"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJAGA RUMAH SAAT PAHLAWAN PERGI
Suasana di kafe sore itu terasa sangat hangat. Pak Baskoro menyesap kopinya perlahan, matanya yang sarat akan pengalaman menatap Adrian dengan saksama. Sebagai pria yang telah lama malang melintang di dunia profesional dan mengenal Dina sejak gadis itu masih penuh dengan keraguan, Pak Baskoro merasa perlu memastikan bahwa Adrian adalah pelabuhan yang tepat.
"Jadi, bapaknya Dina sudah memberi restu?" tanya Pak Baskoro, suaranya terdengar berat namun penuh kelegaan.
Dina mengangguk pelan, teringat momen singkat namun emosional saat ia dan Adrian menemui ayahnya sebelum ke kantor tadi. Adrian yang bicara, dengan ketegasan seorang prajurit namun tetap menjunjung adab yang tinggi. Ayah Dina, yang biasanya keras dan sulit ditembus, seolah luruh melihat kewibawaan Adrian.
"Sudah, Pak," jawab Adrian mantap. "Meskipun awalnya kaku, beliau akhirnya bisa menerima niat baik saya untuk menjaga Dina di sana."
Pak Baskoro menghela napas panjang, sebuah senyum bangga tersungging di bibirnya. "Baguslah kalau begitu. Mereka itu memang rumit, Din. Bapak tahu betul bagaimana perjuanganmu menghadapi tekanan keluarga selama ini. Tapi Bapak senang... Bapak sangat senang karena akhirnya kamu direstui dengan laki-laki yang punya integritas."
Pak Baskoro kemudian menatap Adrian dengan sungguh-sungguh. "Mas Adrian, Dina ini sudah saya anggap anak sendiri. Dia pekerja keras, dia tulus, tapi dia juga punya banyak luka di masa lalu karena orang-orang yang salah. Saya titip dia. Tolong, jangan buat dia lari lagi. Jadikan kota kecil itu tempat di mana dia benar-benar bisa berhenti mencari arah."
Adrian balas menatap Pak Baskoro tanpa ragu. Genggaman tangannya di bawah meja pada jemari Dina semakin mengerat. "Siap, Pak Baskoro. Saya tidak akan menjanjikan hidup yang tanpa masalah, tapi saya berjanji untuk selalu ada di sampingnya, memastikan dia tidak perlu menghadapi masalah itu sendirian lagi."
Manda yang duduk di sebelah Dina menyeka sudut matanya yang sedikit basah. "Duh, Pak Baskoro... suasana jadi melow begini. Tapi beneran deh, Mas Adrian, jagain sahabat aku ya. Kalau dia sedih sedikit saja, aku bakal terbang ke sana bawa pasukan ibu-ibu kantor!"
Maulana tertawa memecah suasana haru. "Tenang, Lan. Letda Adrian ini punya pasukan beneran, kamu mau bawa pasukan apa? Pasukan tukang gosip kantor?"
Tawa pecah di meja itu. Dina merasakan beban yang selama ini menggelayuti pundaknya benar-benar luruh. Restu dari ayahnya sudah di tangan, pengukuhan dari Pak Baskoro sudah ia dapatkan, dan pengakuan dari sahabat-sahabatnya membuat segalanya terasa lengkap.
Jakarta sore itu tidak lagi terasa panas dan menyesakkan. Bagi Dina, ini adalah kunjungan terakhirnya sebagai "Dina yang lama". Saat ia melangkah keluar dari kafe nanti, ia adalah Dina yang baru—seorang wanita mandiri yang memiliki cinta di sampingnya dan sebuah rumah yang nyata untuk pulang.
Gerbong kereta eksekutif itu terasa tenang, hanya suara gesekan roda besi dengan rel yang mengiringi perjalanan mereka kembali dari Jakarta. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela, memantul di wajah Dina yang tampak jauh lebih tenang. Di sampingnya, Adrian duduk dengan sikap tegap namun santai, sesekali melirik ke arah Dina dengan tatapan yang melindungi.
