[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
paman brengsek
Dua hari menjelang kiamat, Lin Yan akhirnya menyelesaikan semua persiapannya. Ia merebahkan tubuh di kamar mewahnya itu dan merenggangkan tubuhnya akibat kelelahan bekerja "katanya"
Di ruang dimensinya, kini tidak hanya ada gunung, hutan, dan sungai. Di padang rumput yang luas, puluhan hewan ternak berlarian. Ayam, bebek, itik, dan angsa berkeliaran di dekat kolam buatan. Babi-babi berguling di kandang berlumpur yang sengaja ia buat. Sapi dan kerbau merumput tenang di padang hijau. Kambing dan domba melompat-lompat di lereng bukit kecil. Kelinci-kelinci lucu bersembunyi di semak-semak buatan. Bahkan ada kuda-kuda tampan—dua jantan, empat betina—berlari bebas di padang rumput.
【Wah, pertama kali si pemalas mau bekerja sangat lama.】 Hologram Sistem Xiyue muncul dengan ikon si gadis kecil yang bertepuk tangan sinis.
"Hadeeh, capek..." gumam Lin Yan sambil memijit pelipis. "Tapi lumayan. Nanti bisa berkembang biak sendiri. Daging, susu, telur, semua ada."
【Kau memang gila, tapi gila yang terencana.】
"Pujian atau hinaan?"
【Terserah kau menafsirkannya.】
Lin Yan tertawa kecil. Ia meregangkan tubuh, menikmati keheningan apartemen yang mulai terasa asing. Sebentar lagi, tempat ini bukan miliknya.
Tiba-tiba, layar hologram Sistem Xiyue muncul dengan warna keemasan—pertanda misi spesial. Cahayanya memenuhi ruangan kosong itu, membuat bayangan-bayangan menari di dinding.
【Ding dong! Misi Spesial Tersedia!】
【Judul Misi: Membangun Wilayah Sendiri】
【Deskripsi: Kiamat akan segera tiba. Untuk bertahan hidup jangka panjang, Host membutuhkan wilayah aman. Cari dan tandai sebidang tanah sebagai wilayah pribadi.】
【Hadiah: Sistem Pertahanan Wilayah Aktif. Semua area yang ditandai akan memiliki pelindung otomatis: zombie tidak bisa masuk, orang asing dengan niat jahat akan merasakan tekanan psikologis, dan bencana alam akan diredam. Kondisi wilayah akan stabil seperti musim semi selamanya.】
【Batas Waktu: 2 hari.】
Mata Lin Yan yang tadinya malas langsung berbinar. Ia duduk tegak di lantai, bubble tea-nya hampir tumpah. "Hadiah sebagus itu?!"
【Iya. Tapi kau harus mencari wilayah sendiri. Bisa tanah kosong, hutan, gunung, apa saja. Yang penting bisa kau klaim sebagai milik pribadi.】
Lin Yan termenung, berpikir keras. Matanya menerawang ke langit-langit kosong, lalu tiba-tiba ia tersenyum lebar. Senyum yang sama seperti saat ia mengancam Liu Ming—indah tapi mengerikan.
"Aku punya ide."
Ia meraih ponsel, mencari kontak pamannya—Liu jianming. Jarinya menekan tombol panggil.
Tut... tut... tut...
"iya?" suara paman liu terdengar waspada di seberang. Masih teringat jelas ancaman pisau beberapa hari lalu.
"Paman..." suara Lin Yan berubah total. Lembut, sedikit bergetar, seperti anak kecil yang ketakutan. "Paman... aku minta maaf soal kemarin. Aku... aku lagi stres. Tapi sekarang aku mau bicara serius."
"Hah?" paman liu jelas terkejut dengan perubahan nada ini. "Mau bicara apa?"
Lin Yan menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara sendu, "Paman... aku mau jual penthouse ini."
Hening beberapa detik di seberang. Lalu suara paman liu meninggi, hampir tidak percaya. "JUAL?! Maksudmu jual penthouse orang tuamu itu? Apartemen di Distrik Xinyi itu?"
