NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Suara isak tangis Gea dan teriakan histeris Mama Shinta sayup-sayup menghilang di balik pintu besar ballroom, namun satu orang tertinggal. Jayden.

Pria itu berhasil melepaskan diri dari kawalan petugas dan berlari mendekati panggung tempat Ambar dan Baskara berada.

Jayden jatuh bertumpu pada kedua lututnya di hadapan Ambar.

Wajahnya yang tadi begitu angkuh kini basah oleh keringat dan air mata kecemasan.

"Ambar! Tolong, hentikan semua ini!" seru Jayden dengan suara gemetar.

Ia mencoba meraih ujung gaun Ambar, namun tatapan tajam dari pengawal Baskara membuatnya mengurungkan niat.

"Aku tahu aku salah. Aku khilaf, Ambar. Aku menikahi Gea hanya karena tekanan dari papamu!"

Baskara menyandarkan punggungnya di kursi roda, melipat tangan di dada dengan ekspresi bosan, seolah sedang menonton pertunjukan komedi murahan.

"Ambar, dengarkan aku," lanjut Jayden, suaranya naik satu nada, penuh keputusasaan.

"Aku masih mencintaimu, Ambar! Hanya kamu wanita yang benar-benar ada di hatiku. Kembalilah padaku, kita bisa mulai dari awal. Aku akan menceraikan Gea malam ini juga!"

Keheningan sesaat menyelimuti area panggung. Ambar menatap Jayden dari atas ke bawah, memperhatikan pria yang dulu ia puja itu kini tampak begitu menjijikkan di matanya.

Tiba-tiba, sebuah suara tawa pecah.

"Hahaha! Hahahahahaha!"

Ambar tertawa terbahak-bahak. Tawanya begitu lepas, menggema di seluruh sudut ballroom yang sunyi.

Ia tertawa hingga bahunya berguncang, seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling lucu di muka bumi.

Baskara hanya tersenyum tipis, menikmati setiap detik kemenangan istrinya.

Ambar menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.

Ia menunduk, menatap Jayden dengan tatapan dingin yang menghujam.

"Cinta?" ulang Ambar dengan nada mengejek yang sangat kental.

"Kamu bilang cinta, Jayden?"

Ambar melangkah satu tindak maju ke tepi panggung.

"Cinta macam apa yang kau bicarakan? Apakah cinta yang membuatmu membiarkan aku diusir di tengah hujan badai? Ataukah cinta yang membuatmu diam saja saat ayahku menyulut rokok di punggungku?"

Ambar menunjuk ke arah pintu keluar. "Kamu mencintai aset Mahendra, Jayden. Kamu mencintai kekuasaan yang sekarang aku miliki. Kamu tidak pernah mencintai Ambar yang 'kuno' itu."

Baskara berdehem pelan, lalu menatap Jayden dengan sorot mata predator.

"Jayden, kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari seorang pria? Bukan saat dia miskin, tapi saat dia kehilangan harga dirinya untuk mengemis pada wanita yang sudah dia buang."

Baskara menekan tombol di kursi rodanya untuk berbalik.

"Sayangnya, Ambar Mahendra tidak menerima barang bekas. Terutama barang bekas yang sudah cacat moralnya."

"Petugas!" seru Ambar dengan nada memerintah.

"Seret pria ini keluar. Dia merusak pemandangan indah di malam pernikahanku."

Jayden berteriak memanggil nama Ambar saat dua pengawal besar menyeretnya keluar dari aula, meninggalkan Ambar yang kini berdiri tegak di samping suaminya—pria yang jauh lebih "berdiri tegak" meski berada di kursi roda.

Setelah Jayden diseret keluar dengan hina, suasana ballroom yang tadinya tegang perlahan mencair.

Baskara meraih mikrofon peraknya, suaranya kembali tenang namun tetap berwibawa, menggema ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi tokoh-tokoh paling berpengaruh di negeri ini.

"Para tamu yang terhormat," ucap Baskara sambil menggenggam tangan Ambar di hadapan semua orang.

"Drama kecil tadi hanyalah pembersihan sebelum kita memulai perayaan yang sesungguhnya. Saya tidak ingin noda sekecil apa pun mengotori malam indah istri saya. Silakan, nikmati hidangan terbaik yang telah kami siapkan. Malam ini adalah malam kemenangan cinta dan keadilan."

Musik orkestra kembali mengalun merdu, pelayan-pelayan berseragam rapi mulai keluar membawa hidangan fine dining kelas dunia.

Para tamu mulai berbaur, namun bisik-bisik kekaguman mereka terhadap Ambar dan ketakutan mereka terhadap Baskara tidak berhenti begitu saja.

Sementara itu, di area parkir luar hotel yang dingin, pemandangan kontras terjadi. Hendra, Shinta, dan Gea berdiri mematung di samping mobil mewah mereka yang kini ditempeli stiker merah bertuliskan "DALAM PENGAWASAN KURATOR - DISITA".

Jayden yang baru saja dilemparkan keluar oleh pengawal, jatuh tersungkur di aspal tepat di depan kaki Hendra.

