawat. Dua sosok paruh baya berjalan santai sambil menjinjing tas belanjaan berbahan kain.

 

Seorang Pria paruh baya yang masih gagah dan tegap. Berjalan pelan mengiringi wanita paruh baya yang jua masih belum bisa di bilang berusia tua. Kulitnya masih sangat terawat dengan wajah yang tak kalah dengan mama muda berusia dua puluhan.

 

Pak Darmawan dan Ibu Farida adalah orang tua Adnan. Pak Baskoro mengenakan kaos polo berwarna abu-abu sederhana dan celana pendek kargo. Penampilannya sekilas tampak seperti pensiunan pegawai negeri biasa yang sedang menikmati masa tuanya dengan rutinitas pagi yang membosankan.

 

 

Namun, jika seseorang memiliki mata yang terlatih untuk mengamati detail. Mereka akan melihat kejanggalan pada sosok pria tua ini. Langkah kakinya sangat stabil, ia selalu menapak dengan bagian depan kaki lebih dulu.

 

 

Sebuah teknik untuk menjaga keseimbangan dan kesigapan otot. Matanya yang tajam tidak pernah benar-benar diam. ia secara konstan memindai sudut-sudut jalan, bayangan di balik pohon. Hingga pantulan di kaca mobil yang terparkir. Semua dilakukan tanpa perlu menolehkan kepala secara mencolok.

 

 

Di masa mudanya, Darmawan adalah legenda yang namanya hanya dibisikkan di kalangan elite dan dunia bawah tanah. Seorang detektif swasta spesialis kasus-kasus kelas berat yang tak sanggup atau tak boleh ditangani oleh kepolisian resmi.

 

Ia adalah perpaduan antara kecerdikan murni, keahlian bela diri praktis yang mematikan dan jaringan informan yang menggurita dari pelabuhan hingga gedung pencakar langit. Meski kini rambutnya telah memutih sepenuhnya. Sisa-sisa kegagahannya masih terpancar dari rahangnya yang kokoh dan punggungnya yang tetap tegak meski memikul beban belanjaan.

 

"Pa," panggil Ibu Farida lembut sambil merapikan ikatan kangkung dan bungkusan tahu yang menyembul dari tas belanjaannya.

 

"Adnan semalam mengirim pesan singkat, katanya mau mampir ke rumah bersama Arini. Menginap malah, Mama senang sekali, sudah kangen ingin memasakkan menu spesial buat menantu kesayangan kita itu."

 

Pak Darmawan hanya tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang menyimpan ribuan rahasia. Tangannya yang masih terlihat berotot merangkul bahu istrinya dengan sikap protektif yang alami.

 

"Iya, Ma. Adnan memang butuh pulang ke rumah ini. Tapi Mama jangan terlalu banyak bertanya dulu kalau mereka sampai nanti, ya? Biarkan mereka tenang. Adnan sepertinya sedang banyak pikiran dengan proyek-proyek besarnya," jawab Darmawan dengan nada suara yang menenangkan.

 

Darmawan sengaja tidak menceritakan pada istrinya. Bahwa semalam ia telah berkomunikasi panjang dengan Adnan melalui jalur yang sangat aman. Adnan telah menumpahkan segalanya. Tentang pengkhianatan Arini yang sistematis, tentang sosok Bagaskara yang licik.

 

Hingga berita kematian Jo dan Bima yang tragis. Darmawan sama sekali tidak terkejut mendengar kabar itu. Naluri detektifnya sudah mencium ketidakharmonisan dalam rumah tangga putranya sejak lama.

 

Bahkan, tanpa sepengetahuan Adnan, sejak dua hari yang lalu Darmawan sudah mengaktifkan kembali beberapa anak buah lamanya. Para mantan agen lapangan yang kini telah tersebar di berbagai profesi namun tetap setia pada satu komando dari sang Macan Tua.

 

"Tapi Arini kok tumben ya mau menginap di sini, Pa? Biasanya kan dia lebih suka mengajak Adnan menginap di hotel mewah kalau sedang berkunjung ke daerah sini. Katanya alergi debu rumah tua," gumam Ibu Farida polos, mengingat karakter menantunya yang glamor.

 

"Mungkin dia sedang ingin suasana baru, Ma. Atau mungkin dia mulai menyadari bahwa rumah tua ini memiliki kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan uang hotel," jawab Darmawan pendek.

 

Tiba-tiba, matanya menyempit. Pupilnya mengecil, memfokuskan pandangan pada titik sekitar lima puluh meter di depan mereka. Di sebuah tikungan gang yang agak sepi, rimbun oleh pohon mangga dan tembok tinggi rumah tua yang kosong.