"Iya, Paman. Apartemen ini kan ada 6 kamar, ruang tamu, dapur, setiap kamar ada kamar mandi sendiri, plus kolam renang di belakang, sama taman kecil." Lin Yan menyebutkan properti paling berharga peninggalan orang tuanya—sebuah apartemen mewah dengan fasilitas lengkap di kawasan elit Taipei. "Aku dan Adik butuh uang untuk hidup. Aku nggak bisa kerja, Adik masih sekolah di SMA Guangming. Daripada rumah itu kosong, lebih baik dijual."
paman Liu jelas mencerna informasi ini. Di latar belakang, Lin Yan bisa mendengar bisikan Wang Mei yang heboh. "Kau jual? Berapa?"
"Delapan puluh juta yuan." Lin Yan menyebut angka yang sebenarnya sangat murah untuk properti sebesar itu. Harga pasarnya bisa mencapai 100-120 juta, apalagi di lokasi premium.
"DELAPAN PULUH JUTA?!" paman liu hampir berteriak. Jelas angka itu membuatnya tergiur. Tapi ia cepat mengendalikan diri, berpura-pura tenang. "Yanyan, Paman ini keluargamu. Masa mau jual ke orang lain? Kasihan nanti ditipu. Lebih baik jual ke Paman saja. Tapi... delapan puluh juta itu terlalu mahal. Keluarga Paman kan juga pas-pasan. Masa tidak bisa lebih murah?"
Lin Yan tersenyum sinis di dalam hati, tapi suaranya tetap lemah. "Tapi Paman... aku butuh uang untuk hidup. Adik juga butuh biaya sekolah. Kalau kurang, kami bagaimana? Lagipula ini harga sudah murah, Paman. Coba lihat di pasaran, apartemen sekelas ini bisa seratus juta lebih."
"Ah, Yanyan, Paman kan keluarga. Kalau kau susah, Paman pasti bantu. Tapi jual dengan harga pantaslah. Lima puluh juta, bagaimana?"
"Paman..." suara Lin Yan bergetar, seolah hampir menangis. "Aku dan Adik hanya berdua. Orang tua sudah tiada. Paman satu-satunya keluarga yang kami punya. Tapi tolong mengertilah... delapan puluh juta itu sudah harga terendah. Ini apartemen mewah, Paman. Ada kolam renang, ada taman. Kalau Paman tidak sanggup, ya sudah, aku cari pembeli lain. Teman sekolah Adik ada yang orang kaya, mungkin keluarganya berminat."
Hening cukup lama di seberang. paman liu jelas sedang berhitung. Delapan puluh juta untuk properti mewah di kawasan elit adalah harga murah yang tidak masuk akal. Ia pasti akan mendapat untung besar jika menjualnya kembali nanti. Belum lagi gengsi punya apartemen mewah di Distrik Xinyi.
Suara bisik-bisik terdengar, Wang Mei jelas mendesak suaminya. Akhirnya paman Liu berkata, "Baiklah! Delapan puluh juta. Tapi kau harus datang ke rumah Paman hari ini juga untuk urus surat-suratnya. Dan kau harus janji tidak akan membatalkan."
"Iya, Paman. Aku janji." Suara Lin Yan masih lemah. "Nanti aku ke rumah Paman. Sekitar satu jam lagi."
"Tunggu, Yan!" paman Liu memotong. "Kau bawa sertifikat asli, ya? Jangan lupa kartu indentitas dan buku tabungan."
"Iya, Paman. Semua aku bawa."
Telepon ditutup. Lin Yan langsung meregangkan tubuh, wajahnya berubah dari sedih jadi datar, lalu tersenyum lebar. Senyum yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
【...Aku baru saja menyaksikan akting terburuk sekaligus terbaik dalam hidupku.】
"Terima kasih. Nilai buat aktingku?" tanya Lin Yan sambil berdiri.
【Nilai A untuk akting, nilai F untuk moralitas.】
"Puas! Nilai A udah cukup."
【Maksudmu?】
"Aku bilang jual rumah, kan? Bukan jual rumah beserta isinya." Lin Yan berjalan ke dapur, mulai membuka lemari kosong. "Jadi, semua barang di sini akan pindah ke dimensi."
Ia mulai bekerja. Satu per satu setiap sudut, benda-benda yang tersisa lenyap. Karpet tipis, gelas bubble tea, bahkan tirai jendela. Ia berjalan keliling apartemen, menyentuh setiap benda yang bisa dipindahkan.
