NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

membuktikan diri

Malam pertama di pegunungan berlalu dengan tenang. Jinyu tidur nyenyak ditemani suara jangkrik dan desiran angin. Namun ketenangan itu sirna begitu mentari belum juga menunjukkan diri.

[DING! DING! DING!]

Jinyu membuka mata dengan kesal. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.45.

["JINYU! BANGUN! ADA TANAMAN HERBAL LANGKA DI LERENG TIMUR! KITA HARUS AMBIL SEKARANG!"]

Sistem, jam berapa ini?

["SETENGAH EMPAT! WAKTU YANG TEPAT! KALAU KESIAN, NANTI DIAMBIL ORANG LAIN!"]

Orang lain? Di tengah hutan pegunungan terpencil ini? Jam setengah empat pagi?

["BISA SAJA ADA PESERTA LAIN YANG JADI PESAING!"]

Jinyu memijat pelipisnya. Kau ini...

["AYO BANGUN! HERBAL INI BISA NAMBAH POIN BANYAK!"]

Aku tidak butuh poin.

["TAPI AKU BUTUH! BUAT UPGRADE SISTEM!"]

Jinyu menghela napas panjang. Perdebatan ini sudah berlangsung sepuluh menit. Yoyo yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara.

Shshsss~ "Jinyu, kalau kau tidak bisa tidur, mending bangun saja. Aku juga jadi tidak bisa tidur dengan ribut-ribut begini."

Jinyu menatap langit-langit. Sudahlah, sistem. Aku tidak akan ke gunung sekarang. Ini kamp pelatihan, ada aturan. Nanti ketahuan.

["TAPI—"]

Tidak. Titik.

Sistem mendengus kesal, tapi akhirnya diam.

Jinyu merebahkan diri lagi. Tapi matanya sudah terbelalak. Pikirannya kemana-mana. Lima menit berlalu, ia masih terjaga.

Sialan, umpatnya dalam hati. Gara-gara sistem.

Ia bangkit, meraih baju latihan. Daripada berbaring sia-sia, lebih baik bersiap lebih awal. Ia ambil gunting kecil dari tas persediaan dari rumah lalu bercermin.

Rambut cokelatnya yang sebahu kini agak panjang. Aturan kamp melarang rambut panjang untuk kemudahan latihan. Jinyu tak mau repot, maka dengan cekatan ia memotong rambutnya hingga di atas leher. Potongan pendek, hampir seperti rambut laki-laki. Ia menatap bayangannya yang masih cantik, tapi kini lebih praktis.

Selesai membersihkan diri, ia keluar kamar. Udara dingin langsung menyergap. Jinyu memeluk tubuhnya sebentar, lalu berjalan menuju lapangan latihan.

Lapangan masih sepi. Hanya beberapa penjaga yang berpatroli di kejauhan. Lampu-lampu temaram menerangi sebagian area. Jinyu mulai berlari pelan mengelilingi lapangan.

["JINYU—"]

Kalau kau mulai lagi, aku akan kunci koneksimu selama seminggu.

["..."]

Bagus.

Tapi diam tidak bertahan lama. Sepuluh menit kemudian, sistem mulai lagi.

["Jinyu, lihat lereng timur itu. Di balik bukit, ada tanaman sejenis ginseng liar. Cuma mekar jam 4 pagi. Sayang banget kalau dilewatkan."]

Jinyu mengabaikan.

["Satu tanaman bisa dijual 50 yuan di pasar gelap. 50 yuan! Bisa buat beli—"]

Aku punya harta karun emas, sistem. 50 yuan tidak berarti.

["Tapi poin! Poin penting buat upgrade!"]

Upgrade buat apa? Biar bisa lebih nyebelin?

["HOH! KAU KURANG AJAR!"]

Kenyataan.

Perdebatan berlanjut. Jinyu terus berlari, ritmenya stabil, napasnya teratur. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, ia bahkan tidak menghitung. Pikirannya penuh dengan adu mulut dengan sistem.

