NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Strategi Penjemputan Paksa

Lampu di paviliun sayap kanan—yang kini sepenuhnya berubah menjadi studio musik dan kerja Daisy—masih menyala terang benderang meski jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang hari. Suara dentum bass yang rendah dan repetitif terdengar samar hingga ke lorong utama, menandakan bahwa sang penghuninya sedang berada dalam fase trance kreatif yang berbahaya.

Di markas militer, Matthew von Eisenberg berdiri di depan meja jati besarnya. Di tangannya bukan lagi laporan perang, melainkan tablet tipis yang menampilkan laporan dari kepala pelayan:

“Nyonya Muda melewatkan makan siang. Pelayan melaporkan hanya ada sisa tiga cangkir kopi hitam kosong di meja depan studio.”

Matthew meremas tablet itu. Rahangnya mengeras. Sifat kaku dan disiplin militernya bergejolak. Baginya, mengabaikan kesehatan fisik adalah bentuk kelalaian fatal. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang mencubit ulu hatinya—ketakutan bahwa jika ia masuk, Daisy akan merasa privasinya diinvasi.

Tapi, laporan terakhir membuatnya meledak: “Nyonya Muda terlihat pucat saat terlihat dari jendela studio.”

"Cukup," geram Matthew.

Ia melangkah keluar dan segera menyuruh sopirnya untuk menuju kediaman Eisenberg Manor. Sesampainya disana, bot militernya yang berat sengaja ia hentakkan di lantai marmer, menciptakan gema yang mengancam di keheningan malam. Ia tidak peduli jika Daisy mendengarnya. Ia melintasi lorong penghubung dengan langkah panjang dan cepat, jubah militernya yang berwarna hitam berkibar di belakangnya seperti sayap gagak.

Di dalam studio, Daisy sedang duduk meringkuk di kursi ergonomisnya. Matanya yang cokelat madu tampak merah karena kelelahan, menatap tajam ke deretan gelombang suara di monitor. Ia sedang berada di titik krusial aransemen lagu barunya. Perutnya memang perih, kepalanya sedikit berdenyut, tapi egonya sebagai seniman melarangnya berhenti sebelum melodi ini sempurna.

Tiba-tiba, pintu studio yang terkunci secara elektronik terbuka dengan paksa. Matthew memiliki kode akses darurat ke seluruh sudut manor, dan ia menggunakannya malam ini.

Daisy tersentak, hampir terjatuh dari kursinya. Ia menoleh dengan tatapan tajam. "Jenderal! Apa-apaan Anda? Ini ruang pribadiku!"

Matthew tidak menjawab. Ia berdiri di ambang pintu, sosoknya yang setinggi 190 cm tampak memenuhi ruangan. Wajahnya datar, seolah ia sedang menghadapi prajurit yang melanggar aturan baris-berbaris. Matanya menyapu ruangan—kertas-kertas berserakan, kabel melintang, dan Daisy yang tampak sangat mungil serta rapuh di tengah kekacauan itu.

"Keluar," perintah Matthew. Suaranya rendah, bergetar dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.

"Saya sedang bekerja! Anda tidak bisa masuk begitu saja dan—"

"Kau belum makan selama tujuh jam, Daisy," potong Matthew. Ia melangkah maju, mendekati meja kerja Daisy. "Wajahmu sudah seperti kertas yang mau pecah. Berhenti sekarang atau aku yang menghentikannya."

Daisy berdiri, meski kakinya sedikit goyah. "Ini hidupku! Ini duniaku! Anda tidak punya hak mengatur jam makanku seolah aku adalah anak buahmu di perbatasan!"

Sifat keras kepala Daisy bertemu dengan kekakuan Matthew. Daisy menatap mata dark blue suaminya dengan penuh tantangan. Ia tidak akan menyerah. Ia ingin Matthew tahu bahwa dia bukan lagi pajangan yang bisa diperintah-perintah.

"Aku tidak sedang bernegosiasi, Daisy," ucap Matthew dingin.

"Saya tetap di sini!"

Dalam sekejap, sebelum Daisy sempat bereaksi, Matthew melakukan gerakan yang sangat efisien—gerakan yang biasa digunakan untuk mengamankan tawanan atau rekan yang terluka di medan tempur.

Tanpa peringatan, Matthew membungkuk. Satu tangannya melingkari pinggang Daisy, sementara tangan lainnya menahan kakinya. Dengan satu sentakan kuat, ia mengangkat Daisy ke atas bahu kanannya.

"Jenderal! Lepaskan! Apa yang Anda lakukan?!" Teriak Daisy.

Matthew tidak memedulikan protes istrinya. Ia memanggul Daisy seperti memanggul karung beras atau peralatan logistik militer. Posisi Daisy terbalik, kepalanya menghadap ke punggung Matthew, sementara kakinya bergelantungan di depan dada suaminya yang bidang.

"Diamlah jika kau tidak ingin kepalamu terbentur pintu," ucap Matthew datar.

