Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baju Kotor Lana dan Mesin Cuci Ajaib
Pagi itu, sinar matahari Jakarta tidak menyengat seperti biasanya, namun udara di dalam penthouse tetap terasa sejuk berkat AC sentral yang tidak pernah mati. Lana berdiri di tengah kamarnya yang luas, menatap tumpukan baju miliknya yang sudah mulai menumpuk di dalam keranjang rotan kecil yang ia bawa dari desa. Ada daster batik kesayangannya, beberapa kaus oblong katun yang sudah agak menipis warnanya, dan handuk kecil yang ia gunakan kemarin.
"Duh, masa Lana harus nunggu asisten rumah tangga itu dateng terus sih?" gumam Lana pelan. "Lana kan masih punya tangan, masih bisa nyuci sendiri. Masa baju kotor aja harus orang lain yang cuciin. Gak enak banget sama Kak Arka."
Dengan tekad bulat, Lana mengangkat keranjang bajunya. Ia berjalan keluar kamar, melintasi ruang tengah yang masih sepi. Ia teringat kata Jeno kemarin kalau ada "ruang cuci" di dekat area dapur kotor. Setelah mencari-cari, Lana menemukan sebuah ruangan kecil yang sangat bersih dengan dinding serba putih.
Namun, alangkah terkejutnya Lana saat ia tidak menemukan satu pun ember, papan gilesan, apalagi sikat cuci. Yang ada hanyalah sebuah kotak logam besar berwarna putih mengilap dengan pintu kaca bulat di bagian tengahnya. Di sampingnya, ada kotak lain yang serupa namun lebih ramping.
"Loh? Kok nggak ada bak airnya? Terus Lana nyucinya di mana?" Lana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia mencoba mencari keran air di sekitar ruangan itu. Nihil. Hanya ada selang-selang yang tersembunyi rapi di balik mesin. Lana mencoba membuka pintu kaca bulat itu. Klik. Pintu itu terbuka, menyingkap sebuah tabung logam berlubang yang sangat bersih dan wangi.
"Ini mungkin tempat simpen baju ya? Tapi kok baunya kayak sabun?" Lana mulai memasukkan baju-bajunya ke dalam tabung itu satu per satu. "Ya sudah, taruh sini dulu aja. Mungkin nanti kalau Lana isi air di sini, dia jadi bak."
Lana kemudian mencari-cari gayung. Karena tidak menemukannya, ia pergi ke dapur dan mengambil sebuah panci kecil. Ia mengisinya dengan air dari wastafel, lalu membawanya kembali ke ruang cuci. Ia hendak menuangkan air itu ke dalam tabung mesin yang sudah berisi bajunya.
"Woi! Lo mau ngapain, Lan? Mau bikin sop baju?"
Suara berat dan tegas itu membuat Lana tersentak kaget. Panci di tangannya goyah, airnya tumpah sedikit ke lantai marmer. Di ambang pintu, berdiri Gaza. Ia masih mengenakan kaos olahraga hitam yang ketat, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang liat, dan celana pendek lari. Keringat masih bercucuran di pelipisnya, menandakan ia baru saja selesai jogging di gym pribadi lantai bawah.
"Eh, Kak Gaza... Maafin Lana, Kak. Lana cuma mau nyuci baju. Tapi di sini nggak ada ember, jadi Lana mau isi air pakai panci," jawab Lana polos, wajahnya memucat karena takut dimarahi oleh sang polisi.
Gaza menatap panci di tangan Lana, lalu menatap mesin cuci seharga puluhan juta di depannya. Ia menghela napas panjang, mencoba menahan tawa yang hampir meledak. Ia berjalan mendekati Lana, langkahnya tegap dan berwibawa.
"Gila, lo beneran mau tuang air ke situ manual?" tanya Gaza sambil merebut panci dari tangan Lana dan meletakkannya di atas meja setrika. "Gak asik banget kalau mesin ini korslet gara-gara lo siram pakai panci, Lan. Bisa-bisa gue yang kena semprot Arka."
"Habisnya... Lana bingung, Kak. Nggak ada ember sama sekali. Masa nyucinya di wastafel?" bisik Lana sedih.
Gaza menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berdiri tepat di depan mesin cuci itu, membelakangi Lana. "Sini lo, deketan. Liat nih, ini namanya mesin cuci front load otomatis. Lo nggak perlu ember, nggak perlu gilesan, apalagi capek-capek nyikat sampai tangan lo kasar."
Gaza menarik tangan Lana agar berdiri di sampingnya. Ruangan cuci yang sempit itu membuat bahu mereka bersentuhan. Lana bisa merasakan panas tubuh Gaza yang baru selesai olahraga dan aroma keringatnya yang maskulin, bercampur dengan aroma sabun cuci yang segar.
"Liat tangan gue," perintah Gaza.
Gaza membuka sebuah laci kecil di bagian atas mesin. "Ini tempat sabunnya. Lo tuang detergen cair di sini, jangan kebanyakan. Kalau kebanyakan, busanya bisa luber kayak pesta foam di Bali, nyet."
Lana mengangguk-angguk, matanya memperhatikan setiap gerakan tangan Gaza yang cekatan. "Iya, Kak Gaza. Terus airnya gimana?"
"Airnya udah otomatis dari selang di belakang, Lan. Lo tinggal tekan tombol ini," Gaza membimbing jari telunjuk Lana untuk menekan tombol Power. Layar digital kecil di mesin itu menyala dengan angka-angka yang berkedip. "Terus lo pilih modenya. Karena baju lo kebanyakan katun biasa, pilih yang 'Daily Wash' aja. Gak usah pakai yang aneh-aneh."
Gaza kemudian melakukan sesuatu yang membuat jantung Lana berdegup kencang. Ia berdiri di belakang Lana, melingkarkan lengannya untuk menjangkau tombol putar di mesin, sehingga Lana seolah-olah sedang dipeluk dari belakang oleh tubuh besar sang polisi.
"Nah, sekarang tekan Start," bisik Gaza tepat di telinga Lana. Suaranya yang rendah terasa menggetarkan.
Lana menekan tombol itu. Mesin cuci mulai mengeluarkan suara air yang mengalir deras masuk ke dalam tabung. Tabung itu mulai berputar perlahan, membolak-balikkan daster dan kaus Lana di dalamnya.
"Wah! Dia muter sendiri, Kak! Terus dia ngeremes bajunya juga?" tanya Lana takjub, matanya berbinar melihat keajaiban teknologi itu.
"Iya, Lan. Dia bakal muter, ngeremes, bilas, sampai ngeringin sendiri. Lo tinggal duduk manis aja, nunggu dia bunyi 'tit-tit' baru lo pindahin ke mesin sebelah buat dikeringin total," jelas Gaza. Ia masih tidak melepaskan posisinya yang mendekap Lana dari belakang. Ia seolah menikmati aroma rambut Lana yang masih wangi melati pemberian Kenzo kemarin.
Gaza menunduk, menatap profil samping wajah Lana. "Tangan lo itu kecil, Lan. Jangan dibiasain nyikat baju manual kayak di desa lagi. Nanti kalau tangan lo luka atau kasar, gue yang nggak tega liatnya. Ngerti nggak lo?"
Lana menoleh sedikit, membuat hidungnya hampir bersentuhan dengan pipi Gaza. "Iya, Kak Gaza. Makasih ya udah baik banget mau ngajarin Lana. Lana seneng banget punya kakak kayak Kak Gaza yang kuat dan pinter."
Gaza tertegun mendengar kata "Kakak" dan "Kuat" dari bibir Lana. Ia berdeham keras, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya. Ia melepaskan dekapannya dan berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada, mencoba kembali ke mode polisinya yang tegas.
"Yaudah, jangan manja lo. Belajar yang bener biar nggak dibegoin sama mesin terus," ucap Gaza dengan bahasa "Gue-Lo" yang khas, namun ada senyum tipis yang ia sembunyikan. "Sekarang lo ikut gue ke depan. Gue laper, temenin gue makan roti kek, atau apa gitu. Jangan di sini mulu, ntar lo malah mau nyemplung ke dalem mesin lagi."
Lana tertawa kecil, suara tawa yang jernih dan tulus. "Iya, Kak Gaza! Lana temenin. Kak Gaza mau Lana buatin teh manis juga nggak?"
"Boleh deh, asal jangan lo campur air kolam ya," ledek Gaza sambil mengacak rambut Lana pelan, sebuah tindakan yang ia curi dari kebiasaan Arka.
Saat mereka berjalan menuju ruang makan, mereka berpapasan dengan Jeno yang baru keluar dari kamar dengan wajah mengantuk dan hanya memakai celana pendek.
"Eh, Pak Polisi! Pagi-pagi udah modus aja lo di ruang cuci," celetuk Jeno sambil menguap lebar. "Gak asik banget lo, Gaz. Jatah gue kapan nih ngajakin Lana main game?"
Gaza melirik Jeno dengan tajam, tatapan yang biasa ia gunakan saat menginterogasi tersangka. "Berisik lo, bocah E-Sport. Sana mandi, bau lo sampe sini tau nggak. Lana mau nemenin gue makan, jangan lo ganggu."
Jeno hanya tertawa mengejek. "Dih, galak amat. Selow kali, Gaz. Lana kan milik bersama, ya nggak, Lan?"
Lana hanya tersenyum bingung, tidak mengerti apa maksud perkataan Jeno. "Lana milik Ibu sama Bapak di desa, Kak Jeno."
Mendengar jawaban polos itu, Gaza tertawa kecil sementara Jeno hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. "Terserah lo deh, Lan. Polos lo emang nggak ada obatnya."
Lana berjalan menuju dapur dengan perasaan riang. Baginya, mesin cuci ajaib itu adalah bukti betapa mudahnya hidup di kota jika ada kakak-kakak yang baik hati seperti Gaza yang bersedia membimbingnya. Ia tidak sadar bahwa bagi Gaza, momen di ruang cuci tadi adalah salah satu momen paling mendebarkan dalam karirnya sebagai seorang polisi—lebih mendebarkan daripada mengejar buronan kelas kakap sekalipun.