 

 

Berdiri tiga pria berbadan tegap. Mereka mengenakan jaket bomber gelap yang tampak gerah untuk ukuran pagi hari. Wajah mereka kasar, dengan bekas luka yang kontras di bawah sinar matahari. Salah satu dari mereka memegang sesuatu yang panjang di balik punggungnya.

 

 

Sementara yang lain memasukkan tangan ke dalam saku jaket yang tampak berat dan menggembung. Insting predator Darmawan berteriak nyaring, ancaman nyata namun tak bersuara takut istrinya malah ketakutan.

 

 

"Ma," suara Darmawan berubah menjadi sangat rendah, parau, dan penuh otoritas.

 

Nada bicara yang hanya keluar saat situasi sedang berada di ujung tanduk, "Masuk ke balik pagar rumah Pak RT itu sekarang. Masuk dan jangan keluar sampai Papa memanggil namamu, mengerti?"

 

"Loh, Pa? Ada apa? Itu cuma anak-anak muda..." Ibu Farida mulai bingung dan sedikit cemas.

 

"Sekarang, Farida! Jangan membantah!" perintah Darmawan tanpa kompromi.

 

Begitu istrinya masuk dan bersembunyi di balik gerbang besi rumah tetangga yang tertutup rapat. Darmawan melanjutkan langkahnya. Ia tidak berhenti, ia justru berjalan dengan langkah yang lebih santai.

 

Namun pasti, ia meletakkan tas belanja berisi tahu, tempe, dan sayuran di atas tembok semen pagar rumah orang secara perlahan. Punggungnya yang tadi sedikit membungkuk kini tegak sempurna. Seolah-olah ia baru saja membuang beban usia puluhan tahun dari pundaknya. Sendi-sendi tangannya berderak pelan saat ia mengepalkan jemari yang kasar.

 

Ketiga preman itu maju mendekat, menyebar untuk menutup semua akses jalan di gang sempit itu. Mengepung dan mengunci posisi Pak Darmawan sambil menyeringai buas.

 

"Pak Tua, jangan banyak tingkah kalau mau selamat sampai rumah," ucap pria yang paling besar, tampaknya sang pimpinan. Ia menarik sebuah belati panjang yang berkilat tajam dari balik pinggangnya.

 

"Serahkan tas tanganmu, ponsel, dan jam tangan tua itu."

 

Preman di sebelahnya tertawa sinis, menunjukkan moncong pistol hitam yang menyembul dari balik saku jaketnya, "Atau kita buat pagi ini jadi pagi terakhirmu menghirup udara Surabaya."

 

Darmawan menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang dingin dan datar. Seolah sedang menginspeksi tumpukan barang rongsokan yang mengganggu jalannya. Tidak ada ketakutan, tidak ada tremor di tangannya.

 

"Kalian dikirim oleh siapa? Orang-orang amatir seperti kalian tidak mungkin berani masuk ke lingkungan ini tanpa perintah dan tanpa informasi," suara Darmawan terdengar menggelegar di gang yang sunyi itu.

 

"Banyak bicara! Mati saja kamu!"

 

Preman pertama menerjang maju dengan tusukan belati lurus ke arah perut Darmawan dengan gerakan yang sangat efisien. Sebuah gerakan ekonomis, taktis yang hanya dimiliki oleh ahli bela diri tingkat tinggi.

 

Darmawan menggeser tubuhnya hanya beberapa milimeter ke samping. Ia membiarkan belati itu lewat di samping pinggangnya. Lalu dengan kecepatan kilat ia menangkap pergelangan tangan si preman.

 

Krak!

 

Dengan satu hentakan tajam menggunakan pangkal telapak tangan ke arah sendi siku yang berlawanan arah. Darmawan mematahkan lengan lawan dalam satu gerakan. Jeritan tertahan yang memilukan terdengar.

 

Belati itu jatuh berdenting di aspal. Belum sempat preman itu jatuh. Darmawan memberikan serangan lutut yang telak ke arah tulang rusuk bawah. Membuat lawannya itu terkapar tak berdaya. Sambil memuntahkan cairan lambung yang pahit.

 

Preman kedua yang memegang pistol mencoba menarik senjatanya dengan panik. Namun Darmawan sudah memprediksi gerakan itu. Ia menendang pergelangan tangan pria itu dengan tendangan lurus yang presisi.

 

Membuat pistol itu terpental jauh ke dalam semak-semak rumah warga. Sebelum si pria sempat bereaksi, Darmawan melepaskan dua pukulan cepat menggunakan dua jari ke titik saraf di bawah telinga dan pangkal leher. Preman kedua itu tumbang seketika. Matanya mendelik kosong sebelum ia jatuh pingsan di atas paving jalan.

 

Preman ketiga, sang pimpinan, berdiri mematung. Wajah sangarnya kini pucat pasi. Ia gemetar hebat melihat dua anak buahnya yang berbadan jauh lebih besar tumbang hanya dalam hitungan sepuluh detik di tangan seorang Pria paruh baya yang baru saja pulang dari pasar.

