Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar yang Membusuk di Tanah Malang
Lantai marmer Bandara Juanda terasa dingin di bawah langkah sepatu kulit Adnan yang tegas. Di pintu kedatangan, Jo sudah berdiri sigap dengan setelan gelapnya yang rapi, memegang kunci mobil dengan sikap hormat yang konstan. Begitu melihat tuannya muncul, Jo segera mengambil alih tas kantor Adnan.
"Selamat datang kembali, Pak," sapa Jo rendah.
Mereka berjalan menuju area parkir VIP di mana sebuah sedan hitam mewah sudah menunggu. Suasana di dalam mobil hening sesaat setelah pintu ditutup. Hanya menyisakan deru halus AC yang mulai mendinginkan kabin.
"Apakah saya perlu memberi tahu Ibu Arini mengenai kepulangan Bapak?" tanya Jo sambil melirik spion tengah. "Atau saya langsung arahkan ke rumah?"
Adnan menatap keluar jendela, memerhatikan kesibukan bandara yang mulai menjauh. Wajahnya datar, nyaris tanpa emosi. Namun ada kilat dingin di matanya, "Tidak perlu, biarkan saja. Biarkan merpati itu terbang sebebas-bebasnya, Jo. Biarkan dia lupa di mana letak batasannya sendiri."
Adnan menyandarkan kepalanya, jemarinya kembali mengusap cincin pernikahannya. Namun kali ini gerakannya terasa mekanis. Seolah benda itu tidak lagi memiliki arti sakral.
"Ke Malang, Jo. Kita ke kediaman mertua saya sekarang juga."
Jo mengangguk patuh tanpa banyak tanya. Mobil pun melaju membelah jalan tol menuju arah selatan. Menuju ke arah sebuah desa asri tepian kota di area kecamatan Pujon bernama desa Ngabab.
Selama perjalanan, Adnan lebih banyak diam. Di dalam benaknya, rasa cintanya pada Arini yang dulu begitu menggebu kini perlahan mulai mati rasa. Berganti dengan kekosongan yang menyesakkan.

Satu setengah jam kemudian, udara sejuk khas Malang mulai menyapa saat mobil memasuki kawasan perumahan asri yang dipenuhi pepohonan besar. Rumah mertua Adnan berdiri anggun dengan arsitektur klasik yang terawat. Begitu sampai, Adnan meminta Jo untuk menunggu di depan, sementara ia melangkah masuk melalui gerbang samping yang biasanya terbuka.
Di sana, di sebuah kebun sayur kecil yang tertata rapi di samping rumah, ia melihat sosok pria tua yang masih tampak bugar. Pak Hendrawan, ayah mertua Adnan, sedang berjongkok memangkas beberapa helai daun bayam organik dengan gunting tanaman.
"Ayah," panggil Adnan dengan nada sopan yang tak pernah hilang, meski hatinya sedang berkecamuk.
Pria tua itu menoleh, lalu tersenyum lebar hingga kerutan di sudut matanya terlihat jelas, "Loh, Adnan! Kamu sudah sampai? Ayah pikir baru besok."
Adnan mendekat, menyalami tangan mertuanya dengan takzim. Lalu menyodorkan sebuah bingkisan berisi kue-kue premium dari Jakarta.
"Tadi pesawatnya lebih awal, Yah. Ini ada sedikit oleh-oleh untuk Ibu."
"Wah, merepotkan saja kamu ini. Mari, mari duduk. Ibu sedang ke pasar, sebentar lagi pulang," ajak Pak Hendrawan sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.
"Kebun ini makin subur, Nan. Lihat ini, sawinya sudah siap panen."
Adnan tertawa kecil, tawa yang sopan namun terasa tipis, "Ayah memang tangannya dingin kalau urusan tanaman. Padahal tanah di sini tidak mudah diolah."
Mereka kemudian duduk di teras kecil samping rumah yang menghadap langsung ke kebun. Tak lama kemudian, asisten rumah tangga membawakan dua cangkir kopi hitam mengepul dan sepiring pisang goreng hangat yang aromanya menggugah selera.
Suasana sempat hening sejenak. Hanya ada suara kicauan burung dan gesekan daun ditiup angin sore. Pak Hendrawan menyesap kopinya. Lalu menatap Adnan dengan tatapan yang mendalam. Tatapan seorang ayah yang menyimpan beban besar.
"Adnan," mulai Pak Hendrawan, suaranya memberat.
