Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
“Rel, ingat. Mulai besok kamu Daddy awasi,” ucap Nathan sambil tetap fokus mengemudi.
“Kenapa harus diawasi? Memangnya Darrel buat ulah lagi?” jawab anak itu dengan nada ketus.
“Kamu memang tidak membuat onar,” sahut Nathan cepat. “Tapi Daddy tidak suka kamu dekat-dekat dengan perempuan itu!” larangnya seperti ancaman.
“Memangnya Mbak Andin penjahat?” potong Darrel tanpa ragu. “Bahkan dia orang pertama yang percaya kalau aku bukan anak nakal, seperti yang kalian tuduhkan.”
Deg!
Hati Nathan terasa teriris mendengar pengakuan anaknya itu. Sebagai seorang ayah, ia justru tidak pernah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi Darrel untuk bercerita.
Ucapan barusan terasa seperti tamparan keras untuknya.
“Maafkan Daddy… kalau selama ini Daddy salah menilaimu,” kata Nathan sambil menatap anaknya sekilas dengan sorot yang lebih hangat.
“Kenapa Daddy harus telat menyadari itu?” balas Darrel. “Sementara Mbak Andin baru satu hari mengenaliku, tapi dia sudah berani bersaksi pada guru kalau aku bukan anak nakal.”
Untuk kali ini Nathan benar-benar kehabisan kata. Namun egonya masih terlalu tinggi untuk mengalahkan pikirannya sendiri.
“Pokoknya Daddy tetap tidak mau kamu dekat-dekat dengan perempuan itu lagi!” tegas Nathan, seolah memberikan peringatan keras.
Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah.
Begitu mobil benar-benar berhenti, Darrel langsung membuka pintu dengan kasar.
Braaak!
Pintu mobil ditutup keras sebelum anak itu berlari masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang campur aduk. Nathan hanya terdiam di balik kemudi, menatap punggung anaknya yang menjauh.
Di dalam kamar, Darrel melempar tasnya ke atas tempat tidur. Seragamnya ia lepaskan dengan gerakan kesal.
Hari ini ia benar-benar tidak mengerti cara berpikir orang dewasa. Mereka selalu menyuruh dan melarang tanpa pernah benar-benar memikirkan bagaimana perasaan dirinya.
“Aku gak mau disuruh menjauh dari Mbak Andin,” gumamnya lirih.
“Selama ini aku gak pernah punya tempat untuk bercerita. Sekalinya ada… kenapa Daddy malah melarangnya?” cetusnya sambil menendang tas sekolahnya ke sudut kamar.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, di rumah kontrakannya yang sederhana, Andin duduk terdiam di tepi ranjang. Ucapan Nathan tadi masih terngiang jelas di telinganya.
Jauhi anak saya.
Perempuan itu menunduk pelan. “Sepertinya aku memang tidak pernah boleh dekat dengan apa pun yang menjadi milik keluarga itu,” gumamnya pahit.
Tangannya menggenggam ujung bajunya.
“Dulu kamu mengambil Nathan dariku… sekarang kamu juga ingin mengambil satu-satunya anak yang tulus padaku,” bisiknya lirih.
Namun perlahan Andin menghela napas panjang. “Tidak… aku tidak boleh serakah.”
“Darrel hanya anak kecil. Dia tidak pantas ikut terseret dalam luka orang dewasa.”
Matanya terpejam sejenak. “Tapi kenapa harus anak Nathan… yang justru membuatku merasa tidak sendirian lagi?”
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi hari datang terlalu cepat.
Seperti biasa, Andin sudah berada di kantin sebelum anak-anak datang. Ia mulai menata dagangannya satu per satu, merapikan piring, menyiapkan kompor, dan menata bumbu nasi goreng yang sudah ia siapkan sejak subuh.
Di antara kesibukannya, senyum kecil sempat terbit di wajahnya. Entah kenapa setiap kali menyiapkan nasi goreng itu, ingatannya selalu kembali pada pertemuan pertamanya dengan Darrel.
Anak kecil yang datang dengan wajah murung… lalu pulang dengan senyum lebar.
Namun perlahan senyum itu memudar. Andin terdiam sejenak, menatap kuali di depannya.
Ia baru sadar… mulai hari ini anak itu mungkin tidak boleh lagi mendekat padanya.