Lemari pakaian di kamar utama—lenyap. Ranjang king size dengan kasur memory foam—lenyap. Meja rias dengan cermin besar—lenyap. Lukisan pemandangan di dinding—lenyap. Sofa di ruang tamu—lenyap. Meja makan marmer putih—lenyap. Kursi-kursi—lenyap. Televisi 75 inci—lenyap. Kulkas dua pintu—lenyap. Kompor gas—lenyap. Mesin cuci—lenyap. Bahkan lampu gantung kristal di ruang tamu ia panjat dan sentuh hingga lenyap.
Setelah satu jam, apartemen itu kosong total. Hanya yang menempel permanen yang tersisa: wastafel di dapur dan kamar mandi, toilet, bak mandi yang menyatu dengan lantai, dan keran-keran air. Dinding-dinding polos, lantai marmer kosong, jendela tanpa tirai. Apartemen itu kini seperti cangkang kosong, siap dijual.
【...】
Sistem Xiyue hanya bisa diam, tercengang. Layar hologramnya berkedip-kedip seperti error.
【Kau... kau benar-benar mengosongkan semuanya?】
"Kan kubilang. Aku jual rumah, bukan isinya." Lin Yan berdeham, puas melihat hasil kerjanya. "Sekarang, ke rumah paman."
Rumah keluarga Liu berada di kompleks perumahan sederhana di pinggiran kota, daerah Yonghe. Rumah tipe 45 dengan halaman kecil, jauh dari kemewahan apartemen di Xinyi. Saat mobil sport hitam Lin Yan berhenti di depan pintu, tetangga-tetangga langsung melongo. Anak-anak kecil berhenti bermain, ibu-ibu yang sedang jemur pakaian menghentikan aktivitas. Mobil mewah seperti ini jarang terlihat di lingkungan mereka.
paman Liu sudah menunggu di pintu bersama istrinya, Wang Mei, dan kedua putranya, Liu Chao dan Liu Ming. Wajah mereka sumringah, tidak sabar mendapatkan rumah mewah seharga murah. Liu Ming berdiri agak di belakang, matanya menyipit curiga melihat Lin Yan.
"Yanyan! Masuk, masuk!" sambut paman Liu dengan ramah palsu, tangannya berkacak pinggang seperti tuan rumah.
Lin Yan turun dari mobil, memasang ekspresi sedih dan sedikit malu. Bahunya merosot, langkahnya gontai. Ia membawa map berisi sertifikat rumah dan dokumen-dokumen lainnya. Di dalam rumah, Wang Mei sudah menyiapkan teh dan kue-kue kecil, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Ayo duduk, Yan. Minum teh dulu." Wang Mei tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang agak kuning.
Lin Yan duduk di sofa sederhana, meletakkan map di meja. Liu Chao dan Liu Ming duduk di kursi sebelah, mengawasi setiap gerakannya. Liu Ming masih dengan senyum sinisnya, sesekali melirik Lin Yan dengan tatapan aneh.
Setelah basa-basi singkat—berapa lama perjalanan, bagaimana kabar, dan omong kosong lainnya—mereka langsung ke meja makan untuk mengurus dokumen. Paman Liu sudah menyiapkan notaris temannya, seorang pria tua bernama Bapak Huang yang tiba beberapa menit kemudian.
Proses pengalihan hak milik berlangsung cepat. Lin Yan membaca setiap dokumen dengan teliti—pura-pura teliti, karena sebenarnya ia sudah tahu semua isinya. Ia menandatangani di sana-sini, cap jempol di sana-sini.
Saat menandatangani dokumen terakhir, paman Liu berkata dengan nada pura-pura prihatin, "Yanyan, setelah rumah ini terjual, kau dan Adik tinggal di mana? Apa tidak ingin tinggal di sini sementara? Rumah Paman sederhana, tapi bisa buat berteduh."
Lin Yan menggeleng lemah. "Terima kasih, Paman. Tapi aku sudah cari tempat kontrakan kecil di pinggiran kota. Cukup buat aku dan Adik."
