Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil?
2 Minggu berlalu
"Huek... huek..."
Suara muntahan Nayra Agata Kennedy bergema di kamar mandi kecil yang terletak di dalam kamarnya. Badannya menggigil, tangan yang menyangga tubuhnya di atas westafel tampak gemetar lemah. Lantai kamar mandi yang bersih sedikit terlihat basah oleh keringat yang menetes dari dahinya dan tetesan air liur yang keluar saat ia muntah. Wajahnya yang biasanya cerah kini sangat pucat, bibirnya mengering seperti tidak pernah mendapatkan kelembapan sama sekali.
"Nay!"
Terdengar suara Nayla, pekikan saudari kembarnya menyambar telinga Nayra saat pintu kamar yang tidak dikunci terbuka dengan cepat. Nayla memasuki kamar dengan langkah tergesa-gesa, matanya membelalak melihat kondisi saudari kembar nya yang sedang menghadap westafel dengan tubuh yang terus bergetar
"Nay, kau kenapa? Kau masuk angin?" tanya Nayla dengan nada penuh khawatir, langkahnya semakin cepat mendekati Nayra yang masih terus memuntahkan isi perutnya yang sudah hampir kosong. Udara di kamar mandi terasa sangat panas, bahkan membuat Nayla yang baru masuk saja merasa sesak.
Setelah beberapa saat, Nayra akhirnya bisa mengangkat kepalanya perlahan, wajahnya penuh dengan rasa tidak nyaman. Ia menoleh ke arah Nayla dengan mata yang sedikit kabur. "Iya kak... udah dua hari ini aku mual terus..." jawabnya dengan suara yang lemah dan menggigil, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa sangat berat untuk diucapkan.
Nayla menerobos masuk ke kamar mandi, tangannya segera menyangga punggung Nayra agar ia tidak jatuh. "Kita ke rumah sakit yuk," ajaknya dengan nada yang sudah mulai menunjukkan rasa khawatir yang mendalam. Ia tahu bahwa jika kondisi Nayra hanya masuk angin, mual yang berlangsung selama dua hari berturut-turut bukanlah hal yang biasa terjadi.
Tapi Nayra hanya menggelengkan kepalanya perlahan, kepalanya masih menghadap westafel karena rasa mual yang masih terus menghantui dirinya. "Enggak usah deh... paling juga cuma masuk angin..." jawabnya dengan suara yang semakin lemah, ia tidak ingin menyusahkan saudari maupun keluarga besarnya yang selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Nay, kau bilang sudah dua hari. Jangan dibiarkan Nay..." nasihat Nayla dengan nada yang lembut tapi tegas, tangannya terus menyangga tubuh Nayra agar tetap stabil berdiri. Ia melihat wajah Nayra yang semakin pucat dan merasa bahwa sesuatu yang tidak baik sedang terjadi pada saudari kandungnya.
Nayra akhirnya bisa berdiri tegak dengan bantuan Nayla, kemudian menatap wajah saudari kembarnya dengan mata yang sudah mulai berair. "Nanti aku beli tolak angin aja Kak... aman kok..." ucapnya dengan wajah pucat pasi, bibirnya sedikit menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan rasa sakit dan mual yang masih terus datang.
Nayla menggelengkan kepalanya dengan tidak puas, kemudian menyentuh dahi Nayra dengan lembut menggunakan ujung tangan kanannya. Suhu tubuh Nayra terasa sedikit hangat, tapi yang membuatnya semakin khawatir adalah warna wajah Nayra yang sudah sangat tidak wajar. "Nay, kau pucat banget Nay. Kita harus ke rumah sakit..." ucapnya dengan nada yang penuh keprihatinan, sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya lagi.
Tanpa berpikir panjang lagi, Nayla berbalik dan berteriak keras ke arah luar kamar. "Kak, Naga! Kak Nathan! Kak Nick!" suaranya terdengar sangat keras dan penuh dengan rasa panik, sesuatu yang jarang sekali dilakukan oleh Nayla yang biasanya sangat tenang dan sabar.
Setelah beberapa saat tidak ada tanggapan, Nayla berteriak lagi dengan suara yang lebih keras. "Kak!"
Suara jeritan Nayla akhirnya terdengar jelas hingga ke bagian depan rumah. Tidak lama kemudian, tiga sosok pria besar masuk ke kamar Nayra dengan langkah cepat, Nagara, Nick, dan Nathan. Di belakang mereka, Bi Surti. pembantu rumah tangga yang sudah merawat mereka sejak kecil pun turut berlari dengan panik, wajahnya penuh dengan rasa takut. karena tidak biasanya Nayla berteriak dengan suara lantang di pagi hari
"Ada apa Ela?" tanya Naga dengan suara yang dalam saat berdiri tepat di depan pintu kamar mandi, matanya melihat ke arah Nayra yang sedang disangga oleh Nayla. Nick dan Nathan berdiri tepat di belakangnya, sedangkan Bi Surti sudah tidak sabar untuk mendekati Nayra.