“Ya Allah… aku harus bisa,” bisiknya pelan.
“Meskipun hanya melihat dia dari kejauhan saja.”
Tak lama kemudian, satu per satu anak mulai berdatangan ke sekolah. Kantin mulai ramai oleh suara anak-anak yang memesan makanan. Andin melayani mereka seperti biasa, tersenyum, bercanda kecil, seolah tidak ada yang berubah.
Namun matanya diam-diam terus mencari. Mencari satu sosok kecil yang biasanya datang paling awal.
Darrel.
Satu menit berlalu, lalu lima menit, namun anak itu tak kunjung terlihat, hati Andin mulai gelisah, tak menentu.
‘Kok Darrel belum datang… apa dia tidak sekolah hari ini?’ batinnya cemas.
Meski begitu, ia tetap memaksakan diri melayani anak-anak yang membeli dagangannya, dengan cekatan dan rapih, seolah tangannya itu sudah terlatih dengan baik.
"Mbak, nasi goreng satu," ujar salah satu anak.
"Iya Mbak aku juga," timpal yang lainnya.
"Iya sabar dulu," sahutnya penuh senyum, meskipun matanya mulai menyapu arah manapun.
Ia tidak sadar… dari balik tembok kelas yang tidak terlalu jauh dari kantin, sepasang mata kecil sedang memperhatikannya.
Darrel berdiri di sana, mengintip diam-diam. Anak itu melihat Andin yang sibuk melayani pembeli, sesekali tersenyum pada anak-anak lain. Dadanya terasa hangat… tapi juga sakit di waktu yang bersamaan.
“Mbak…” gumamnya lirih.
“Darrel pengin nasi goreng buatan Mbak…”
Ia menelan ludah pelan ketika aroma nasi goreng yang sedang dimasak Andin sampai ke tempatnya berdiri.
“Tapi sayang… Darrel gak boleh ke sana.”
“Jadi Darrel cuma bisa mencium aromanya saja… dari jauh.”
Anak itu menunduk. Pelan-pelan ia membuka kotak bekal yang diberikan neneknya pagi tadi. Di dalamnya hanya ada dua potong roti.
Darrel mengambil satu potong roti itu, lalu mendekatkannya ke hidungnya, seolah membayangkan aroma nasi goreng yang tadi tercium.
Ia menggigit roti itu perlahan, mengunyahnya lama, bahkan sangat lama.
“Hah…” gumamnya pelan.
“Rasanya tetap roti.”
Anak itu tersenyum tipis. “Tapi gak apa-apa, yang penting aku masih bisa mencium aroma masakan Mbak Kantin.”
Matanya kembali menatap ke arah kantin, namun kali ini hanya sebentar, karena tak lama kemudian. Bel masuk berbunyi nyaring.
Anak-anak yang tadi berkumpul di halaman mulai berhamburan masuk ke kelas masing-masing.
Pagi ini sekolah terasa jauh lebih tenang. Genta dan kawan-kawannya tidak terlihat, mereka masih menjalani hukuman dari pihak sekolah.
Namun entah kenapa Darrel tidak bisa merasakan ketenangan itu, hatinya justru terasa semakin sepi, seolah tempat paling nyaman yang baru saja ia temukan, kini sudah direnggut kembali darinya.
Ia menutup kotak bekalnya perlahan. Lalu berjalan masuk ke kelas dengan langkah pelan. Tanpa seorang pun tahu… bahwa pagi ini ada seorang anak kecil yang sedang belajar menahan rindu.
Mungkin bagi sebagian anak, Mbak Kantin hanyalah sosok biasa yang setiap hari berjualan dan melayani mereka dengan senyum ramahnya.
Namun bagi Darrel, hubungannya dengan perempuan itu terasa jauh lebih dari sekadar penjual dan pembeli. Ada ketulusan yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
Sikap Andin yang hangat, cara perempuan itu berbicara, bahkan perhatian kecil yang ia berikan—semuanya membuat Darrel merasakan sesuatu yang asing sekaligus menenangkan.
Seolah ada sosok ibu di sana. Seseorang yang peduli, yang mau mendengarkan, dan yang menyiapkan makanan dengan penuh perhatian.
Hal-hal sederhana yang selama ini tidak pernah benar-benar Darrel rasakan dalam hidupnya.
Bersambung ....