NovelToon NovelToon
Mahar Rasa Bersalah

Mahar Rasa Bersalah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:62.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.

​Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .

​Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.

Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan dalam perhatian Mas Danu

​Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama, membiaskan garis-garis emas di atas lantai marmer. Sekar terbangun dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada rasa mual yang menyiksa pagi ini, mungkin karena perutnya sudah ditenangkan oleh bakso hangat dan rasa aman yang diberikan Danu semalam. Ia baru saja hendak beranjak untuk memulai rutinitas paginya, menyiapkan air hangat dan kemeja Danu, ketika sebuah lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya, menariknya kembali ke atas kasur yang empuk.

​"Mau ke mana?" Suara berat dan serak khas bangun tidur milik Danu terdengar tepat di telinga Sekar.

​Sekar tersentak, jantungnya berdebar kencang. Dia lupa kalau semalam dia tidur lelap dalam dekapan suaminya itu.

"Mas, aku mau menyiapkan keperluan Mas Danu. Ini sudah jam enam lewat"

​Danu tidak melepaskan pelukannya. Ia justru mengeratkan lengan besarnya, membenamkan wajahnya sejenak di ceruk leher Sekar yang wangi sabun bayi.

"Sudah Mas bilang semalam, istirahat. Hari ini kamu nggak boleh turun ke dapur, nggak boleh menyetrika, dan nggak boleh melakukan apa pun"

​"Tapi Mas...."

​"Ini perintah, Sekar! Nurut sama suamimu!" Ucap Danu sambil melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang. Ia menoleh ke arah Sekar dengan tatapan yang sangat dominan namun penuh kasih.

"Mas tadi sudah telepon Mbok Sum. Mulai hari ini, tugasmu cuma makan, minum vitamin, dan beristirahat. Kalau Mas tau kamu menyentuh pekerjaan rumah, Mas akan sangat marah!"

​Sekar hanya bisa menunduk patuh. Di matanya, Danu yang berusia tiga puluh dua tahun itu terlihat begitu berwibawa meski rambutnya masih sedikit berantakan. Ia mengagumi bagaimana Danu bisa mengatur segala hal dalam hidupnya dengan satu tarikan napas.

​Beberapa menit kemudian, ketukan pintu terdengar. Mbok Sum masuk membawa nampan besar yang berisi sarapan lengkap, bubur ayam hangat, segelas susu kehamilan, potongan buah pepaya, dan segelas air putih.

​"Ditaruh di sini saja, Mbok" Perintah Danu sambil menunjuk nakas di samping tempat tidur.

​Sekar merasa sangat tidak enak hati pada Mbok Sum.

"Mbok, maaf ya jadi merepotkan..."

​"Sudah tugas saya, Mbak Sekar. Mas Danu tadi pagi-pagi sekali telepon Mbok, mewanti-wanti supaya Mbak nggak boleh keluar kamar dulu" Jawab Mbok Sum sambil tersenyum tulus, lalu berpamitan keluar.

​Danu menarik kursi ke dekat ranjang. Ia tidak segera pergi mandi, melainkan mengambil mangkuk bubur itu. Ia meniup sesendok bubur dengan sabar, lalu mengarahkannya ke bibir Sekar.

​"Mas, Sekar bisa makan sendiri!" Bisik Sekar dengan wajah yang memerah. Ia merasa sangat dimanja, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya sebagai buruh penimbang paku.

​"Buka mulutmu!" Hanya itu jawaban Danu.

​Sekar menurut. Ia menerima suapan demi suapan dari suaminya. Kekagumannya pada sosok Danu semakin menjadi-jadi. Pria ini adalah seorang pemimpin di toko bangunan besar, pria yang disegani banyak orang, namun kini ia dengan telaten menyuapi istrinya yang hanya seorang gadis kampung. Setiap gerakan tangan Danu, setiap tatapan matanya yang fokus pada Sekar, membuat hati Sekar terasa penuh.

​"Mas Danu kenapa sebaik ini?" Tanya Sekar lirih setelah suapan terakhir.

​Danu meletakkan mangkuk kosong itu, lalu menatap Sekar dengan dalam. Ia mengusap sudut bibir Sekar yang sedikit terkena kuah bubur dengan ibu jarinya.