"Nay, kenapa kau pucat sekali?" tanya Nick dengan cepat mendekati Nayra, tangannya sudah siap untuk menopang tubuhnya jika diperlukan. Ia melihat wajah Nayra dengan ekspresi penuh khawatir, gadis yang baru saja berusia 21 tahun itu adalah adik bungsu mereka yang baru beberapa bulan ini dapat perlindungan dan dicinta dari semua anggota keluarga.
Nayra mengangguk perlahan, mencoba untuk memberikan senyuman yang lemah. "Tidak apa-apa kak... hanya masuk angin kok..." jawabnya dengan suara yang lesu, tubuhnya mulai terasa semakin lemas dan tidak berdaya.
"Apa demam?" tanya Bi Surti dengan cepat menerobos masuk ke kamar mandi, tangannya segera menyentuh dahi dan leher Nayra dengan penuh perhatian. Wajahnya tampak sangat khawati. ia sudah merawat Nayra sejak bayi, bahkan Nayra lebih sering menghabiskan waktu dengannya dibandingkan keluarganya yang sedari dulu selalu mengabaikan nya
"Tidak demam, tapi kenapa pucat sekali ndok?" tanya Bi Surti lagi dengan suara yang sedikit bergetar, matanya melihat ke arah tubuh Nayra yang mulai menggigil lagi. Pada saat yang sama, Nick berdiri tepat di belakang Nayra, tangannya menyangga pinggangnya agar tubuhnya tidak terjatuh. Nayra juga menggenggam erat lengan Nayla dengan tangan yang lemah, seolah mencari kekuatan dari sentuhan saudari kandungnya.
"Kita ke rumah sakit Nay!" seru Naga dengan tegas, sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya lagi. Ia hendak mengangkat tubuh Nayra dengan kuat, siap membawanya keluar rumah kapan saja.
Tapi Nayra masih mencoba untuk menolak dengan lembut, badannya yang semakin melemah membuatnya sulit untuk berbicara dengan jelas. "Kak... tidak usah kak..." ucapnya dengan suara yang hampir tidak terdengar, matanya sudah mulai merasa berat untuk tetap terbuka.
"Nay, badanmu lemas banget, kau harus ke rumah sakit!" timpal Nathan dengan nada yang penuh kekhawatiran, tangannya sudah membantu Nick untuk menopang tubuh Nayra agar tidak jatuh ke lantai.
"Ti—"
Belum sempat Nayra menyelesaikan kalimatnya, badannya tiba-tiba menjadi sangat lemas dan tidak bisa menahan berat tubuhnya lagi. Ia jatuh pingsan tepat di dalam pelukan Nick yang sudah siap menampungnya. Tubuhnya terasa sangat dingin dan lemas seperti boneka yang tidak memiliki kekuatan sama sekali.
"Mas, gimana ini mas! Mas, ya Allah!" pekik Bi Surti dengan suara penuh panik, tangannya mengepal erat di depan dadanya. Hatinya seperti ingin terbelah melihat kondisi Nayra yang tidak sadarkan diri.
Nick bergerak cepat dengan hati-hati, membawa tubuh Nayra keluar dari kamar mandi dan menuju ranjang yang terletak di tengah kamar. Ia meletakkan tubuh Nayra dengan sangat lembut di atas ranjang, kemudian menyesuaikan bantal agar kepalanya tetap dalam posisi yang nyaman. Nayla segera mengambil selimut tipis untuk menutupi tubuh Nayra yang masih menggigil.
"Kita bawa ke rumah sakit saja kak," usul Nathan dengan suara yang tenang namun penuh kekhawatiran, ia sudah mengambil kunci mobil dari laci meja dan siap untuk pergi kapan saja.
Naga mengerutkan keningnya, masih merasa ragu karena Nayra sebelumnya sangat menolak untuk pergi ke rumah sakit. "Tapi dia menolak..." ucapnya dengan nada yang ragu-ragu.
Pada saat ini, Nayla menoleh ke arah Bi Surti dengan mata yang penuh harap. Ia tahu bahwa di antara semua orang di rumah ini, hanya Bi Surti yang selalu tahu apa yang terjadi pada Nayra. "Bi, apa Nayra sakit?" tanya Nayla dengan suara yang lembut, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya menunjukkan bahwa ia sudah mulai curiga dengan kondisi yang dialami saudari kandungnya. Ia seolah trauma dengan kejadian Ayahnya yang merahasiakan penyakit di belakang mereka.
Bi Surti menghela napas dalam-dalam, wajahnya penuh dengan kesusahan. "beberapa bulan ini dia memang mengeluh katanya menstruasi tidak teratur, dia bisa menstruasi sampai dua atau tiga Minggu lama nya..." jawabnya dengan suara yang lemah, ingatan tentang keluhan Nayra beberapa waktu lalu muncul kembali di benaknya.