“Terima kasih sudah datang sendirian seperti permintaan Ayah. Ayah tidak tahu harus mulai dari mana, tapi Ayah merasa kamu berhak tahu sebelum semuanya menjadi semakin terlambat."
Adnan meletakkan cangkir kopinya, matanya lurus menatap mertuanya, "Tentang Arini, Yah?"
Pak Hendrawan mengangguk lemah, “Tentang masa lalu yang belum benar-benar selesai. Kamu tahu tentang Bagaskara, kan? Laki-laki itu. Dia adalah luka lama Arini. Dulu Arini cinta mati padanya, tapi Ayah tidak pernah setuju. Bagas itu sombong, berjiwa bebas yang liar, dan jujur saja, dia playboy." Adnan mendengarkan dalam diam, rahangnya mengeras pelan.
"Petaka itu terjadi empat tahun lalu, setahun sebelum kamu datang melamar," lanjut Pak Hendrawan dengan suara yang bergetar.
"Arini sempat kalut, hampir gila. Dia menyembunyikan kehamilannya selama tiga bulan dari Ayah dan Ibu. Saat itu dia sedang hancur karena Bagas meninggalkannya begitu saja untuk proyek di luar negeri."
Jantung Adnan seolah berhenti berdetak. Hamil?
"Tapi Tuhan punya jalan lain. Arini keguguran karena depresi berat. Dia bahkan hampir mencoba bunuh diri di paviliun belakang," Pak Hendrawan mengusap wajahnya yang tampak sangat lelah.
"Pengakuannya saat itu dia bilang dijebak. Suatu malam mereka berkumpul, Arini dibuat mabuk, lalu ditiduri oleh pria itu di sebuah hotel. Arini sangat malu, sangat hancur. Ayah pikir, dengan menikahi pria hebat sepertimu. Masa lalunya akan terkubur. Tapi Ayah salah, Nan. Luka itu ternyata belum kering."
Adnan merasa dunianya seolah jungkir balik. Informasi ini jauh lebih mengerikan daripada laporan perselingkuhan yang ia terima dari Jo. Istrinya wanita yang ia puja sebagai sosok suci. Pernah mengandung anak pria lain dan menyembunyikan noda sebesar itu darinya selama tiga tahun pernikahan.
Menjelang sore, saat langit Malang mulai berubah menjadi jingga kemerahan, Adnan berpamitan. Ia mencium tangan mertuanya, namun kali ini dengan perasaan yang sangat berbeda.
"Terima kasih sudah jujur, Yah," ucap Adnan lirih sebelum melangkah pergi.
“Oh ya Adnan, sebelum usiaku ini benar-benar habis. Karena penyakit yang selama ini aku derita dan mungkin juga tak lama lagi. Ayah hanya meminta satu permintaan. Berilah maafmu sekali saja, beri Arini waktu sekali lagi, sekali lagi untuk berubah. Bila kesempatan sekali lagi yang kau berikan lolos. Maka Ayah menyerahkan keputusannya ada padamu,” ucap Pak Hendrawan tersenyum kecil.
“Baik Pak ini janjiku sebagai laki-laki dan hanya di antara kita. Antara laki-laki dengan laki-laki. Aku akan memberi kesempatan Arini sekali lagi. Walau kali ini aku harus menghadapi kehancuran hatiku yang sangat fatal,” jawab Adnan penuh makna tersirat.
Di depan gerbang, Jo sudah siap membukakan pintu mobil. Saat mobil mulai melaju kembali menuju Surabaya, Adnan menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Pandangannya kosong menatap lampu-lampu jalan yang mulai menyala.
Hati Adnan yang tadinya sudah membeku dan siap menghancurkan Arini. Kini mulai mencair secara aneh. Ada rasa benci yang mendalam.
Namun ada juga rasa kasihan yang mencuat dari celah-celah amarahnya. Ia bimbang haruskah ia menghancurkan Arini.
Sekalian sebagai pembalasan atas kebohongan besar ini? Ataukah ia harus mempertahankan pernikahan ini. Sebagai bentuk belas kasihan pada wanita yang sebenarnya sudah hancur sejak lama?
"Ke mana kita, Pak?" tanya Jo memecah lamunan.
Adnan menghela napas panjang, menatap cincin di jarinya yang kini terasa sangat berat, "Kembali ke Surabaya, Jo. Aku harus melihat wajahnya sekali lagi sebelum aku mengambil keputusan terakhir."
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...