"Anda keterlaluan! Turunkan saya! Saya bisa jalan sendiri!" Daisy mulai memukul-mukul punggung keras Matthew dengan kepalan tangannya yang kecil. Tapi bagi Matthew, pukulan itu tidak lebih dari sekadar tepukan nyamuk. Punggungnya yang terlatih selama bertahun-tahun di militer terlalu kokoh untuk diruntuhkan oleh Daisy.

Matthew melangkah keluar studio dengan Daisy di bahunya. Ia berjalan dengan tenang melewati lorong-lorong paviliun. Beberapa pelayan yang masih terjaga di kejauhan langsung menunduk dalam, pura-pura tidak melihat adegan penculikan Duchess mereka oleh sang Jenderal.

"Matthew von Eisenberg! Saya membenci Anda! Anda pria kasar yang tidak tahu sopan santun!" Suara Daisy bergema di koridor. Ia merasa sangat terhina. Bagaimana mungkin The Muse yang dipuja dunia sekarang digendong seperti barang belanjaan?

Matthew tetap diam. Ia hanya mempererat pegangannya pada paha Daisy agar istrinya tidak merosot. Di balik wajah datarnya, sebenarnya jantung Matthew berdegup kencang. Ini adalah kontak fisik terdekat mereka setelah dua tahun. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Daisy, kelembutan gaun rumahnya, dan aroma rambut bakungnya yang terbalik di punggungnya.

Dia sangat ringan. Terlalu ringan, batin Matthew. Rasa khawatir justru lebih dominan daripada rasa canggungnya.

Sampai di ruang makan kecil di lantai dua—ruangan yang lebih privat daripada ruang makan utama—Matthew akhirnya menurunkan Daisy. Ia tidak menurunkannya dengan lembut, ia meletakkan Daisy di atas kursi kayu berukir dengan sedikit sentakan, memastikan Daisy benar-benar mendarat.

Daisy segera berdiri dengan napas terengah-engah, rambut hitam panjangnya yang tadi rapi kini berantakan menutupi wajahnya. "Anda... anda benar-benar tidak tahu cara memperlakukan wanita!"

Matthew berdiri tegak di depan pintu, menghalangi jalan keluar. Ia menunjuk ke arah meja yang sudah tersaji sup hangat dan roti gandum. "Makan. Setelah itu kau boleh membenciku sesukamu di kamarmu. Tapi jangan pingsan di studiomu dan membuat sejarah bahwa Duke Eisenberg membiarkan istrinya mati kelaparan."

"Ini bukan demi saya, kan? Ini demi nama anda!" tuduh Daisy dengan mata berkaca-kaca karena marah.

Matthew menatapnya dalam-diam. Ia ingin mengatakan, "Ini karena aku takut kehilanganmu seperti aku kehilangan akal sehatku dulu," tapi yang keluar dari mulutnya hanya: "Terserah apa anggapanmu. Makan sekarang, atau aku akan menyuapimu dengan cara yang sama kasarnya seperti saat aku membawamu ke sini."

Daisy tahu Matthew tidak main-main. Pria ini bisa sangat menakutkan jika sudah memberikan ultimatum. Dengan perasaan kesal yang meluap, Daisy duduk kembali. Ia menyambar sendok dan mulai memakan supnya dengan kasar, seolah-olah ia sedang menusuk-nusuk hati Matthew lewat makanan itu.

Matthew tetap berdiri di sana, seperti penjaga penjara. Ia mengawasi setiap suapan Daisy. Ia melihat warna mulai kembali ke pipi istrinya.

Setelah Daisy menghabiskan setengah mangkuk, Matthew berbalik tanpa sepatah kata pun. Ia melangkah keluar ruangan, namun berhenti sejenak di ambang pintu.

"Besok, aku tidak ingin melihat laporan bahwa kau masuk ke studio sebelum sarapan," ucapnya tanpa menoleh.

"Saya akan masuk kapan pun Saya mau!" balas Daisy ketus.

Matthew tidak menyahut. Ia menutup pintu dengan bunyi klik yang tegas, meninggalkan Daisy sendirian dengan supnya dan rasa jengkel yang luar biasa.

Di balik pintu, Matthew bersandar sejenak. Tangannya yang tadi memegang Daisy masih terasa sedikit gemetar. Ia baru saja melakukan hal yang paling ia takuti: bersikap kasar dan posesif. Tapi anehnya, kali ini ia merasa lega. Setidaknya, Daisy tidak lari. Daisy marah, Daisy berteriak, tapi Daisy ada di sana, makan, dan hidup.

"Dia benar-benar berbeda dengan Maira," bisik Matthew pada kegelapan lorong. "Maira akan menangis dan memohon jika aku melakukan itu. Tapi Daisy... dia ingin membunuhku."

Matthew tersenyum sangat tipis—sebuah senyum yang hampir tak terlihat—sebelum ia masuk ke ruang kerjanya yang dingin, membiarkan perang di antara mereka tetap membara dengan caranya yang aneh.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!