Sementara itu, di luar kesadarannya, mentari mulai merangkak naik. Langit timur berubah dari hitam menjadi kelabu, lalu semburat jingga. Para prajurit dan instruktur mulai berdatangan ke lapangan untuk apel pagi.

Dan mereka semua berhenti.

Di tengah lapangan, seorang anak kecil berbaju latihan hijau, berambut pendek, berlari dengan kecepatan konstan. Keringat membasahi keningnya, tapi napasnya tidak terengah. Gerakannya ringan, efisien, seperti mesin.

"ITU... ANAK BARU?" seseorang berbisik.

"Jam 4.30 dia sudah di sini?"

"Dia lari berapa lama, ya?"

Instruktur utama Komandan Lei berdiri di pinggir lapangan, mengamati dengan mata tajam. Ia melirik arloji. Pukul 05.15. Artinya, anak ini sudah berlari setidaknya satu jam. Dan masih kuat.

Para peserta lain mulai berkumpul, membentuk barisan. Mereka juga melihat Jinyu yang masih berlari. Xia Feng, remaja 15 tahun yang atletis, mengerutkan dahi. "Dari tadi dia lari?"

Seorang gadis satu dari sedikit perempuan di kamp itu bernama Lin Yue, berbisik, "Aku lihat dia mulai sebelum subuh."

Xia Feng mendengus. "Pamer."

Tapi matanya tidak lepas dari Jinyu.

Di tengah lapangan, Jinyu masih berlari.

["—jadi ginseng itu bisa buat ramuan penambah stamina. Kau kan sekarang tubuh manusia, butuh stamina. Kalau ambil, aku bisa olah jadi—"]

SISTEM!

["APA?"]

DIAM!

Shshsss~ "JINYU!"

Yoyo berteriak cukup keras sampai Jinyu tersentak. Ia menghentikan langkah, menatap sekeliling dengan bingung.

Dua puluh pasang mata menatapnya.

Di pinggir lapangan, puluhan peserta sudah berdiri rapi dalam barisan. Para instruktur berkumpul di dekat tribun. Semua menatapnya.

Jinyu mengerjapkan mata. "..."

Wajahnya tetap datar. Tidak ada rasa malu, tidak ada panik. Ia hanya berdiri di tengah lapangan, menatap balik.

Komandan Lei melangkah mendekat. Suaranya berat, tapi tidak marah. "Su Jinyu, jam berapa kau mulai lari?"

Jinyu berpikir cepat. "Sekitar pukul 4, Komandan."

"Empat pagi?"

"Iya, Komandan."

Komandan Lei mengangguk pelan. Matanya menyipit, tapi bukan karena curiga lebih karena kagum. "Kau sudah lari satu jam lebih. Tidak capek?"

Jinyu menggeleng. "Biasa saja, Komandan."

Dari barisan, terdengar bisik-bisik. "Dia gila, ya?" "Atau kuat?" "Mana mungkin anak 4 tahun sekental itu?"

Komandan Lei mengangkat tangan, semua diam. "Su Jinyu, bergabung dengan barisan. Apel pagi akan segera dimulai."

Jinyu mengangguk, lalu berjalan ke barisan. Semua peserta membuka jalan, memberi ruang. Ia berdiri di barisan belakang posisi yang biasa untuk anak baru. Tapi kali ini, semua mata masih tertuju padanya.

Apel pagi berlangsung seperti biasa. Komandan Lei memberikan pengarahan singkat tentang latihan hari itu: lari lintas alam 10 kilometer, dilanjutkan panjat tebing. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Jinyu ditempatkan di kelompok paling muda secara usia, tapi secara tinggi, ia sejajar dengan anak 8 tahun.

Saat latihan dimulai, para remaja masih skeptis. "Lihat aja nanti, dia pasti tumbang di kilometer pertama," kata seorang peserta.

Tapi Jinyu? Ia berlari dengan santai, mengikuti kecepatan kelompok. Kilometer pertama, kedua, ketiga—napasnya masih teratur. Kilometer keempat, ia mulai menyalip beberapa peserta yang kelelahan. Kilometer kelima, ia sudah di posisi tengah rombongan.