Nayla mengangguk perlahan, kemudian melanjutkan kata-kata Bi Surti. "Kalau itu aku tahu bi, dia memang bilang setiap selesai menstruasi, selang satu minggu nya pasti dia menstruasi lagi kak, dan masa menstruasi dia lama bisa dua sampai tiga minggu. Tapi dia sudah pergi ke rumah sakit, dan dua hari setelah pulang dari rumah sakit dia bilang menstruasi berhenti..." jelas Nayla dengan suara yang semakin keras, ia ingin semua kakaknya tahu tentang kondisi yang sebenarnya dialami Nayra selama ini.
Nick mengerutkan keningnya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kapan dia ke rumah sakit?" tanyanya dengan suara yang tegas.
"Dua minggu yang lalu..." jawab Bi Surti dengan lembut.
Pada saat ini, Naga mengambil keputusan dengan cepat dan tegas. Ia mendekati ranjang Nayra, kemudian dengan hati-hati mengangkat tubuhnya ke dalam pelukannya. Tubuh Nayra terasa sangat ringan dan lemas di dalam pelukannya. "Ke rumah sakit sekarang. Jika dibiarkan dia akan kehabisan darah! Karena semakin sering mentruasi. Takut nya rahim dia juga jadi bermasalah" tegasnya dengan nada yang tidak bisa ditentang lagi, kemudian berjalan cepat menuju pintu keluar rumah.
Nick mengambil tas darurat yang sudah disiapkan Bi Surti, Nathan membuka pintu mobil dengan cepat, sedangkan Nayla dan Bi Surti mengikuti di belakang dengan langkah tergesa-gesa. Udara pagi yang sejuk terasa sangat dingin di wajah mereka, tapi tidak ada seorang pun yang peduli, satu-satunya yang mereka pikirkan saat ini adalah keselamatan Nayra, adik bungsu mereka yang baru akrab dengan mereka semua.
Setelah semua orang masuk ke dalam mobil, Naga mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit Metropolitan. tempat yang sama dimana Nayra pernah melakukan pemeriksaan dua minggu yang lalu. Di dalam mobil, Nayla terus menyangga kepala Nayra dengan lembut, sambil mengusap-usap dahinya dengan tangan yang penuh kasih sayang. Bi Surti duduk di sebelahnya, tangannya terus memegang tangan Nayra yang dingin dan lemah. Sedangkan Nick dan Nathan duduk di baris belakang, wajah mereka penuh dengan rasa khawatir dan harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan Nayra.
Setelah beberapa menit berkendara dengan cepat, mobil akhirnya tiba di rumah sakit. Naga segera membawakan Nayra ke ruang gawat darurat dengan langkah cepat. Petugas medis segera merespon dengan cepat, membawa Nayra ke dalam ruangan pemeriksaan dan melakukan serangkaian tes untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Sementara itu, keluarga Kennedy menunggu dengan cemas di luar ruangan gawat darurat. Wajah mereka penuh dengan rasa khawatir dan ketakutan yang mendalam. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika sesuatu yang tidak baik terjadi pada Nayra, adik bungsu mereka yang sudah menjadi sumber kebahagiaan bagi semua orang di keluarga tersebut.
Setelah beberapa waktu yang terasa sangat lama, seorang dokter wanita dengan jas putih keluar dari ruangan pemeriksaan. Ia mendekati keluarga Wijaya dengan wajah yang sangat serius, membuat semua orang merasa semakin tegang.
"Keluarga dari Nayra Agata Kennedy?" tanya dokter dengan suara yang lembut tapi jelas.
Naga segera maju ke depan, diikuti oleh anggota keluarga lainnya. "Ya, kami adalah keluarganya. Bagaimana kondisinya dok?" tanyanya dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Dokter menghela napas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya. Dokter tampak prihatin karena di data diri Nayra tertulis status gadis "Kondisi pasien saat ini sudah stabil, tapi ada sesuatu yang perlu saya sampaikan..." ucapnya dengan suara yang semakin rendah, membuat semua orang merasa semakin tidak nyaman. "Setelah melakukan tes darah dan USG, kami menemukan bahwa pasien sedang hamil sekitar empat minggu..."
Kata-kata dokter itu seperti petir yang menyambar langsung ke hati semua anggota keluarga Kennedy. Wajah mereka menjadi sangat pucat, mata mereka membelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Nayla bahkan merasa tubuhnya menjadi lemah, harus ditopang oleh Nathan agar tidak jatuh. Bi Surti menangis tersedu-sedu, tidak bisa membayangkan bagaimana seorang gadis pendiam dan tidak pernah terlibat pergaulan bebas bisa hamil di luar nikah.
"Tidak mungkin dokter! Nayra adalah seorang gadis perawan! Dia tidak pernah memiliki hubungan dengan siapapun!" teriak Naga dengan suara yang penuh kemarahan dan tidak percaya, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.