"Ah, kasihan sekali." Wang Mei ikut-ikutan, meski matanya berbinar senang. "Tapi ya, Paman juga susah. Tidak bisa bantu banyak. Nanti kalau sudah dapat uang, jangan lupa sisihkan buat Paman, ya. Kami kan keluarga."
"Iya, Tante." Lin Yan menjawab lirih.
Liu Chao menyela, "Yan, penthouse itu sudah kosong, kan? Kapan kami bisa lihat?"
"Minggu depan mungkin," jawab Lin Yan. "Masih ada beberapa barang yang harus kubereskan. Tapi kunci cadangan bisa kuberikan sekarang."
Ia mengeluarkan satu set kunci apartemen dari tasnya. Liu Chao langsung mengambilnya dengan rakus, memutar-mutar kunci itu di jari.
Setengah jam kemudian, semua dokumen selesai. Bapak Huang pamit pulang setelah menerima amplop dari paman Liu. Transfer uang 80 juta yuan masuk ke rekening Lin Yan—ia cek ponselnya, notifikasi masuk.
Saat Lin Yan akan berdiri pamit, Liu Ming mendekat. Ia berbisik, pelan, hanya untuk didengar Lin Yan.
"Jangan kira kau menang, Yanyan. Rumah itu sekarang milik kami. Kau tidak punya apa-apa lagi. Nanti kalau sudah miskin dan kelaparan, jangan merengek minta bantuan."
Lin Yan menoleh, menatap Liu Ming dengan mata merah delima. Lalu ia tersenyum. Senyum manis. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya pada Liu Ming.
"Iya, rumah itu milik kalian. Selamat menempati." Suaranya lembut. "Oh ya, jangan lupa cek isi rumahnya, ya. Aku sudah 'membersihkan' sedikit sebelum pergi."
Liu Ming mengerutkan kening, tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
Tapi Lin Yan sudah berbalik, melambai kecil ke arah keluarga Liu, dan berjalan keluar. Mobil sport hitamnya melaju pergi, meninggalkan keluarga Liu yang masih berdiri di teras.
Di dalam mobil, Lin Yan melihat notifikasi transfer di ponsel. 80 juta yuan. Ia tersenyum lebar.
【Kau baru saja menipu keluarga sendiri.】
"Bukan tipu. Aku jual rumah sesuai harga kesepakatan. Mereka dapat rumah, aku dapat uang. Win-win."
【Tapi kau kosongkan isi rumah!】
"Aku jual rumah, bukan isinya. Tidak ada pasal dalam kontrak yang menyebutkan isi rumah ikut dijual." Lin Yan mengangkat bahu. "Lagipula, mereka kan 'keluarga baik' yang peduli sama aku. Masa perabotan kecil seperti ranjang, sofa, kulkas, televisi, lemari, lampu gantung—" ia menyebut satu per satu dengan nada polos, "—begitu dipersoalkan?"
【...Aku kasihan sama pamanmu. Tapi di sisi lain, dia pantas dapat itu.】
"Setuju."
Lin Yan melajukan mobilnya, tapi tidak langsung menuju sekolah adiknya. Ia punya rencana lain.
Tujuan pertama: toko material bangunan besar di kawasan industri Wugu. Di dalam, ia bertemu dengan manajer toko, seorang pria paruh baya bernama Li Guangming.
"Saya mau pesan bahan bangunan. Banyak." Kali ini nada bicaranya tegas, tanpa akting.
Li Guangming mengerjap. "Berapa banyak, Nona?"
Lin Yan mengeluarkan daftar panjang dari tasnya—daftar yang sudah ia siapkan sejak semalam. "Semen 500 sak, batu bata 10.000 buah, kayu balok 200 batang, besi beton 500 batang, paku berbagai ukuran 100 kg, seng gelombang 200 lembar, genteng 2.000 buah, cat tembok 100 kaleng, pipa PVC berbagai ukuran 500 batang, kran air 100 buah, wastafel 20 set, kloset duduk 10 set... dan masih banyak lagi. Daftar lengkapnya ada di sini."
Li Guangming membaca daftar itu, matanya makin lama makin membelalak. Kacamatanya hampir jatuh. "N-Nona... ini untuk membangun perumahan? Apartemen?"
"Untuk proyek pribadi. Bisa?"
"B-Bisa, Nona! Tapi butuh waktu untuk mengumpulkan stok sebanyak ini. Paling cepat tiga hari."
"Kirim ke gudang saya di kawasan pelabuhan. Alamatnya ini." Lin Yan menyerahkan kartu nama gudang. "Saya bayar setengah di muka, setengah setelah barang sampai. Totalnya?"
Setelah menghitung cepat dengan kalkulator, Li Guangming menyebut angka: 1,2 juta yuan. Lin Yan mengangguk, mentransfer uang muka 600 ribu langsung dari ponselnya.
Selanjutnya, ia pergi ke toko alat pertanian di daerah yang sama. Di sana ia membeli traktor tangan, mesin penggiling padi, alat penanam, alat panen, cangkul, sekop, garpu, sabit, pompa air, selang, ribuan perlengkapan pertanian, juga pupuk dan pestisida dalam jumlah besar. Total belanja: 400 ribu yuan.
Terakhir, ia ke toko bibit tanaman. Membeli bibit padi, jagung, kedelai, kacang hijau, sayur-mayur (kangkung, bayam, sawi, cabai, tomat, terong), buah-buahan (semangka, melon, stroberi), dan pohon-pohon produktif seperti mangga, jeruk, apel, kelapa, durian, rambutan. Juga bibit tanaman obat: jahe, kunyit, lengkuas, sereh. Total: 200 ribu yuan.
Satu jam kemudian, dari 80 juta yang baru diterimanya ludes semuanya. Rekeningnya kembali ke saldo normal—masih miliaran dari tabungan pemilik asli, tapi uang segar itu sudah habis.
【Kau menghabiskan menghabiskan semuanya dalam satu jam.】
"Investasi." Lin Yan tersenyum. "Sekarang, jemput adik."
SMA Guangming, sekolah menengah atas ternama di kota. Gerbangnya besar dengan papan nama beraksen emas. Saat mobil sport hitam Lin Yan berhenti di depan gerbang, suasana langsung berubah.
Para siswa yang baru keluar sekolah berhenti, menatap kendaraan mewah itu dengan rasa ingin tahu. Beberapa mengeluarkan ponsel untuk memotret. Guru-guru yang menjaga gerbang ikut melongo.
Lin Yan turun, bersandar di pintu mobil sambil memainkan ponsel. Rambut putih panjangnya terikat ekor kuda tinggi, kacamata hitam besar menutupi mata merah. Kaos hitam longgar dan celana olahraga hitam sederhana, tapi tetap memancarkan aura misterius dan elegan. Kulit putih porselennya bersinar di bawah matahari sore.
Para siswa laki-laki berbisik-bisik, tidak bisa menyembunyikan rasa kagum.
"Itu siapa? Artis?"
"Cantik banget. Lihat rambutnya, putih alami? Atau di-bleaching?"
"Mobilnya Porsche! Pasti anak konglomerat."
"Kenapa berhenti di sini? Jangan-jangan jemput pacar?"
"Enak banget yang jadi pacarnya."
Para siswi juga tidak kalah heboh, meski dengan nada berbeda.
"Ih, cantik amat. Sabar, atuh."
"Pakaiannya simpel tapi keliatan mahal."
"Kakinya jenjang banget. Tinggi, ya?"
"Mana putih lagi. Kayu putih?"
Lin Yan tidak peduli pada bisik-bisik itu. Ia sibuk membaca pesan dari sistem yang tiba-tiba muncul di layar ponsel—sebenarnya di layar hologram, tapi ia pura-pura baca ponsel.
【Informasi: Pemilik tubuh memiliki properti rahasia. 10 hektar hutan di kaki Gunung Qingcheng, sekitar dua jam dari kota. Dibeli secara diam-diam lima tahun lalu, tidak tercatat di dokumen keluarga.】
Mata Lin Yan berbinar di balik kacamata hitam. "Gunung Qingcheng? Lokasi bagus. Sejuk, jauh dari keramaian, sumber air pasti ada."
【Itu lokasi sempurna untuk wilayah. Hutan terpencil, sulit diakses, sumber air dari mata air gunung. Bisa kau tandai nanti.】
"Nanti setelah jemput adik tampan ku."