"Karena kamu adalah tanggung jawab Mas, Sekar. Dan karena Maa ingin anak kita tumbuh dengan sehat di dalam sana"

​Lagi-lagi, Danu menyebutkan alasan tanggung jawab dan anak. Sekar tersenyum pahit di dalam hati, namun ia tetap bersyukur. Baginya, diperhatikan karena tanggung jawab jauh lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali. Dia sudah sangat beruntung dan sudah sangat puas dengan segala bentuk perhatian dari Danu meski tanpa kata cinta.

​Setelah sarapan selesai, Danu beranjak mandi dan bersiap ke toko. Sekar memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya dari atas ranjang. Ia melihat bagaimana Danu memakai kemeja yang sudah ia setrika kemarin, bagaimana Danu memasang jam tangan peraknya yang mahal, dan bagaimana pria itu menyisir rambutnya hingga tampak sangat rapi dan tampan.

​Tepat sebelum keluar kamar, Danu menghampiri Sekar lagi. Ia mengecup kening Sekar cukup lama, sebuah kecupan yang terasa sangat hangat dan tulus.

​"Jangan turun ke bawah sendirian. Kalau butuh apa pun, panggil Mbok Sum lewat telepon atau tunggu Mas pulang siang nanti untuk makan bersama. Ngerti kan Sekar?"

​"Iya, Mas" Jawab Sekar penurut.

​Siang harinya, suasana rumah terasa sangat sepi bagi Sekar. Ia hanya duduk di balkon kamar, menatap ke arah depan di mana toko Sumber Rejeki tampak sangat sibuk dengan hiruk pikuk pembeli dan truk material. Ia meraba kalung melati pemberian Danu yang melingkar di lehernya. Pikirannya melayang pada kebaikan-kebaikan Danu yang terasa semakin nyata setiap harinya.

​Namun, ketenangan itu terusik saat pintu kamarnya dibuka dengan kasar tanpa ketukan. Bu Subroto masuk dengan wajah yang terlihat sangat kesal.

​"Bagus ya! Jadi begini cara kamu mencari perhatian anakku?" Suara Bu Subroto melengking, membuat Sekar langsung berdiri dari duduknya dengan gemetar.

​"Ibu... ada apa?" Tanya Sekar ketakutan.

​"Jangan pura-pura bodoh! Gara-gara kamu ngidam tengah malam dan keluyuran seperti wanita murahan, Danu jadi telat ke toko hari ini. Dia bahkan membatalkan pertemuan dengan supplier penting hanya karena mau menemanimu sarapan?" Bu Subroto mendekat, matanya menatap tajam ke arah Sekar.

"Kamu itu cuma parasit, Sekar. Jangan merasa karena kamu hamil, kamu bisa mengatur-ngatur hidup anakku!"

"Maaf, Bu... Sekar tidak bermaksud..."

​"Maaf, maaf! Hanya itu yang bisa kamu katakan. Dengar ya, kecantikanmu itu tidak akan bertahan lama. Kulitmu yang kamu bangga-banggakan itu juga akan kusam karena kehamilan. Danu itu pria berkelas, dia butuh wanita yang bisa mendukung bisnisnya, bukan yang cuma bisa membuat dia repot seperti ini!"

​Bu Subroto melirik kalung yang dipakai oleh Sekar.

"Dan itu, pasti kamu yang merengek minta dibelikan perhiasan, kan? Benar-benar tidak tahu diri!"

​Setelah memuaskan amarahnya, Bu Subroto pergi meninggalkan kamar dengan membanting pintu. Sekar luruh ke lantai, ia menangis sesenggukan. Kata-kata mertuanya selalu berhasil mengingatkannya pada posisinya yang rendah. Ia merasa sangat bersalah karena telah merugikan bisnis Danu.

​Siang harinya, Danu pulang lebih awal. Ia langsung menuju kamar dan menemukan Sekar sedang tidur meringkuk dengan mata yang sembab. Danu tahu ada yang tidak beres. Ia duduk di samping Sekar dan mengusap pipi istrinya dengan lembut.

​"Sekar, bangun. Kenapa menangis lagi?"

​Sekar terbangun dan langsung memeluk pinggang Danu, menyembunyikan wajahnya di perut suaminya.

"Mas, maafkan Sekar. Gara-gara Sekar, Mas jadi rugi di toko. Mas jangan batalkan pertemuan penting lagi karena Sekar. Sekar tidak apa-apa sendiri di sini!"

​Danu menghela napas panjang. Ia tahu pasti ibunya telah mengatakan sesuatu lagi. Ia menarik Sekar ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah ingin melindungi istrinya dari seluruh dunia.