Pakaian tuksedonya yang mahal kini kotor dan berantakan.

"Pa, bagaimana ini? Mereka mengambil kunci mobilnya," isak Gea sambil memegang gaun pengantinnya yang kini terasa seperti kain perca murahan.

"Kita pulang pakai apa?"

Hendra tidak menjawab. Matanya kosong, menatap gedung hotel megah itu dengan tangan gemetar.

Ia baru saja menyadari bahwa dalam satu jam, ia kehilangan segalanya: perusahaan, rumah, martabat, dan putri yang selama ini ia injak-injak namun ternyata adalah satu-satunya tiket keselamatannya.

"Ini semua karena kamu, Jayden!" teriak Shinta tiba-tiba, memukul bahu menantunya itu.

"Kalau saja kamu tidak membujuk kami untuk membuang Ambar secepat itu, kita tidak akan sehancur ini!"

Jayden hanya diam membisu. Ia menatap tangannya yang tadi mencoba mengemis pada Ambar.

Rasa malu dan penyesalan mulai menggerogoti jiwanya, namun ia tahu itu sudah terlambat.

Di atas sana, di lantai dansa yang hangat, Ambar sedang tersenyum dalam pelukan pria yang jauh lebih berkuasa darinya.

Di dalam ballroom, Baskara mengajak Ambar ke tepi panggung yang lebih tenang.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Ambar," bisik Baskara.

"Lihat mereka dari sini, mereka terlihat begitu kecil, bukan?"

Ambar menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan keributan kecil di area parkir bawah.

Ia menarik napas panjang, merasa beban berat di punggungnya—baik beban mental maupun rasa sakit dari luka bakar itu—seolah terangkat sebagian.

"Terima kasih, Bas. Kamu benar, mereka tidak lagi punya kuasa untuk menyakitiku," sahut Ambar lembut.

Baskara tersenyum penuh arti. "Pesta ini baru dimulai, Sayang. Besok pagi, kau akan bangun di rumah yang dulu mereka banggakan, tapi dengan nama Ambar Mahendra di sertifikatnya. Apakah kamu siap untuk melihat wajah mereka saat mereka harus mengemasi barang-barang mereka besok pagi?"

Di atas panggung yang megah, Ambar menganggukkan kepalanya dengan anggun setiap kali ada tamu penting yang menghampiri untuk memberikan ucapan selamat.

Senyumnya kini tampak tulus, bukan lagi senyum yang dipaksakan seperti saat ia masih berada di bawah bayang-bayang keluarga Wijaya.

Satu per satu klien besar Mahendra Corp menyalami Baskara dan Ambar.

"Selamat, Tuan Baskara. Pilihan Anda sungguh luar biasa. Nyonya Ambar adalah definisi kecantikan dan ketegasan yang sempurna," puji salah satu kolega bisnis dari luar negeri.

Namun, di sudut ballroom yang remang-remang, suasana terasa jauh lebih panas.

Seorang pria paruh baya, musuh bebuyutan Baskara di dunia bisnis, mencengkeram erat gelas kristal di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Matanya menatap tajam ke arah panggung dengan penuh kebencian.

"Baskara, kamu tidak hanya mendapatkan kembali kejayaanmu, tapi kamu juga mendapatkan pelindung baru yang mematikan," desisnya rendah.

Tak jauh dari sana, seorang wanita cantik dengan gaun perak yang sangat terbuka berdiri mematung.

Dia adalah mantan kekasih Baskara yang dulu meninggalkan pria itu tepat setelah kecelakaan yang membuat Baskara lumpuh.

Wanita itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, matanya memerah karena amarah dan rasa tidak percaya.

"Tidak mungkin. Seharusnya Baskara hancur! Harusnya dia memohon padaku untuk kembali!" bisiknya dengan suara bergetar.

Ia menatap Ambar dari kejauhan, merasa harga dirinya diinjak-injak melihat wanita yang dianggapnya 'gadis rumahan' itu kini menduduki posisi yang dulu ia buang.

Ia tidak terima melihat Baskara menatap Ambar dengan binar mata yang tidak pernah pria itu berikan padanya dulu.

Rasa iri mulai meracuni hatinya, menciptakan rencana baru yang licik di kepalanya.

Baskara, yang menyadari adanya tatapan-tatapan penuh kebencian dari arah sudut ruangan, justru semakin erat menggenggam tangan Ambar.

Ia berbisik pelan di telinga istrinya, "Abaikan lalat-lalat itu, Ambar. Malam ini hanya milik kita. Dan besok, kita akan pastikan mereka semua tahu bahwa Mahendra yang sekarang jauh lebih berbahaya dari yang dulu."

Ambar menoleh, menatap mata suaminya yang penuh keyakinan.

"Aku tidak takut pada mereka, Bas. Selama aku di sampingmu, mereka hanyalah penonton dari kesuksesan kita."

1
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
tiara
ga sabar liat reaksi keluarga Wijaya di hari pernikahan Baskara,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!