Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Bujukan Alvin
Kediaman mewah keluarga Hutomo yang biasanya sunyi dan kaku, mendadak dipenuhi hangatnya tawa. Kepulangan Alvin dan Adelia dari Singapura membawa warna baru, terutama dengan kehadiran si kembar, Reno dan Rina. Dua balita berusia tiga tahun itu bak magnet yang mengalihkan seluruh dunia di rumah tersebut.
Andrea,sang nyonya besar benar-benar terpana. Tatapannya tak lepas dari Reno. Garis wajah cucunya itu adalah dejavu sempurna; mengingatkannya pada sosok Alvin saat masih kecil dulu. Kerinduan belasan tahun seolah terbayar tuntas hanya dengan menatap mata bulat sang cucu.
"Mama, makan dulu. Dari tadi Mama hanya sibuk bermain dengan Reno," tegur Adelia lembut. Sejak tadi, ia memperhatikan ibu mertua kesayangannya itu dengan senyum kecil.
"Tidak apa-apa, Del. Jarang sekali Mama merasa sebahagia ini," sahut Andrea tanpa mengalihkan pandangan, jemarinya sibuk merapikan rambut Reno yang berantakan. "Kalian saja yang makan. Mama sama sekali tidak lapar."
Alvin yang baru bergabung ikut menimpali, "Makanlah sedikit, Ma. Alvin lihat tadi Mama sangat antusias memasak ikan mas pesmol kesukaan Adel. Sekarang giliran Mama yang harus mengisi perut. Reno dan Rina tidak akan lari ke mana pun, Ma. Kami akan menginap di sini."
Kalimat terakhir Alvin sanggup membuat gerakan tangan Andrea terhenti. Wajahnya seketika sumringah, binar matanya tak bisa berbohong.
"Benar, Del? Kalian tidak akan langsung pulang ke hotel?" tanya Andrea memastikan, suaranya sedikit bergetar karena haru.
"Benar, Ma. Kami tahu betapa kalian merindukan mereka," jawab Adelia tulus.
"Ah, terima kasih... Terima kasih banyak."
Andrea tiba-tiba menjadi sangat bersemangat. Ia langsung menyuapkan nasi ke mulutnya dengan cepat,hampir seperti anak kecil yang terburu-buru menghabiskan sayur agar bisa segera kembali bermain. Ia hanya ingin waktu berjalan lebih lambat malam ini, agar ia bisa mendekap kedua cucunya lebih lama.
Makan malam berlangsung hangat, namun ada satu kursi yang masih kosong. Arga.
Alvin sudah beberapa kali menghubungi adiknya itu. Jawaban Arga selalu sama: "Sebentar lagi aku pulang." Singkat dan dingin. Alvin tahu betul itu bukan sekadar urusan pekerjaan. Arga hanya sedang menghindari rentetan pertanyaan orang tua mereka tentang pendamping hidup,terutama saat melihat Reno dan Rina yang seolah menjadi pengingat bagi Arga tentang apa yang seharusnya ia miliki, namun hilang.
"Coba hubungi Arga lagi, Vin. Kenapa dia belum sampai juga?" tanya Rasya, sang ayah, mulai tidak tenang.
"Sudahlah, Pa. Jangan dipaksa. Mungkin pekerjaannya sedang menumpuk. Kami masih punya banyak waktu untuk mengobrol nanti," bela Alvin, mencoba mencairkan suasana.
"Rasanya kurang lengkap, Vin, kalau kita makan tapi Arga masih di luar sana sendirian," gumam Rasya pelan.
Andrea yang tadinya ceria, mendadak murung. Ia meletakkan sendoknya. "Apa kamu ada kabar tentang Yura, Vin? Mama benar-benar buntu melihat kondisi Arga yang seperti ini."
Alvin terdiam sejenak. Ia menyeka mulutnya dengan sapu tangan, lalu meneguk air putih perlahan. Tatapannya berubah serius saat menatap kedua orang tuanya.
"Sampai detik ini, Yura seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada kabar apa pun," jawab Alvin berat. "Aku masih terus berusaha mencarinya. Semoga segera ada petunjuk. Atau... kita hanya bisa berharap Arga bisa merelakan Yura dan mulai membuka hatinya untuk wanita lain, Ma."
Andrea hanya mengangguk lirih, bahunya merosot lesu.
Tepat saat suasana mencekam itu menyelimuti meja makan, suara langkah kaki terdengar. Sosok yang mereka tunggu akhirnya muncul. Tanpa banyak bicara, Arga langsung menarik kursi kosong di sebelah Alvin.
"Gimana kabarmu, Ga?" tanya Alvin, mencoba menyambut adiknya dengan hangat.
Arga hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Ya... begini saja. Kamu sendiri gimana, Vin?"
"Seperti yang kamu lihat," balas Alvin sambil sedikit memamerkan lengannya yang tampak lebih kekar dan bugar dari beberapa tahun lalu.
Arga terkekeh pelan. "Sepertinya Mbak Adel sangat sukses mengurus pria ini."