"Mas nggak akan pernah ninggalin kamu, jadi kamu nggak boleh lagi merasa ditinggalkan," ucap Adrian tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia tahu trauma masa lalu Dina tentang penolakan dan rasa kesepian masih sesekali muncul.
Dina menoleh, tersenyum kecil lalu mengangguk mantap. "Terima kasih, Mas. Aku percaya."
Baru saja suasana menjadi syahdu, tiba-tiba ponsel Adrian yang diletakkan di meja lipat bergetar hebat. Adrian segera meraihnya. Begitu melihat nama di layar, ekspresinya langsung berubah serius. Ia menegakkan punggungnya.
"Siap. Baik, Komandan. Siap, laksanakan!" ucap Adrian tegas.
Setelah mematikan sambungan telepon, Adrian menghela napas panjang dan menatap Dina dengan tatapan meminta maaf. Ada gurat penyesalan di wajahnya karena rencana kepulangan mereka yang tenang harus sedikit terganggu.
"Din, maaf ya. Nanti pas kita sampai, Mas harus langsung ke Kodam. Ada perintah dadakan dari Komandan, sepertinya ada urusan mendesak terkait pengamanan wilayah," ucap Adrian. "Nggak apa-apa kamu pulang ke kosan sendiri? Bawa mobil Mas saja, tapi hati-hati. Antar Mas dulu ke Kodam, ya?"
Dina tertegun sejenak, namun ia segera mengangguk paham. Ia teringat kata-kata Adrian saat mereka latihan menyetir mobil beberapa waktu lalu: Sebagai calon istri tentara, kamu harus mandiri. Mas nggak selalu bisa ada di sampingmu karena tugas negara bisa datang kapan saja.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku sudah lancar kok bawa mobilnya. Tugas Mas lebih penting," jawab Dina dengan nada yang kuat.
Adrian tersenyum bangga, ia mengusap punggung tangan Dina. "Itu yang Mas suka dari kamu. Mentalmu sudah siap. Nanti kalau urusan di Kodam selesai, Mas langsung telepon. Kamu hati-hati ya di jalan raya nanti."
Sesampainya di stasiun tujuan, mereka langsung menuju parkiran asrama tempat mobil Adrian dititipkan. Dina menarik napas panjang saat duduk di kursi pengemudi. Adrian duduk di sampingnya, memberikan beberapa instruksi terakhir tentang rute tercepat menuju Kodam.
Dina mengemudikan mobil SUV hitam itu dengan tenang. Ia melewati jalanan kota kecil yang kini sudah terasa seperti rumah baginya. Di setiap persimpangan, ia mengambil keputusan dengan mantap—sebuah perubahan besar dari Dina yang dulu selalu ragu dan takut salah.
Begitu sampai di depan gerbang Kodam, Adrian bersiap turun. "Mas turun di sini ya. Mobil bawa saja ke kosan, kuncinya pegang kamu. Kalau mau belanja atau ke mana-mana pakai saja, jangan biarkan mesinnya dingin."
"Siap, Pak Letnan!" goda Dina sambil memberi hormat jenaka.
Adrian tertawa, ia mencium kening Dina sekilas sebelum turun. "Hati-hati, Sayang. Sampai ketemu nanti malam."
Dina melihat sosok Adrian yang berjalan tegap memasuki gedung Kodam melalui kaca spion. Ia merasa bangga. Ia tidak lagi merasa kecil atau terabaikan saat pasangannya harus mendahulukan tugas. Ia tahu, meskipun raga Adrian pergi bertugas, hatinya tetap tertambat pada Dina.
Saat ia memutar kemudi menuju arah kosannya, beberapa warga yang melihatnya mengendarai mobil Adrian tampak terkejut namun senang. Bu Ani yang sedang menyiram bunga di depan rumah bahkan sampai melambaikan tangan dengan heboh.
"Wah, Nduk Dina sudah jadi 'Ibu Letnan' beneran ini, sudah jago bawa mobilnya Mas Adrian!" teriak Bu Ani bangga.
