Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...
Malam merambat perlahan melalui celah gorden apartemen kami, membawa sisa-sisa keriuhan Mal yang tadi sempat menguras energi. Di dalam sini, di ruang tamu yang hanya diterangi lampu redup berwarna kekuningan, segalanya terasa jauh lebih nyata. Aku duduk di sofa, merasakan keheningan yang nyaman, sementara Linda sedang di dapur, memanaskan sup sisa makan siang yang tadi sempat terlupakan.
“Akhirnya,” Batin ku sambil menyandarkan kepala di sandaran sofa. “Dunia luar benar-benar melelahkan. Bukan karena pekerjaannya, tapi karena harus menjaga perasaan istri siluman yang tingkat posesifnya setinggi gedung pencakar langit.”
Namun, ada rasa bangga yang aneh di dada ku. Kejadian di Mal tadi saat Linda mengusir wanita pirang itu hanya dengan tatapan, membuat ku sadar betapa berartinya aku baginya. Aku bukan sekadar suami; aku adalah seluruh dunianya.
"Dimas, supnya sudah siap," suara Linda memanggil, lembut namun ada nada sedikit serak di sana.
Aku berjalan ke meja makan. Linda sudah duduk di sana, masih mengenakan sweter longgar yang tadi ia pakai, tapi ia sudah melepas bucket hat-nya. Telinga rubahnya yang berwarna cokelat indah itu berdiri tegak, bergerak-gerak pelan mengikuti irama napasnya. Ekor tebalnya menyembul dari balik sweter, melingkar di kaki kursi yang ia duduki.
"Terima kasih, Sayang," kata ku sambil duduk di hadapannya.
Aku mulai menyesap sup itu. Hangat. Sangat hangat hingga rasa pegal di bahu ku perlahan melumer. Linda tidak makan. Ia hanya menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap ku dengan mata hijau yang tampak lebih dalam dan redup dari biasanya.
"Kenapa kau hanya menatap ku, Linda? Kau tidak lapar?" tanya ku.
"Aku sudah kenyang hanya dengan melihat mu memakan masakan ku," jawabnya pelan. Ia meraih tangan ku di atas meja, jemarinya yang lentik mengusap punggung tangan ku dengan gerakan memutar yang lambat. "Dimas... apa kau merasa aku terlalu berlebihan tadi di Mal?"
Aku terdiam sejenak. "Berlebihan? Maksud mu soal wanita pirang itu?"
Linda mengangguk kecil. Telinganya sedikit terkulai. "Aku bisa merasakan ketakutannya. Aku tahu aku menggunakan sedikit kekuatan untuk menekannya. Aku hanya... aku tidak tahan melihatnya menyentuh mu. Rasanya seperti ada api yang membakar ekor ku."
"Aku tidak keberatan, Linda. Malah, aku merasa sedikit terbantu. Aku tidak tahu cara menolak orang dengan sopan tanpa menyakiti perasaan mereka, tapi kau melakukannya dengan... cara yang sangat efektif," aku mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.
Tapi Linda tidak tertawa. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri dan berjalan mendekati ku. Ia tidak duduk di kursinya lagi, melainkan langsung duduk di pangkuan ku, melingkarkan lengannya di leher ku. Aroma melati yang kuat segera menyelimuti ku, bercampur dengan uap hangat dari sup di atas meja.
"Dimas, kau tahu tidak apa yang aku lakukan saat kau berada di kantor?" bisiknya tepat di depan bibir ku.
"Membersihkan rumah? Menonton TV? Atau mungkin tidur?"
Linda menggeleng. "Aku menghitung detak jam dinding. Aku berjalan dari satu sudut ruangan ke sudut lainnya, mencoba menangkap sisa aroma mu yang tertinggal di bantal atau di baju kotor mu. Apartemen ini sangat luas jika kau tidak ada, Dimas. Terlalu luas untuk seekor rubah yang terbiasa hidup berkelompok atau setidaknya memiliki pasangan di sisinya."
Keluh batin ku terenyuh. “Aku sering lupa bahwa bagi Linda, aku adalah satu-satunya jembatannya dengan dunia ini. Dia meninggalkan habitat aslinya, menyembunyikan identitasnya, semuanya hanya untuk bersama ku di kotak beton ini.”
"Apa kau merasa kesepian?" tanya ku sambil merangkul pinggangnya, merasakan ekor tebalnya yang kini membelit pinggang ku dengan erat, seolah takut aku akan melarikan diri.
"Sangat," jawabnya jujur. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kadang-kadang, saat kau lembur, aku berdiri di depan pintu selama berjam-jam, hanya untuk memastikan aku adalah orang pertama yang kau lihat saat kau masuk. Aku takut, Dimas... aku takut suatu hari nanti kau akan menyadari bahwa hidup dengan manusia biasa jauh lebih mudah daripada hidup dengan siluman yang haus perhatian dan penuh rahasia seperti ku."
"Linda, lihat aku," aku mengangkat dagunya agar ia menatap mata ku. "Hidup dengan mu mungkin menantang, tapi itu adalah satu-satunya hidup yang aku inginkan. Aku tidak butuh wanita normal yang 'mudah'. Aku butuh kamu. Dengan segala ekor, telinga, dan rasa posesif mu ini."
Linda tersenyum kecil, sebuah senyum yang tulus namun penuh dengan kerentanan. Ia membenamkan wajahnya di leher ku, memberikan ciuman-ciuman kecil yang terasa hangat dan basah.
"Malam ini... sup ini bukan hal terhangat di rumah ini, kan?" godanya dengan suara yang mulai berubah menjadi serak dan menggoda.
"Tentu saja tidak," jawab ku.
Aku mengangkat tubuhnya, membawanya menuju kamar tidur. Di dalam kamar, cahaya bulan menyinari tempat tidur kami, menciptakan bayangan yang dramatis pada sosok Linda. Ia melepas sweternya, membiarkan tubuhnya yang indah terekspos sepenuhnya di bawah sinar rembulan. Telinga dan ekornya bergerak-gerak liar, menunjukkan gairah yang tidak bisa lagi ia bendung.
"Klaim aku, Dimas," bisiknya saat aku merebahkannya di atas kasur. "Buat aku lupa pada kesepian itu. Buat aku merasa bahwa aku adalah satu-satunya makhluk yang ada di pikiran mu."
Momen intim itu dimulai dengan kelembutan yang mendalam. Setiap sentuhan ku adalah jawaban atas ketakutannya, dan setiap desahannya adalah pengakuan atas rasa rindunya yang tertahan seharian. Linda tidak hanya menggunakan tubuhnya; ia menggunakan seluruh keberadaannya sebagai siluman untuk menyatu dengan ku. Aku bisa merasakan energi hangat yang mengalir dari kulitnya ke kulitku, sebuah ikatan yang melampaui sekadar fisik.
“Dia benar,” pikirku di tengah gejolak rasa yang membuncah. “Cinta ini jauh lebih panas dari sup apa pun. Ini adalah api yang menghangatkan jiwa kami berdua.”
Kami berbagi bisikan-bisikan rahasia di antara ciuman gila kami. Linda menceritakan betapa ia menyukai caraku mengernyit saat serius bekerja, dan aku menceritakan betapa aku memuja caranya menggerakkan telinganya saat ia senang. Di saat-saat seperti ini, tidak ada lagi manajer logistik atau istri siluman. Hanya ada dua jiwa yang saling membutuhkan.
"Kau milikku, kan?" tanya Linda, napasnya memburu di atas dadaku setelah badai gairah itu perlahan mereda.
"Selamanya, Linda. Sampai aku tidak bisa bernapas lagi," jawabku sambil memeluknya erat, menyelimuti tubuh kami berdua.
Linda menyandarkan kepalanya di dadaku, mendengarkan detak jantungku yang masih berpacu. Ekornya melingkari kakiku di bawah selimut, memberikan rasa aman yang tak tergantikan.
"Dimas," panggilnya lagi, suaranya kini terdengar sangat rileks.
"Ya, Sayang?"
"Jika suatu saat nanti... sarang ini menjadi terlalu sempit untuk kita berdua... apa kau keberatan jika kita menambah satu lagi anggota kelompok kecil kita?"
Aku tertegun. Aku tahu apa yang ia maksud. Keinginannya untuk memiliki keturunan, sebuah ikatan abadi yang akan menyatukan darah manusia dan siluman. Sebuah mimpi yang berisiko, namun sangat indah.
"Aku akan sangat bahagia, Linda," jawabku tulus. "Kita akan membangun sarang yang lebih besar, dan aku akan memastikan tidak ada satupun dari kalian yang akan merasa kesepian lagi."
Linda mendongak, matanya berkilat penuh harapan. "Janji?"
"Janji."
Malam itu, di apartemen nomor 404, sup yang mendingin di meja makan tidak lagi penting. Karena di dalam kamar itu, ada kehangatan yang jauh lebih abadi. Kehangatan dari dua orang yang baru saja mengalahkan sepi, dan siap menghadapi dunia esok pagi dengan cinta yang lebih kuat dari sebelumnya.
Aku memejamkan mata, membiarkan aroma melati Linda membawaku ke alam mimpi. Di sana, aku melihat kami berdua berjalan di sebuah taman bunga, dan di antara kami, ada seorang anak kecil dengan telinga cokelat yang lucu, sedang berlari mengejar kupu-kupu.
Itu adalah masa depan yang layak untuk diperjuangkan.