"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 // MBKCM
Tak lama kemudian, Dania keluar dari ruang ganti, menyerahkan gaun dan sepatu yang ingin dia beli itu. Ardan menyelesaikan pembayarannya. Lalu melangkah pergi dari sana. Lonceng di atas pintu Butik Elegance kembali berdenting, mengiringi langkah kaki Dania yang berjalan keluar dengan wajah berbinar puas. Dua kantong belanjaan besar berisi gaun dan sepatu mahal kini sudah berada di tangan supir yang berjalan di belakang mereka. Dania langsung menggandeng erat lengan Ardan, menyandarkan kepalanya dengan manja saat mereka berjalan menyusuri koridor mal menuju ke area parkir VIP.
Namun, begitu mereka hampir sampai di depan mobil, Dania mendadak menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Ardan, matanya menyipit dengan kilat rasa penasaran yang sejak tadi dia tahan di dalam butik.
"Kak Ardan, aku mau tanya sesuatu deh," ucap Dania, menatap langsung ke dalam manik mata calon tunangannya.
Ardan menghentikan langkahnya, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Tanya apa?"
"Soal pelayan yang tadi itu... siapa namanya? Oh ya, Kiana," Dania melipat kedua tangannya di dada, mengingat kembali momen di dalam butik. "Kok tadi Kak Ardan tanya dia mau kemana setelah resign? Nada bicaramu itu lho, kayak yang akrab banget sama dia. Apa Kak Ardan mengenal Kiana sebelumnya?"
Jantung Ardan sempat berdesir aneh mendengar pertanyaan beruntun dari Dania. Dia tidak menyangka Dania mendengar hal itu, namun sebagai seorang CEO yang terbiasa menghadapi negosiasi sengit, dia dengan sangat cepat menguasai emosinya. Dia segera mencari alasan logis untuk menutupi ketegangannya.
"Tentu saja tidak, Dania. Aku tidak mengenalnya secara pribadi," jawab Ardan dengan nada suara yang dibuat sedingin dan sedatar mungkin. "Aku bertanya begitu hanya karena urusan profesional. Kiana adalah salah satu aset pelayan terbaik di Butik Elegance setahuku. Bu Ambar sering memuji kinerjanya dalam laporan bulanan ke manajemen pusat. Jadi, menurutku sangat disayangkan saja jika butik kita harus kehilangan karyawan berkompeten seperti dia."
Mendengar penjelasan yang terdengar sangat masuk akal dan bernada bisnis itu, raut wajah Dania yang tadinya curiga seketika mencair. Dia tertawa kecil, mengibaskan tangannya dengan manja.
"Oh... begitu ya? Aku kira kamu kenal baik atau punya hubungan apa gitu dengannya," Dania kembali memeluk lengan Ardan dengan erat, menuntun pria itu untuk masuk ke dalam mobil. "Tapi ya... dipikir-pikir mana mungkin juga sih pria sekelas kamu, pewaris tunggal Arkatama Group, bisa kenal dekat atau peduli dengan pelayan toko rendahan seperti dia. Level kalian kan jauh berbeda."
'Pelayan toko rendahan.'
Kata-kata Dania itu mendadak terasa seperti hantaman godam yang tidak kasat mata tepat di dada Ardan. Pria itu terdiam, membiarkan tubuhnya masuk ke dalam mobil mewah tanpa menyahut satu patah kata pun. Pikirannya kembali melayang pada fakta bahwa pelayan toko rendahan yang dimaksud Dania itu pernah menghabiskan malam kenikmatan bersamanya.
***
Sementara itu, di belahan kota Jakarta yang lain, atmosfer yang penuh dengan intrik kelicikan sedang terbangun di dalam ruang kerja pribadi milik Arya Arkatama. Ruangan bernuansa gelap itu hanya diterangi oleh lampu meja yang temaram. Arya sedang duduk di balik meja kerjanya, sementara Widya berdiri di sampingnya dengan wajah tegang.
Arya menyalakan pengeras suara pada ponsel pintarnya yang sedang tersambung ke sebuah panggilan internasional menuju Paris, Prancis.
"Selvia, dengarkan Papa. Kamu harus segera memesan tiket pesawat dan pulang ke Indonesia minggu depan. Tidak ada bantahan!" perintah Arya dengan nada suara yang tegas dan mutlak.
Dari seberang telepon, terdengar suara helaan napas yang sangat malas dan terdengar terganggu dari seorang gadis muda. Itu adalah suara Selvia Nandrika Arkatama, putri tunggal mereka.