Adelia tertawa kecil, melirik suaminya dengan tatapan menggoda. "Ya begitulah... Mungkin karena susunya cocok."
Alvin langsung tersedak kecil. "Hussh! Sayang, ada anak kecil di sini," bisik Alvin sambil memberi kode ke arah Nadia.
"Ups! Maaf, kelepasan," balas Adel sambil menutup mulutnya dengan gaya jenaka.
Nadia yang sejak tadi menyimak, mendengus sambil memutar bola matanya. "Bang Alvin apaan, sih? Nadia sudah besar, ya! Nadia sudah mengerti arah pembicaraan kalian."
Tawa pecah di meja makan itu, setidaknya untuk sejenak, menutupi luka yang masih menganga di hati Arga.
*
Malam kian merayap jauh, memeluk Kediaman Hutomo dalam keheningan. Di saat penghuni rumah yang lain telah berkelana ke alam mimpi, tidak dengan pria yang kini berdiri mematung di lantai tiga.
Arga menatap kosong ke arah kegelapan kota dari balkon. Di tangan kanannya, sebatang rokok yang menyala tampak setia menemani, sementara tangan kirinya menggenggam gelas berisi wine merah yang hampir tandas. Hampa. Hanya itu yang ia rasakan.
Sebuah tepukan mantap di pundak tiba-tiba mengejutkannya. Alvin sudah berdiri di sana, mengenakan piyama yang kancing atasnya terbuka, mengekspos dada bidangnya yang atletis. Arga terkekeh sinis,tawa yang hambar,saat matanya menangkap beberapa bercak kemerahan, jejak "kepemilikan" Adelia yang tertinggal di leher dan dada kakaknya.
"Sedang apa di sini? Bukannya seharusnya kau lebih betah mengurung diri di kamar?" sindir Arga, suaranya serak tertelan asap rokok.
Alvin hanya tersenyum tipis, tipe senyum seorang pria yang sudah selesai dengan badainya. Tanpa permisi, ia merebut gelas di tangan Arga dan meneguk isinya hingga habis.
"Mbak Adel bisa marah kalau tahu kau minum lagi," celetuk Arga datar.
"Aku sudah dapat izin khusus malam ini," balas Alvin santai sembari menuangkan kembali cairan merah itu ke dalam gelas. Ia menyandarkan sikunya di pagar balkon, menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sampai kapan kau mau hidup seperti ini, Ga? Apa kau tidak kasihan pada Papa dan Mama? Mereka sangat mengkhawatirkanmu," suara Alvin merendah, sarat akan tekanan persaudaraan yang tulus.
Arga tertunduk. Ia menatap ujung sepatunya, membiarkan asap rokok terakhir keluar dari celah bibirnya yang getir.
"Sampai aku menemukan Yura... atau setidaknya, sampai aku tahu alasan sebenarnya kenapa dia meninggalkanku begitu saja," balas Arga. Suaranya lirih, nyaris tercekik oleh ego dan luka yang ia simpan sendiri.
Alvin menghela napas panjang, kepulan uap napasnya terlihat di udara malam yang dingin. "Ga, ayolah... Buka matamu. Mungkin Yura memang benar-benar tidak menginginkanmu lagi. Atau mungkin saja, di suatu tempat di luar sana, dia sudah bahagia dengan hidupnya yang baru."
Alvin menepuk pundak adiknya lebih keras, mencoba menyadarkannya. "Kau harus memikirkan masa depanmu. Ingat, kau adalah pewaris Hutomo Group. Papa menaruh harapan besar pada keturunanmu untuk meneruskan perusahaan."
Arga tidak menjawab. Ia justru meneguk wine di gelasnya hingga tersisa separuh, membiarkan rasa pahit dan getir membakar tenggorokannya.
"Ada Reno dan Rina," sahut Arga pendek, mencoba melimpahkan beban itu pada keponakannya.
Alvin terkekeh, namun tawanya terdengar getir. "Sudah kuduga kau akan bicara begitu. Tapi maaf, aku tidak setuju anak-anakku menjadi korban keegoisanmu, Ga. Reno dan Rina akan hidup sesuai keinginan mereka sendiri, bukan menjadi 'ban serep' untuk pelarianmu."
Arga baru saja hendak membalas ucapan tajam kakaknya, namun kalimatnya tertahan di ujung lidah. Matanya menyipit, menangkap siluet sebuah scooter yang sangat ia kenali melintas di kejauhan bawah sana. Jantungnya berdegup kencang secara abnormal.
"Ayu?" gumam Arga tak percaya.
Alvin mengernyitkan dahi, bingung dengan perubahan drastis ekspresi adiknya. "Siapa?"
Arga tak menjawab. Gelas wine di tangannya ia letakkan asal di atas pagar balkon. Ia langsung berbalik dan berlari kencang menuju tangga, mengabaikan teriakan Alvin. Matanya tadi melihat dengan jelas,wanita itu, sosok yang belakangan ini sering berhadapan dengannya tampak sedang dikejar oleh seseorang.
[Bersambung...]
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it