Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sherly menatap Rendi dengan dingin. “Tidak perlu memprovokasi. Dari awal aku memang tidak ingin Kak Arga membelikanku mobil. Kak Arga, ayo kita pergi.”
Sesungguhnya, Sherly memang tidak ingin Arga menghamburkan uang sebanyak ini. Dengan modal tersebut, lebih baik membeli saham dan menghasilkan lebih banyak keuntungan. Lagipula, mobil lamanya masih bisa digunakan setelah diperbaiki. Sherly bukan gadis materialistis; ia menjalin hubungan dengan Arga dengan tujuan serius, sehingga secara naluriah ia mempertimbangkan segalanya dari sudut pandang seorang istri.
Namun Arga justru menggenggam tangannya erat dan berkata sambil tersenyum, “Aku tidak tega membiarkanmu mengendarai mobil rongsokan seperti itu.”
Ia menoleh ke pramuniaga. “Silakan gesek kartunya.” Arga mengeluarkan Kartu Hitam Candi Muda.
“Pfft—hahaha!” Rendi tertawa terbahak-bahak sampai hampir tak bisa berdiri tegak. “Kenapa kamu sok jadi orang besar? Memangnya di kartumu ada dua setengah miliar? Sekalipun ayahmu banting tulang siang malam, mana mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu? Lucu sekali! Kamu kelihatan tenang, tapi sebenarnya panik di dalam, kan? Hahaha…”
Siska pun berkata dengan nada meremehkan, “Kalian sama-sama pria, tapi kenapa jaraknya sejauh langit dan bumi? Mas Rendi-ku mau membelikanku apa pun yang kuinginkan!”
Bip! Transaksi berhasil!
Terima kasih atas pembelian Anda!
Tiba-tiba, suara mesin EDC terdengar nyaring! Struk pembayaran pun langsung keluar. Dua miliar lima ratus juta rupiah—pembayaran kartu kredit berhasil!
Senyum di wajah Rendi dan Siska seketika membeku, seolah-olah leher mereka dicekik. Dalam sekejap, ekspresi mereka berubah dari sombong menjadi tak percaya. Terutama Rendi—ia sama sekali tak dapat menerima kenyataan bahwa Arga, pria yang dulu bahkan tak mampu membayar mahar Kakaknya, kini benar-benar membeli Mercedes-Benz seharga miliaran!
Bahkan pramuniaga itu terperangah. Di Semarang tahun 2000, uang sebanyak itu cukup untuk membeli puluhan unit apartemen!
“Palsu! Mesin EDC-nya pasti rusak! Mana mungkin gembel ini punya uang sebanyak itu?!” teriak Rendi dengan histeris.
“Kami sudah menerima notifikasi pembayaran dari bank, jadi mesin ini tidak bermasalah,” jawab pramuniaga dengan tenang.
“Bagaimana mungkin…” Rendi mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.
“Mobil seharga dua miliar ini mungkin terlihat mewah bagimu,” ujar Arga datar, “tetapi di mataku, ia bahkan tak sebanding dengan senyuman Sherly.” Selesai berkata demikian, Arga mengusap kepala Sherly dengan penuh kasih. Wajah Sherly sedikit memerah, matanya memandang Arga dengan binar kekaguman.
Saat itu, Rendi merasa seolah-olah baru saja ditampar keras. Wajahnya terasa panas membara! Siska dipenuhi rasa iri. Ia mengguncang lengan Rendi sambil merengek, “Mas Rendi, aku juga mau S600! Belikan aku satu juga!”
Rendi mengertakkan gigi, lalu berkata tegas kepada pramuniaga, “Aku mau mobil ini!”
“Kamu?” Kini giliran Arga memutar mata. “Kamu bahkan belum melunasi utang lamamu. Kamu pikir kamu sanggup membelinya?”
“Kamu meremehkanku?” Rendi mendengus. “Arga, sekalian saja kuberitahu. Kakakku menghasilkan banyak uang dengan mengikuti bos besar bermain saham. Mobil dua miliar lebih hanyalah perkara sepele baginya!”
“Maaf, Pak. Mobil ini sudah dibayar lunas oleh Mas Arga,” ujar pramuniaga dengan canggung.
“Baik!” Arga segera berkata, “Begini saja, Rendi. Selama Kakakmu benar-benar bisa mengeluarkan dua setengah miliar untuk membeli mobil, aku akan menghadiahkan mobil ini kepadamu secara cuma-cuma. Bagaimana?”
“Itu ucapanmu sendiri!” Mata Rendi langsung berbinar. Bukankah ini sama saja mendapat mobil gratis? Tiara baru kemarin mengatakan bahwa keuntungan sahamnya sangat besar. Mengeluarkan dua miliar untuk membeli mobil? Itu mudah!