 

Ia mencoba berbalik untuk lari, namun Darmawan menjegal kakinya dengan sebuah sapuan rendah yang sangat kuat. Pria itu jatuh tersungkur dengan wajah menghantam aspal. Tampak beberapa giginya patah dan memuntahkan darah.

 

Darmawan melangkah maju dan menginjak punggung pria itu dengan kaki kanannya. Menekannya dengan beban tubuh yang terukur hingga si preman kesulitan bernapas dan merintih kesakitan. Darmawan membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari telinga si preman. Suaranya kini sangat dingin, sebuah suara dari masa lalu yang kelam.

 

"Siapa yang menyuruh kalian mengusik ketenangan orang tua Adnan? Katakan, atau aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa menggenggam apa pun lagi dengan tanganmu," ancam Darmawan sambil mulai memutar pergelangan tangan si pria ke arah yang menyakitkan.

 

"S-saya tidak tahu... kami cuma disuruh orang lewat telepon..."

 

Darmawan memperkuat tekanan kakinya pada tulang belakang si pria. Hingga terdengar suara tulang yang mengerang hebat, "Aku tidak punya waktu untuk drama picisan. Siapa!?”

 

"Bagas! Bagaskara dan Nyonya Arini!" teriak si preman kesakitan, rasa takut akan cacat permanen mengalahkan kesetiaannya pada bayaran.

 

"Mereka bilang untuk memberi pelajaran pada orang tua Adnan supaya Adnan teralihkan konsentrasinya dan jatuh mentalnya! Kami cuma menjalankan perintah, Pak! Ampun!"

 

Mata Darmawan berkilat gelap, sehitam lubang tak berdasar. Arini. Menantunya sendiri sudah melangkah sejauh ini? Ingin menyentuh orang tuanya demi melindungi pria selingkuhannya? Arini benar-benar telah membangun arsitektur kehancurannya sendiri dengan fondasi yang sangat salah.

 

Darmawan menarik kakinya, melepaskan tekanan, "Pergi. Bawa teman-temanmu yang seperti sampah ini keluar dari wilayahku. Jika aku melihat bayangan kalian lagi di gang ini atau di sekitar keluarga Adnan, aku pastikan kalian tidak akan ditemukan lagi oleh siapa pun."

 

Dengan sisa tenaga yang ada, pimpinan preman itu menyeret kedua temannya yang babak belur ke dalam mobil hitam yang menunggu di ujung gang. Mobil itu melesat pergi dengan suara ban yang berdecit kencang.

 

Darmawan menarik napas panjang. Menenangkan detak jantungnya kembali ke ritme normal. Ia merapikan kaos polonya, menyeka sedikit debu di lengannya, dan kembali membungkuk untuk mengambil tas belanjaannya yang berisi tahu dan tempe. Seolah-olah pertarungan hidup mati itu tidak pernah terjadi. Bahunya kembali sedikit membungkuk, topeng pensiunan tua yang ramah kembali ia kenakan dengan sempurna.

 

"Ma! Sudah aman, keluar saja! Preman-premannya sudah kabur!" panggil Darmawan dengan nada suara yang kembali ceria.

 

Ibu Farida keluar dari persembunyiannya dengan wajah yang masih pucat dan cemas. Ia berlari kecil menghampiri suaminya. Memeriksa seluruh tubuh Darmawan dari kepala hingga kaki.

 

"Papa tidak apa-apa? Ya Tuhan, tadi itu seram sekali. Mama lihat sekilas mereka bawa senjata. Preman-preman itu dari mana sebenarnya, Pa? Kok sampai berani masuk ke sini?" tanya Ibu Farida dengan suara gemetar.

 

Darmaaan tersenyum hangat, sebuah senyum yang tulus hanya untuk istrinya. Ia mencium kening Widya dengan lembut untuk meredakan kegelisahannya.

 

"Ah, itu... preman kampung sebelah, Ma. Biasa, anak-anak muda pengangguran yang mabuk dan ingin memalak orang tua. Papa cuma beri sedikit nasihat keras tadi. Mereka langsung lari ketakutan begitu tahu Papa dulu jago berkelahi di sekolah."

 

"Benar ya, Pa? Papa tidak luka?"

 

"Benar, Sayang. Lihat, tempe dan tahunya saja tidak ada yang penyok. Ayo pulang, nanti tahu ini keburu asam kalau tidak segera dimasak. Kita harus siapkan sambal terasi dan lodeh kesukaan Adnan, kan? Dia pasti lapar setelah perjalanan jauh," ajak Darmawan sambil menggandeng tangan istrinya.