Dina hanya tersenyum lebar. Hari ini ia belajar satu hal lagi: kemandirian bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, tapi tentang bagaimana tetap bisa berjalan tegak saat sang pelindung sedang menjalankan kewajibannya.
Senyum Dina yang tadinya merekah karena godaan Bu Ani seketika luruh. Ia baru saja hendak mematikan mesin mobil di depan kosan ketika melihat motor trail Adrian berhenti di belakangnya. Namun, kali ini tidak ada senyum tipis atau tatapan jenaka yang biasanya Adrian berikan.
Adrian melangkah mendekat dengan bahu yang tampak lebih berat dari biasanya. Wajahnya yang tegas terlihat kusam, ada gurat kesedihan yang mendalam di matanya saat ia menatap Dina yang masih duduk di balik kemudi.
"Kenapa, Sayang? Tugasnya berat?" tanya Dina pelan, jantungnya mulai berdegup tidak menentu. Panggilan itu meluncur begitu saja, mencoba memberikan kekuatan pada pria di depannya.
Adrian menarik napas panjang, ia menyandarkan tangannya di pintu mobil yang terbuka. "Sayang... baru saja ada pengumuman mendadak di Kodam. Nama Mas masuk dalam daftar satgas yang akan dikirim ke Papua untuk pengamanan perbatasan."
Dina tertegun. Dunia di sekelilingnya seolah mendadak sunyi. Papua. Itu bukan sekadar tugas di kota sebelah, tapi tugas negara yang penuh risiko dan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan setahun.
"Mas harus berangkat bulan depan," lanjut Adrian dengan suara parau. "Artinya... persiapan pernikahan kita yang sudah kita bicarakan sama Bapak dan Ibu... mungkin harus ditunda sampai Mas pulang."
Dina terdiam. Ia meremas kemudi mobil itu kuat-kuat. Bayangan tentang gaun pengantin, restu Pak Baskoro, dan rumah tangga kecil yang baru saja mulai ia bangun di kepalanya seolah kabur tertutup kabut. Kecewa? Tentu saja. Namun, saat ia melihat mata Adrian, ia tidak melihat seorang pria yang ingin lari, melainkan seorang prajurit yang hatinya sedang terkoyak antara sumpah pada negara dan cintanya pada seorang wanita.
"Mas minta maaf, Sayang. Mas tahu ini nggak adil buat kamu yang baru saja mau mulai hidup tenang," ucap Adrian lirih.
Dina menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar di suaranya. Ia teringat kata-kata Adrian di kereta tadi pagi tentang kemandirian. Ia turun dari mobil, berdiri tepat di depan Adrian, lalu meraih kedua tangan pria itu.
"Sayang," panggil Dina lembut. "Dulu aku lari dari Jakarta karena takut menghadapi masalah sendirian. Tapi sekarang, Mas sudah ajari aku bawa motor, bawa mobil, dan yang paling penting... Mas ajari aku untuk punya harga diri."
Dina menatap mata Adrian dengan mantap. "Kalau negara lebih butuh Mas sekarang, berangkatlah. Mas jangan terbebani soal pernikahan kita. Aku akan tunggu di sini. Aku akan jaga motor Mas, jaga mobil Mas, dan aku akan buktikan kalau pilihan Mas nggak salah. Aku bukan lagi Dina yang lemah."
Mata Adrian berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jawaban Dina akan sekuat itu. Ia menarik Dina ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah tidak ingin melepaskan.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mengerti," bisik Adrian di telinganya. "Mas janji, Mas akan pulang dengan selamat. Mas akan jemput kamu lagi di parkiran kantor, persis seperti biasanya."
Bu Ani yang melihat dari kejauhan tidak lagi menggoda. Ia mengusap air matanya sendiri, merasa bangga sekaligus terharu melihat ketegaran Dina. Di kota kecil ini, cinta mereka sedang diuji oleh jarak dan tugas, namun Dina tahu, kali ini ia tidak akan pernah merasa ditinggalkan lagi.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib