dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Tak Pernah Di Hargai
Saat mendengar kata-kata pedas Bu Guru dan melihat tatapan tidak percaya teman-teman, seketika waktu seolah berputar kembali. Ingatan tentang kejadian-kejadian masa kecil yang menyakitkan muncul begitu saja, menghantam kepalaku dengan keras.
Ada satu rahasia yang mungkin tidak banyak orang tahu: meskipun di sekolah pagi aku dianggap sebagai siswi yang bodoh, lambat, dan tertinggal, hal yang sama sekali berbeda terjadi saat sore hari tiba. Saat aku masuk ke Madrasah Diniyah tempatku mengaji dan belajar agama, aku adalah sosok yang berbeda. Di sana, aku tergolong santri yang lumayan pandai.
Aku ingat betul, dulu aku belajar dengan sungguh-sungguh di Madrasah. Aku menghafal doa-doa, membaca kitab, dan mempelajari hukum tajwid dengan giat. Otakku seakan bekerja lebih lancar saat berurusan dengan hal-hal ini. Aku tidak merasa kesulitan seperti saat menghitung angka atau menghafal rumus di sekolah umum.
Berkat usahaku itu, aku berhasil mendapatkan Ranking 1 berturut-turut selama beberapa semester. Setiap kali pengumuman nilai, namaku selalu disebut sebagai yang teratas. Guru-guru di Madrasah memujiku, teman-teman santri mengagumiku. Rasanya bangga sekali. Aku merasa ada sesuatu yang bisa aku lakukan dengan baik.
Tapi, semua itu aku lakukan bukan hanya karena aku suka belajar. Ada harapan kecil yang terselip di hatiku yang polos saat itu: Aku ingin ayah memperhatikanku. Aku ingin ayah bangga padaku.
Setiap kali aku membawa pulang sertifikat atau piala kecil dari Madrasah, aku akan berlari pulang dengan hati berdebar penuh harap. Aku akan menyodorkan piala itu ke hadapan ayah, dengan mata berbinar-binar menunggu kata-kata pujian. Aku berharap ayah akan tersenyum, mengusap kepalaku, dan berkata, "Hebat ya, Lar. Ayah bangga sama kamu."
Namun, kenyataan selalu saja menusuk hatiku.
Ayah hanya akan melirik sekilas piala atau sertifikat itu, lalu wajahnya akan kembali masam tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada pujian. Yang keluar dari mulutnya hanyalah kata-kata yang mematikan semangat.
"Dapat rangking satu aja bangga gitu doang? Nggak ada gunanya," katanya dengan nada meremehkan, tanpa menatap mataku. "Dapat rangking satu terus bisa apa? Nggak punya uang banyak juga sama saja bohong. Piala dan kertas ini bisa buat makan? Bisa buat beli tanah? Bisa buat kaya? Nggak bisa! Jadi jangan bangga yang nggak-nggak."
Setiap kali mendengar itu, hatiku terasa remuk. Rasa bangga yang baru saja kubangun hancur berkeping-keping dalam sekejap. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, aku sudah menjadi yang terbaik di tempatku belajar, tapi bagi ayah, itu semua tidak ada artinya karena tidak menghasilkan uang.
Kekecewaan itu semakin mengakar dan mendalam, tertanam kuat di sanubariku hingga saat ini. Sejak saat itu, aku mulai berubah. Aku merasa sia-sia saja berusaha kalau pada akhirnya tidak ada yang menghargai. Aku mulai bersikap semauku, menutup diri, dan memendam kemampuanku. Padahal, aku tahu sebenarnya aku bisa. Aku bisa menjadi yang terbaik kalau aku mau dan kalau ada yang mendukung. Tapi, dukungan itu tidak pernah ada.
Dan sekarang, di sekolah ini, sejarah terulang lagi. Saat aku berhasil mendapatkan nilai 90, bukannya diapresiasi, aku malah dicurigai dan dimarahi. Seolah-olah Laras tidak boleh berhasil. Seolah-olah Laras harus selalu berada di bawah.
Aku menunduk, memeluk kertas ulangan yang tadi dilempar Bu Guru. Rasa sakit ini begitu familiar, rasa tidak dihargai ini begitu menyiksa. Tapi kali ini, di balik rasa perih itu, ada sesuatu yang lain—mungkin itu adalah tekad yang mulai membara lagi, atau mungkin hanya rasa pasrah yang semakin tebal. Aku tidak tahu. Yang jelas, luka lama ini kembali terbuka, dan rasanya sama perihnya seperti dulu.
Aku ingin membuktikan pada guru serta teman-temanku. Namun aku tak seberani itu.