NovelToon NovelToon
Datanglah Padaku

Datanglah Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: vennyrosmalia

Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.

Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.

Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4

Pagi hari datang.

Vania yang sudah mandi dan rapi segera menuju dapur. Rumah ini memiliki dua lantai dan Vania merasa rumah ini cukup besar dan mewah untuknya.

Begitu sampai di dapur, Vania melihat persediaan makanan sama sekali belum ada. Wajar saja, mereka baru saja sampai di Negara ini dan belum berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Ting.tong Ting.tong

Vania mengerutkan kening saat bel rumah berbunyi. Dia segera melangkah menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang di pagi hari saat dirinya dan keluarganya baru saja tiba di Negara ini.

Begitu membuka pintu, Vania melihat seorang laki-laki pengantar paket yang membawa beberapa barang ditangannya.

(Ceritanya pake bahasa asing ya, tapi author pakein bahasa kita hehe)

"Permisi Nyonya, saya mau mengantarkan barang." ucap lelaki itu.

"Tapi maaf, saya tidak memesan barang apapun?" jawab Vania.

Tentu Vania bingung, mereka baru juga sampai dan belum melakukan pemesanan barang apapun disana.

"Oh semua ini pesanan atas nama Ibu Irene dikirim untuk Pa Satria, benar ini kediamannya kan?" jelas lelaki itu.

"Irene." gumam Vania.

Itu nama atasan suaminya yang tempo hari bertemu dengannya. Vania kemudian berfikir jika ini juga termasuk fasilitas dari perusahaan tempat suaminya bekerja.

"Nyonya." tegur lelaki itu saat Vania justru diam saja.

"Ahh iya ini kediaman Pa Satria." jawab Vania cepat.

Kemudian lelaki itu menyodorkan kertas tanda terima barang untuk di tanda tangani. Setelah Vania menandatanganinya, barang yang cukup banyak itu dibantu pengirim untuk di letakan di dalam rumah.

"Kalau begitu saya permisi Nyonya." pamit lelaki itu setelah selesai memasukan semua barangnya.

"Iya sekali lagi terima kasih." ungkap Vania.

.

.

Selesai merapikan barang-barang yang ternyata berisi kebutuhan pangan dan yang lainnya, Vania segera menuju kamar Resa untuk membangunkan putranya.

Satria sendiri, Vania sudah jarang sekali membangunkan suaminya itu karena memang Satria selalu bangun tepat waktu saat akan pergi bekerja.

"Bunda, kamar Resa bagus ya." ucap Resa setelah selesai mandi dan berganti pakaian.

Vania mengangguk dan tersenyum. Dia juga meneliti ke sekeliling kamar Resa yang di design dengan banyak animasi anak. Bahkan ada beberapa mainan juga yang sudah terpajang disana.

"Ayo kita turun dan buat sarapan." ajak Vania.

"Oke Bunda."

Keluar dari kamar, bertepatan dengan Satria yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Vania kira Satria tidak akan langsung pergi bekerja di hari pertama mereka pindah.

"Loh Mas, sudah mau pergi kerja?" tanya Vania.

"Iya, aku harus pergi ke perusahaan hari ini juga." jawab Satria singkat sambil merapikan dasi yang tersampir di leher kemejanya.

"Tapi aku belum menyiapkan sarapan Mas."

Vania memang belum menyiapkan sarapan karena dia fikir Satria tidak akan pergi bekerja.

"Tidak apa-apa. Aku akan sarapan di Kantor saja."

Vania mengangguk paham, kemudian Vania mengantar suaminya sampai ke depan rumah.

Satria berpamitan pada putranya Resa dan tidak lupa mengecup kening Resa. Vania tersenyum melihat pemandangan itu. Namun dia juga sedikit kecewa karena hanya Resa yang diperhatikan oleh suaminya.

Satria pergi begitu saja setelah berpamitan pada Resa tanpa berkata apapun padanya, apalagi memberikan ciuman di kening untuk Vania juga.

"Apa aku tidak semenarik itu untuk kamu lihat Mas." ucap Vania dalam hati.

Vania menelisik penampilannya. Menurutnya dia masih terlihat cantik dan rapi, sebab Vania selalu berusaha untuk tetap menjaga penampilannya agar suaminya bisa kembali memperhatikannya.

Namun sepertinya hal itu tidak terlihat oleh Satria atau memang karena Vania sudah tidak menarik di mata suaminya itu. Entahlah Vania juga tidak mau ambil pusing dengan hal itu, yang terpenting Satria tidak berkhianat darinya.

"Bunda, ayo aku lapar." ajakan Resa menyadarkan Vania dari lamunannya.

"Oke sayang, ayo kita buat sarapan."

.

.

Perusahaan ALX company.

Nathan sudah tiba di perusahaan. Bram dengan setia berjalan di belakangnya sembari menjawab beberapa sapaan karyawan lain yang sebenarnya ditujukan untuk CEO mereka Nathan Alexander.

Tapi karena Nathan yang selalu dingin, maka Bram berinisiatif untuk merespon sapaan setiap karyawan yang menyapa mereka.

Begitu sampai di lift, Nathan justru mencibir tingkah asistennya itu yang menurutnya tebar pesona terutama pada beberapa karyawan wanita.

"Kau sibuk sekali membalas sapaan mereka." ketus Nathan.

"Bos, aku itu sedang berusaha menjaga nama baik anda agar karyawan tidak menganggap anda sebagai Bos yang sombong." jelas Bram.

Memang itu tujuan Bram membalas sapaan karyawannya. Sebab tidak jarang dia mendengar jika para karyawan merasa tidak nyaman bekerja dengan sikap Nathan yang dingin.

"Ck, aku begini agar mereka segan." ujar Nathan mebela diri.

"Bos, mereka akan lebih segan kalau anda bisa lebih menghargai keberadaan mereka di perusahaan." jawab Bram.

"Kau ini bisa saja menjawab perkataanku."

Ting.

Lift sudah sampai di lantai teratas. Nathan dan Bram segera melangkah menuju ruangan CEO. Di kursi sekretaris sudah berdiri wanita cantik bernama Alice.

"Selamat pagi Tuan Nathan, Tuan Bram." sapa Alice sambil membungkukan sedikit tubuhnya.

"Pagi Alice." bukan Nathan yang menjawab, tentu saja Bram.

"Siapkan jadwal meeting nanti dan beri kabar pada semua direktur." titah Nathan sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.

Namun Alice segera menahan kepergian Nathan yang akan masuk ke ruangan.

"Tuan Nathan, maaf. Di dalam ada Nona Irene." ucapan Alice menghentikan langkahnya.

Bram juga melototkan kedua matanya mendengar kabar itu. Dia bahkan memberi kode dengan melototkan kedua matanya pada Alice seolah berkata.

"Kenapa kau izinkan orang itu masuk."

Alice yang paham segera membungkuk dan meminta maaf pada Natha juga Bram.

"Maaf Tuan, saya sudah berusaha melarang, tapi Nona Irene mengancam." tutur Alice penuh sesal.

Nathan menghela nafas dengan kasar. Kemudian dia kembali melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangannya.

......................

1
Indah Tuk Di Kenang
sakitya thorrr liat satria bahagia 😭😭semangat up therusss thorrr👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!