NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

"Tidak usah pura-pura tidur. Aku tahu kamu sudah sadar" ucap Evelyn sambil melipat kedua tangannya di depan dada menatap tajam ke arah Enzo.

Enzo meringis, perlahan dia pun membuka matanya.

Sementara itu Joe memilih pergi daripada harus menyaksikan drama kedua orang tidak jelas itu.

"Tuan, saya pergi dulu. Banyak urusan yang harus saya urus" ucapnya dan pergi begitu saja tanpa meminta persetujuan dari Enzo.

Enzo menggerutu kesal dengan asistennya. Jujur saja dia lebih suka berhadapan langsung dengan musuh-musuhnya dari pada harus menghadapi omelan Evelyn. Padahal dia tidak terlalu kenal dengan dokter itu, tapi entah mengapa dia tidak bisa marah dengan wanita itu. Bahkan dia membiarkan dokter itu memarahinya. Andai anak buahnya lihat, sudah pasti reputasinya sebagai pemimpin mafia hancur.

Ruangan rawat itu mendadak terasa lebih sunyi setelah Joe pergi begitu saja. Pintu yang menutup pelan meninggalkan gema kecil, seolah memberi panggung hanya untuk dua orang yang tersisa di dalamnya.

Evelyn masih berdiri di tempatnya, kedua tangan terlipat di depan dada, tatapannya tajam menembus Enzo tanpa ragu sedikit pun. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa gentar, sesuatu yang jarang sekali ia temui dari orang lain saat berhadapan dengannya.

Sementara Enzo, yang biasanya ditakuti banyak orang, justru terlihat… tidak berdaya.

Ia menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya pelan. “Kenapa sih semua orang hari ini menyebalkan sekali…” gerutunya pelan, cukup keras untuk didengar Evelyn.

“Aku dengar itu,” sahut Evelyn cepat, nada suaranya datar tapi menusuk. “Dan kamu masih sempat mengeluh? Kondisimu saja seperti ini.”

Enzo meliriknya sekilas, lalu membuang pandang ke langit-langit. “Ah, hanya luka kecil. Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Evelyn langsung melangkah mendekat. Sepatu haknya berbunyi pelan, namun setiap langkah terasa seperti tekanan yang makin mendekat ke arah Enzo. Ia berhenti tepat di samping ranjang, menatap pria itu dari atas.

“Luka kecil?” ulangnya, alisnya terangkat tidak percaya. Tanpa aba-aba Evelyn pun menekan luka itu dengan cukup keras.

"Akhh....sakit" pekik Enzo.

Evelyn terseyum sinis menatap pria itu. "Katanya hanya luka kecil, tapi kenapa kamu teriak" ejeknya.

"Mau kecil atau besar tetap aja luka, kalau di pencet sudah pasti sakit" decak Enzo.

"Makanya tidak usah sok kuat. Kecuali kalau kamu memiliki ilmu kebal" sarkas Evelyn.

Enzo terdiam sejenak, tidak langsung membalas.

Evelyn menghela napas, lalu menggeleng pelan.

“Kamu ini keras kepala atau memang bodoh?” lanjutnya.

Ucapan itu biasanya cukup untuk membuat siapa pun kehilangan nyawa jika ditujukan pada Enzo. Namun anehnya, pria itu hanya menyeringai tipis.

“Kalau orang lain yang bilang begitu, mungkin sekarang dia sudah tidak bernapas,” ucap Enzo santai.

Evelyn tidak terpengaruh sedikit pun.

“Tapi aku bukan orang lain.”

Kalimat itu membuat Enzo terdiam lagi. Tatapannya perlahan beralih ke wajah Evelyn, mencoba membaca ekspresi wanita itu. Namun yang ia temukan hanya ketegasan… dan sesuatu yang samar, seperti kekhawatiran yang disembunyikan.

“Apa semua dokter sepertimu?” tanya Enzo tiba-tiba.

“Seperti apa?” balas Evelyn cepat.

“Menyebalkan. Suka mengatur. Dan… suka memarahi pasiennya"

Evelyn mendengus pelan.

“Itu bukan sifat dokter. Itu sifat orang yang tidak mau melihat pasiennya mati sia-sia.”

Kalimat itu membuat suasana berubah. Tidak lagi sekadar adu mulut, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh.

Enzo menatapnya lebih lama dari sebelumnya.

“Kamu tidak takut padaku?” tanyanya pelan, suaranya kali ini jauh lebih rendah.

Evelyn terdiam sejenak, lalu menjawab tanpa ragu, “Harusnya?”

Pertanyaan balik itu membuat Enzo terkekeh kecil, meskipun wajahnya sedikit meringis karena rasa sakit di tubuhnya.

“Kamu tahu siapa aku.”

“Aku tidak mau tahu" jawab Evelyn cuek.

Ia lalu menarik kursi di dekat ranjang dan duduk, menghadap ke arah Enzo. Tatapannya masih sama tegas, namun tidak lagi seintimidatif sebelumnya.

“Di sini, kamu bukan siapa-siapa. Kamu pasienku,” lanjutnya. “Dan tugasku adalah memastikan kamu tetap hidup, meskipun kamu sendiri tidak terlalu peduli soal itu.”

Enzo menghela napas panjang, lalu menutup matanya sebentar. Untuk sesaat, ia terlihat lelah. Bukan hanya secara fisik, tapi juga sesuatu yang lebih dalam.

“Aku benci diatur,” gumamnya.