📞 "Aduh, Papa... tidak bisa begitu dong!" sahut Selvia dari seberang telepon, suaranya diiringi latar belakang musik penata rias yang samar. "Minggu depan itu jadwal Paris Fashion Week, Pa! Karier modelku saat ini sedang berada di puncaknya. Aku baru saja terpilih jadi muse untuk desainer terkenal di sini. Dan satu hal lagi, aku sama sekali tidak tertarik soal urusan bisnis keluarga yang membosankan itu."
Mendengar penolakan dari putrinya, wajah Arya seketika memerah menahan kesal. Dia menggebrak meja kerjanya dengan pelan. "Selvia! Dengarkan Papa sekali saja! Ini semua demi masa depanmu sendiri! Karier menjadi seorang model di atas catwalk itu tidak akan pernah menjamin hidupmu sampai tua nanti! Sebentar lagi takhta Arkatama Group akan kosong, dan kamu adalah satu-satunya orang yang Papa siapkan untuk memimpin perusahaan itu!"
Di Paris, Selvia yang sedang duduk di depan cermin riasnya tampak memutar bola matanya dengan bosan. "Oke, oke, Pa... aku benar-benar bosan mendengar ceramahan Papa yang itu-itu saja setiap minggu. Tolong beri aku waktu, ya? Aku harus menyelesaikan sisa kontrak kerjaku selama satu tahun ini di Paris. Aku janji, setelah kontrak ini selesai, aku akan langsung pulang ke Indonesia."
"Satu tahun?! Itu terlalu lama, Selvia! Papa butuh kamu di sini secepat.."
📞 "Sudah dulu ya, Pa, Ma! Manajerku sudah memanggil untuk sesi pemotretan berikutnya. Bye-bye, aku sayang kalian!" potong Selvia dengan cepat.
Pip.
Sambungan telepon itu diputus sepihak oleh Selvia sebelum Arya sempat menyelesaikan kalimatnya. Arya seketika berdecak kesal, melempar ponselnya ke atas meja dengan perasaan dongkol yang amat sangat.
"Sialan! Anak itu benar-benar keras kepala, sama sekali tidak bisa diatur!" umpat Arya, memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut pening.
Widya yang sejak tadi menyimak jalannya pembicaraan, segera melangkah mendekat. Dia mengusap-usap pundak suaminya dengan lembut, mencoba menenangkan amarah Arya yang mulai meluap.
"Tenang dulu, Pa... sabar. Jangan emosi dulu," ucap Widya dengan nada suara yang halus namun tetap menyimpan kelicikan. "Kalau Selvia belum bisa pulang minggu depan, berarti mau tidak mau kita memang harus mengundur rencana kita untuk membongkar dokumen kemandulan Ardan ke publik, kan?"
Arya mengembuskan napas berat, bersandar pada kursi kerjanya dengan gusar. "Ya, begitulah. Kalau kita bongkar besok sebelum acara pertunangan mereka, sementara Selvia belum ada di sini untuk mengambil alih posisi CEO, maka posisi itu bisa saja diisi oleh orang lain pilihan Kakek Wirya. Rencana kita bisa berantakan kalau tahta itu jatuh ke tangan direksi lain."
Widya menyunggingkan senyum misterius, matanya menyipit penuh siasat jahat. "Menurut Mama, ini malah sebuah keuntungan, Pa. Kita bisa mendesak Selvia pelan-pelan dalam beberapa bulan ke depan. Lagipula, kalau kita membongkar rahasia kemandulan Ardan tepat beberapa hari sebelum hari pernikahan mereka nanti, itu pasti akan jauh lebih seru, kan?"
Arya menoleh, menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Maksudmu?"
"Bayangkan saja, Pa," Widya terkekeh sinis, melipat kedua tangannya di dada. "Pertunangan mereka lusa biarkan saja berjalan dengan lancar. Biarkan Ardan dan keluarga Abraham merasa di atas angin. Tapi nanti, saat semua persiapan pernikahan sudah matang dan tinggal menghitung hari, kita jatuhkan bom itu ke hadapan publik. Efek kehancurannya pasti akan berkali-kali lipat lebih dahsyat. Itu akan jauh lebih mempermalukan harga diri Ardan dan menghancurkan martabatnya sampai ke dasar bumi!"
Mendengar penjelasan dari istrinya, raut wajah Arya yang tadinya kesal perlahan-lahan berubah. Sebuah senyum seringai kelicikan yang mengerikan mulai terukir di wajah tuanya. Dia mengangguk-angguk setuju dengan ide licik tersebut.
"Kamu benar, Ma. Menghancurkan seseorang di saat mereka sedang merasa sangat bahagia adalah cara terbaik," ujar Arya dengan tawa rendah yang terdengar dingin. "Biarkan si sombong Ardan menikmati kebahagiaan palsunya lusa. Kita undur permainan ini sedikit lebih lama, sampai Selvia siap, dan sampai waktu yang tepat untuk menghabisi karier Ardan tiba tanpa sisa."