Ia segera menelepon. Tak lama kemudian, Tiara dan ibunya, Ibu Lastri, tiba di lokasi.
“Rendi, ada apa?” tanya Tiara cemas.
“Kak Tiara, Aku ingin membeli mobil,” kata Rendi.
“Ah… beli… beli mobil…” Wajah Tiara langsung berubah muram. Di tangannya sudah tak tersisa sepeser pun. Semua dananya terkunci di saham Miras Jati Luhur yang terkena suspensi!
“Tenang saja, Aku tidak benar-benar ingin kamu yang membayar,” kata Rendi sambil tersenyum licik. Ia menunjuk Arga. “Orang bodoh ini bilang, selama kamu bisa mengeluarkan uangnya, dia akan menghadiahkan mobil ini kepadaku.”
“Benar, Kak Tiara. Bukankah kakak untung besar dari saham? Keluarkan sedikit saja dulu, nanti setelah mobil diambil, uangnya bisa dikembalikan,” bujuk Siska.
“Kalau begitu… aku…” Tiara menunduk lama, tak berani mengangkat kepala. Jika keluarganya tahu semua uang keluarga terkunci di saham yang hancur, ia pasti akan habis!
“Tiara, kenapa kamu ragu? Dia itu adik kandungmu! Lagipula, uangnya bukan dari kita. Kenapa masih bimbang?” desak Ibu Lastri tak sabar.
“Kenapa dia ragu?” Arga tersenyum tipis. “Karena sebelumnya dia menginvestasikan seluruh uangnya ke Miras Jati Luhur, dan seluruh dananya hangus terkunci. Jangankan dua miliar, seribu rupiah pun mungkin tak bisa dia keluarkan.”
“Apa?!” Ibu Lastri, Rendi, dan Siska tertegun bersamaan.
“Tiara, katakan pada Ibu—benarkah ini?” tanya Ibu Lastri dengan panik. Wajah Tiara memucat. Akhirnya, ia hanya bisa mengangguk lemah.
“Kamu… kamu anak kurang ajar! Itu seluruh harta keluarga kita!” Ibu Lastri hampir meledak karena marah.
“Ini semua salah Arga!” teriak Tiara dengan gigi terkatup. “Dia melihatku membeli saham itu dan tidak sungguh-sungguh menghentikanku! Akibatnya aku kehilangan segalanya!”
“Benarkah begitu?” Ibu Lastri menoleh tajam.
“Benar! Dia bahkan sudah tahu sebelumnya bahwa saham itu akan merugi, dan sengaja memprovokasiku untuk membeli!” kata Tiara fitnah.
“Arga! Hati nuranimu kejam sekali! Itu seluruh harta kami!” Ibu Lastri memaki dengan amarah membara. “Kerugian anakku harus kamu tanggung! Mobil ini juga harus diberikan kepada kami sebagai ganti rugi atas penderitaan mental kami!”
Rendi menatap Mercedes-Benz S600 dengan rakus.
“Kalian gila? Dia rugi karena saham—apa hubungannya denganku?” Arga malas meladeni mereka dan berbalik membahas prosedur dengan pramuniaga.
“Kamu jangan bermimpi!” Tiara menggertakkan gigi dan menekan nomor telepon seseorang. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjas keluar dari kantor diler.
“Mas Budi, aku ingin meminta bantuan. Bisakah mobil itu tidak dijual kepada pria itu?” Budi, manajer umum diler Mercedes-Benz Semarang, pernah mengejar Tiara. Mendengar permintaan itu, ia langsung mengangguk tanpa ragu. Kebetulan, barusan bosnya—Bagus Mahendra—menelepon dan memintanya menahan mobil tersebut untuk diberikan kepada seorang tokoh penting. Sekalian saja ia menjadikan ini sebagai "modal" untuk mendekati Tiara.
“Maaf, Mas. Mobil ini tidak lagi dijual. Dana Anda akan kami kembalikan dalam tiga hari kerja,” kata Budi dingin.
“Tidak dijual? Aku sudah membayar dan hampir menyelesaikan semua prosedur. Lalu kamu bilang tidak dijual?” Arga mengerutkan kening.
“Aku tidak menjual kepada pria pengangguran sepertimu—memangnya kenapa? Hebat sekali, beli mobil pakai uang wanita,” ejek Tiara.
“Kamu manajernya? Aku sudah membayar lunas. Aku menuntut mobil ini diserahkan, atau kamu akan menanggung akibatnya!” kata Arga dingin.