​"Dengar, Sekar" Ucap Danu dengan nada yang sangat berwibawa.

"Uang bisa kucari sebanyak apa pun yang aku mau. Tapi ketenanganmu dan kesehatan anak kita tidak ada harganya. Jangan pernah dengarkan apa pun yang membuatmu sedih, meski itu dari ibuku sekalipun"

​Danu mengangkat wajah Sekar, menatap matanya yang bulat dan basah.

"Mas melakukan ini semua karena Mas ingin melakukannya. Bukan karena kamu memintanya, bukan karena kamu merengek. Mengerti?"

​Sekar mengangguk pelan dalam pelukan Danu. Ia merasa sangat aman di dalam dekapan pria berusia tiga puluh dua tahun ini. Meskipun dunia luar menghinanya, meskipun mertuanya membencinya, selama ada Danu yang berdiri tegak melindunginya, ia merasa sanggup menghadapi apa pun.

​Kekaguman Sekar pada suaminya telah mencapai puncaknya. Ia tidak lagi peduli apakah ini cinta atau hanya tanggung jawab. Baginya, bisa memiliki pria sehebat Danu yang selalu memasang badan untuknya adalah anugerah terbesar dalam hidupnya yang pernah hancur. Ia berjanji akan memberikan seluruh ketaatannya, cintanya, dan hidupnya untuk pria yang telah menjadi pelindungnya ini.

"Atau, kamu mau kita pindah saja dari rumah ini?"

1
Melly
aku masih kuat baca nya thor, lanjut🤭🤭
Ariany Sudjana
dasar perempuan lemah kamu sekar, gimana kamu ga ditindas sama mertua kamu? kamu itu ga pantas jadi istrinya Danu, kelas kamu itu kelas kampungan 😂😂
Ariany Sudjana
ah orang miskin aja bertingkah, kamu harus tahu diri sekar, kamu itu miskin, dan orang miskin ya ga pantas dengan Danu, kamu itu cengeng dan hanya bisa nangis dan nangis, dasar perempuan lemah kamu
Herman Lim
Danu kamu harus lebih sabar terhadap Sekar yg bnr² merasa di rendah kan
Amel_
makasih Doble up nya kak Santi , ceritanya semakin bikin greget
Endang Sulistiyowati
Menyesakkan dada...Sekar lagian ngapain sih masih bertahan disitu. Dengan smua rasa rendah diri kamu dan suami yg masih terpaku masa lalunya, kamu yg akan terus merasa terluka Sekar.
sikepang
emang yh mulut 2 julid org yg gatau apa2 jahat bgt. aku sih berharap ga apa² klo danu kasi sekar waktu sendiri dlu. krn org ug hilang rasa percaya diri mau dikasih penjelasan apa pun ga akan masuk
Retno Fitriyaningsih
/Sob//Sob//Sob/
Shankara Senja
Tapi klo Sekar bisa tegas,belajar memposisikan dirinya sebagai istri Danu,ga ada yg netemehkannya.Sekar yg diutamain nangis terus.Tunjukan klo kamu pantas hetdiri disisi Danu tsnpa menyombongkan diri.
dyah EkaPratiwi
kasian sekar ayo jangan hiraukan omongan orang demi debay
MamDeyh
Makanya kak Santi. Coba bikin Sekar berani keluar dr zona nya Danu. 😄
MamDeyh
Tp sangat paham kondisi Sekar. Dari org kampung diangkat derajatnya dadakan dg keadaan yg blm siap menerima dia. Dan bodohnya Danu yg katanya jd tameng tp setengah2. Parahnya tinggal jg sm emaknya yg julid.. Hormon kehamilan jg mempengaruhi. Gw jg pernah di kondisi mental down krn kehamilan
MamDeyh: Betul betul... Harus siap mental
total 2 replies
falea sezi
pergi jauh aja sekar
falea sezi
boleh gk nampol wajah si bego ini heran. laki. oon bgt nunggu cerai lah balik aja sono ke mantan mu yg katanya hot
mb peppy
aaahhhh thoorr nyeseknya tanggung ini😭😭
hasatsk
nyesek banget/Sob/...rasa rendah diri membunuh mentalnya Sekar...
Dew666
💃💃
Dew666
💃💃
Hanima
Kurang Kak 🤭🙏
Lilis Yuanita
lnjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!