Tiba-tiba, kerumunan siswa laki-laki bergerak, memberi jalan. Seorang pemuda berjalan mendekati Lin Yan. Tingginya sekitar 1,9 meter, berambut hitam legam, dengan wajah tampan yang membuat para siswi menjerit kecil. Seragam SMA-nya rapi, dasi terpasang sempurna, lencana sekolah berkilau.
Pemuda itu tersenyum hangat, senyum yang langsung melunakkan wajah tampannya. "Jiejie!" panggilnya—kakak perempuan dalam bahasa Mandarin.
Lin Yan mendongak dari ponsel. Ia menatap pemuda itu, lalu ingatan pemilik tubuh muncul. Ini Lin Feng, adik laki-lakinya, selisih usia dua tahun. Dalam foto keluarga, ayah mereka berambut putih dan mata merah—warisan genetik yang diturunkan ke Lin Yan. Ibu mereka berambut hitam mata coklat—warisan untuk Lin Feng.
"Feng'er." Lin Yan memanggil nama panggilan adiknya. Suaranya datar seperti biasa.
Lin Feng mendekat, matanya mengamati kakaknya dari atas ke bawah. "Jie... kau berbeda." Ia mengerutkan kening, bingung. "Lebih... lebih tinggi? Dan lebih putih? Dan... cantik sekali. Kayak artis."
"Efek skincare luar negeri," jawab Lin Yan tanpa ekspresi.
Lin Feng terkekeh. Ia sudah terbiasa dengan gaya bicara kakaknya yang aneh. Sejak kecil, Lin Yan memang sedikit... berbeda. Tapi setelah "pulang dari luar negeri" beberapa tahun lalu—setelah orang tua mereka meninggal—ia tampak normal. Keluarga hanya tahu Lin Yan sekolah di luar negeri, tidak ada yang tahu ia sebenarnya dirawat di rumah sakit jiwa khusus. Pemilik asli memang sempat dikirim ke luar negeri ke sebuah "sekolah khusus" setelah menunjukkan gejala aneh di masa remaja, lalu dipindah ke rumah sakit jiwa biasa di Taiwan setelah kondisinya memburuk.
"Masuk." Lin Yan membuka pintu mobil.
Lin Feng menuruti, duduk di kursi penumpang. Begitu pintu tertutup dan mobil melaju meninggalkan kerumunan siswa yang masih terpana, ia bertanya, "Jie, kenapa jemput aku? Biasanya aku pulang sendiri naik MRT."
"Ada yang mau dibicarakan. Tapi nanti." Lin Yan fokus menyetir, matanya lurus ke depan. "Kita ke tempat baru dulu."
"Tempat baru?"
"Apartemen dekat Gunung Qingcheng. Kita tinggal di sana sementara."
Lin Feng mengerutkan kening. "Gunung Qingcheng? Jauh banget, Jie. Dua jam dari sini. Terus sekolah gue gimana?"
"Urus nanti."
Mobil melaju di jalan tol, meninggalkan hiruk-pikuk kota. Gedung-gedung pencakar langit perlahan berganti menjadi perbukitan hijau. Lin Feng diam beberapa saat, menikmati pemandangan, lalu bertanya lagi.
"Jie, omong-omong, di sekolah banyak yang naksir kau. Pas lihat tadi, pada bengong semua. Temen pada nanya terus."
"Tidak peduli."
"Ya ampun, Jie dingin sekali." Lin Feng tertawa. Tapi tawanya mereda saat melihat ekspresi kakaknya yang serius. "Jie... ada sesuatu yang terjadi, ya?"
Lin Yan diam sejenak. Matanya masih lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras sedikit. Lalu ia berkata pelan, "Nanti di rumah, aku akan cerita sesuatu. Tapi sekarang, dengar dulu: mulai hari ini, kau tidak usah ke sekolah dulu. Aku akan urus surat cuti."
"APA?!" Lin Feng hampir melompat di kursinya. "Jie, aku baru kelas 3 SMA! Sebentar lagi ujian masuk universitas! Masa cuti?!"
"Percaya sama jiejie, kan?"
Lin Feng menatap kakaknya lama. Mata merah delima di balik kacamata hitam itu serius, tidak bercanda. Ia mencari-cari tanda-tanda bercanda, tapi tidak ada. Akhirnya ia menghela nafas