Xia Feng yang sejak tadi memimpin, menoleh ke belakang dan melihat Jinyu mendekat. Ia memacu diri, tidak mau dikalahkan anak kecil. Tapi Jinyu dengan mudah mengimbangi, bahkan tanpa terlihat berusaha.

"Hei, kau!" panggil Xia Feng di sela napas. "Kau... latihan di mana?"

Jinyu menatapnya sekilas. "Di rumah, dengan ayah."

"Berapa lama?"

"Beberapa bulan."

Xia Feng hampir tersedak ludah. Beberapa bulan? Ia sendiri sudah latihan bertahun-tahun.

Kilometer kedelapan, hanya segelintir yang tersisa di depan. Jinyu ada di antaranya. Xia Feng mulai kelelahan, langkahnya melambat. Jinyu melintas di sampingnya, lalu meninggalkannya.

Dari belakang, Lin Yue yang juga bertahan berseru, "Dia hebat!"

Xia Feng cuma bisa menggerutu.

Setelah lari, tibalah ujian panjat tebing. Tebing setinggi 30 meter, dengan permukaan terjal dan pegangan minim. Instruktur memberi contoh cara memanjat, lalu satu per satu peserta maju.

Jinyu memperhatikan dengan saksama. Tingginya 120 cm menjadi masalah pegangan pertama terlalu tinggi. Tapi ia melihat celah-celah batu yang bisa jadi tumpuan.

Gilirannya tiba. Ia melompat, meraih celah pertama dengan jari-jari kecilnya. Tubuhnya bergelayut, lalu dengan kelincahan luar biasa, ia memanjat menggunakan celah-celah itu, bergerak seperti kadal merayap di dinding.

Semua peserta yang sudah turun menatap dengan takjub. "Dia... seperti tidak punya beban berat!"

"Lihat caranya! Dia pakai celah batu, bukan pegangan!"

Xia Feng yang memanjat di jalur sebelah hampir jatuh karena terkejut. Matanya tidak percaya melihat anak kecil itu meliuk-liuk di tebing dengan lincah.

"KAU... DARI TADI NGIKUTIN AKU?" teriaknya.

Jinyu menoleh, wajahnya datar. "Saya hanya memanjat, Kakak."

Tanpa peduli, ia terus naik hingga mencapai puncak. Waktu yang tercatat: 4 menit 23 detik tercepat di antara semua peserta, termasuk Xia Feng yang 5 menit 12 detik.

Saat semua selesai, Komandan Lei mengumpulkan mereka. Wajahnya yang keras kali ini menyungging senyum tipis sebuah pemandangan langka.

"Hari ini ada yang mengejutkan," suaranya menggema. "Su Jinyu, maju."

Jinyu melangkah ke depan. Seratus pasang mata tertuju padanya.

"Kau ikut latihan berat ini, dan kau selesaikan dengan baik. Lari 10 kilometer tanpa kelelahan berarti. Panjat tebing dengan waktu tercepat." Komandan Lei berhenti sejenak. "Tidak banyak anak 4 tahun bisa begitu. Tapi ingat, ini baru permulaan. Jangan sombong."

Jinyu mengangguk sopan. "Saya mengerti, Komandan."

"Kembali ke barisan."

Jinyu berbalik. Saat melewati Xia Feng, remaja itu cemberut, tapi di matanya ada rasa hormat yang baru lahir. Lin Yue tersenyum dan memberi acungan jempol.

Malam harinya, Jinyu duduk di kamar, melepas lelah. Yoyo melingkar di pangkuannya.

Shshsss~ "Hari yang sibuk."

["Iya, tapi herbal tetap belum diambil,"] sistem mengeluh.

Jinyu memejamkan mata. Besok, sistem. Besok.

Tapi di sudut hatinya, ia puas. Hari ini ia membuktikan diri. Bukan untuk pamer, tapi untuk menunjukkan bahwa ia pantas berada di sini.

Dan itu baru permulaan.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!