“Aku juga tidak suka mengatur orang keras kepala,” balas Evelyn cepat.

Sejenak hening.

Lalu, tanpa membuka mata, Enzo berkata pelan,

“Tapi… aku tidak keberatan kalau itu kamu.”

Evelyn membeku sesaat. Ia tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut pria seperti Enzo. Wajahnya tetap tenang, tapi ada sedikit perubahan di matanya, sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Jangan salah paham,” lanjut Enzo cepat, membuka matanya kembali. “Aku hanya… tidak punya tenaga untuk berdebat.”

Evelyn mendengus pelan, berdiri dari kursinya.

“Alasan yang buruk.”

Ia mengambil catatan medis di meja, pura-pura sibuk agar tidak perlu menanggapi lebih jauh.

Namun tanpa disadari, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Sementara itu, Enzo memperhatikannya diam-diam. Baru kali ini pikirannya tidak dipenuhi oleh rencana, musuh, atau kekuasaan.

Melainkan… seorang dokter keras kepala yang berani menatapnya tanpa rasa takut. Dan anehnya, itu membuatnya merasa… tertarik.

“Sudahlah, aku malas meladenimu. Aku harus memeriksa pasienku yang lain.”

Nada suara Evelyn terdengar tegas, seolah percakapan mereka sudah cukup sampai di situ. Ia bangkit dari kursinya tanpa ragu, merapikan jas dokternya sekilas sebelum berbalik hendak meninggalkan ruangan.

Langkahnya mantap, profesional tidak menyisakan celah sedikit pun bahwa ia terpengaruh oleh keberadaan pria di atas ranjang itu.

Namun baru beberapa langkah, suara Enzo tiba-tiba menghentikannya.

“Kapan aku boleh pulang?”

Pertanyaan itu membuat Evelyn berhenti tepat di depan pintu. Ia tidak langsung menoleh, seolah mempertimbangkan apakah pertanyaan itu layak dijawab atau tidak. Sesaat kemudian, ia menghela napas pelan sebelum akhirnya memutar tubuhnya.

“Terserah kamu,” jawabnya datar. “Malam ini kamu juga sudah boleh pulang.”

Enzo mengangkat alisnya sedikit, tampak cukup terkejut dengan jawaban yang begitu mudah.

“Tapi ingat, kamu harus bayar tagihan rumah sakitmu. Jangan seperti sebelumnya.”

” lanjut Evelyn, dengan nada penuh peringatan.

Tatapannya menajam, lengkap dengan ekspresi wajah yang benar-benar galak, seolah ia sedang menegur pasien bandel, bukan berbicara dengan seseorang yang dikenal sebagai pemimpin dunia gelap.

Enzo justru terkekeh pelan.

Suara tawanya tidak keras, tapi cukup untuk membuat Evelyn mengernyit kesal. Bukannya merasa terintimidasi, pria itu malah terlihat santai, bahkan… terhibur.

“Apa yang lucu?” tanya Evelyn dingin.

Enzo menggeleng pelan, masih dengan sisa senyum di bibirnya. Tatapannya tertuju pada wajah Evelyn, memperhatikannya dengan cara yang membuat wanita itu sedikit tidak nyaman.

“Tidak ada,” jawabnya singkat.

Namun jelas, itu bukan jawaban sebenarnya.

Baginya, wajah galak Evelyn barusan sama sekali tidak menakutkan. Justru sebaliknya, ada sesuatu yang… menggemaskan. Cara alisnya bertaut, cara matanya menyipit tajam, hingga nada suaranya yang penuh penekanan, semuanya terasa kontras dengan sosok dokter dingin yang selama ini ia tunjukkan.

Dan entah kenapa, itu menarik perhatian Enzo lebih dari yang seharusnya.

Evelyn menyipitkan matanya, merasa ada yang tidak beres. “Kamu kenapa melihatku seperti itu?”

“Seperti apa?” balas Enzo santai.

“Seperti orang aneh.”

Enzo tersenyum tipis, kali ini tanpa berusaha menyembunyikannya. “Mungkin karena kamu memang aneh.”

Evelyn mendengus pelan, jelas tidak ingin memperpanjang percakapan yang tidak ada gunanya itu.

“Yang jelas, jangan kabur lagi tanpa bayar,” ucapnya tegas untuk terakhir kali. “Rumah sakit ini bukan milikmu.”

Enzo bersandar lebih nyaman di ranjang, kedua tangannya dilipat santai di belakang kepala meskipun tubuhnya masih terasa nyeri.

“Tenang saja,” katanya ringan. “Kali ini aku akan bayar.”

Evelyn menatapnya beberapa detik, mencoba memastikan apakah pria itu serius atau tidak. Namun seperti biasa, wajah Enzo terlalu sulit dibaca.

“Lebih baik begitu,” balasnya akhirnya.

Tanpa menunggu respon lagi, Evelyn membuka pintu dan melangkah keluar.

Pintu tertutup.

Dan lagi-lagi, ruangan itu kembali sunyi.

Namun kali ini berbeda. Enzo masih menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup Evelyn. Senyum tipisnya belum hilang, bahkan perlahan semakin jelas.

“Dokter yang aneh…” gumamnya pelan.

Alih-alih merasa terganggu, kehadiran Evelyn justru meninggalkan sesuatu yang tidak biasa di dalam pikirannya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, dan untuk pertama kalinya… tidak ingin ia abaikan.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!