 

Mereka kembali berjalan santai menyusuri gang yang kembali sunyi. Ibu Faarida tidak pernah tahu bahwa di balik senyum tenang suaminya, Pak Darmawan sedang menyusun rencana pembalasan yang jauh lebih sistematis dan mematikan.

 

Jika Arini sudah berani melibatkan nyawa orang tuanya ke dalam permainan kotornya. Maka hukum rimba lama yang dulu membesarkan nama Darmawan akan kembali ditegakkan tanpa ampun.

 

Arini, kamu adalah arsitek yang buruk, yah sepertinya aku harus mengganti menantu. Batin Darmawan sambil menatap bayangannya di dinding gang yang tampak seperti macan yang sedang mengintai mangsa.

 

 

Kamu mencoba meruntuhkan gedung yang fondasinya terbuat dari baja dan sekarang, aku sendiri yang akan meratakan duniamu hingga menjadi debu.

 

 

Tapi semua berawal dari anak bandelku satu itu. Coba sama wanita lebih manis sedikit, tapi ya sudahlah. Semua sudah terjadi, kita tukar tambah menantu saja, he he.

 

 

Baskoro tahu, kedatangan Adnan dan Arini beberapa jam lagi bukan sekadar kunjungan keluarga. Itu adalah babak pembukaan dari sebuah operasi pembersihan dan sang Macan Tua kini sudah terbangun sepenuhnya dari tidurnya yang panjang.

 

“Sudahlah nanti biar aku pilihkan satu bunga cantik untuk kamu Nak. Kalau kamu sudah membereskan masalahmu sendiri dulu. Anak Darmawan kok masak cengeng,” gerutu Pak Darmawan pelan cenderung tak bersuara.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1
Apem Crispy
Asik nih. Konfliknya pelik tapi realistis. Gak kartunal ataupun templated. 👍
Bagus Effendik: hehe ia kak terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut dong seru nih
Bagus Effendik: siap pasti up tiap hari
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
semangat ya thor aku mendukungmu🤭
Bagus Effendik: terima kasih ya sudah berkunjung
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut thor up yang banyak
Bagus Effendik: pasti kak pasti up banyak🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
aduh, aduh mana tidur sendiri lagi aku baca ini🤣 mantap thor
Bagus Effendik: hayo jangan kebawa baper ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
waduh berani sekali Arini
Bagus Effendik: ia bilangin dong itu nggak boleh🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
loh jadi boleh ya rekues nama kita masuk novel ini hehe mau dong
Bagus Effendik: boleh kak asal gif hehe
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
kan kan di jebak Adnan kan hehe
Bagus Effendik: memang Arini tuh🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Arini ya hem jadi pingin cubit aku wkwkwk keren keren
Bagus Effendik: cubit aja dia kak😄
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut thor suka aku
Bagus Effendik: terima kasih atas sukanya👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Arini mulai main-main ini
Bagus Effendik: lah ia ya kak
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
hem mulai kelihatan nih ya ketemu mantan 🤭
Bagus Effendik: hehe mantan apa ketan
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Oh jadi tokoh utama cowoknya, Adnan ya semangat thor bagus
Bagus Effendik: benar kak
total 1 replies
Rohad™
Triple up thor 👍
Bagus Effendik: diusahakan sabar ya hehe🙏👍
total 4 replies
Rohad™
Tidak sabar untuk menunggu kehancuran Arini dan dukungannya 🤣👍
Bagus Effendik: hehe sabar ya
total 1 replies
Rohad™
Ngeri lah Adnan ini 👏
Bagus Effendik: harus ngeri dong hehe😄👍
total 1 replies
Agus Tina
Jangan bilang kalau Laras nanti jadi pengganti Arini, cerita spt itu sudah terlaku banyak thor. Orang kaya, berkuasa, matang jatuh cinta dgn gadia biasa dari kalangan biasa, polos, muda. Apa memang karakter lelaki seperti itu, harus merasa lebih berkuasa dan dominan. Jarang sekali saya menemukan cerita dgn tokoh laki2 yg kuat berkuasa bertemu dengan perempuan cerdas, sama2 punya kuasa walaupun tidak sebesar sg lelaki. Selalu kebalikannya ... agak bosan juga ....
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...
Bagus Effendik: oh ya terima kasih loh sudah membaca saya menghargai itu👍👍👍
total 2 replies
Larasz Ati
nah kan mulai retak Arini sih🤣 thor seru nih
Bagus Effendik: ia nih Arini dasar emang😄
total 1 replies
Larasz Ati
nah loh CLBK ets suami gimana tuh Adnan nih Arini selingkuh😄🤣 cakep dah Author nih nulis
Bagus Effendik: ia bilangin tuh Arini sudah punya suami juga🤣🤭👍
total 1 replies
Larasz Ati
nah loh nah loh ketemu mantan
Bagus Effendik: waduh ia hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!